Hutan Suaka

tumblr_mo09ztu0r41r4i320o1_500

by Hani

Gulita malam begitu pekat. Dingin menggelenyar di sekeliling tengkuk Eve. Paru-parunya disambangi oleh udara lembap hutan yang sarat akan bau tanah basah sepeninggal gerimis tadi sore. Bersama bulan, lentera dalam genggaman Eve turut menerangi langkahnya melintasi pepohonan yang menjulang di mana-mana.

Eve yakin, apabila neneknya mengetahui hal ini, beliau pasti akan marah besar. Menjejakkan kaki di dekat hutan suaka alam ini saja amat diharamkan oleh beliau, apalagi menerobos jauh ke dalamnya. Akan tetapi, Eve—terpaksa—tidak peduli. Ia tidak boleh ingkar janji pada orang itu. Atau…makhluk itu.

Ya, Eve membuat janji dengan sebuah suara tak berwujud kemarin.

Suara tersebut berasal dari sisi yang tak Eve tahu di dalam hutan, suara yang terdengar layaknya seorang pria. Tak yakin berapa umurnya, tetapi mungkin seusia dengan mendiang ayah Eve saat meninggal. Ia memanggil-manggil Eve yang kemarin berdiri di ambang suaka—meramu bebungaan liar di sekitar sana. Namun, Eve malah bertanya tentang siapakah dia. Sosok yang bersembunyi itu tertawa mendengarnya, lantas ia menjawab, “Aku adalah apa yang sering nenekmu bicarakan. Kalau kau ingin tahu siapa aku, temui aku di bawah pohon ek raksasa di tengah hutan besok malam.”

Maka, berbekal keingintahuan yang melambung tinggi, di tempat itulah Eve menunggu sekarang.

Sesekali, telinga Eve mampu menangkap bebunyian serangga malam dari semak-semak. Lalu tiba-tiba, seekor kelelawar menukik sambil menguik sehingga membuat bahu sang gadis terjingkat. Eve tak ingin mendongak, tetapi ia juga tak ingin mengaku bahwa dirinya takut untuk menemukan sesuatu yang lebih buruk ketimbang hewan kecil itu di atas kepalanya.

Malam semakin tua, namun Eve sama sekali tak menemukan tanda-tanda kehadiran wujud dari suara yang kala itu didengarnya. Eve menoleh ke kanan dan kiri tiada henti, barangkali sosok yang dicari muncul di suatu tempat. Gadis tersebut mulai gelisah.

“Ha-halo?” panggil Eve. “Kau ada di sekitar sini, ‘kan?”

Hening berdenging sejemang. Lalu samar-samar, Eve mendengar sebuah geraman alih-alih sebuah jawaban. Lentera yang ia pegang mendadak gemetar.

“Aku tahu kau ada di sini! Keluarlah!”

Percuma saja, sebab lagi-lagi teriakannya mengudara tanpa balasan. Eve mulai berpikir untuk kabur dari suaka dan memeluk selimut tidurnya yang hangat di kamar. Tungkai gadis itu pun bergerak pelan, berupaya menjauh dari suara-suara mengerikan yang ia tangkap.

Namun sebelum Eve sempat beranjak jauh dari tanah yang ia pijak, ada semilir di balik punggungnya.

Sayang, bukan angin.

Perlahan-lahan, Eve memutar raganya ke belakang. Temaram lentera di tangan mempersaksikan seraut berbulu abu-abu dengan sepasang mata yang besar dan hijau. Hidungnya yang seukuran periuk mendenguskan napas hangat. Tanduknya terhunus di depan muka Eve. Dan, entah penglihatannya baik atau tidak, namun Eve mampu melihat sepasang sayap mirip kelelawar di belakang tubuh berbulu lebat milik wujud itu.

Makhluk tersebut menyeringai hingga taring-taring tajamnya mencuat keluar, meneteskan liur lengket nan menjijikkan di atas sepatu Eve. Bagai berusaha mengelemnya agar tak lari ke mana-mana.

Eve tak berdaya, seluruh napasnya seolah ludes dirampas oleh sesosok figur tepat di hadapannya.

