Strangers: Damsel in Distress

wphnb15

by La Princesa

warning: trigger material.

Aku ingat, pada suatu sore yang lengas, kau bertanya padaku ketika aku sedang sibuk melamun.

.

“Kau kenapa?” tanyamu.

Aku tak merta menjawabmu, malah sibuk memandangimu dengan dua alis terangkat menyentuh deretan poniku. Pertanyaanmu sederhana, sesederhana pertanyaan basa-basi pada umumnya yang mungkin… tujuanmu menanyakannya semata-mata untuk mengusir keheningan.

Aku masih menatapmu saat kau diam saja menunggu jawabanku. Kedua alisku sudah lenyap ditelan deretan poni, tapi aku masih belum menyuarakan jawabanku. Bukan, bukan. Aku bukannya tak mau menjawabmu, aku hanya masih sibuk berasumsi. Kira-kira apa tujuanmu bertanya begitu?

Kemungkinan pertama, bisa jadi kau memang sedang berbasa-basi. Kau pasti menganggapku aneh ‘kan, duduk bermuram durja di sofa ruang tengah apartemenku dengan lampu serumah yang tak kunyalakan. Pertanyaan ‘kau kenapa?’ memang bukan pertanyaan yang tak lazim untuk menjawab rasa penasaranmu. Kau memaksudkan pertanyaanmu secara harfiah.

Kemungkinan kedua, kau mau tahu. Karena kau menganggapku aneh, maka kau mau tahu aku ini kenapa, sedang apa, apa aku sudah gila, dan sebagainya. Lalu setelah tahu, kau akan membuat justifikasi untukku. Kau tega padaku, Jongin, jika kau seperti itu. Aku tahu kita saling mengenal tak lebih dari lima belas hari, tapi aku tahu—tahu saja—kau bukan orang seperti itu. Iya ‘kan? Tolong jangan kecewakan aku.

Kemungkinan ketiga, umm… kau tak marah kan jika aku terdengar sedikit percaya diri? Karena menurutku; kau peduli padaku. Aku tahu kita saling mengenal tak lebih dari lima belas hari, tapi aku tahu—tahu saja—kau adalah orang yang baik. Kau bertanya karena kau peduli, walau setelahnya, kau harus rela membuang waktumu demi mendengar seribu satu keluhan tak masuk akal. Itu sebabnya kau bertanya padaku. Iya ‘kan? Kau bertanya karena kau peduli.

Kau tahu, jika benar kau bertanya karena kau peduli, kau harus tahu bahwa aku sangat terharu. Maafkan aku jika tangisanku setelahnya justru menakutimu. Aku sendiri juga tak tahu kenapa aku menangis—seperti orang bodoh saja. Mungkin karena aku merasa terlalu kesepian belakangan ini. Alasan lainnya karena aku terharu—wow—baru sekali ini ada orang yang menanyakan keadaanku. Atau mungkin, aku menangis karena aku sedang ingin. Bodoh, alasan terakhir tak masuk akal sekali.

Aku masih bisa mendapatimu menghela napas terkejut saat tangisku mulai pecah. Maaf, Jongin, sungguh maafkan aku. Bukannya menjadi tuan rumah yang baik, aku justru membiarkan tamuku melihat keadaanku yang sedang dalam kondisi terburuk. Hah, manusia macam apa aku ini? Memperlakukan tamunya—kau—dengan baik saja aku tak bisa.

Yang mengagetkanku justru apa yang kau lakukan setelahnya, Jongin. Kupikir kau akan pergi; membiarkanku berkubang dalam tangisan bodohku seorang diri lalu menganggapku aneh lalu kau akan diam-diam membenarkan justifikasimu. Aku sama sekali tak menduga kau akan menjatuhkan dirimu di ujung sofa—diam saja tak bersuara dan tak menanyaiku apa pun. Kenapa kau rela meluangkan waktumu menungguku selesai menangis, Jongin?

Tidak, aku tak mau tahu jawabanmu. Aku hanya penasaran saja—tapi tetap tidak mau tahu jawabanmu. Karena aku takut jawabanmu tak sesuai ekspektasiku—kau menungguku hanya karena tak enak hendak menginterupsiku, tapi hendak kabur juga dikira kurang santun. Lebih-lebih, aku takut jawabanmu membuatku menggantungkan ekspektasiku semakin tinggi; kau menungguku karena kau peduli. Tolong jangan jawab aku, Jongin. Biarkan aku tetap penasaran.

