Otter

otter

by fikeey

She thought she heard him call her name.

//

Hari Jumat di minggu kedua bulan Desember adalah hari bersejarah bagi murid Gryffindor, Hufflepuff, dan Ravenclaw di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.

Semuanya berawal dari Snape yang memasuki ruang kelas mereka dengan kibasan jubah hitam panjang di belakangnya, lalu mengisi permukaan papan tulis yang kala itu masih kosong dengan lambaian singkat dari tongkatnya. Harry bahkan tidak bisa menahan senyum saat membaca judul awal tulisan yang tertera: Patronus. Kurang lebih tiga-perempat dari kelas ini (dengan pengecualian murid Slytherin, tentu saja) sudah menguasainya.

Hermione, seperti biasa, mengeluarkan perkamen serta pena bulunya lalu mulai mencatat, meninggalkan Harry yang masih belum melakukan apa-apa. Pada pelajaran Patronus Harry yang pertama, Lupin tidak mengajarkan macam-macam, hanya mantra yang perlu diucapkan serta perasaan tertentu yang perlu Harry ingat ketika mengucapkannya. Dia berhasil pada percobaannya yang ketiga, dan semenjak itu, Harry semakin mahir menggunakannya.

Snape melambaikan tongkatnya sekali lagi, membuat puluhan kursi serta meja menyingkir di sisi-sisi ruangan, menyisakan sebuah area cukup luas di tengahnya. Harry menghela napas lega, ketika Snape mengizinkan mereka untuk berpasangan dengan teman sebangku, jadi setidaknya dia dan Hermione bisa saling melempar Patronus dan menjernihkan kepala setelah satu setengah jam yang lalu berada di kelas Ramuan yang penuh dengan bau kotoran naga.

“Apa yang kaubayangkan setiap kali kau mengeluarkan Patronus, Harry?”

Harry mengangkat bahu, menatap Hermione dengan hewan keperakan menyerupai berang-berang berlari-lari di antara kakinya. “Entah,” jawab Harry. “Tidak tentu. Tergantung situasi apa yang menyuruhku untuk mengeluarkannya.”

Hermione mengangguk.

“Kau?”

“Hari di mana nilai O.W.L-ku sampai di rumah, mungkin. Atau ketika pertama kali aku masuk Hogwarts, atau ketika Gryffindor menang Quidditch,” kata Hermione, tapi Harry dengan jelas mendengar sahabatnya mengecilkan volume suara di kalimat terakhir. “Oh, sudahlah aku muak.”

Harry tersenyum, lalu dia sendiri melambaikan tongkatnya. “Expecto Patronum.”

Cahaya keperakan muncul dari ujung tongkatnya, dimulai dengan desiran cahaya lemah, lalu memanjang dan menapak ke lantai. Harry merasakan dadanya berdebar dan diselimuti perasaan hangat ketika dua pasang kaki yang langsing menapak di lantai kelas, tepat di hadapannya, lalu dilanjutkan dengan tubuh yang gagah dan juntaian ekor yang cantik. Sebagai sentuhan akhir, tanduk bagai mahkota menutup pertunjukan singkat itu dengan anggun.

Hermione bahkan kehilangan fokus hingga berang-berang peraknya menghilang.

Seisi kelas memperhatikannya, dan Harry merasakan tatapan tidak suka Snape entah dari sudut mana dia berada saat itu. Kesenangannya toh hanya berlangsung sebentar, dan akhirnya diputus oleh Snape yang kemudian melangkah ringan mendekatinya sambil berdesis, namun cukup untuk didengar semua murid.

“Potong lima angka dari Gryffindor karena kau pamer, Potter,” katanya, lalu ia mengambil napas.. “Kembali ke pasangan masing-masing sebelum aku memutuskan untuk mengurangi lima angka lagi!”

Hermione menatap tak percaya.

“Sudahlah. Mengharapkan Snape bertepuk tangan sama saja seperti membayangkan Voldemort membagi-bagikan lolipop,” kata Harry ketika Hermione mulai mengangkat tongkatnya lagi.

Pelajaran ini belum akan berakhir, walaupun kenyataannya saat ini masing-masing murid sudah memiliki cahaya keperakan masing-masing meliuk-liuk di sekitar mereka. Ron (yang tentu saja berpasangan dengan Lavender) dengan Patronus Terrier-nya, Seamus yang berlarian dikejar rubah, dan bahkan Ernie Macmillan yang berjongkok di samping Patronus-nya yang mengambil bentuk babi jantan.

Para murid Slytherin tampak memandang iri. Crabbe dan Goyle bahkan dengan sengaja menyenggol Dean yang baru saja berhasil mengeluarkan Patronus berbentuk bola sepak―dan dia tampak bahagia. Harry menebak Dean akan membubuhkan poster Westham-nya dengan hiasan Patronus ini nanti malam.

Ketika akhirnya Snape mengembalikan kursi dan meja ke tempat semula dan mengakhiri pelajaran tanpa tugas apa pun, perut Harry rasanya sudah keroncongan sekali. Parvati dan Padma yang duduk satu meja di depan Harry melemparkan bisikan terima kasih mereka, juga Dean dan Seamus yang bergantian menepuk bahunya. Mungkin hanya segelintir yang tahu, tapi mau tak mau Harry merasa bangga telah berhasil mengajari teman-temannya mantra yang termasuk sulit ini.

