Leo Valdez and The Deathly Hello #1

large

cr pic : here

Hal terakhir yang Leo butuhkan adalah amukan sinting meja berkaki tiga yang menghujaninya dengan saus Tabasco.

Bunker Sembilan tampak lebih kacau daripada sebelumnya: linggis karat tergantung di sisi pintu, obeng dan sekrup terserak di lantai kayu, forklift yang mengucurkan oli, serta tuas-tuas hidrolik yang tumpang tindih merusak gir-gir pada kepala Festus sang Naga Mekanis. Di ujung ruangan, cetak biru peralatan mekanis-magis rancangan Leo telah hancur menjadi lembaran-lembaran kecil. Sebagiannya tenggelam ke dalam semangkuk besar mus cokelat, sementara sebagian yang lain tak seberuntung itu. Para dryad yang marah karena suara berisik dari bengkel kerjanya, menginfiltrasi Bunker Sembilan, memecahkan gelas-gelas ukur dan bola-bola sihir, kemudian pergi dengan sisa-sisa cetak biru milik Leo setelah menggetok pemiliknya beberapa kali.

Leo marah sekali. Harusnya ia mendengarkan saran Piper soal istirahat dan makan siang. Cuma karena ia begitu bersemangat ketika Clarisse dari Pondok Lima memberinya misi khusus untuk menyulap barang-barang jarahannya menjadi sesuatu yang bernilai guna, Leo bekerja dua hari penuh tanpa tidur.

Dalam rentang waktu tersebut, ia sukses menciptakan teko berisi jus ambrosia yang dapat di-refill otomatis, galah pelontar antimonster, serta seperangkat radio butut yang baru bisa bekerja setelah diguyur puree kacang polong. Meskipun demikian, Leo tidak yakin benda-bendanya sanggup memancing pujian. Apalagi setelah Pondok Sembilan kalah dalam permainan Tangkap Bendera bulanan. Masih untung Leo diberikan kesempatan alih-alih disula saat makan malam.

Di saat yang tidak tepat itu, Percy datang tergopoh-gopoh. Biasanya Leo tak acuh pada para pengunjung yang seringkali keluar-masuk area kerja pribadinya tanpa izin, tapi saat itu Riptide Percy menarik perhatiannya.

“Wow, Bung, aku tahu yang barusan itu luar biasa berisik, tapi kalau kau kemari bersenjata begitu, kurasa Ares sekalipun bakalan sebal padamu,” tegurnya.

“Leo,” Percy berujar. Nada suaranya begitu mengintimidasi, sampai-sampai Leo khawatir. Ia sudah banyak sekali melihat Percy bertarung dengan raksasa, Titan, bahkan para Dewa. Leo masih cukup waras untuk tidak membuat namanya menjadi salah satu dari daftar panjang musuh Percy. Membayangkannya saja sudah cukup membuat bokongnya berasap.

“Kau punya masalah,” lanjut Percy.

“Jangan khawatirkan itu, Bung. Aku bisa mendatangkan celana dalam cadangan dari sabuk perkakasku.”

“Bukan soal itu!”

Percy bahkan belum sampai pada inti pembicaraan ketika suara auman buas memaksanya untuk berbalik. Di luar Bunker Sembilan, beberapa meter di bawah air terjun, sesosok makhluk aneh sedang asyik-asyiknya menguras sungai dan mencabik nymph.

Leo ingin panik dan melakukan mars panjang di dalam bunker sembari melolong idiot andai saja ia tak ingat bahwa secara teknis, ia seorang pahlawan, demigod, anak dari Hephaestus—yang notabene adalah seorang Dewa. Meski kedengarannya keren, Leo sendiri sama sekali tak menganggap status barunya itu berguna. Dalam berbagai sisi, ia masih sama seperti biasanya, Leo yang payah.

Leo memang bisa sangat hot—dia bisa mengeluarkan api, memanggang marshmallow di atas telapak tangan, dan sebagainya—tapi dibandingkan Riptide Percy atau koin emas shapeshifter milik Jason, Leo merasa dirinya kecil. Bahkan tak lebih berguna dari kecantikan anak-anak Aphrodite.

