Sebait Doa dari Selangkangan

sebait doa

by ADelma

warning; PG-17, mature theme.

.

Satu dengan tambahan dua digit angka di belakang; langit begitu hitam sementara daratan diiluminasi cahaya artifisial yang merata sampai-sampai gelap yang sesungguhnya sulit untuk ditemukan. Sebagian sudah pergi dijemput mimpi, sisanya berjuang di luar sambil menghamburkan energi. Tak ada tempat yang benar-benar tertidur, mereka akan sibuk selamanya, paling tidak sampai kiamat tiba. Bertarung bergantian, untuk sekadar menyambung atau pun merayakan hidup.

Masih seperti malam-malam sebelumnya, Dara dan teman-temannya berdiri di sepanjang jalan itu. Mempertontonkan tungkai-tungkai kaki telanjang yang tak seberapa indah sambil berdoa agar bisa lebih sedikit beruntung dari kemarin. Doa sederhana yang tak jarang diamini oleh semesta, sebetulnya.

“Tuhan, terima kasih atas birahi yang selalu Engkau berikan kepada mereka. Berkat hal itu, kami semua jadi bisa makan dan bertahan.”

Dara menoleh ke samping dengan dahi berkerut. Baiklah, seharusnya ia terbiasa dengan doa yang senantiasa Arini rapalkan setiap malam. Doa yang terdengar benar dan indah untuk telinganya. Doa yang mungkin saja Tuhan suka, karena buktinya, tak ada malam tanpa rejeki untuk ia dan teman-temannya.

“Ada apa?” Arini bertanya padanya dengan suara yang tak bagus.

“Tidak apa-apa. Aku cuma penasaran, dari mana kamu mendapatkan doa semenarik itu?”

Alih-alih mencomot kata bagus atau luar biasa, nyatanya ia lebih suka melabeli doa Arini dengan kata menarik. Entahlah, tapi rasanya menarik adalah yang paling tepat. Doanya terdengar tidak terlalu mengiba, doanya tidak mengisyaratkan keputusasaan, doanya terdengar apa adanya, doanya teramat jujur, doanya sarat rasa syukur, dan doanya terdengar pas untuk dilafalkan.

“Dari selangkangan.”

Kerutan di dahinya hilang, jawaban Arini yang nyeleneh membuat sudut bibirnya berjingkat asimetris. Diam-diam ia berpikir bahwa—yah—serupa pemiliknya, selangkangannya pun ternyata jenius. Dara menyugar rambut kering berwarna cokelat terangnya ke belakang telinga kiri, sekonyong-konyong tersadar jika sunyi ternyata lebih meraja di malam ini.

Arini mengetukkan ujung high heels murahannya ke lantai; sebuah gestur yang menandakan bahwa ia sudah bosan. Belum ada pria yang menghampirinya. Apakah karena gaun mininya jelek? Atau tatanan rambutnya kampungan? Atau make up-nya terlalu tebal? Entahlah.

“Biasanya di jam segini aku berdiri sendirian, karena kamu sudah dijemput keberuntungan.” Dara memuji Arini yang kini tengah sibuk memerhatikan teman seprofesinya sedang bernegosiasi.

Raut wajah Arini biasa saja, ia tidak terlihat iri atau pun sebal. Embusan napas panjang terdengar kemudian, keberuntungan memang tak berkewajiban untuk mendatangi siapa pun setiap hari. Tapi entah mengapa, jika itu Arini rasanya sah-sah saja, pikir Dara.

“Mungkin Tuhan ingin aku beristirahat. Haha. Atau mungkin malam ini para pria mendadak lupa bagaimana caranya ereksi, makanya sepi.”

Lagi-lagi sudut bibir Dara berjingkat, kali ini lebih tinggi dan tentunya, simetris. Kurva tipis itu tertangkap sepasang iris hangat Arini, ledakan kecil pun akhirnya tercipta dari celah mulut mereka, menelan kesunyian yang sesungguhnya dibayangi rasa takut—takut kalau hari ini perutnya tak bisa terisi.

“Dara.”

“Ya?”

“Kalau memang sampai nanti pagi tak ada yang menghampiri, tolong jangan berpikir bahwa dirimu sedang merugi. Tuhan cuma ingin kamu istirahat.”