Tapi sungguh, demi Tuhan, aku sangat mengapresiasi apa yang kau lakukan. Kupikir aku tak layak mendapat perlakuan baik dari orang lain—siapa pun, terutama kau. Aneh saja, aku jadi merasa berhutang padamu. Kita baru saling mengenal tak lebih dari lima belas hari, tapi kau sudah sebegini baiknya padaku. Duh, bagaimana aku harus membalasmu suatu saat nanti?

“Kenapa sudah selesai menangisnya?” tanyamu saat aku berhenti sesenggukan. Aku tak langsung menjawab lagi—bukan karena aku terlalu banyak berasumsi seperti tadi. Aku hanya sedang ingin tersenyum dulu. Ya ampun, aku baru sadar mood-ku berubah cepat sekali! Sesaat tadi aku menangis, sekarang sudah bisa tersenyum seperti orang bodoh. Ah, kalau kupikir-pikir lagi, aku ini memang bodoh. Menangis di depanmu, buktinya.

“Sudah lelah. Seperti orang bodoh saja terlalu banyak menangis,” jawabku cengengesan. Kutatap responmu—aku tak bisa benar-benar menangkap ekspresimu. Terlalu gelap, dan bodohnya kita berdua tak ada yang punya intensi beranjak dari sofa lalu menyalakan lampu ruangan. Tapi aku tahu—tahu saja—kau justru cemberut mendengar jawabanku.

“Kau beruntung aku yang datang ke apartemenmu, bukannya Baymax. Jika kau bertemu dengannya, ia pasti sudah memaksamu bercerita,” kau berseloroh. Lalu aku tertawa lagi, tertawa lama sekali sampai rahangku pegal dan perutku sakit. Tapi kau diam saja. Hmm, aku tahu kau pasti gengsi. Aturan tak tertulis di hukum melawak, si pelawak tak boleh menertawai leluconnya sendiri. Kau sedang menerapkannya, ‘kan?

“Kau pasti menganggapku aneh?” tanyaku.

“Tidak juga,” jawabmu sederhana. “Setiap orang pasti pernah merasa sedih, dan menurutku itu normal.”

Aku mengerutkan alisku, menatapmu ingin tahu. Aku bahkan sampai memutar tubuhku demi bisa memperhatikanmu, mencari tahu. Mungkin lebih tepat mencari pembenaran diri—entahlah, aku senang mendengar jawabanmu. Wow, selain peduli, kau juga tak menghakimi.

“Tapi, Jongin, aku tak sedang bersedih.”

“Lalu kenapa kau menangis?”

Aku menatapmu sekali lagi, mau tahu. Kau balas melakukan hal yang sama. “Why did I cry. Why,” tanyaku. Bukan menanyaimu—lebih ke menanyai diri sendiri. Walau aku juga tak tahu jawabannya, dan aku setengah berharap kau bisa membantuku menyediakan jawabannya.

“Aku juga tak tahu mengapa aku menangis, Jongin.”

Kau diam saja; kau tahu sekali ya bagaimana memberi privasi? Aku benar-benar menaruh respek padamu Jongin, kau orang asing yang baik—lima belas hari masih termasuk asing bagiku. Kau tak tahu apa yang terjadi padaku, tapi kau peduli. Kau bahkan menanyai keadaanku, kau menungguku sampai aku selesai menangis, kau tak menghakimiku dan kau memberiku privasi. Kau orang baik, Jongin. Aku berhutang banyak padamu.

“Kenapa aku menangis, Jongin?” tanyaku padamu. Kau masih diam, lalu aku mengangkat bahu menjawab pertanyaanku—seolah kau yang barusan bertanya. Lalu tak ada di antara kau dan aku yang buka suara—saling memberi kesempatan untuk menjawab. Sepuluh detik, lima puluh detik, dua setengah menit…

“Kau sedang sedih.”

“Tidak, Jongin, aku tidak sedang sedih.”

“Lalu?”

Aku mendesah keras, tapi kau masih menungguku. Beruntungnya ruang tengah apartemenku gelap gulita sekarang—malam sudah turun dan kita berdua masih tak berinisiatif menyalakan lampu. Bukan apa-apa—sekali saja kau melihatku di kondisi terburukku. Aku tak ingin kau melihat lagi kondisiku.

