Losing Three

4QsrQt

by La Princesa

Pesawat ulang-aliknya meledak saat memasuki atmosfer bumi, padahal beberapa detik lagi ia landing dan bertemu tanah.

.

Untung Sehun jeli membaca sinyal tanda bahaya dan menarik tuas lontar di bawah bangkunya dengan sigap, sedetik saja ia terlambat mungkin tubuhnya sudah terberai menjadi miliaran bagian bersama rongsokan spacecraft-nya yang terbakar digesek udara. Menyisakan cuma namanya untuk dikenang sebagai The Fallen Astronaut—itu juga kalau ada yang ingat.

Namun alih-alih terjatuh di Samudera Atlantik seperti perkiraannya, Sehun justru menembus dimensi ruang dan waktu dan tersesat di galaksi antah-berantah berwarna hitam putih—mirip televisi kuno tahun 70-an. Well, ia tak sepenuhnya yakin dengan teorinya barusan, sih, karena di luar angkasa mana ada papan petunjuk? Tapi feeling-nya yang mengatakan kalau ia ada di luar Milky Way—ya sudahlah, biar ia berasumsi demikian dan menganggap dirinya keren. Memang cuma George Clooney yang boleh jadi astronaut keren? Heh.

Oksigen di space suit-nya menunjuk angka 53%, masih cukup untuk dipakai berjalan-jalan sebentar sambil bergalau memikirkan caranya pulang. Sehun menggerak-gerakan kaki dan tangannya mirip seperti balita sedang berlatih renang, sedikit berputar ke kiri-kanannya mencari-cari tanda kehidupan di lautan gemintang yang berpendar muram. Nihil, ia tak menemukan apa pun.

Seperlima belas tahun cahaya jaraknya dari posisi mula, Sehun berhenti berenang dan celingukan ke sisi kanannya. Sejak tadi ia merasa diawasi dan dibuntuti oleh sesuatu. Ia pikir ia berhalusinasi, karena perkara yang wajar bagi para astronaut merasa stres dan depresi di luar angkasa seperti ini. Tapi kecurigaannya terjawab saat ia mendapati sepasang mata berwarna pink—satu-satunya benda non-monokromatik di lautan hitam putih—tengah mengawasinya tanpa berkedip.

Sepasang mata pink itu, nyatanya, adalah sebuah permulaan. Belum sempat Sehun mengira-ngira apa yang sejak tadi mengawasinya, sesosok makhluk mega raksasa berbentuk campuran ikan paus dan monster laut sudah terwujud dari sebuah konstelasi, lalu berenang mendekati si astronaut dan baru berhenti saat mereka berhadap-hadapan.

Refleks, Sehun tergelak mundur. Tapi si paus berenang maju, maka Sehun mundur lagi. Si paus tak mau kalah; rupanya berniat menjaga agar jarak dirinya dengan si astronaut tidak kejauhan. Tapi tentu saja si manusia masih takut, makanya ia mundur lagi—begitu terus terulang sampai ia yang lelah sendiri dan menguras oksigen di space suit-nya sampai di level 28% karena panik. Ia tak punya pilihan lain selain mengonfrontasi sang makhluk lautan gemintang.

“Hai, Manusia,” si paus bersuara, sementara Sehun pura-pura celingukan—padahal cuma ia satu-satunya manusia di sana dan tentu ia yang diajak mengobrol oleh makhluk jejadian ini. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Sehun tak langsung menjawab karena sibuk berkontemplasi tentang bagaimana menyuarakan vokalnya. Di ruang hampa udara seperti ini, tentu gelombang audio tak akan terambat tak peduli seberapa keras ia berteriak. Masa ia harus berkomunikasi dengan bahasa batiniah? Merasa bodoh karena menggalaukan hal yang tak perlu, ia mencoba peruntungannya dan memutuskan untuk menjawab pertanyaan paus dengan cara konvensional: berbicara apa adanya.

