Kumpulan Rasa Dalam Kotak

46_3_4-Photo

by ADelma

.

“…jika memang terlalu kekeuh untuk tak berpaling, maka nikmati dan biarkan semuanya beradaptasi dengan alami.”

.

Mendatangi tempat itu adalah sesuatu yang haram untuknya. Tapi mau bagaimana lagi? Istilah kepepet memaksanya untuk menjilat ludah sendiri kendati ia tahu jika perbuatan itu tak layak untuk dipuji. Dengan langkah terbata pria itu merapikan tekadnya yang berserak menjadi bulat sempurna untuk kemudian diamankan di saku parka biru yang membungkus tubuh gempalnya. Ia menarik napas sepanjang kereta api, lantas mengembuskannya kencang sekali sampai pohon-pohon kelapa bergoyang.

Keputusan ini sesungguhnya telah membuat hati dan pikirannya bertengkar hebat; mereka saling menghina seperti musuh bebuyutan yang tak ditakdirkan akur sampai kiamat tiba. Ia terganggu, tentu saja. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain menulikan diri sambil melantukan lagu favorit mendiang sang kakek. “Berkebun~ mari berkebun~ aku menanam uang, kamu menanam cabe. Siapa yang nantinya bakal lebih kaya? Aku atau kamu tak masalah. Ayo berkebun~ aku di atap rumah dan kamu di jamban tetangga.”

Sebulanan kemarin ia galau menimbang keputusan apa yang harus diambil. Ia mulai kewalahan menghadapi gengsinya yang mengamuk, tapi di sisi lain jalan termanis dalam mengatasi masalah ini adalah dengan datang ke tempat itu. Persetan dengan harga diri, kalau pun angkanya habis terkikis, masih ada predikat gratis yang siap untuk merampok perhatian siapa saja yang menginginkannya.

Dengan malas ia melirik arloji yang melingkar di leher; masih pukul dua siang tapi—uh—langit sudah segelap liang dubur. Matahari memang sedang cuti bekerja setidaknya sampai seminggu ke depan, menurut berita dari surat kabar, sekarang tugasnya telah diambil alih oleh pelangi yang membentang lesu di langit sambil memamerkan tampangnya yang asam laksana cuka dapur. Intensi untuk menyapa jelas tak ada, ia terlalu sibuk memaksa sepasang tungkai kakinya untuk melangkah khidmat di setapak berbatu yang dipenuhi kotoran kuda dengan ritme yang pas, fokus yang ia tumpahkan adalah tiga puluh lima persen, agaknya cukup jika hanya untuk berjaga-jaga agar kakinya tak memagut kotoran berengsek itu. Pohon kelapa yang berjajar di pinggir jalan seolah mengolok-olok kepergiannya. Tubuh mereka bergoyang ke sana dan mari, pun daun-daunnya berdesau dengan irama mengejek yang teramat pekat. Ia melempar tatapan nyalang beberapa kali, tapi pohon-pohon kelapa itu seolah tak peduli dan tak menggubris sama sekali.

Diam-diam ia menyuruh pikirannya untuk sampai lebih dulu ke tempat itu. Mengintip tentu bukan gayanya. Tapi—sekali lagi—istilah kepepet lah yang membuatnya jadi begini. Di sana ia melihat apa yang digalaukannya sedang tertawa seperti tak ada hari esok. Aroma kesedihan jelas nihil, yang terhidu hanyalah pengharapan akan masa depan yang lebih menyenangkan. Itu sangat menyebalkan buatnya, dan meski sudah menduga jika efek kedatangannya akan melenceng jutaan mil dari ekspektasi, ia tetap tak gentar dan bersikeras untuk menuntaskan niatnya. “Sini, pulang saja.” Ia berucap monoton dan tak lama kemudian pikirannya kembali dengan kemurungan yang luar biasa. “Maaf, ya.” Sejurus tangan kirinya menyelinap masuk ke dalam kepala, membelai pikirannya yang tenggelam di danau kesengsaraan dengan gerakan super lambat. Memang, tidak semua hal yang rusak bisa diperbaiki. Kalau pun bisa, tentu mereka takkan sempurna lagi. Adalah sebuah kewajaran jika hal itu terjadi, tak perlu lah menyalahkan siapa-siapa, jika memang terlalu kekeuh untuk tak berpaling, maka nikmati dan biarkan semuanya beradaptasi dengan alami. Ia tersenyum, lalu mengamini gagasan tersebut. Ya, hitung-hitung menghibur diri lah.

Kecepatan pijakannya perlahan bertambah, mirip setengah berlari. Ia tak mau membuang banyak waktu lagi. Maunya, sih, ia mampu memangkas durasi perjalanan supaya bisa cepat pulang ke rumah, karena cuma di sana ia bisa menikmati sop kaki babi buatan ibunya, menggauli alunan musik milik Olivier Messiaen yang disinyalir sebagai anthem frustrasi milik sang ayah, berenang gaya katak di sumur galian milik tetangga, serta merusak koleksi lego adiknya yang disusun di atas genteng rumah. Aduh, surga.

