Citra Mencipta Citra

large (1)

credit pict: we heart it

Aku sedang menceritakan kebenaran yang bahkan dipercaya oleh ujung kepala sampai ujung kakiku.

 .

“Tapi aku nggak sakit,” kataku tanpa sedikit pun merasa tersinggung.

Taura—lelaki yang kini sedang memasang raut tak menentu di sampingku—hanya mendesah keras dan memalingkan wajah tanpa berminat untuk menimpali pernyataanku. Sudah kubilang ratusan kali jika aku tidak sakit, tapi dia tak percaya. Itu menyebalkan, bagaimana tidak? Dulu dia adalah orang yang selalu mempercayaiku. Tapi sekarang ia tak jauh berbeda dengan mereka yang memutuskan untuk pergi satu per satu.

“Kemarin aku didatangi orang-orang itu. Mereka marah-marah, bilang kalau aku ini tukang fitnah.” Aku menjeda ceritaku, menahan rasa ngilu di dada. Aku sakit setiap mengingat ini, sumpah. “Athala yang kalian kenal itu palsu, dia nggak sesuci yang kalian pikir. Relijius, apanya? Dia tuh penjahat.”

Taura membenahi posisi duduknya, kembali mencari sepasang mataku sebelum akhirnya menatapku lama sekali. “Cit, please.”

Cuma itu yang diucapkannya dan aku pun tertawa pelan. Apanya yang ‘please’? Aku sedang menceritakan kebenaran yang bahkan dipercaya oleh ujung kepala sampai ujung kakiku. Kenapa mereka masih menganggapku mengada-ada? Sudah jelas aku diperkosa oleh Athala yang katanya pandai mengaji dan memiliki suara yang merdu saat mengumandangkan adzan. Iya, Athala yang itu. Athala yang bisa langsung merasa hina hanya dengan menatap mata perempuan. Ah bullshit, buktinya ia melakukannya sampai tiga kali. Aku bersumpah masih menyimpan kondom yang ia gunakan di dalam laci excel, bersampingan dengan stok peralatan mandiku. “Terserah kalau kamu nggak percaya, aku udah biasa nggak dipercaya orang lain, kok.”

“Oke,” katanya dengan suara rendah. “Aku percaya kamu. Tapi, please, kamu juga harus percaya sama aku.”

Taura, Taura. Kenapa sekarang kamu jadi tolol, sih? Aku menghela napas panjang, tak habis pikir.

Sederhananya begini, kalau selama ini aku tidak mempercayainya lalu untuk apa aku menceritakan segala hal yang kualami padanya? Aku mempercayainya lebih dari mereka-mereka yang sialan itu. Taura adalah orang yang baik dan aku sudah menyukainya sejak pertama kami bertemu. Dia adalah pendengar yang baik, selalu mendengar setiap ceritaku tanpa menghakimi dan mempertanyakannya lagi. Matanya memantulkan rasa percaya yang membuatku nyaman setiap kali berada di dekatnya.

Ya, seistimewa itu Taura untukku. Tapi, maaf, itu dulu.

“Taura, kamu tuh tolol, ya?”

“Apa?” tanyanya dengan nada tak percaya.

Bagaimana bisa dia percaya aku kalau untuk mempercayai telinganya sendiri saja dia tidak bisa? Jadi yang sebenarnya sakit itu aku atau dia, sih? Sialan.

“Kamu minta aku percaya sama kamu. Terus yang selama ini aku lakukan apa? Aku cerita ini dan itu, dari hal kecil sampai hal besar. Bukankah itu tandanya aku percaya sama kamu?” Aku tersenyum tipis. “Terus, barusan kamu minta hal yang jelas-jelas udah aku kasih sejak dulu? Bukannya itu tolol, ya, Ra?”

Taura membalas ucapanku dengan keheningan yang panjang. Dari gesturnya, jelas-jelas terbaca jika dia ingin cepat pergi dari kamarku. Membiarkanku kembali menyelami potongan-potongan penderitaan yang sudah biasa aku terima sejak kecil.