“Aku sedang tersesat,” Sehun buka suara. Si paus terdiam beberapa waktu, dan selama jeda waktu tersebut, Sehun tak berhenti merutuki kebodohannya karena (diulang dulu biar dramatis) ini ruang hampa udara. Tentu saja suaranya tak akan kedengaran tanpa bantuan alat komunikasi. Tapi yang ia dengar setelahnya justru mengagetkan dirinya sendiri karena—wow!—si ikan raksasa ternyata bisa mendengarnya.

“Bagaimana kau bisa tersesat?”

“Tidak tahu,” yang ditanyai menjawab cuek padahal dalam hati masih belum habis pikir dengan konversasi mereka. Sehun tak merasa perlu menjelaskan detail ketersesatannya karena ia sendiri tak mengerti. “Kau sendiri… siapa?”

“Kau tak kenal aku?”

“Apa aku harus mengenalmu?”

Sehun punya tendensi jarang menyaring kata-katanya, tapi seharusnya ia tahu diri untuk tak membuat makhluk jadi-jadian setengah paus setengah monster laut mengamuk di galaksi antah-berantah berwarna hitam putih ini. Ketika ia menyadari kecerobohannya, terjangan sirip si paus hanya meleset beberapa senti dari kaca helmnya. Sekali sabet dan ia yakin nyawanya yang berenang-renang menuju neraka terdekat.

Sehun sampai harus salto di udara dalam usahanya menghindar.

“Whoa, whoa, santai sedikit, Man.” Ia berteriak heboh sembari menarik napas panjang dan pelan-pelan supaya oksigennya hemat. “Aku tak mau mati dan membusuk sendirian di sini, nanti siapa yang mengurus kucingku di rumah?”

“Lebih baik kau jaga ucapanmu, Manusia! Sebelum kau kujadikan makan malamku!”

Nah, my bad and I’m sorry. Masalah terbesarku memang aku ini sering kelewat ceplas-ceplos,” Si manusia pamer cengiran kuda, berharap si paus luluh akan pesona senyumnya. Diam-diam, ia mengambil langkah mundur beberapa meter guna menjaga jarak—untung baginya karena si paus tak ikut beringsut maju. “And for your information: aku ini vegetarian, jadi dagingku alot dan tidak gurih. Bukannya kenyang, yang ada gigimu sakit karena tak selesai-selesai mengunyahku,” lanjutnya garing.

Si paus masih menatap Sehun keki, tapi tak sebrutal dan senafsu tadi ingin menyudahi biografi si astronaut malang. Mereka beradu tatap selama beberapa saat—saling melempar tantangan yang tak diverbalkan, sebelum si paus memutuskan untuk menerima permintaan maaf dari Sehun walau dengan tak rela.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” Sehun nekat bertanya sekiranya si paus sudah lebih tenang. Mengusir senyap yang kurang membuatnya nyaman sekaligus ingin penasarannya terpuaskan—syukur-syukur jika ia bisa dapat petunjuk mengenai kemaslahatannya. “Kau ini siapa?”

“Namaku Cetus, aku penguasa di sini.” Ketika menjawab, lima belas titik di tubuhnya berpendar terang—nyaris menyilaukan Sehun—sebagai perlambangan lima belas bintang utama yang menyusun konstelasinya. “Dan kuharap kau tahu; teritoriku bukan tempat pariwisata yang bisa kalian kunjungi sesuka kalian, apalagi oleh manusia-manusia sepertimu. Kau tak bisa datang dan pergi semaumu tanpa seizinku.”

Si astronaut menjilat bibirnya sebelum melontarkan jawaban. “Well, aku bukannya menganggap teritorimu jelek, walau harus kuakui tempatmu butuh sedikit pencerahan dan sentuhan warna, because black-and-white is so seventies, Man.” Ketika Sehun dapati Cetus mendelik murka, ia buru-buru kembali ke jalan yang benar. “Anyway, maksudku, aku tak bilang kalau aku tak kerasan berada di sini, because—damn, Man!—your territory is so homey and your hospitality is excellent.” Dalam gerakan yang disamarkan, Sehun menggulirkan matanya sarkastik ketika mengucapkan kalimatnya barusan. “Tapi aku sendiri juga ingin cepat pulang ke rumah dan mandi air hangat. Sudah kubilang tadi, aku tersesat. Pesawatku meledak dan tahu-tahu aku sudah di sini.”