Harry baru saja bangkit dari duduk ketika tiba-tiba Hermione berdiri tak bergerak di sebelahnya.

“Berang-berang? Kau melihatnya?” Crabbe yang berjalan sembari tak lupa menyenggol beberapa murid lain menjulurkan leher gemuknya kepada Goyle.

“Ya,” kata Goyle. “Blaise yang memberitahuku.”

“Ah, kupikir Patronus Draco akan berbentuk sesuatu yang gagah atau apa.” Pansy Parkinson rupanya ikut bergabung kemudian.

“Masa bodohlah. Aku sudah diancam akan diberi tugas tambahan apabila minggu depan tidak berhasil mengeluarkan Patronus,” komentar Crabbe.

Harry masih belum berjalan walaupun kala itu koridor di balik pintu sudah ramai dipenuhi murid-murid yang kelaparan dan saling mengambil langkah lebar menuju Aula Besar.

Snape sudah meninggalkan ruangan, dan ketika pintu berdebum di belakang tubuhnya barulah Harry menolehkan wajah kepada sahabatnya yang masih berdiri diam. Dan detik kemudian, Harry mendadak ingin tertawa.

Wajah Hermione memerah. Harry bertaruh pasti pipinya hangat.

“Harry? Tidak mungkin, kan―”

Harry mengangkat bahu, namun kemudian dia menepuk punggung sahabatnya. “Ayo makan. Aku lapar.”

*


  • hai semua, kenalin aku fika. sooo glad to be here x)
  • btw patronus Dean ngga dijelasin di buku, jadi kubuat patronusnya dia sepak bola aja ya.
  • thank you for reading!
Advertisements

13 thoughts on “Otter

  1. OMO KA FIKA IS HEREEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!

    Ka aku mau pengakuan dosa dulu kalo aku bener-bener baca tiga kali baru JDARRR
    baru aku paham arti semu-merah di pipi Harry-Hermione, kyaaaaaa~
    trus merutuki kelolaan sistem linguistik di serebrum ini hvt (((butuh kopi)))
    Point plus banget karena dikemas pake Bahasa Indonesia, bikos kan jadinya penasaran kek apasih apasih ini kenapa, dan taraaaa~~~ kuncinya adalah….(fill in the blank)(not gonna ruin the surprise)….then in the next second Ka Fika makes my day!!! ❤
    SO MUCH FUN IN IT!!!

    AAAAAAAND WELCOME KA FIKA! GLAD TO BE HERE WITH YOUUUUUUUUUU *latsavlavvvv*

    Like

    1. AAAA DEKPAAANG. iyaaa akhirnya bisa seatap nulis bareng hohohoho.

      ((maap, anaknya selalu implisit kalo nyeritain dramione ahahaha)) daaaan, maafkan aku kayaknya rada ngeganjel gitu tulisannya, gara-gara WB (mencari kambing hitam) wkwkwk. aaaa yaampun kamu baca sampe sebanyak ituuuu huhu makasi yaaa dekpang. GLAD TO BE HERE WITH YOU TOOOO ❤ ❤ ❤ makasi yaaah dekpang udah baca sama komen x))

      Liked by 1 person

  2. FIKA!
    Actually, i’m lost! gatau mau nulis apa!!!! pusing pala w!!!!!!!!!!
    (after a million exclamation later)
    .
    AKU SUKA BANGET!
    semuanya, penggambaran karakternya yang secara individual masih canon menurutku. Terus penjelasan deskripsi patronusnya itu lho yang bikin aku ikut merindu Harry Potter & The Death Hallows yang sekarang entah kemana bukunya (PLIS YANG MINJEM BALIKIN DONG)
    Untuk dipakai sebagai fiksi debut kamu di sini, aku sebagai reader sangat suka sekali. Cocok dan bagiku, Fika banget.
    Oh iya soal ceritanya, sama kayak Filza, aku kudu baca kurang-lebih tiga kali sampai akhirnya paham apa yang coba kamu sampaikan. Untung aja prompt-nya membantu, sih. Hehe.
    Terus berkarya Fika!
    .
    Keii.

    Like

    1. HAI NYUN! aaaaa terima kasiiih x))

      huhu aku juga kangen bacain novel Harry Potter dari satu sampe habis :”(( keknya dulu mah bahagia banget gitu kalo buku baru udah di tangan, tinggal dibaca. sekarang ngga ada yang ditungguin lagi deh, wes mari filmnya wes abis. LAH KOK SAYANG BANGET BUKUNYAAA :”((

      hehe muup bikin pusing, Nyun, lagi rada WB (nyari kambing hitam) pas ngerjain jadine begini deh. daaaan… alhamdulillah promptnya ngebantu hehehe. makasi banyak yaaah udah baca sama komeen hehe x))

      Like

  3. iya kak, burden sebenernya huhu. udah bukunya level tinggi, filmnya keren gila kayak gitu hahahaha. makane aku rada nyesel bikin cerita ini pas masih agak WB jadi rada ada yang ngeganjel piye ngunu :”((

