Lark

lark

Author namtaegenic Cast Im Junhyeok [DAY6] Genre Dystopia, surrealism, slightly psychology Length Ficlet Rating PG-15

namtaegenic presents a fanfiction

LARK

.

© 2015 namtaegenic

.

Lark tidak pernah menjadi partner favoritnya di Kesatuan ini

.

“Aku Sungjin, alias Crasher. Aku komandan kalian. Yang tidak menurut, mati.”

Anak-anak lain peserta permainan sore itu berseru memprotes. Semua ingin jadi komandan. Tapi apa boleh buat, selain Sungjin bertubuh besar sekali untuk anak seusianya, robot bodoh milik keluarganya selalu dibawa mengekori si tuan muda. Mereka terpaksa sepakat jika tidak mau digelitiki oleh aliran listrik ringan hingga pingsan.

Sungjin melirik salah satu sahabatnya yang sedari tadi anteng saja. Ia mengangkat dagunya pongah.

“Jadi, sebutkan namamu!” perintahnya.

Anak itu tersenyum riang.

“Lark!”

“Lark?” Sungjin mengerutkan dahi, sementara temannya itu mengangguk.

“Lark.”

:::

:::

:::

Kata Lark, lekas lari seakan batasmu hanyalah cakrawala.

Bukannya Junhyeok ingin menurutinya—demi Tuhan, Lark tidak pernah menjadi partner favoritnya di Kesatuan ini. Namun Junhyeok hanya punya dua pilihan—lari atau mati. Junhyeok jelas masih punya tujuan hidup; menambah lencananya, ikut dalam penangkapan kriminal besar-besaran, memiliki rumah dua lantai ditambah gudang bawah tanah dan loteng, dan menikahi gadis baik-baik beberapa tahun kemudian.

Berbekal insting tak ingin mati, langkah Junhyeok berderap, terbirit-birit, tunggang langgang, sementara belasan pasang kaki menggebu-gebu mengejarnya dari belakang. Lark masih di sana, dan Junhyeok tak berani membayangkan apa yang telah Rantai Hitam lakukan padanya—pada Lark. Barangkali September lalu adalah batas usianya. Barangkali Lark akan dikenang sebagai prajurit yang wafat dalam tugas dengan usia yang masih muda belia. Demi Tuhan, Lark masih sembilan belas. Ia seharusnya menikmati hidupnya alih-alih mengantarkan nyawa.

Junhyeok kehabisan napas. Namun pikirnya, jika ia tidak bisa berkompromi dengan akselerasi, ia tidak boleh mengurangi kecepatan.

Ini mungkin lorong kesepuluh yang ia lintasi. Desing senapan masih terdengar, dan Junhyeok takjub punggungnya masih belum juga tertembus peluru. Ia lantas mengambil keputusan kilat. Sedikit oleng, ia berbelok masuk lorong kesebelas, yang mana sebenarnya adalah spasi sempit antara kantor imigrasi antar-dimensi dan kantor perpajakan.

Merasa aman, Junhyeok merogoh saku seragam Kesatuan-nya. Jemarinya menggeser-geser alat komunikasi sembilan arah itu dengan gemetar, nyaris salah hubung. Bunyi beep yang melegakan terdengar, mengiringi proyeksi layar sentuh yang terpampang di udara dengan perbesaran seratus kali lipat.

“Di sini Im Junhyeok dari Kesatuan Serdadu Mula! Kami terdesak! Kirimkan Serdadu Jaring ke sini dan selamatkan Lark!”

“Im Junhyeok dari Kesatuan Serdadu Mula, laporan diterima. Serdadu Jaring sudah berada di tabung transportasi. Siap diluncurkan dalam lima, empat—“

“PERSETAN!” Junhyeok membanting alat komunikasi miliknya itu ke tanah.

“Bukankah tadi sudah kusuruh lari?”

Junhyeok menoleh ke arah sumber suara. Sangat dekat, sosok Lark sudah berjongkok di sisinya, mengangkat alis.

“Lark? Kamu selamat?”

“Aku tak pernah mati, Bung!” Lark berdiri dan bersedekap dengan angkuh. Junhyeok menahan diri untuk tidak memeluknya, jadi pemuda itu hanya berdiri, menatap Lark dengan manik berkaca-kaca.

Setidaknya, Junhyeok masih bisa merasakan atmosfer kelegaan itu selama satu menit atau dua, sebelum tubuhnya menegang dan napasnya tertahan. Bunyi ceklik yang tidak asing terdengar dekat sekali dengannya. Pelan-pelan Junhyeok melayangkan pandang ke belakang bahu Lark. Seketika dirasanya keringatnya mengering. Beberapa makhluk dari Rantai Hitam mungkin bisa menjelaskan laras senapan yang kini menghunus ke arah mereka berdua. Salah satu dari makhluk itu menyeringai ke arahnya sehingga Junhyeok bisa mau tak mau melihat deretan gigi berkarang-karang hijau nan menjijikkan itu.