“Aku tak peduli bagaimana kau bisa terdampar di sini,” Cetus menimpali garang. “Aku ingin kau segera angkat kaki!”

“Percayalah, untuk gagasan yang baru saja kau lontarkan, kau dan aku sepaham,” Sehun tak membuang tempo untuk membalas ultimatum Cetus. Seluruh kenekatan, stres, marah dan frustasinya yang menumpuk sejak momentum ganjilnya ia tumpahkan saat itu juga, tak peduli siapa—atau apa—yang mengajaknya mengobrol. “Kalau aku tahu caranya sudah kulakukan sejak tadi. Kau lihat sendiri…” ia menunjuk tubuhnya saat mengatakannya. “Aku cuma punya bajuku ini untuk menyokong eksistensi naluriku. Tak ada spacecraft, tak ada bantuan dari NASA, tak ada cadangan—hell, aku saja tak tahu ini di mana. Bagaimana caranya aku pulang kalau aku tak tahu apa-apa?”

Cetus nampak menimbang sesuatu selama beberapa saat.

“Kau punya dua pilihan, Manusia,” Cetus membuka tawaran konsolidasi, sementara si astronaut malang pasang kuping tinggi-tinggi seiring ekspektasinya yang melayang hingga menembus langit-langit nirwana. “Kuberi waktu seperdua puluh tahun cahaya untukmu memikirkan bagaimana caranya kau akan pergi dari sini. Lewat dari waktu yang kuberi, kau akan menjadi kudapan malam bagi anak-anak buahku.”

Secepat ekspektasinya terbang tinggi, secepat itu juga harapan si astronaut malang dihempaskan. Karena selesai Cetus menyuarakan tawarannya, muncul perwujudan dari konstelasi-konstelasi lain yang lebih kecil di sekitarnya. Mulanya mereka berbentu abstrak dan tak membahayakan, lama-lama menjadi besar kala jarak mereka tak kurang dari satu hamparan sirip si paus. Sehun mengenal empat di antaranya sebagai lambang zodiak yang biasa digunakan di ilmu astrologi: Aries, Pisces, Aquarius dan Taurus. Sisanya adalah Sculptor, Fornax dan Eridanus.

Sehun terang-terangan beringsut mundur kali ini. “Atau?”

“Atau kubantu kau pulang ke tempat asalmu, tapi sebagai upahnya kau harus menyerahkan tiga hal yang kau punyai,” ujar Cetus tak menyediakan ruang untuk dibantah.

“Dan tiga hal itu adalah?” tanya Sehun was-was.

“Ingatanmu; kau akan kehilangan memori yang kau miliki dan kau tak akan bisa membuat ingatan baru. Perasaanmu; kau akan lupa pernah mencintai orang-orang di sekelilingmu dan kau juga tak akan bisa membalas perasaan mereka untukmu. Dan yang terakhir, nuranimu; kau tak akan bisa merasa iba, kasihan dan bersimpati terhadap orang lain—kau akan menjadi manusia tanpa hati.”

Sehun terhenyak, walau ia sendiri tak sadar melakukannya. Lampu indikator di space suit-nya mulai menyalakan alarm nyaring sebagai penanda bahwa sisa oksigen yang ia miliki sudah ada di level kritis—seolah berkonspirasi dengan semesta dan si Cetus yang jahat untuk memaksa Sehun membuat keputusan.

“Kau akan kembali ke tempatmu dengan selamat. Tapi saat kau memasuki atmosfer bumi, kau akan kehilangan tiga hal itu,” Cetus menegaskan. “Tentukan pilihanmu, Manusia.”

Tanpa gertakan dari Cetus pun, Sehun tahu ia tak punya banyak waktu untuk berlama-lama melangsungkan musyawarah di kepalanya. Mendebat semua logika dan akal sehatnya, ia harus membuat keputusan. Sehun mengambil napas panjang, memejamkan matanya sembari meyakinkan diri. Ia tahu konsekuensinya.