Bahwa aku semenyedihkan ini.

“Mungkin kau benar, Jongin, aku sedang sedih,” jawabku lirih. Kurasakan sofa tempatmu duduk berderit saat kau bergerak—lalu sofa di sampingku juga ikut berderit saat kau menimpakan berat tubuhmu di sana. Terima kasih karena masih menjaga jarak dariku, Jongin.

“Aku tak mau mengakuinya, bahwa aku sedang sedih. Aku tak ingin orang-orang tahu bahwa aku sedang sedih, aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku selalu bahagia. Dan aku memang bahagia—oh, I am happy, Jongin. Aku tak sedang bersedih, aku sudah lupa apa itu sedih? Sedih itu yang bagaimana, Jongin?”

Kau tak menjawab—lagi. Rasanya seperti sedang berbicara pada tembok—tapi tembok yang ini mendengarkanku. Ia punya sepasang telinga, ia berpikir logis, ia juga punya perasaan. Tembok yang ini, mungkin, akan menilaiku dengan justifikasinya, nanti. Tapi aku tak peduli. Aku senang akhirnya aku didengar.

“Yang kurasakan sekarang bukan sedih, Jongin. Aku tak tahu apa yang sedang kurasakan, tapi aku tahu—tahu saja—ini bukan kesedihan. Aku hanya sedang kosong, kosong, kosong dan entahlah… kosong saja. Bukan, Jongin, ini bukan sedih. Merasa kosong dan merasa sedih jelas berbeda, aku tahu. Mungkin aku merasa kosong karena aku sudah lupa apa itu sedih. Jadi ada esensi yang hilang, makanya aku merasa kosong.

“Tapi bukan itu alasanku menangis, Jongin. Aku sudah biasa merasa kosong, apalagi merasa kesepian. Aku selalu sendirian, aku sudah kebal. Aku menangis karena… entahlah, aku tak tahu. Mungkin karena aku ingin saja menangis. Mungkin ini tanggal yang tepat untukku menangis. Atau mungkin karena kau bertanya padaku tadi, ‘kau kenapa?’.  Kau baik sekali, mau menanyaiku, Jongin. Aku jadi merasa dipedulikan—ah, maafkan aku yang asal saja dan terlalu percaya diri menyimpulkan pertanyaanmu sebagai bentuk kepedulian. Padahal bisa jadi kau hanya basa-basi.”

Kau pasti semakin menganggapku aneh setelah ini; berbicara dengan tempo yang cepat dengan rentetan kata yang tak masuk akal. Aku bahkan tak sadar tetesan air mata mulai merembes lagi dari kedua soket mataku. Sekali lagi, aku beruntung ruangan apartemenku gelap gulita. Aku tak ingin kau melihatku semenyedihkan ini.

“Kau bodoh,” komentarmu kemudian. Aku tertawa lagi, sampai perutku sakit dan aku menangis semakin keras. Kau diam saja, aku sadar kau tidak sedang bergurau dan ini tidak lucu. Tapi aku hanya ingin tertawa, Jongin.

“Ya, kau benar. Aku memang bodoh. Terlalu banyak menangis membuatku bodoh,” timpalku seraya mengusap air mata. Kau diam lagi, padahal aku ingin mendengar komentarmu, Jongin. Aku ingin mendengarmu mengataiku bodoh lagi, atau aneh, atau apalah. Aku ingin mendengar justifikasimu, Jongin, aku ingin tahu bagaimana penilaianmu. Tapi kau hanya diam. Orang-orang menyimpulkan semau mereka, Jongin, mengapa kau tidak?

“Hei,” kau buka suara, dan kau terdengar ragu. Tak apa-apa, Jongin, aku tetap akan menganggapmu orang baik walau kau menilaiku sebelah mata. Tak apa-apa, aku sudah biasa. Kau masih lebih baik dibanding mereka. Setidaknya kau mau mendengar—mereka tidak.

“Ya?”

Kini giliranmu yang tak merta menjawab—sibuk berasumsi sepertiku tadi atau memang sedang ingin diam dulu? Ambil waktumu sebanyak yang kau mau, Jongin. Aku masih menunggu lanjutanmu kalimatmu, tenang saja.