“Aku peduli sama kamu, Cit.” Ia menunduk sejenak. “Aku sangat peduli sama kamu, bahkan aku berani jamin kalau aku adalah salah satu dari mereka yang paling memedulikan kamu.”

Kami terdiam, tepi tempat tidur yang kami duduki mendadak seperti kursi panas yang bisa kapan saja membakar kami. Soal dia yang peduli padaku, sejujurnya aku percaya. Aku sudah merasakan kepeduliannya sejak lama, tapi aku tidak boleh lupa kalau semuanya sudah berakhir. Taura yang sekarang bukan Taura yang dulu. Kepedulian sebesar apa pun tidak ada  artinya jika dia tidak lagi percaya padaku.

“Makasih. Tapi aku nggak butuh rasa peduli kamu,” kataku. “Buat aku rasa percaya itu kayak napas, makanya aku kesakitan saat tahu kalau kalian nggak bisa memberikan hal itu sama aku. Sejak kecil, orang-orang yang kukenal—termasuk orangtuaku—nggak pernah memberikan itu. Sesusah apa sih percaya sama aku? Aku nggak mengada-ada, Ra. Aku nggak pernah berbohong. Semua yang aku ceritakan itu benar, kok. Aku mengalami, karena kalau nggak mana mungkin aku mengingat setiap detailnya.”

“Citra, aku—“

“—kamu masih ingat cerita aku tentang ibuku yang psikopat? Aku nggak bohong, Ra. Aku pernah lihat dia menyekap orang di kamarnya, membunuh, dan mengulitinya sebelum dikubur tepat di bawah tempat tidurnya. Dia melakukan itu sewaktu ayah pergi ke luar kota. Aku nggak boleh cerita sama siapa-siapa, aku diancam. Aku menderita sejak saat itu, Ra.”

Berengsek. Benar-benar berengsek. Seharusnya memori itu tidak usah mendesak keluar di saat seperti ini. Tapi aku tak bisa menahannya, kejadian itu secara tiba-tiba selalu terputar di dalam kepalaku. Membuatku ingin muntah seumur hidup. Kenapa aku harus dilahirkan oleh seorang wanita yang biadab?

“Kamu juga pasti berpikir kalau aku bohong sewaktu aku bilang kalau kakak perempuanku yang udah mati jatuh cinta sama kamu? Aku bisa lihat dia, Ra. Aku bisa berkomunikasi dengannya. Aku mungkin nggak bisa membuktikan ini, tapi kalau kamu ingat, dulu aku sempat menjauh tanpa alasan dari kamu. Itu semua aku lakuin semata-mata untuk menjaga perasaan kakakku.”

Kulihat kedua alis Taura beradu di tengah. Lagi-lagi dia menggeleng. Biar saja, biar saja dia mati karena terus-menerus mendengar semua kebenaran yang kupunya.

“Udah, cukup.” Taura beranjak, lalu berdiri di hadapanku dengan ekspresi yang belum juga membaik dari sebelumnya. “Aku percaya sama kamu. Iya, Athala itu pemerkosa. Iya, ibu kamu itu psikopat. Iya, teman-teman sekelas pernah menyiksa kamu di gymnasium. Iya, kakak perempuan kamu jatuh cinta sama aku. Iya, teman-teman kemarin mendatangimu ke sini dan mengataimu tukang fitnah.”

“Taura—“

“—aku percaya sama kamu, maka dari itu aku peduli. Please, ikut aku untuk ketemu ibuku besok. Setelah itu aku janji, aku janji nggak akan meragukan kamu seperti yang lain.”

“Tapi aku nggak sakit.”

“Iya, kamu nggak sakit, Cit.” Tangan kanan Taura membelai puncak kepalaku, lembut sekali. Aku terdiam, kulihat Taura mengambil ranselnya, bersiap untuk pergi. “Aku harus ke kampus dulu. Besok aku jemput kamu, bye.”

