Hai

Hi

a story by Keii

Hi…


WIBI

Hai.

Kukirim juga pesan itu setelah dua menit berkontemplasi. Aku tak habis pikir bisa-bisanya seorang anti-feminis sepertiku pada akhirnya bertekuk lutut pada pesona Rengkuh Ringga Ananta. Padahal sebulan yang lalu, gadis itu baru saja kuajak tarung kata habis-habisan.

Ringga punya sesuatu yang jarang sekali kutemukan di wanita lain—percayalah, aku tak membicarakan soal penis—yang dengan mudahnya memikatku. Namun demikian, sesuatu tersebut pada akhirnya adalah sebuah pecut yang kemudian memaksaku untuk melepasnya seketika.

Aku bicara soal independensi.

Ringga dipenuhi rumus-rumus politik yang tak bisa kutembus dengan diktat kuliah hukumku. Dia sebuah langit di atas kabut. Ada, influensial namun tak terjamah. Hingga diri ini terkejut saat Ringga datang dengan sebuah senyum simpul pada suatu malam dan mendeklarasikan diri untuk menerima pernyataan cintaku.

Ya, aku tahu kisah romanku terlalu fiksi untuk ditulis kembali. Tunggulah sampai Februari. Kala Ringga menyatakan dirinya tak lagi berkoalisi denganku. Saat itu dia bilang perasaan kami tak lagi mutual; ia kehilangan seluruh kemampuannya untuk melihat semua upayaku dalam memperjuangkannya. Ringga bilang ia puas dengan kehadiranku, tapi tak cukup puas dengan terawangannya akan masa depanku.

Darah mudaku mendidih. Aku bilang semua yang sejak lama menempati bagian terdalam dari benakku; unek-unekku tentang betapa Ringga tak pernah mengangkat teleponku saat siang, mengabaikan pesan BBM-ku saat malam, serta membiarkan aku melewati malam minggu hanya dengan sebungkus nasi goreng yang acapkali berakhir di tong sampah. Tentu saja, Ringga tak terima. Kami tarung kata via pesan BBM hingga jari-jariku kram. Aku melontarkan seribu jurus pembelaan diri, Ringga bertahan dengan sejuta alibi politisnya. Aku maju dengan topik baru, Ringga bertahan agar tak memakan umpanku.

Alamak, andai seluruh ilmu advokasi yang kudapat bisa kuaplikasikan pada gadis satu ini, mungkin besok kami bisa duduk berdua di pinggir jalan, menyeruput es kelapa Mang Gedeg kesukaannya.

Sayangnya, Mang Gedeg banting setir menjadi penjual bakso, dan aku pun sudah putus dengan Ringga.

Meski demikian, naluriku tak bisa berdusta. Jauh di dalam sana ada sebuah Wibi junior yang tak jemu-jemu memanggil Ringga setiap malam. Wibi junior berhasil mengubah seluruh kehidupanku menjadi sebuah Wibi-gagal-move-on. Diktat kuliahku penuh dengan coretan namanya, lengkap dengan doodle asal berbentuk sketsa wajah Ringga. Dompetku yang biasanya cuma dihiasi beberapa pasukan Pattimura yang siap ditukar dengan gado-gado, kini hampir sesak oleh beberapa konsep surat yang gagal kukirimkan pada Ringga (kenapa surat? cuma sebuah cara agar hatiku tak terlampau sakit kalau ternyata Ringga tak membalasnya—asumsikan saja suratnya tak sampai).

Jadi hari itu, aku bersumpah akan meminta maaf pada Ringga, merangkum seluruh isi suratku dalam pesan BBM yang kuketik selama satu jam. Isinya sangat panjang, sebagian besarnya menceritakan betapa sengsaranya aku hidup tanpa sosoknya, lantas ditutup dengan sebuah kalimat manis yang kuharap bisa melumerkan hati Ringga yang agak beku.

Yah, tapi realita kadang tak selalu sejalan dengan rencana.

Sejemang selanjutnya kudapati diriku terpekur pada sebuah kata ‘Hai’ yang telah terkirim pada kontak BBM Ringga. Ada huruf ‘R’ di sebelah pesanku yang artinya gadis feminis-apatis di seberang sana telah membaca sebuah dusta pendek dariku. Wibi junior dalam kepalaku menyarankan agar aku segera menambahkan kalimat-kalimat panjang untuk menghindari kesan cuek dalam pesan itu.