Ketika ia membuka mata, pandangannya justru disambut oleh papan panel dengan puluhan tombol berwarna-warni. Kaca jendela di hadapannya serupa layar lebar yang menampilkan hamparan langit biru yang terbentang sampai infiniti—tak ada indikasi keberadaan si paus sama sekali. Sehun merasa tubuhnya dililit sabuk pengaman yang membuatnya terikat oleh kursi kemudinya. Komunikator di telinga kirinya memperdengarkan suara dari menara pengawas yang menghitung mundur. Empat… tiga… Roketnya lepas landas sebentar lagi.

Dua…

Tiba-tiba, Sehun tak yakin dengan ekspedisinya.

Satu!

.

-end

.

  1. Fun fact: Cetus is a star constellation in the southern sky taking shape in the form of a whale. The name Cetus refers to a sea monster in Greek mythology, and its constellation surrounded by another water-related constellation, such as: Pisces, Aquarius and Eridanus.
Advertisements

13 thoughts on “Losing Three

  1. bagus ya kakak
    MANCING2 AJA JUDULNYA LOSING THREE MANA COVERNYA SING FOR YOU DAN SEKARANG EXO-L PADA BAPER BARENG DALAM KE-CANON-AN GA AJAK2 SAYA! *salah sendiri ujian kok pas comeback *salah sendiri juga webe
    oke
    tapi aku bersyukur kakak gak bikin fic mengharu biru yg lagi menjamur banget gara2 sing for you. gapapa. mending ga usah kak krn aku sendiri lelah bacanya :p lagi gak kepingin baper. terus
    PAUS INI ANGGOTA KESEPULUH EXO ATAU APA?!
    *sorry capsku TT
    maksudku dia dan sehun jadi pair magnae baru gantiin taohun gitu? krn cerita sehun-paus ini banyak bgt juga diangkat dalam ff. emang scene itu yg tergeje sih di mv-nya, sehingga berbagai interpretasi yg lucu2 muncul juga dari scene itu dan ini yg terbaik menurutku hahai, ini paus apa iblis sih, kok pake transaksi segala XD
    aku benar2 merasa ditinggalkan sebagai EXO-L karena belum nulis sing for you padahal anggota rasku *eak* yg lain udah pada nulis huhu
    anyways, keep writing kak! maaf komenku rada2 gila gini

    Like

  2. The Fallen Astronaut :”
    Fallin for astronaut boleeeeee gak?

    e
    e
    e
    apakah ini cuma menurutku atau style Kaput berubah lagi ini he lah he loh asique bana dan ini pertama kalinya, setauku, kaput baru ini insert something lyke this “(diulang dulu biar dramatis)” TAPI JADINYA DRAMATIS BENERAN!!! Oksigennya nipis kujadi sesaq…

    Nyaris sampe akhir aku uda bete ah mampus lo diambyarin kaput lagi lo uda peluk guling aja siap siap e a e a ternyata aku ngga cuma diambyarin tapi bonus digantungin bikos nasib mas pang ada di ujung knalpot spacecraft :” e ternyata kek dejavu hhh kusukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bana kusuka model php gini (model cerita, bukan yang lain, k) SURPRISENYA SURPLUUUUSSS!!!

    Feel relieved tapi ambyar itu yaapa huhu luv this writing so muchie!!!
    Keep writing Kapuuut ❤

    Like

  3. W literally berhenti di bagian …(diulang dulu biar dramatis).. karena w ga nyangka u bakal nyelipin kalimat itu pas w lagi tegang-tegangnya.
    Ceritanya gatau w bilangnya lucu, paus and sehun adalah sebuah paduan yang menarik. ini sureal kan (plis bilang ini sureal) tapi tumben w ga susah-susah amat menangkap intisari dari cerita sureal (intinya adalah jangan jadi astronot) (iyain aja dong)
    tulisannya udah legit kayak orangnya, mulus banget kayak paha mbak snsd sampai-sampai w melongo bisa-bisanya u menulis seindah ini, kenapa w selama ini ga sadar (slap meh peulis)
    kalau perlu ada koreksi, mungkin tadi w liat sebuah “perijinan” yang kudunya “perizinan” (CMIIW PLIS W JUGA LUPA)
    selain itu udah bagus deh kayak paha mulus mbak Mahar.