Lelaki itu melangkah lesu menjauhiku menuju pintu. Aku tahu pernyataannya yang tadi itu bohong. Jelas dia tidak mempercayaiku dan kekeuh mengajakku menemui psikiater adalah buktinya.

“Kalau aku bilang aku sayang banget sama kamu, apa kamu juga nggak bakal percaya, Ra?” tanyaku tanpa bermaksud apa-apa saat Taura memutar kenop.

Ia berbalik sejenak, tersenyum ambigu sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.

Ha. Aku sendirian lagi. Menghadapi kondisi yang tak jauh beda dengan dulu; dijauhi dan dianggap sakit hanya karena aku menceritakan kebenaran yang tak terbantahkan oleh pikiranku sendiri. Aku lelah begini terus, demi Tuhan aku lelah dianggap sebagai pembohong. Aku mendesah pelan, tiba-tiba teringat ucapan Taura ketika mulai mengutarakan maksud kedatangannya tadi.

“Cit, kamu mengidap mythomania. Kamu harus ketemu ibuku.”

Haha, sudah kubilang aku baik-baik saja. Bukan aku yang pembohong, tapi merekanya saja yang sulit percaya. Dan apa itu mythomania? Aku ini normal, tidak mengidap penyakit jiwa jenis apa pun. Aku sudah pernah memeriksakan diriku, kok. Berengsek.

-fin.

Advertisements

20 thoughts on “Citra Mencipta Citra

  1. Ah, yes, pernah baca soal mythomania and yes, cerita ini so twisted. tadinya kupikir oh, another nisa’s brave topic, tapi jreeenggg pas ke bawah trus hah, si cewe mithomania toh hadewh kusuka eksekusinya.

    Like

    1. aku malah berteman kak sama pengidap myhomania;;;;antara kesian dan eneg sama boongnya dia gitu lah haha tapi tetep didoain kok supaya bisa sembuh. thanks ya kak udah baca ^^

      Like

  2. jarang-jarang kan put tulisan w berwawasan wqwqwq. DAN SELAMAT BERGABUUUUUUNG AAAK SENANGNYA SERUMAH LAGI (?) MA AUTHOR KEREN CEM PUTRI :” iya aku jarang muncul di sana soale lebih sering nulis orific sih sekarang. terimakasih ya udah baca, trus si pun pun itu ya allah aku lupa mulu ya, huhu makasih lho tak lelah memberi tahu nanti aku pelajarin ulang soal ni partikel satu hahahaa.

    Like

  3. halooooooo, kak nisa!

    firstly, firstly, baca ini kukira tentang sesuatu karena dari awal aja udah mature themed atau apa, tapi ternyata mythomania! kyaa plot twist-nya kill abis. terus terus aku juga suka karakternya si taura, kok kayaknya dia sabar banget sama citra. judulnya juga sangat menggambarkan isi dan unik, hihi. pokoknya aku suka banget.

    semangat terus yaa, kak nisa! maaf cuma bisa komentar sedikit :))

    Like

    1. halo evin. maapkeun baru bales :”

      haha aduh jadi malu nih, ini bukan mature themed kok cukup pas debut aja aku bawa-bawa cerita begitu wkwk. makasih banyak ya vin, gapapa komennya dikit juga da udah dibaca juga aku mah udah syeneng hihihi ❤

      Like

  4. lah lah lah lah. ampun nis, ampun. aku tadinya udah mikir yang engga-engga pas baca hahaha, terus taunya pas udah baca sampe abis, baru ngeh, baru ngerti, baru yang: duh fikaa mikirin apaan sih dari tadi xD keren nis, kata-katanya sukaaa. terus kerasa gitu si aku-nya benci kalo orang-orang bilang dia bohong, punya penyakit blabla heheu. aku baru baca cerita yang bawa-bawa penyakit ini sih, jadi rada ga ngeh tadi awalnya. another masterpiece from youu hehe. keep writing yah nis x)