Boleh juga.

Aku mungkin bisa setuju kalau saja aku tak melihat sebuah ‘Ringga is writing a message’ pada ponselku di detik berikutnya.

.

.

RINGGA.

Hai, eh, halo Wibi! Gimana kabarmu? Masih ngekos di tempat lama?

Aku memandangi layar ponsel sampai mataku perih. Rasanya tak begitu lama sejak aku memutuskan berpisah dengan Wibi, tapi aku merasa sama sekali asing dengan kalimat yang kususun. Wibi mungkin tak sadar bahwa ia telah sukses menjebakku dengan sebuah hai singkat karena sekarang, Ringga-nya tak menunjukkan identitas ke-Ringga-annya sama sekali.

Kata orang, there is no friendship possible between men and women. Ya, logis, sih. Kuharap aku bisa mengetik kalimat itu dan mengirimkannya pada Wibi agar ia mengerti. Toh, Wibi tidak tolol.

Sayangnya, berapa pun untaian kata yang coba kuketik, pada akhirnya harus kalah oleh aksi gesit jemariku yang kerap menyentuh tombol delete pada ponsel. Aku tak bisa berpikir jernih. Ada serabut kecil di bagian terdalam otakku yang menginginkan agar Ringga berhenti menjadi Ringga.

Kalau aku berhenti menjadi Ringga, lantas besok-besok aku harus jadi siapa? Syahrini?

Rasanya sangat tidak nyaman disarankan berhenti jadi dirimu oleh dirimu sendiri—dan di titik ini, aku mulai kewalahan menjelaskannya.

Pertentangan batin itu akhirnya menuntunku pada sebuah kalimat panjang yang kuketik gesit di kotak reply pada kontak BBM Wibi.

Tertulis di sana:

Hai Wibi. Tumben ngontak. Gimana kabar kamu? Tahun depan lulus ‘kan? Kemarin kayaknya aku ngelihat kamu di dekat kantorku, atau mungkin aku salah lihat kali ya, hehehe. Eh, udah tahu belum? Mang Gedeg sekarang jualan baso lhoooooo. Haha. Aku dititipin pesan sama dia, utangmu harus dilunasi minggu depan soalnya dia mau pulang kampung. Tapi nggak usah pikirin, kebetulan waktu itu aku ada rezeki, jadi utangmu sudah kulunasi semua. Hahaha. Tapi, nanti temani aku cari tukang es kelapa baru ya! :p

Aku kalah mempertahankan identitasku sebagai Rengkuh Ringga Ananta. Kini aku tak ubahnya gadis biasa; gadis yang gemar menyampaikan perasaannya dengan kode-kode samar; gadis yang mengasumsikan para pria bisa dengan mudah mengerti akan kode yang disampaikannya.

Bego. Aku jatuh dalam perangkap sebuah hai dari pria yang telah kucampakkan. Padahal waktu itu aku sudah berjanji tidak akan menyesal. Berjanji bahwa aku bisa hidup tanpa Wibi. Bahwa aku lebih cocok dengan pria yang lebih tua berstatus sosial tinggi.

Diriku sedang merutuki diri saat jemariku bergerak menyentuh tombol delete sekali lagi. Aku mengosongkan layarnya, mengetik beberapa kalimat yang tak terdengar terlalu dramatis, tapi tak menampakkan sisi apatis. Aku mengubahnya beberapa kali, menghapus beberapa bagian, menyelipkan kata, menghapusnya lagi, kusalin ke bagian awal, kutambal bagian akhirnya, kuhapus lagi, dan terus seperti itu hingga akhirnya kuberanikan diri menekan tombol send di layar ponselku.

Terlihat dari sudut mataku, tanda centang dan sebuah huruf ‘R’ yang tertera di samping pesan yang barusan kukirim; Wibi sudah membacanya.

Pria itu baru saja membaca sebuah pesan hasil kontemplasi seorang Ringga di dua puluh menit berharganya yang tercurah dengan penuh kehati-hatian; sedikit-banyak berharap Wibi mau mengerti maksud khusus di balik pesan konvensional yang kukirim. Bahwa aku menyesal telah melepasnya. Bahwa aku tertekan selama ia tak ada. Bahwa selama sebulan terakhir, aku merindukannya.

