ai

An original fiction by namtaegenic

:::

© 2015 namtaegenic

Di sana ada tulisan tanganku

.

Ai.

Qing tak bosannya meributkan kata itu—dasar perempuan.

Hari ini sepulang sekolah, ia mengekoriku sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Air mukanya yang menunjukkan bahwa ia sedang tidak berada dalam perasaan yang baik sama sekali, tak lantas menghentikan pretensinya untuk repot-repot berjalan di arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya.

Ekor mataku menangkap jemarinya yang sedang meremas ujung tali ransel dengan gemas. Aduh, pasti ia akan membahas hal itu lagi.

“Ey, Ahyi! Kamu sebenarnya cinta padaku atau tidak?”

Demi Tuhan, perempuan. Kenapa tak bisa menungguku menukar dasi SMU ini dengan yang bermotif dan berjepit emas baru bisa bilang cinta? Merapalkannya di depan cermin saja sudah membuat seluruh persendianku tergelitik. Cinta, cinta. Perempuan selalu saja dewasa sebelum waktunya.

Mikrosekon berikutnya, langkah Qing sudah menyejajari sepeda, yang terpaksa kugiring saja alih-alih kukayuh, demi menghadapi polahnya yang apa-apa minta diperlakukan layaknya kaum hawa. Hah, ketika tibanya pelajaran tata boga, masih saja aku yang harus memotong daun bawang hingga bercucuran air mata, lantaran kicaunya soal emansipasi. Emansipasi apa yang mewajibkan anak laki-laki memotong daun bawang?

“Ey, Ahyi! Aku tanya, kamu sebenarnya cinta padaku atau tidak?”

He-eh,” aku memberi Qing anggukan dalam-dalam.

“Apanya yang he-eh?”

“Cinta padamu,”

“Lalu kenapa—“ oh baiklah, ini dia. Qing mengeluarkan sepucuk surat dari saku roknya, membuka lipatannya dan menyodorkannya di depan hidungku. Di sana ada tulisan tanganku, teranyam karakter demi karakter, membentuk kata-kata yang kucontek dari novel roman picisan milik kakak perempuanku. Qing yang memintaku menulis surat padanya satu kali dalam seminggu, setiap hari Sabtu. Biar romantis, katanya. Kayak aku nggak tahu saja kalau ia cuma mau pamer dengan teman-temannya yang lain. “—kenapa karakter ‘ai’-nya seperti ini?”

“Itu kan, juga dibaca ‘ai’,” sungutku, mengucapkan pembelaan diri yang sebenarnya sia-sia.

“Kamu seharusnya menulis ‘ai’ dengan karakter tradisional. Bukan yang disederhanakan seperti ini!”

“Tapi kan artinya sama. Sama-sama cinta,”

“Kamu menulis ‘ai´ sesederhana ini, berarti perasaanmu juga tidak sedalam yang kukira!” Qing bersikeras, mulai membuat semuanya menjadi melankolis.

“Maksudmu, kalau aku menulis dengan karakter tradisional, berarti aku sungguh-sungguh? Dan kalau aku menulis dengan karakter sederhana, berarti aku tidak sungguh-sungguh? Iya?”

Qing mengangguk mantap.

Aku menghela napas dan menerawang jauh ke gumpalan kapas langit. Aku tak ingat sejak kapan mulai berani mengajak Qing makan es potong sepulang sekolah. Atau mengerjakan PR bersama di rumahnya. Atau menonton film-film Andy Lau di bioskop.

Yang kuingat hanyalah meskipun ia terkadang menyebalkan, aku tidak ingin menghindari omelannya.

Lantas aku menyandarkan sepeda ke tembok rumah orang, mencari-cari pulpen di dalam ranselku, dan mengambil alih surat cinta tadi dari tangan Qing.

“Berbalik,” ujarku. Qing berbalik dengan sumringah sementara aku menulis beralaskan punggungnya.

Kutulis 愛, perlahan-lahan, dengan karakter klasik alih-alih yang disederhanakan bentuknya. Biar saja ia menganalogikan perasaanku hanya dengan rumit atau tidaknya karakter tulisan yang kugunakan untuk surat cinta tiap hari Sabtunya. Yang penting aku bisa melihatnya tersenyum.

“Sudah, nih!”

Qing berbalik dan menatap karakter ai yang kutulis besar-besar hingga memenuhi kertas suratnya. Lalu gadis itu tersenyum lebar. Dan meskipun aku jengkel setengah mati padanya beberapa menit yang lalu, aku toh ikut sumringah.

Lagi pula kalau dipikir-pikir—

“Ahyi, mampir sebentar ke kedai Acek Huang, makan es potong!”

—belajar menulis karakter tradisional tidak terlalu mahal jika bayarannya adalah raut menggemaskan milik Qing.

.

| fin.