    HAHA. iya Voldemort mah sukanya Avada Kedavra terus. ketemu tikus di kamar mandi juga paling Avada Kedavra lagi doi mah. tapi penasaran kalo misal doi bisa Patronus……..mungkin bentuknya hidung. Snape keknya forever PMS-ing kalo liat Harry bawaannya marah-marah mulu hahaha xD

    iya kak betul sekali :”(( HUHU IYAAA. terima kasih kepada Nona/Mbak/Kakak Q yang sudah mempersatukan eaeaeaea x3 glad glad glad to be here ❤

    aaa nggapapa kakpuuut nyantai sajaa. keep writing juga yaa kak, and see you too ❤

    Like

  4. Baca ini aku jadi kembali mengenang masa-masa indah saat mengagumi si harry dahulu *Rotfl* emang kenapa si hermione mukanya merah? Grgr patronusnya sama kaya si draco apa gimana yak? Aku ndak mudeng kakfik ._. Maapkeun otakku yang terlalu lola ini omagaad 😥 syedih dedeq XD tapi ini keren, tata bahasanya halusss banget :3 loveit lah ❤

    Like

    1. nooo kebalik. itu Hermione yang nyadar kalo Patronus Draco malah yang ngambil bentuk sama kaya punya dia hoho. dan kalo di Harry Potter (kalo misal kamu juga ngikutin bukunya) kalo Patronus sama berarti itu ada kemungkinan “apa-apa” eaeaea, kayak kasus Snape sama Lily lah kira-kira xD ((namanya juga shipper hahaha)). btw terima kasih banyak yaaa udah baca dan komeen hehe.

      Like

  5. OMO KAK FIKA, KALAU FIKSI DEBUTNYA UDAH GINI KESANANYA BAKAL SEBAGUS APA? NABIL SUKA SEKALI YAAMPUN.

    Baca komentar di atas, hamdallah karena nabil tak perlu baca sampai tiga kali ehe. Penyampaiannya ngga eksplisit tapi kusuka sekali dengan begitu.

    “Mengharapkan Snape bertepuk tangan sama saja seperti membayangkan Voldemort membagi-bagikan lolipop.”

    Entah kenapa dari semua dialog itulah bagian favoritku. Nabil akan selalu menunggu ff harry potternya yhaaa.

    GUUD FICT KAK FIKAAA! 🙌🙌🙌🙌🙌

    Like

    1. huhu nabil juga baru debut bawanya riddle, atuh lah hahahaha pas baca tuh aku yang bingung terus kesel sendiri soale bikin jawaban macem macem xD

      hehe pairing dramione emang lebih klop aku implisit sih bil, imo, sih hehe. soale kalo terlalu diliatin malah kayak oot xD but aku senang kalo nabil sukaaa hihi.

      HAHAHAH ceritanya voldy lagi baik bil xD terima kasih udah baca sama komen ya nabiiiil hihi :3

      Like

  6. YA ALLAH KAFIKA KENAPA AKU BARU BACA INI??????

    ADUH YAAMPUN:”’))))) MY HEART!!!! JIWA DRAMIONEKU SANGAT DIMANJAKAN. Padahal ini sudut pandangnya lebih ke Harry tapi itu sih yang bikin spesiaaal. Sama kayak how jk wrote the series~ 😀 jadi nyamaaaan. Dan line terfavoritku di sini sih “Potong lima angka dari Gryffindor karena kau pamer, Potter,” YAAMPUN IYA SNAPE IYA!!!!!!!! Sepanjang series dia ngebully harry pake point mulu dan itu banget omongannya!!!! memang ya james masih meninggalkan luka~

    Anyway, GIMANA SIH JADINYA BARENGAN BERANG BERANGG!!!!!! Aku kan jadi inget waktu patronus tonks berubah karena dia jatuh cinta sama lupin!!!!! Iniㅡini tuh, aduh please aku suka banget:”)))) dan tawanya harry di akhir plus blushing hermione itu penutup yang oke banget kak plis???? sukaaaaaaaaaaaaak. suka banget!!! pokoknya dramione, harry potter!au, semuanya aku suka banget panggil panggil aja kalo ada heheheehehe:))) ❤ ❤ ❤

    Like

    1. OMG DHILA YOU’RE HEREEEE (peluk).

      iya dhiiil. aku gatau kenapa masa lebih sreg nulis dramione dari sudut pandang harry hahaha, kebawa sama novelnya kayaknya wkwk. HAHA IYA SNAPE MASIH MARAH SAMA JAMES LITERALLY NGGA BISA NGGA SELAW YHA HAHAHA xD

      HUEHEHEHEHE. ini tuh beneran kepikir emang gara-gara aku baca ulang novelnya terus pas bagian yang tonks fall in love ama lupin tuh dhiiil ahahahay. harry tuh literally sassy banget di novelnya! wkwkwkk. siaaap dhil! kamuh kalo nulis dramione sama harrypotter!au juga call me call me yaw ahaha. makasi dhilaa udah baca dan komeen ihiw ❤ ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s