Tapi lima menit selanjutnya, aku tak menemukan sebuah balasan. Sepuluh menit selanjutnya, senyap. Dua puluh menit selanjutnya, peringatan daya baterai ponsel melemah berbunyi. Bermenit-menit selanjutnya, aku tak menemukan satu pun pesan balasan dari Wibi.

Lucunya, aku jengkel.

Padahal aku sudah tahu.

Mau sampai kiamat pun, Wibi tak akan pernah paham maksud pesanku.

Oh, hai.

.

fin


a random fic from a messy thought.

Keii

 

Advertisements

18 thoughts on “Hai

  1. Hi kak 🙂

    Mmm, ini apa ya, based on true story banget, banyak yang ngalamin sepertinya. Pertamakali baca nama Ringga gak tau kenapa yang ada dipikiranku malah cowok, terus yang part “bukan penis” itu ngakak HAHAHA. Dan… akhirnya sedih, malah Wibi yang gak bales :”

    Aku suka sama pembawaan kakak, biasanya yang agak berat gitu, tapi ternyata tulisan yang santai dan ada humornya juga bagus 👍👍👍

    Tapi mungkin part Ringga gak perlu di align right, soalnya aku bacanya agak ribet ✌✌✌ hehehe.

    Keep writing kak 🙂

    Like

    1. Ih, aku gak pernah marah bikin cerita berat-berat deh Tar, bener, deh hahaha. Aku gak suka yang berat-berat otakku gak sampe, anyway makasih ya

      Like

  2. haaai kaknyun ❤
    ini bikin baper banget, deh. Dimulai dari Ringga sama Wibi yang putus –tapi ringga yng mutusin hehe
    teruss waktu Wibi BBM ringga itu, nyess banget. Mau BBM mantan rasanya grogi banget *true story* Ringga-nya juga gitu, sih 'sok-sok'gengsi gitu deh. tulis-hapus-tulis-hapus-copy lagi dan akhirnya cuma jawab 'oh,hai' dan di read doang sama Wibi :"

    keep writing kak^^

    Liked by 1 person

  3. Kak nyun atulah aku gak tau kudu komen apa lagi di tiap ficmu….
    Kalau komenku standar, semoga ga bosen ya(??)

    Ini bapernya maaksss sumpah.. tulisannya juga khas banget gatau knp aku nemu beberapa kalimat yg kak nyun banget! Aku sebenernya udah baca tadi malem, sambil ngantuk terus bingung sama nama karakternya. Kukira cuma pake satu pov, taunya dua hehehhehe
    Ini emang kayaknya kisah semua umat yg pengin ngobrol sama orang yg dulu pernah deket banget tapi gak tau mulainya dari mana. Ya begitulah, giliran udah nyapa terus cuma di read doang gatau harus gondok apa baper.. hahaha xD
    Pokoknyaa keep writing kak!

    Like

  4. Oh, hai mah ngga akan menjelaskan semuanya mbak Ringga yaampun -_- iya sih gengsi juga kalo dia yang mutusin tapi dia yang sok akrab gitu nanti dikira plinplan XD haduhh padahal lebih baik mas wibi sama mba ringga aja yang putus biar hubungan mereka sama mang gedeg *loh XD tapi as always kaknyun ini keren ❤

    Like

  5. yeokshi ini definisi dari baper. rasanya aku pengen tenggelem dalam rawa-rawa aja. pengen pake capslock semua tapi nanti… hft SIAPA YANG GA PERNAH KAYAK GINI, SIAPAAAAAAAAAAAAAAAAA? (tenang, vin) (huh) (hah)

    menampol dan menggulingkan membuat hati berpikir mengenai diri sendiri dan kehidupannya terus merutuki mereka sampe sadar. nyeh, romens itu menggelikan kadang, tapi gimana ya manusia ga bisa lepas dari romens, meskipun kok hampir semuanya satu tipe dari pdkt, pacaran, berantem, putus, stranger. bah, aku ngomong apa. maaf kak nyun.

    suka feminisnya rindra karena aku pun feminis (slapped) (tapi ga garis keras kok) terus wibinya juga nyebelin. e gatau wibi apa rindra yang nyebelin karena rindranya kode dan wibinya masih keok di depan rindra. pokoknya mereka berdua membuatku baper in the good way.

    suka banget. tulisan kakak bahasanya enaaaaaak banget, diksinya mantapz, karakternya kuat. poin plusplusplusplus buat, “Lucunya, aku jengkel. Padahal aku sudah tahu. Mau sampai kiamat pun, Wibi tak akan pernah paham maksud pesanku.” CADAS!