“Berhenti di sana, Pecundang!”

Saat Leo sadar, berbaris melingkar di sekeliling makhluk tersebut, Clarisse dan anak-anak Ares dari Pondok Lima, disusul Annabeth beserta beberapa saudara-saudarinya dari Pondok Athena yang membawa serta lima orang putera Hypnos dari Pondok Lima Belas. Mereka berdiri siaga, mengacungkan senjata, dan bersiap menyudutkan makhluk jelek di depannya.

Bicara kemungkinan pertarungan, Leo tak ragu dengan kemampuan Annabeth dan Clarisse—yang auranya luar biasa mendominasi—tapi jika bicara Clovis, si Tukang Tidur itu jelas tak bisa membantu. Belum-belum, Clovis dan beberapa penghuni Pondok Hypnos jatuh tertidur tak jauh dari tepi sungai, alhasil membuat sebagian anak Athena bersusah payah menarik tubuhnya ke tempat yang lebih aman.

Dalam kondisi normal, Leo pasti sudah akan mendengar Clarisse yang mengumpat dan melempari kedua tukang tidur tersebut dengan kepingan perunggu langit, atau Annabeth yang berceramah panjang lebar tentang pentingnya tugas demigod dan blah blah blah. Sekarang, kalaupun Annabeth ingin berpidato, ia harus menunggu makhluk di depannya disula terlebih dahulu.

“PHALDEZ!”

Leo menoleh ke bawah saat namanya kembali diserukan dengan pelafalan aneh.

“Percy, apa makhluk jelek itu baru saja memanggilku?”

“PHALDEZ!”

Jantung Leo seperti ketumpahan saus nachos. Meski sekilas, tapi picingan netra abu-abu Annabeth yang penuh kecurigaan baru saja terbenam dalam maniknya. Di seberangnya, ada Clarisse—seolah tak mau kalah seram—tengah memegang tombak panjangnya kuat-kuat. Bibirnya bergerak cepat, membentuk barisan kalimat tak bersuara yang bisa Leo artikan sebagai, KITA PERLU BICARA, VALDEZ!

Bulu kuduk Leo meremang.

“Percy, sepertinya kita punya percakapan yang belum selesai. Katamu… soal masalah…”

Leo mengharapkan Percy menepuk pundaknya dan bicara: Oke, deh, kalau soal monster dan para gadis seram, aku jagonya.

Sayangnya, hari ini Percy tak sependapat. Tungkainya melakukan manuver cepat sehingga jaraknya dengan Leo terpangkas drastis. Percy merangkul dan menepuk pundak Leo beberapa kali, sebelum akhirnya membiarkan tubuh ceking Leo terdorong ke depan; jatuh dari ketinggian.

“Nah, itu yang kubicarakan, temui masalahmu, Valdez.”

.

.

Leo benar-benar merasa dikhianati. Separuh jalan ketika ia terjun ke dasar sungai, matanya bisa menangkap decakan puas dari rekan-rekan demigod-nya. Clovis yang sedang asyik terlelap mendadak bangun dan berseru, “Puji Dewa-Dewi!” saat tubuh Leo terbenam lumpur di dasar sungai dan entah bagaimana kembali mengapung ke permukaan dengan menjijikkan.

Saat ia membuka matanya, Leo benar-benar merasa dipermalukan. Apalagi ditambah fakta bahwa kini ia berhadap-hadapan dengan sesosok makhluk aneh setinggi enam meter yang mengenakan cawat ungu dan kutang cokelat—sungguh kombinasi yang nekat.

Leo tak pernah bertemu dengan monster yang sedemikian menyedihkan: mata besar sebelah, hidung berlubang satu, serta kedua tangan yang panjangnya dua kali lipat dari tangan raksasa pada umumnya (bukan berarti Leo terbiasa melihat raksasa).

Dari jarak sedekat itu, Leo bisa membaui tubuh sang monster. Kesan pertamanya: IH!