Dari kejauhan sebuah cerobong asap akhirnya terlihat. Ada aroma pai apel berbaur dan berdansa dengan udara, menyebar lapar ke seluruh penjuru desa. Hanya ada lima buah rumah yang berdiri anggun di sana, setiap rumah berjarak setidaknya lima belas meter satu sama lain. Dulu ia sering ke sana, mencipta cinta di lantai dua salah satu rumah bersama sumber kegalauannya. Serta merta langkahnya melambat akibat rasa takut yang mendominasi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Keraguan juga sama gilanya, mereka sibuk menghujam setiap inci tekad yang sedari tadi bersemayam cantik di dalam saku parkanya.

Apa memang benar harus dilanjutkan? Tubuhnya bergoyang tiba-tiba, ia tahu jika ini adalah akibat dari kakinya yang kini selembek jeli. Tapi bagaimana pun juga ia harus menyelesaikan apa yang sudah dimulainya. Ia tak mau mempecundangi dirinya sendiri, apa pun hasilnya kelak, ia harus siap. Pun jika memang hanya picingan mata dan bantingan pintu yang akan didapat, ia harus sigap.

Aroma pai apel itu kini semakin ganas menusuk indera penciumannya; lezat dan memabukan seperti wine mahal. Ia jadi ingat, dulu mereka pernah memasak pai bersama sambil bersahutan kalimat cinta yang seyogianya akan membuat siapa pun muntah saat mendengarnya. Ia tersenyum, sadar jika jiwanya kini sudah jauh lebih rileks—terlebih ketika ia memasuki pekarangan rumah si sumber kegalauan yang ia yakini masih sejelita Audrey Hepburn.

“Selamat siang,” katanya sambil mengetuk pintu sebanyak dua kali. Boneka rusa ungu yang dikenalnya masih menempel di wajah pintu, menjulurkan lidah seolah apa yang tengah dilakukannya adalah lelucon terburuk sepanjang sejarah. Sejujurnya ia merasa terhina; juluran lidah tentu bukan pertanda baik karena biasanya boneka rusa itu menampilkan senyum semanis tebu saat menyambutnya. “Selamat siang, ini aku.” Ia berkata sekali lagi.

Perlu dua jam baginya untuk menunggu seseorang membukakan pintu. Dan benar saja, ketika muncul sosok itu masih secantik Audrey Hepburn saat berlakon di film Roman Holiday. Tatapan murka adalah hal pertama yang didapatkannya, kendati ia tahu jika tersenyum hanya akan membuatnya semakin konyol, ia tetap melakukannya dengan sepenuh hati. Gaun kasual berwarna beige yang membalut tubuh si sumber kegalauan telah membuatnya lemas. Uh, cantik sekali. Sumpah mati ia rindu sepasang matanya dipuaskan seperti ini.

“Apa yang kamu lakukan di sini, Belatung?!” hardiknya.

Aduh, belatung. Kalau benar ia memandang dirinya sebagai belatung, maka rasanya sah-sah saja jika ia memandangnya balik sebagai sampah busuk. Tapi tidak, alih-alih diberi kecupan panas, mungkin ia akan dimutilasi menjadi semilyar bagian jika berani mengatainya begitu. “Aku kangen,” katanya malu-malu dengan suara yang mendadak seperti cicitan anak tikus.

“Kangen, katamu? Sumpah, mendengar ini aku jadi ingin menjadikanmu isian pai.”

Ia terdiam, lantas mengusap ingus yang mengucur dari hidungnya dengan cepat. Wanita itu benar-benar, ganasnya tak tertandingi. Singa saja sepertinya akan bersujud jika seandainya tak sengaja mengaum di depannya.

“Tapi aku benar-benar kangen. Datang ke mari jauh-jauh dengan berjalan kaki, sambil kedinginan, sambil kelaparan, sambil fokus agar tak menginjak kotoran kuda. Hargai, dong!”

Tawa layaknya sundal sekonyong-konyong memenuhi gendang telinga. Ia termangu, takjub. “Itu bukan urusanku, Belatung. Kuberi tahu, tak ada gunanya kamu ke mari. Aku sudah bahagia tanpamu. Sana, lebih baik sekarang kamu pulang lalu panggang dirimu di dalam oven.”

“Tubuhku terlalu besar untuk masuk ke sana.”

“Kalau begitu, pergi saja dulu ke tukang jagal.”

Blam! Sesuai imajinasi, wanita itu membanting pintu dengan sangat kencang. Sekali lagi, boneka rusa itu menjulurkan lidah, dan kali ini lebih panjang dari yang tadi. Ia menangis, air matanya mengalir anggun dari pelupuk. Tak pernah dirinya merasa menjadi serbuk seperti ini. Penyesalan yang keluar melalui pori-pori kulitnya seolah tak ada arti, walau bagaimana pun juga semua sudah terlambat. Wejangan klise ayahnya serta-merta membungkus rapat benaknya; penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal namanya niat.