Dara tersenyum,  menghargai usaha Arini dalam menggeser mindset-nya.

Tidak apa, ia suka.

-fin.

A/N: halo, semua. saya penghuni baru di sini, hehe. salam kenal ya.

Advertisements

12 thoughts on “Sebait Doa dari Selangkangan

  1. Kak nisa? .__.

    Huwaaaa aku gak tau mau komen apa…. Svsjskqiwnaajs Jarang banget baca tema kaya gini karena referensi bacaanku mungkin teramat minim, dan pas baca judulnya juga sempet ngerut kening gitu. TAPI INI BAGUS BANGET YA TUHAN ❤❤

    Pesan moralnya dapet banget hhuhuhu dibalik pekerjaan haram mereka, mereka juga punya sisi lain kaya manusia umumnya.. Dialognya juga aku sukaaa, terus paragraf pertamanya cantik!!

    Pokoknya suka! Kalo bisa pencet like berkali2, kupencet sampe jebol deh 😹😹

    Like

    1. iya tita .__.

      makasih banyak yaaa udah baca, sukur kalo kamu menangkap maksud dari cerita ini. abis awalnya pun aku agak ragu sih mau publish, tapi untungnya di sini lulus sensor :)) sekali lagi makasih yaaa 🙂

      Like

  2. put! hehehe. sebenernya pas awal nulis aku malu sendiri sih harus sejujur ini, tapi karena temanya aja tentang psk mau nggak mau aku harus menyesuaikan meskipun yah agak was-was juga sama feedback dari pembaca. syukur kalo responnya positif hehe mudah-mudahan kedapannya aku bisa lebih baik lagi mengemas cerita dengan tema begini.

    aduh soal pun-punan aku masih suka salah-salah yak wkwk nanti dibetulin.

    makasih banyak ya put udah baca:)

    Like

  3. Judulnya eyecatching, topiknya nyetrum, eksekusinya mulusssssssssssssssssssss, semulus paha Mba Arini (gakgitu)(tapiemangmulus)
    Asli ngga ada rasa geli ato apa, bikos kesopanan kemasannya jadi bikin betah baca sampai akhir, kuselamat sehat sentausa bisa mencapai kotak komentar meski dagu udah bukan drop on the floor tapi di basement, aslik gabosen dibaca berapa kali juga aaaaaa tetep ngenaaaa!

    Anyway, sebenernya aku sudah menahan diri untuk tida kopas komen yang satu ini, karena buat aku yang notabene lebih muda, dan jatohnya bakal ngga sopan ke Kanis, tapi
    tapi
    tapi
    tapi
    tapi mohon diambil kesannya sebagai ungkapan rasa kagum dan bukan yang lain ya, Kanis…
    bikos aku juga ingin menyuarakan kekaguman cuma gatau caranya, dan komen ini NGENA banget, jadi:
    gue udah baca ini jadi kemari cuma mo drop cursing TAE LO AH KAPAN SIH CERITA LO ADA JELEKNYA! (2)

    asli kanis kalo bisa teleport sekarang juga aku mau ke Bandung trus sungkem!!!!!

    (((while literally, setelah klik tombol post-komen cus mendeportasi diri ke Suriname trus dagang batagor, huhuuu)))
    KANIS AILAVIIIIIIIIIIIIIIIIIT!!!

    Like

  4. aku suka.. bahasanya, penyampaiannya, makna yang tersirat dibaliknya.. hahaha aku sula saat arini menjawab pertanyaan dara dengan begitu mudahnya.. percayalah tak ada yang benar benar buruk didunia ini, mereka jadi seperti itu pun bukan berarti mereka benar benar ingin.. hanya saja seperti yang arini katakan mereka tidak merugi hanya Tuhan sedang berusaha membuat mereka lebih berusaha lagi.. nice fic

    Like

  5. Pas baca judulnya emang sempet bingung sih, ini aseli judulnya ini? Tapi pas baca ceritanya beneran keren, emang themenya mature tapi ini ngga ada kesan maturenya sama sekali ini keren yaampun, setuju deh sama komen kakak-kakak diatas ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s