    Love,
    Keii

    Like

  4. oke fix ini si paus bakal jadi anggota EXO ke-10 fix. mulai dari sini aku fix shipper sehunwhale (apa banget ini nama shipnya). KAK KAK KAK BOLEH PENGAKUAN DOSA GAAAK. aku tuh pernah baca prompt di tumblr: gimana kalo bikin cerita settingnya di luar angkasa tapi di sana kamu ngga ada ketemu bintang atau benda-benda luar angkasa. justru kamu bakal ketemu seluruh penghuni laut lengkap sama batu karang as meteor, dll. terus astronotnya (cerita si pemeran utama) ketemu sama mermaid (of course sambil nyanyi-nyanyi cantik) ngerayu-rayu buat masuk ke black hole. duh surreal surreal piyee gitu. mau bikin tapi gajadi terus. TERUS AKHIRNYA NEMU INI DOOONG HUHU AKU BAHAGIAAAA. surrealnya kerasa bangeeeet omayaaaa. btw sehun and his sassy-ness di sini boleh juga yaaaa kebayang si paus geleng-geleng: ini manusia udah gedenya cuman se-kacang goreng sok banget pula xD

    ((ngakak di bagian diulang dulu biar dramatis)) setengah mikir omaygad kakput lagi serius gini dipaksa ketawa hahahaha xD dan endingnyaaaa… udah hun, buru lah keluar aja daripada ntar ketemu paus hahaha. keep writing kakk! ❤
    oiya, as nyun said. ceritanya bagus semulus paha mbak Mahar hohoho x))

    Like

    1. KAK PUT, AKU SELALU SUKA CERITA ASTRONOT ASTORONOTAAAAN, YOU KNOW KAAAN :’) DAN AKU EXCITED BANGET NGELIAT INI AKHHHHHHHHH BENTAR AKU HARUS OFF-IN CAPSLOCK DULU SEBELUM DIMARAHIN MASTER Q.

      oke, AKU EXCITED ehem. biasanya cerita astronot itu sci-fi dan berat, tapi ini crack dan lucu sekali, sama sekali ga berat rasanya bisa dibaca di malam-malam galau gitu biar galaunya berdua sama sehun. ini alih-alih sci-fi malah surreal lagi. huhuhu ini tuh perfecto bravo bravo for my liking, yeokshi la princessa! (duh, itu berapa bahasa digabungin)

      terus sehun dooong. tengil banget, minta dipites. sesuai banget dengan pandanganku terhadap sehun yang tidak bisa diubah selama ini. all hail sassy-tengil!sehun! pengen antara jotos dia atau suruh si cetus makan aja sekalian, habis gemeeeees banget!

      DAN DIA BISA TIDUR (atau mendapat wangsit) BEBERAPA DETIK SEBELUM LEPAS LIFT OFF ITU MAUNYA APAAAAAA kayaknya mimpinya (atau wangsit, diulang biar dramatis) itu bakal jadi nyata, deh, kalau dia masih berani-berani tidur sebelum lift off ;w;; huhu. sedih banget sih kamu, mas hun.

      aku suka banget! suka-suka-suka banget! senyum-senyum sendiri bacanya. ini antara au favorit dan genre favorit dijadiin satu, hahaha. jadi how could i expect more? koreksian… sayangnya ada. dan vital banget. astronot harusnya astronaut. di kbbi adanya astronaut. dan karena ini cerita tentang astronot dan kakak nulisnya astronot, jadi… salah. silahkan dibetulkan kak put supaya semakin perfecto bravo bravo!

      keep the spirit high, my favorite writeeer! i love this fic as much as i love you! ❤