.

namtaenote (source: here)

Jadi, aksara Cina itu terbagi dua, aksara tradisional dan aksara yang sudah disederhanakan. Aksara Tionghoa (Hanzi) tradisional digunakan secara luas di Hong Kong, Makau, Taiwan, dan kebanyakan komunitas Tionghoa di luar negeri. Jadi,intinya Hanzi tradisional ini merupakan Hanzi yang pertama kali digunakan oleh seluruh orang Tionghua dari jaman dulu. Sesuai deskripsi diatas, hanzi ini memang sangat sulit untuk dipelajari karena terlalu banyak guratan atau goresan.

Aksara Tionghoa sederhana adalah bentuk sederhana dari aksara tradisional. Namun dalam perkembangannya penyederhanaan ini justru banyak menimbulkan kerancuan dengan pembaca tradisional dan menghilangkan keindahan artistik hurufnya.

Nah, jadi untuk ai yang artinya love, aksara tradisionalnya itu yang mana lebih banyak goresan ketimbang yang sederhananya, .

Advertisements

17 thoughts on “

  1. first comment here yay a6 a6 a6 ^^
    haha apade master chinese culture, nulis yang pake kultur tionghoanya asik gitu sih ahay thankyou sudah mampir ya, put!
    (PS: pengolahan karakter ‘cewe’-mu di fanfik juga bagus lho)

    Like

  2. ((aku yang dulu pernah dapet pelajaran bahasa mandarin aja gak ngeh ini tulisan chinese kebagi-bagi gini)) lucu kak karakter Qing wkwk. macem anak SMA banget haha jadi nostalgia xD (terus terdistract sama komen kakput) iya kaeci bisa jadi master chinese culture lah, lanjutkan kak! sok didukung hahaha. ini si Aku-nya juga kocak. apasih jadi dia suka apa engga, tapi pas Qing-nya sumringah doinya ikutan seneng :))

    Liked by 1 person

    1. wahaha aku emang belakangan tertarik sama kultur etnis tionghoa sih fik jadi ya sempet juga kapan hari dikit-dikit nulis pake ini hehe tapi bukan master kok. ini si Aku sebenernya suka tapi bukan yang menye-menye sih batas pulang bareng ngerjain PR bareng aja bukan yang melankolis hehehehe makasih loh, fika ^^

      Like

  3. Kaeci, serius deh. Aku baru tau lho kalo selama ini Ai yg aku kenal itu ternyata msh bentuk sederhana :” ((masa bodoh sama yang tradisional)) dan kaeci kini telah memberikan secercah pencerahan. Makasih banyak kaeci xD

    In fluffy-nya keren banget lho kak! Ajari aku cara membuatnya :”
    Kaeci mah the best.

    Lagian fiksi berbau chinese culture juga jarang gitu kak jadi bagiku yang etnis tionghua ((uhuk)) merasa senang sekali HAHAHA. Ohya titip salam buat Acek Huang :))

    Nice fic, kak. Keep writing 🙂

    Like

    1. HAHAHA salam balik nih dari acek huang katanya mau ngga jadi acim huang ciye ciye (pairing barrroooo)
      makasih lia ^^

      Like

  4. haloo, kak eci!

    HAH KESEL QING UCUL BANGET. sepertinya fluff-nya kak eci tuh ga perlu ditanya lagi ya, pasti bikin gemesh. terus ceritanya juga sederhana tapi manis dan slice of life-nya kental sekaliii. kusukaaaa! ❤

    lalu…ya ampun, aku baru tau ternyata bahasa mandarin ada yang tradisional sama yang disederhanakan wkwkwk. jadi kayak huruf kanji bukan, sih, kak? dibagi-bagi? ._. ((opo sih han)) ((nulis aksara jawa gabisa udah diem jha))

    nice fic, kak eciii! keep writing! :))

    Liked by 1 person

  5. Nyaris pesimis kalo aku bakal ‘ngeh’ sama topic yang dibahas, bikos dari judulnya sudah asing, tapi
    tapi
    tapi
    PREDIKSIKU SALAH TOTAL! Ini seruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!! Dan pastinya nambah ilmu wkkk
    Seriously ini manis, takarannya tepat, dan atmosfer cinta monyetnya (?) ngena! Aaaaa aku gelindingan saking gemesnya huhu mana irinya ga ketulungan (slaps)
    Keep Writing Kaeci, and nice to meet you hereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!

    愛 this!
    (yang banyak goresannya, buat Kaeci)

    Like

  6. Hahahaha beneran deh baca ini keinget jaman sma dulu, walau ngga separah qing yang minta dibuatin surat cinta tiap hari sabtu sih XD emang ya anak sma sih masalah sepele aja bisa jadi besar, kalo si ahyi gamau ngalah ini cerita bisa jadi world war III XD seruuuu banget dan as always chinese culturenya kerasa banget ❤

    Like

  7. “—belajar menulis karakter tradisional tidak terlalu mahal jika bayarannya adalah raut menggemaskan milik Qing.” sh*t i’m melting here ❤ ❤ ❤ thank you for sharing such wonderful story~

    Like

  8. Manisnyaaaa… ai yang aksara lama itu ada unsur xin, yang artinya hati. Berasa lebih ngena gimana gitu emang kalo pake aksara lama. Hehehe.
    Tulisannya kak eci diksinya keren. Hehehe.
    keep writing kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s