“Punya kata-kata terakhir?”

“LARK, MINGGIR!”

Dan tiba-tiba Junghyeok terjun ke dalam kegelapan pekat dan menyakitkan.

:::

:::

:::

Yang dilihat Junhyeok pertama kali ketika membuka mata, adalah Bu Park, tetangga di sebelah rumahnya sekaligus pengasuhnya waktu ia masih kecil. Kerut-kerut di sudut mata wanita yang sudah menginjak penghujung enam puluhan itu ditingkahi dengan semburat penuh kelegaan.

Junhyeok berkedip dua kali atau tiga, sebelum menyadari di mana ia sekarang. Bangsal rumah sakit khusus serdadu tak pernah semenyenangkan ini. Ia selamat. Seluruh tubuhnya mati rasa, memang—mungkin efek anestesi dan semacamnya—tapi ia selamat. Rantai Hitam tidak berhasil membunuhnya. Ia masih hidup. Ia selamat dalam tugas.

Pengasuh dan anak asuh tersebut mengobrol barang sejenak, karena Bu Park tidak bisa lama-lama dan pihak rumah sakit sudah menelepon orangtua Junhyeok. Ia mungkin akan dirumahkan untuk sementara waktu hingga pulih.

Kemudian setelah Bu Park mohon diri dan mengalihkan semuanya pada petugas medis, barulah Junhyeok teringat sesuatu.

“Apakah Lark baik-baik saja?” tanyanya pada siapa pun yang bersedia menjawab. Dokter dan perawat saling melempar pandang. Salah satu petugas yang sedari tadi mondar-mandir di koridor akhirnya dipanggil. Ia yang mencatat keluar masuknya pasien di rumah sakit. Mereka bicara dengan nada samar-samar, lalu si petugas memandang Junhyeok.

“Hasil evakuasi Serdadu Jaring dan tim medis sudah membuat pernyataan,” ujar si petugas itu, tampak bingung, “bahwa tidak ada yang bernama Lark di daftar korban. Tidak pula di tempat kejadian perkara.”

Junhyeok termangu sesaat sebelum ia tiba-tiba menangis. Ia tidak menyangka ini benar-benar terjadi.

Lark mati. Lark mati karena memasang punggung untuknya. Lark mati dan orang-orang ini tidak mau membicarakan hal itu padanya.

“Lark mati…”

“Tuan Im Junhyeok, berdasarkan keterangan yang kami dapatkan dari Kesatuan—“

“Harusnya aku saja yang mati…” Junhyeok masih terisak dalam kekakuan pengaruh anestesinya.

“—adalah bahwa Anda diturunkan seorang diri ke lapangan. Dan tidak ada yang bernama Lark di Kesatuan.” Si petugas menggaruk kepalanya, memandangi Junhyeok yang masih tersedu. Ia bertukar pandang pada dokter dan para perawat, tapi tidak mendapatkan jawaban.

:::

:::

:::

“Lark!”

“Lark?” Sungjin mengerutkan dahi, sementara temannya itu mengangguk.

“Lark.”

Lantas Sungjin terbahak-bahak. Ia menepuk bahu teman sepermainannya itu.

“Lark itu nama apa sih, Junhyeok!”

“Katamu tadi harus pakai nama samaran. Semua juga pakai. Electric, Andomeda, Screenless, bahkan Wonpil pun punya!” Junhyeok memprotes. Yang disebut namanya lantas membalas, “Jangan panggil aku Wonpil! Mulai sekarang namaku Parallel-Hacker!”

“Lark itu seperti nama robot anjing,” Dowoon alias Screenless berkomentar, disusul dengan tawa dari teman-temannya yang lain.

Junhyeok melambaikan tangannya tak mau tahu.

“Pokoknya namaku Lark. Dan kalian bisa memanggilku Lark.”

 

LARK | fin.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Lark

  1. Buat aku pribadi, nyeseknya tuh bener-bener pas di ending, dan okay closingnya ngena, Kak!
    Tenang-tenang aja, baru sampai di part 2, wah mampus nih delu si Junhyeok. Tapi masa iya kan kalo suka delu keterima masuk angkatan, dan taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ Selamat menikmati masa lalu yang nyesss~

    Dan masih menyisakan rasa penasaran kenapa istilah Lark erat banget rasanya sama si Junhyeok sampe kebawa-bawa di saat kepepet macam ini~~~

    Kay, keep writing, Kaeci!

    Like

  2. Kaeciiiii ini kereeen ❤ beneran suka banget sama cerita yang begini yaampun aku kira si lark itu beneran ada ternyata ngga ada omagaaad .< Pokoknya sukaaaa ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s