Tubuh sang monster mengeluarkan bau apak serupa saus bolognese ditumpahi tiner. Dari luka-luka besar yang mulai membusuk di permukaan perutnya, Leo berasumsi bahwa sang monster mungkin saja baru menelan seorang kuli demigod yang tengah makan siang di restoran Italia.

Pengamatan jelinya lamat-lamat membawa atensi Leo pada rambut ikal sang monster. Selain soal warna rambutnya yang mencolok—oh ya, monster pirang berkutang cokelat? Bukan masalah!—ia juga memiliki cambang lebat nan panjang di kedua sisi wajahnya. Kalau saja sang monster tak tumbuh sedemikian bongsor, Leo pasti sudah kegirangan mengira ia bertemu blasteran Marilyn Monroe dan Elvis Presley.

“PHALDEZ!” teriak sang monster. Entah bagaimana terlihat begitu marah saat Leo berdiri menyeimbangkan kedua kakinya yang terbenam separuh di dasar sungai. Kedua mata sang monster intens mengintimidasi Leo. Ia menggeram, mengangkat salah satu kakinya, kemudian membenamkannya kembali ke dasar sungai dengan cepat seolah sedang pamer pada Leo.

Sebagian anak-anak Ares di seberang sungai berseru, meneriakkan yel-yel agar Leo melawan. Pasukan Athena yang dipimpin Annabeth perlahan mundur ke belakang dengan hati-hati. Dinilai dari bagaimana Percy telah bergabung dan mengantongi pena alih-alih Riptide, kentara sekali Dewi Tikhe—Fortuna, terserahlah—tak sedang berpihak pada Leo saat ini.

Uh, sungguh hari yang sial untuk cowok Latino ceking yang kurang makan.

Sekarang jelaslah sudah sebuah masalah yang disinggung-singgung Percy. Leo mengumpat rendah dalam tiga bahasa berbeda. Ia menengadah, mencuri pandang pada gerbang Bunker Sembilan yang sudah tertutup rapat di balik air terjun. Ada suara berisik dari dalamnya—amukan Bufford, sang Meja Berkaki Tiga barangkali, sulit untuk menerkanya—yang membuatnya cemas. Meski saat itu Leo tak tahu detailnya, tapi ia tak bisa berlama-lama berdiri tanpa rencana.

Buru-buru, tangan Leo mengaduk isi sabuk perkakas yang melingkar pada perutnya, memeriksa keberadaan benda yang dianggapnya bakal berguna. Sudah tak ada jalan lain. Pertaruhan memalukan pun sekarang tak masalah. Mengasapi bokong monster bercawat setinggi enam meter? kenapa tidak?

“Ayo selesaikan ini, Nak. Paman Leo masih punya meja magis yang harus digetok.”

.

.

 –to be continued


 HAHAHAHA. I LOVE LEO VALDEZ MORE THAN MY REAL CRUSH (BUT I LOVE HARRY POTTER TOO OMSDFHSJKDGHFHSG)

((judulnya udah obvious sih))

nyun.

Advertisements

24 thoughts on “Leo Valdez and The Deathly Hello #1

  1. Jadi gitu kak. Kaka lebih cinta leo daripada mantan kaka. Siapa kak? percy? Jason? Hehhehehe. Gakdeng. Faktanya, aku juga lebih cinta leo dari pada mantan. Yah gimana, demigod dengan sabuk perkakas ajaib plus kemampuan memanggang makanan jauh lebih menarik daripada manusia fana. He. ((Ini apa. Mau komen atau curhat.))

    Aku rasa aku kenal gaya tulisan rick riordan. Dan yang diatas itu kaya rick riordan ngasih side story the heroes of olympus gitu. Kebawa bgt gaya nulisnya. Aku nunggu kaka nulis something kaya “memakai kaos bertuliskan ‘Holla demigod. Aku makan sini!'” tapi enggak. Ternyata kutang. Bener kata Leo, perpaduan nekat. Dan percy. Pernggambaran sosok percy yang hobi tarung sama monster……. Selalu kunikmati.