“Halo…”

Kini, seraung itu membuat Eve mengerti mengapa sang nenek melarangnya masuk ke hutan suaka.

selesai

1) oke, jadi, wujud makhluk aneh di atas itu terinspirasi sepenuhnya dari Gruff di film Neverbeast-nya Tinkerbell, kecuali bagian di mana dia bisa ngomong, sih. ehe. 2) dan, halo semuanya! ini adalah debut pertama Hani di Writers Secrets. mohon bantuannya! XD

Advertisements

10 thoughts on “Hutan Suaka

  1. Dekhaaaan ceritanya bikin jatuh cinta omg. Aku berasa beneran lagi di hutan deh, deskripsinya bikin merinding asli, two thumbs up! dan gruff itu wujudnya kayak bison terbang punya aang ya? hahaha ((mendadak googling)) keep writing yaaaaa x)

    Like

  2. Serasa masuk ke dalam dunia fantasi kayak di film2 gitu. Tadinya ngebayangin “si makhluk” seperti yang ada di film Monster Inc. Tapi yang jadi pertanyaan yang cukup bikin geli di perutku, ngapain Eve mau janjian sama “si makhluk”? udah tau kalo hutannya serem banget. Eve kok gak dicariin neneknya sih, malem2 kelayapan ke hutan (kurang kerjaan kayaknya). Apa mungkin karena jamu si Eve kurang laku, kan dia suka meramu bunga liar (dijadiin apa coba kalo bukan jamu, buat neneknya kali ya? hehhehe….) Fantasi bangetttt! Congratz! Love you….

    Like

  3. Hai hai hani, jadi pas baca ada sayap kelelawar yang ada di otakku adalah Gargoyle berbulu, tapi kayaknya Gruff tidak semenyeramkan itu ya? ((Yaiyalah, filmnya aja buat anak-anak))

    Aku selalu suka sama deskripsimu, enak banget dibacanya santai gitu, mungkin memang karena kamu masih muda ((abis itu nangis dipojok mengingingat umur)). Dan fantasi-fantasi gini, genre yang tidak terjamah olehku LOL.

    Pokoknya keep writing ya 🙂

    Like

  4. HOLA DEKHAN WELKAAAAAAAAAM~~~

    Uwoooh sejujurnyaaafantasy bukan genre yang gampang, menurutku, bikos pasti butuh deskripsi mendetail dan ahaaaaaaaaaaa kamu berhasil!!! Throw confetti boleh yaaaaaaaaa~~~ Gemas sekali Dekhan kemasannya cantik, rapi, dan feelnya nyampe huhu apalagi deskrip Gruffnya kucintaaahhh…
    Btw Gruffnya di mister gugel fluffy sekali yha kumau peluuuks~~~ ❤
    Let's get along well, and keep writing Dekhan ❤

    Like

  5. Eiyyy si eve anak nakal rupanya, wong neneknya udah ngelarang gitu ko tetep pergi aja -_- aku belum goggling tapi kata ka ADelma diatas kaya bison terbang si aang, lucu dong si gruff itu :3 etapi dia punya taring ya ._.
    Deskripsinya jelas, rapi dan feelnya dapet banget pokoknya aku sukaaaa ❤

    Like

  6. Haaaai dekhaaan omo maaf aku baru baca sekaraaang. Duh ya sebentar aku mau fangirlingan dulu tulisan kamu cetar sekali x)) daaaan aku setuju sama komen-komen di atas, dekhan bisa meramu genre fantasy cuman dengan kata-kata sepanjang ficlet, dan semuanya masih kerasa. Dan kalimat-kalimatnya dooong duh suka sekali ah :’)

    Ohya tadi aku sampe googling bentuknya si Gruff ini kenapa dia cute gitu sih xD tapi serius yang dekhan deskripsiin kalo si Gruff ini menggeram itu kerasa seremnya sampe ke sini hahahaha. Yey seatap menulis sama dekhan, aku senang syekali :’) keep writing yaaah♡♡♡♡

    Like

  7. Hmm aku sebal mengapa waktu aku muda gak kepikiran buat belajar sastra. Ini bagus bangetz suka, fantasynya kentel kaya isi kue sus, manis, krenyes, ringan tapi mengenyangkan. Aku suka ♡♡♡

    Like

  8. Hani..ini keren banget. Deskripsinya detail, tapi kalimatnya nggak monoton. Mana genre-nya fantasi pula *tiba-tiba ingat daya khayal tiarap sangat*. Suka ceritanya, aku berasa ikut ngintilin (?) Eve ke hutan dan diksimu bagus bangets. Keep writing yaa 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s