    Like

    1. Evinkuuuuh
      aku pernah Vin AKUUUUUUUU. Ceritanya curhat cuma biar gak menye-menye nama dan tempat disamarkan ngunu hahahahaha. AKU PUN FEMINIS, gak garis mati, cuma aku rada feminis, sih. Barusan malah putri bilang karakter cewek di fiksiku hampir semuanya feminis trus aku baru ngeh “oh iya juga ya” huhuhu
      ah apalah diksiku dibandingkan karyamu kali Vin haha. Kamu kecil kecil cabe rawit pokone. Sukses truuuuus

      Like

  6. oke nyun, berarti fiksi ini bisa termasuk definisi baper yang sebenar-benarnya yaaa hahaha xD aseli, aku dari awal tuh udah yang simpatik banget sama Wibi. kasian doi kayaknya berkorban banyak banget demi bisa jadian (dan sejalan) sama Ringga. terus terus akhirnya dia nyampe satu titik ga kuat (eaeaeaea) akhire putus. ((tapi gatau yaa di sini aku mau meringis apa ketawa soale mereka berantem lewat BBM omg)) kalo misal salah satu kena pending kan berabe :(( oke fokus lagi.

    terus terus beralih ke Ringga. tadinya kan aku udah ekspek yang negatif-negatif ke dia eeeeh malah aku juga simpatik ke dia :(( yang berusaha sekuat tenaga buat ngelepas sisi “Ringga” aslinya ((betewe aku sukaaa namanya hohoho, indonesia sekali)). OMG AKU BAPER. daaaan kamu keren lah Nyun, bisa nge-wrap karakter Wibi jadi cowok secowok-cowoknya. susah soale nulis dari sudut pandang cowok hehe. keren, keren lah Nyun. dan sekarang aku baper xD

    OIYA!! dan kalimat terakhir dari sisi Ringga itu mantep, kill abis. dan sedikit kaget pas ternyata di sini malah si Wibi yang ngga jawab huvt. keep writing yaa Nyun!! hehe.

    Like

    1. Fikacoboooonyiiiii
      Menurutku malah si Wibi ini kurang dieksplor. Aku sengaja gak nonjolin dia soalnya aku gak tahu harus bikin karakter yang seperti apa untuk Wibi. Kalo terlalu menye kan jadi kaya cewe, makanya aku maen aman gak eksplor terlalu detail. Ngunu fik sebenere hahaha
      makasih ya fikeeeeykuh. Semoga kamu bisa kuat puasa hari ini setelah postingan EHEM EHEM EHEM “OSPEK”nyaaaa

      Like

  7. pas bagian ‘ oh hai’ aku langsung refleks nepuk jidat :v Ini sih kode paling transparan banget -_-

    Ini kek nya emang definisi sebenarnya dari kata baper. Mutusin duluan, meyakini diri sendiri kalo ga akan nyesal tapi ujung ujungnya ga bisa move on juga 😀 Tapi pas bagian bbm-an kok aku merasa ini kek aku banget sih -_- mau bales kepanjangan takutnya sksd, tapi kalo balesnya pendek takutnya ga balas. Tapi pada akhirnya gengsi lebih sering menang daripada rindu. Eh akhirnya balasnya pendek 😒 Dan aku juga suka sama bagian Ringga
    “Lucunya, aku jengkel. Padahal aku sudah tahu. Mau sampai kiamat pun, Wibi tak akan pernah paham maksud pesanku.” keke ini bener banget sumpah 😁😁

    Pokonya keren banget deh ini😊
    Ringan dan nyesss 😂 KEEP WRITING KAK NYUN 💪💪

    Like

  8. Aing hiatus sebulan produktif apane put hahahaha
    yoay, feminis semua. Aing feminis soale hahaha. Agak susah bikin karakter yang gak bisa gue dalami karakternya (masih amatiran) ya shemoga abis ini aing bisa membuat karakter yang lebih variatif gitu biar kece ngunu hehehe
    makasih anyway putttt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s