    Leo tuhya, yang selalu bikin keadaan menghangat sedingin apapun kondisinya. Soalnya dialognya dia goblok bgt. Disini dia masih begitu. Keren.

    Tak kira oneshoot ternyata ada tbc jhaaaa harus penantian panjangkah? Janganlah kakk. Eyy, btw mau yang lain juga kak. Gacuma leo. Percy. Jason. Piper. Nico. Semuanya keluarin pls kak.

    Semangat ka nyun;;) makasih untuk penghiburnya;;)

    Like

    1. AKU TEAMVALDEZ GARIS MATI hahahaha tapi sekarang aku multitasker nih soale sejak ada Magnus Chase yang mirip Kurt Cobain itu, aku jadi suka Magnus juga haha. Kenapa sih selera cowok aku ?????
      Iya kebawa banget santainya. Personally aku memang suka tulisan yang ga ribet, yang ditujukan untuk semua kalangan dan gak bikin orang orang yang mbaca mengerutkan dahi. Apalagi dibalut sama fantasi ngunu. Dan kebetulan gaya nulisnya Riordan itu sefrekuensi sama aku jadilah aku berkiblat ke dia. Ringan, simpel, tapi asik dan nagih dibaca lagi. Aku cinta Om Rick!
      Nanti aku bikin Nico yah, soale aku sekarang lagi jatoh cinta sama Hades hahahaha

      Like

    1. BARU KOMEN KAKNYUUN AMSORI :))))

      LEO VALDEZ ZUPER ZEKALI YHAA 🙂 KANYUUUN KUSUKA SEKALI SAMA DESKRIPSINYA, SANGAT BAPKYR / KEII / SEKALI. CERITANYA SELALU BISA BUAT WRITERS BLOCK ILANG, KUMASIH FANS MU KA NYUNNN

      Like

  2. LEO VALDEZ!

    yah kasusku adalah terpesona sama tokoh ceking itu juga, jadi begitu lihat namanya nongol langsung, WHUT? SERIOUSLY MY VALDEZZZZ /Tim Leo/ (ya… biarpun kadang aku masih selingkuh sama di angelo :v)

    Baca ini serius, berasa baca tulisannya Om Rick Riordan, penyampaiannya bikin ngerasa kek baca Heroes of Olympus apalah, barangkali kayak spin off atau yang lain. :v

    Like

  3. keren ka, leo…… suka bgt q cerita yg menyangkut kaya mitologi gini. sumpah keren kyaaaaaaaa jangan lama2 kak

    Like

  4. Baca foreword sama judulnya aja udah ngakak XD aku sukaaa banget kalo kaknyun udah bikin cerita pake narasi yang begini ❤ jadi ngakak sendiri bacanya apalagi pas penggambaran si raksasa XD raksasa 6meter dengan cawat ungu dan kutang cokelat dipadukan dengan rambut pirang dan cambang panjang, mata satu, hidung satu tangan besar, sumpah absurd banget ini monster XD sukaaa ❤

    Like

  5. ASELI LAH LEO SINI CUBIT DULU HAHAHAHAH xD nyun sebelumnya maafkeun aku waktu itu udah manas-manasin buruan publish eh taunya malah baru komen sekarang uhu maafkeun.

    sengaja nyari waktu luang sih bacanyaa biar menghayati wkwk. dan bener kaaaan, coba aja aku bacanya buru-buru, after effectnya gaakan segininya sumpah. aseli aku tuh yang nahan ketawa tiap baca deskripsinya. yang pake cawat ungu lah, kutang kuning lah, yang ketumpahan saus nachos lah (huhu terus aku ngidam nachos) asli ngakak xD

    honestly aku baru pernah baca buku Rick Riordan cuman sekali, itu pun gak selesai (gak sempet, soale modal minjem ama temen kampus sih. eeeh terus keburu lulus wkwk). terus jadi penasaran soale banyak yang bilang filmnya ini semrawut parah. mendingan baca bukunya. yasuda akhire kumpulan buku Rick Riordan kumasukin resolusi 2016 HAHAHA maap malah curhat. intine mah ditunggu yah mbaknyun lanjutannya x)) DAN KALIMAT TERAKHIR LEO DOOONG deuh aku suka banget! semangats buat chapter selanjutnya yah nyun :3