Ia keluarkan kotak sewarna langit malam tanpa hiasan dari balik kaus kaki. Ia buka tutupnya, lantas ia masukan segala macam rasa yang susah payah ia pendam selepas hubungan mereka berakhir. Cinta sebesar fosil tiranosaurus, rindu yang tak sadar ia tumpuk sampai setinggi Menara Pisa, pun penyesalan sebanyak buih di lautan yang ia yakin takkan pernah habis dimakan waktu—ya—penyesalan yang lahir karena ia telah mengkhianati wanita itu dengan cara berselingkuh dengan meja kantornya yang baru.

“Ini buat kamu, Sampah Busuk,” bisiknya sambil meletakan kotak itu di depan pintu lalu berbalik pulang.

-fin.

A/N;

  • makasih buat The fin. yang udah nemenin aku nulis ini.
  • maaf kalo masih kaku dan aneh, kalau-kalau kalian merasa tulisanku belakangan hawanya agak beda, sumpah deh aku juga ngerasa gitu. tapi yaudahlah. people change, so do writings wkwk.
  • last edited: 26/12/15
Advertisements

6 thoughts on “Kumpulan Rasa Dalam Kotak

  1. Kak nisaaaaa…. udah lama banget ga baca surealis terus jadi kudu muter otak tapi ini keren bangeeeetttt…

    Paragraf2 awal agak muter otak (berhubung otakku sempit, jd agak lemot), terus ngulang beberapa kali biar ngerti. Tapi alurnya aku paham terus jadi penasaran kenapa si tokohnya nyesel tapi pengin banget ke tempat si sumber kegalauannya itu. Gak taunya cuma mau bilang kangen doang? Mana dikatain belatung lagi… kalo bakal dimaki2 gitu mending gausah dateng sekalian xD

    Ada satu yg bikin bingung, tapi gak tau jg ini typo atau bukan, ada kalimat : Sekali lagi, boneka beruang itu menjulurkan lidah.. nah sebelumnya katnya yg lagi melet itu boneka rusa bukan? .-. Atau emang ada boneka lain? Bahahaha

    Ah… apasih yg harus kukomen lagi? Yah pokoknya ini kece badai tornado(?) Keep writing kakaak! ♡♡

    Like

    1. hai tita. maaf ya kalo musingin, aku nulisnya juga sambil teler soalnya kebanyakan tidur wahaha. alurnya mudah kok, cuma tentang cowok yang datengin rumah mantannya karena kangen, heuheuheu.
      huaaa itu sebenere boneka rusa sih, udah diedit hehe makasi ya koreksinya 😀 makasih juga udah mau baca!

      Like

  2. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    KANISAH STAHP MAKE ME AMBYAREEEESSSS

    Asli kak aku cinta style penulisan di sini yang, apaya, aku susah mengungkapkannya, pokoknya unik, baru, dan lagi-lagi rasanya beda tapi tetep cantique as always yeoksi
    Nyeseknya dapet tapi aku tetep bisa jaw dropping hahahaaa eniwei aku jadi mau nyanyiin lirik ini so bad, “Ayo berkebun~ aku di atap rumah dan kamu di jamban tetangga.”

    BYE KANIS BHAY ❤

    Like

    1. terima gaji banyak-banyak ya kakpang karena sudah membaca cerita absurd ini x)) apa pula itu liriknya dinyanyiin hahahaha

      Liked by 1 person

  3. Laaah aku kira selingkuh sama cewe lain ternyata sama meja kantor baru -_-hahaha belatung, sampah busuk wkwkwkw
    Udah ah aku bingung mau komen apa, buru-buru mau mandi soalnya /gaknanya/ keren ❤

    Like

  4. nisaaaa x)))) sumpah yha aku antara miris sama mau ngakak baca cerita kamu yang ini. dari awal yang bagian nanem tanaman, aku nanam di atap lalu kamu nanam di jamban tetangga masya Allah. terus terus yang apa itu tadi udah segelap liang dubur. astaghfirullah nis kalo ini aku bacanya sendirian di rumah beneran deh aku bakal ketawa kenceng banget, aseli kamu numpahin kekeselannya si karakter sarkas banget di sini HAHAHA. TERUS BAGIAN DIA DIKATAIN BELATUNG SUMPAH AKU TUH YANG BENERAN KETAWA KENCENG xD atuhlah. next time kalo aku kesel sama orang, aku juga mau ngatain belatung ah. sounds classy but still sassy xD

    btw personally aku ngga ngerasa tulisan nisa berubah kok. masih merakyat dan nendang kayak dulu-dulu. but kalaupun nisa ngerasanya berubah, semoga berubah ke arah yang lebih baik nis hehe. soalnya tulisan kamu tuh udah ada trademarknya sendiri deh menurut aku, dan aku suka banget. (apalagi kalo nisa udah bawain tema psikis dan ada unsur Indonesianya beuh). aduh aku malah ngalor ngidul gini heuheu maafkeun. keep writing yah niiiis hehe :3

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s