“Kau mau kupeluk?”

Tidak.

Ini yang tak pernah kuduga, Jongin, apa yang kau lakukan? Kau menawariku sebuah pelukan seringan kau menawariku secangkir teh. Jongin, seberapa banyak kau berusaha membuatku berhutang kebaikan padamu? Aku saja tak yakin bisa membalas kebaikan-kebaikanmu tadi, lalu apa lagi sekarang?

“Anggap saja sebagai sebuah pelukan dari orang asing. Kau membutuhkannya, ‘kan?” katamu lagi. Aku tercekat, this is too much. Kau baik sekali, Jongin. Tapi kau juga jahat, membenaniku dengan hutang-hutang ini.

“Orang asing?”

“Kau yang menganggap begitu, aku tidak.” Kau tersenyum—well, aku tak benar-benar melihat senyummu karena gelap. Tapi aku tahu saja, aku bisa merasakannya. Seperti aku bisa merasakan tanganmu yang terulur ke arahku, menungguku menyambutnya agar kau bisa menenggelamkanku ke pelukanmu.

“Kenapa tidak?” Ujung jemari kita bertemu. Kau menggenggamnya tapi aku menahan diri—tak perlu juga, aku seharusnya ingat kau tahu menjaga caranya privasi. Entahlah, Jongin, kupikir ini bukan ide yang bagus. Kupikir nanti akan kusesali keputusanku. Aku takut saja—pfft, satu hal lagi yang bisa dimasukkan ke daftar panjang ketakutanku.

Tapi biarlah.

“Karena lima belas hari waktu yang cukup untukku mengenalmu,” kau menjawab tenang. Dalam gelap, kurasakan sepasang tanganmu mulai melingkar di bahuku. “Kau kesepian, bukan? Kau terlalu rapat menutup diri. Aku ingin lebih mengenalmu saat kita berkenalan dulu, tapi benteng yang kau bangun terlalu tebal. Dan ternyata aku benar saat kudapati kau sore ini. Aku harus berterima kasih pada Sehun karena menyuruhku mengantar naskah yang harus kau review sebelum Senin, jadi aku bisa menemukanmu.”

Pelukanmu nyaman sekali, Jongin, aku sampai mengantuk. Kapan terakhir kali seseorang memelukku sehangat ini, senyaman ini, seringan ini, aku tak ingat—mungkin tak pernah. Ya, ya, kau benar. Mungkin aku terlalu rapat menutup diri. Benteng yang melindungiku terlalu kokoh, mereka jadi takut. Kenapa kau tak seperti mereka, Jongin?

Aku ingin sekali tertidur di pundakmu, sungguh. Aku ingin lebur; aku ingin menghanyutkan sedihku, Jongin, aku ingin menambal kosongku. Tapi aku tahu aku tak bisa melakukannya. Tak sopan sekali, aku sudah merepotimu terlalu banyak.

“Padahal aku tak ingin ditemukan, Jongin.”

Well, aku sudah terlanjur menemukanmu, kau bisa apa?”

Memang benar apa yang selama ini mereka sarankan: berceritalah pada orang asing karena mereka tak mengenalmu, sehingga kau tak perlu merasa terbebani karena dihakimi sebelah mata. Tapi di kasusku berbeda: aku mengenal orang asingku dan dia tak melakukannya. Pun jika ia seperti kebanyakan orang yang gemar menyudahkanku dengan kesimpulan mereka, aku tak keberatan. Dia Jongin, dan dia orang yang baik.

“Kalau begitu, terima kasih?”

“Untuk?”

“Tak tahu, lebih baik aku berterima kasih karena kau menemukanku atau karena kau memelukku?”

Kau terkekeh hangat, aku senang mendengarnya. Ditambah wangi aftershave dan feromon tubuhmu yang memenuhi indera penciumanku. Jongin, aku menyukaimu.

Well, itulah gunanya orang asing.

.

-to be continued-

.