    Like

    1. HAE FIKAAAAA
      ih gapapa kali fikeykuh soale aku juga baru sempet baca baca lagi sekarang dan ngebalesin komen komen huhu maafkan akuh ya cskuuuuh
      Filmnya asli parah banget, gabungin tiga film jelek tahun ini, film Percy Jackson itu masih selevel di bawah tiga felem itu. ASLI KZLLLLLLL
      buat yang suka myth, YA, komedi garing yang dibumbuin sarkasme parah, Riordan tuh jagonya. hahaha. aku gak bisa berenti baca buku dia, semacam love at the first sight sih
      ini chapter selanjutnya masih berupa niat baik, belom dieksekusi. hahahaha doakan aku yhaaa

      Like

  6. Aku suka percy jackson dari filmnya..
    Tapi gak tahu cerita panjangnya..*maafkuper
    Tapi penasaran sama yang ini
    Aku kira oneshoot eh ketemu sama tbc..hehe
    Semangat deh kak nyun

    Like

  7. IGE – IGE MW O YA – ((terkejut Choi Taek))

    masyaAllah, kukira ini yang nulis Rick Riordannya sendiri??? ternyata kak Nyun! omaga. I LOVE THIS. I LOVE LEO. I LOVE MY LYF FOR READING THIS # blessed

    liat di summarynya Bufford nyanyi lagu Adele, aku udah ketawa-ketawa cantik. terus bokong berasap. pecah selera humorku jadi berkeping-keping.

    kangen banget sama Clarisse yang siap perang dan Annabethku kesayangan, terima kasih kakNyun sudah ngepublish karya secantik ini! aku juga dilema banget sama Percy Jackson sama Harry Potter… suka pengen ngeletakkin bukunya saking gereget pengen ikutan ke kehidupan mereka:’ ( OOT DEH. gwaenchanyeol ya kakNyun.

    gasabar menunggu kelanjutannya. and the deathly hello? apakah nyanyian Bufford segitu mematikannya?

    nAON

    ini komen 90% spasi 7% random 3% beneran komen. sepertinya aku kurang latihan dalam mengekspresikan kata-kata. (((alasanmu)))

    ini keren. banget. kapital. shift pencet. i love u valdez. #lah

    Like

    1. bawa bawa Choi Taek…………
      aku peliharaan Riordan yang ketinggalan di Indonesia akhirnya jadi manusia hahaha (naon sih garing nyun)
      aku pengen liat liat Gryffindor, tapi gak pengen liat-liat Tartarus (maap ya om Percy seganteng apa pun kamu aku gak mau diajak ke Tartarus)
      CINTA ASELLLLL MUMUMUMU

      Like

  8. Kaknyun, terima kasih sudah mengenalkan aku dengan cerita fantasi yang beda, lucu-lucu sarkas dan sama sekali nggak berat padahal ada unsur-unsur mitologinya ya. Apaan itu kutang cokelat dan cawat ungu, rambut pirang dan blasteran marilyn monroe-elvis presley, lalu saus bolognaise campur tinner dan entah apa lagi, yang jelas aku ketawa dan nggak habis pikir kok bisa ya kaknyun bikin metafora sebegininya. Dan soal Leo, aku baru kenal dia dari ff ini tapi kenapa dia seatraktif ini sih?

    Like

    1. Halo Mi, hehe, terima kasih juga mau membaca karya yang absurd ini sumpah. Padahal ini pun belom kelar fiksinya masih berupa series terlantar yang masih berupa niat baik. Itu… kebawa gaya penulis aslinya. Aku terlalu gampang kebawa gaya nulis orang, yang kadang bagus tapi kadang malah aneh huhuhu. Leo Valdez tuh women’s crush. sekali baca bukunya, gak bisa kalau gak jatuh cinta sama Valdez deh, serius

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s