    Like

    1. hayolo fika ngiranya apa :)) aku juga kalo gada temen yang ngidap penyakit itu mana mungkin tau lho :” makasih udah baca yaaaa hehe maaf baru bales komennya 😀

      Like

  5. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKU BISA APHA KALO UDA BACA PUNYA KA NISA SELAIN AMBYAR DI TKP HUHUHUUU

    Kemasannya cantik, rapih, dan aku bener-bener penasaran (sampe nyaris sebel) sampai akhir sampai kata mythomania direveal! Jadi bener-bener kebayang situasi ngadepin seorang penderita mythomania, sebelnya, keselnya, gemesnya, dapet semua aslik kucinta ini hap hap put my thumbs up in the aaaaaaaaaaaaaaaaair!!! ❤
    Dan,

    Kanis, aku dosa kalo bilang ini ngga golden!!!

    Like

    1. KAMU PUN APAAN TULISANNYA MENYEBABKAN AMBYARNISME TAUK. huhuhuhu
      makasih ya pilsa udah baca, maaf lho komennya baru dibales agy chibuk cih hahhaha iya dosa dong nggak bilang golden secara blog kamu juga tambang golden :((((

      Liked by 1 person

  6. kak, keren tapi aku ada satu yang gak ngerti :
    myhomonia itu apa ya, kak? hehe, semoga kakak mau menjawab ❤

    Like

    1. Mythomania adalah kebohongan yang dilakukan seseorang bukan dengan tujuan menipu orang lain. Penderita gangguan Mythomania akan membuat dirinya sendiri percaya bahwa kebohongan yang dia buat adalah nyata.

      ((hasil copy paste wkwk)

      Like

  7. Eh ternyata dia pengidap mythomania?? Adududh padahal dari awal udah ngerasa kasian ama si citra ini grgr dibilang tukang fitnah terus gaada yang percaya yaampun x_x eh kaknis beneran punya temen mythomania? Boong terus gitu? Jadi pengen punya temen yang begitu tapi serem juga sih XD
    Suka banget sama ceritanya, ini apik bener dah nambah ilmu juga, dari yang tadinya gatau bada penyakit jiwa yang namanya mythomania jadi tau kan sekarang 😀 sukaaaa ❤

    Like

    1. heiii, maaf baru bales haha. iya aku punya, dan itu merepotkan 😐 hihi
      makasih ya dah baca 🙂

      Like

  8. halooo, kak nisa!

    btw ih lutjuk banget yang cowok namanya Taura, pasti bintangnya taurus kan iyaa kan kan kaaaan ❤ judulnya catchy sekaliii. bisa jadi citra yang mencipta citra, bisa juga citra yang mencipta citra HAHAHAH ((ok han stahp)). btw aku baru tau juga sih ada penyakit psikologi kayak begini. pasti capek yaa kalo ngadep pengidap mythomania, tapi kasian juga sih.

    dan omo sepertinya aku jatuh cinta pada Taura. dia sabar banget yaampun imam idaman :3 ((eh)).

    baca fic kak nisa jadi tambah kosakata baru lagi dooong ehe. tambah ilmu jugaa! terbaeekk, kak nisaa! keep nulis-nulis kecee! ❤

    Like

    1. halo han, maaf baru bales ya 🙂 nggak han, taura bintangnya bukan taurus, tapi kejora ehe. makasih banyak ya udah baca!

      Like

  9. tbh i had to read this story twice in order to grasp it well cz yeah, i’m slow like dat :”v /imsosorry/ and mythomania? what a twist! if it wasn’t because of this story, then for the rest of my life i probably wouldn’t know what on earth is mythomania! /flipstable/ thank you for sharing this wonderful story! and i see what you did here with the title. luvit ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s