      Like

  5. jadi sebetulnya aku udah baca tadi pagi tapi dikarenakan tugas penting dari ibunda permaisuri maka harus didelay dulu komennya ((halah)).

    kupikir karena ini kanjeng yang bikin maka castnya adalah kim jongen. eh taunya….ALLAHU AKBAR YANG JADI ASTRONOT ADALAH SEORANG OH SEHUN W BRB TASYAKURAN DULU BYE.

    awalnya kukira bakal jadi bacaan sci-fi dan astronot!au yang berat gitu, dengan sosok oh sehun sebagai astronot yang gagah mongah-mongah. e lha kok begitu (diulang dulu biar dramatis) muncul langsung kedistract semua HAHAHAHAHAH. belum lagi endingnya nggak kalah bikin ngakak 12121342 tahun cahaya.

    Yaampunn…sehun oppa msh mimpi.. Blm terbang.. (2) :”

    sukaaa, kak putt. padahal biasanya aku angkat tangan kalo masalah genre surreal gini, lho. tapi kak put ngemasnya asik banget. dan untuk sesaat aku sempet mikir, “ini beneran kak put bukan sih yang bikin?” wkwk. habisnya beda dari biasanya sih. atau akunya aja ya yang lama ngga baca fic kak put? .-.

    pokoke iki cadas ngedh ambyar jayaa! yo ayo semangat nulis terus kakput! ehe ❤

    Like

  6. ADUH KAPUT BAGUS BANGET INI BAGUS BANGEEEEET.
    Deskripsinya lancar banget kak, kayak hmm (mikir) perosotan abis diguyur ujan. MULUUUS.
    Siapa yg nyangka kalo Sehun ternyata masih melamun? HAHA
    Trs gaya nulis kakput lebih santai daripada biasanya ya. Am i wrong?

    Pokoknya ketje badai lah kak, Seribu jempol untukmu!

    p.s: enw aku baca ini abis nonton the martian. serasa cucok.

    Like

  7. Sehun kebanyakan main game sama nonton film tuh makanya kek gitu hahaha XD aku udah lamaaa banget ngga baca tulisan kakput dan sekarang baca ini beneran ambyar banget dah ah 😀 keren makin halus bahasanya makin menarik juga :3 etapi aku baru liat poster sing for younya aja belum sempet nonton mvnya jadi ngga tau ada bagian sehun sama si paus 😥 ini si sehun cablak banget yak, iya aje si paus marah bang kalo digituin hahaha keren deh kak ❤
    Btw blog ini isinya writers favorit aku semua deh, seneng banget bisa nemuin ini blog ehehehe ❤

    Like

  8. KAKPUT SUDAH LAMA LOSING THREE NANGKRING DI SAVED PAGE TAPI KUBARU BACA EHEE.

    Nabil ngga ada abis-abisnya mikir ya, kok bisa banyak banget pake kata-kata sinonim yang ngerangkai dan penempatannya asique banget. Suka sama penggambaran karakter sehun yang ceplas ceplos, dan bakal keren tuh kalau tetiba dia kehilangan nurani, perasaan, dan ingatan, manusia jenis apa yhaa nantinya. Dan di ending kutamenyangka sekali kalau dia belum lepas landas ehee.

    Guuud fict as usual kakpuut

    Like

  9. Halo Kakput, maaf ya aku baru komen padahal ffnya sudah rilis sejak kapan karena aku belum siap baca cerita astronot-astronotan (oke, ini ambigu), takutnya nggak paham karena pengetahuan astronomiku jongkok abis. Eh ternyata ffnya enak (?) dan nggak berat cem paus atau paus jadi-jadian (baca: Cetus) itu. Makasih ya, Kak, jadi tambah ilmu juga setelah baca ff ini.

    Like

  10. Suka sekali feel semi-surealnya, juga kosakata yang kena (monokromatik) dan paparan ‘outer space’-nya yang ringkes dan nggak ribet. Cuma kalau tak salah ‘tahun cahaya’ itu satuan jarak ya (bukan waktu). 🍸

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s