  1. Ditulis dari sudut pandang pengidap depresi, juga untuk memberi persepsi lain bagi orang awam tentang penderita depresi yang masih sering disalahartikan, disepelekan dan dimarjinalkan. Kalau kalian bingung sama bahasanya, atau pola pikirnya si aku… it’s alright. Seiring cerita berkembang nanti akan ketahuan bagaimana nature-nya dia dan juga jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung. 🙂
  2. Rating-nya PG-17 sebagai antisipasi trigger material, tapi nggak ada adegan NC-nya sih, so don’t worryyyyy!
Advertisements

7 thoughts on “Strangers: Damsel in Distress

  1. ‘Aku hanya sedang kosong, kosong, kosong dan entahlah… kosong saja.’
    aku awalnya mau teriak itu aku banget kapuuuut, lalu di note terpampang kata depresi, dan, bisa apa selain ngangkat dua jempol, dan aku tambah dua lagi bikos sudah memberikanku pencerahan~
    Beginilah anak yang suka tetiba nangis tengah malam tapi gatau kenapa yha mungkin beban hidup terlampau banyak yang ditimbun sampe uda lupa apa masalahnya tapi feel ‘DUH’-nya itu masi tersimpan dan meledaklah~~~~~ Dan di sini aku menemukan jawabannya apa itu kosong lalalalaaaaaaa kaput emejing~
    (((anyway apapula itu feel-DUH)))

    WHATEVA AI LAVIT
    YOU R MY ZING KAPUT ❤
    KEEP WRITING KEEP MAKES ME AMBYAR KEEP OWSOMZ!!! ❤

    Liked by 1 person

  2. Pertama, Jongin baiiiiikkkk banget. Kedua, kebaikan selevel itu bakal membuat si Aku kepikiran terus, di sisi lain dia semacam menemukan secercah cahaya. Mungkin Aku tidak butuh diceramahi ya, cukup dipahami dan didengarkan. Ketiga, fic-nya mengena sekali buatku. Keempat, aku bersyukur nggak ada adegan NC-nya *slapped

    Kak Put, baca fic ini aku bisa apa selain ngelike dan komen seperti ini.Keep writing, Kakak 🙂

    Like

  3. OMOOO STRANGERS DIPOST DI SINI JUGAAA, KAKPUUT KURINDU JONGIN!

    Walaupun sudah hatam membaca ini, tapi baca sekali lagi nabil masih merasakan esensi /apa sih/ dari si pengidap depresi ini. Dan luar biasanya, kutakmerasa seperti pernah membaca ini. Pemaknaannya beda kali ya gimana situasi ehe.

    Like

  4. wow, aku bacanya ngalir aja gitu. bahkan ky’ berharap ngga nemuin kata ‘to be continue’ hehe
    awalnya, aku ngga ngira kalau tokoh aku ini depresi weh. makanya kok ini orang ketawa smp kepingkal2, masa’ habis itu nangis keras2. WHY?? setelha baca note-nya. oh, ternyata. yaya, dan aku mau ngasih kak put 10 jempol karena emang penggambarannya keren abis. ajarin donk kak. huhu

    btw, jongin baik banget yaa? hehm! mau juga donk ketemu orang asing ky’ jongin. hehehe

    ditunggu kelanjutannya kak! keep writing!! ^^

    Like

    1. bentar, emang kak put udah pernah baca tulisanku?? o_o

      kalau jongin datengnya sendirian, mungkin aku bakal setuju buat rebutan, tp kalau dia ngajak yg lain, jongin aku kasih dengan lapang dada ke kak put aja. hohoho :p

      yupz!! ditunggu banget kak! keep writing!! SEMANGAT!!! ^^

      Like

  5. huhuhuhuhu aku baca ini jadi inget kapan dulu pernah ketinggalaaaaaan banget apdetan di blog kakak, terus akhire ternyata seriesnya dipindah ke sini aku bahagiaa :3 akhirnya bisa baca yang dulu dulu pernah ketinggalaaan x)

    omg akuuu pernah baca curhatan orang di blog-entah-apa-aku-lupa, yang nyeritain pas dia lagi depresi, dan aseli kayaknya menyakitkan banget kak. satu menit pertama moodnya gini, tapi menit berikutnya pindah lagi. dan kayaknya orang depresi itu cenderung selalu menyalahkan diri sendiri yha, walopun sebenarnya di mata orang lain, apa yang dia lakukan tuh normal-normal aja, ga ada yang salah. deuh dan kakak bisa nuangin itu semua ke sini. yaampun padahal cuma setting si Aku sama jongin duduk di tengah tengah apartemen yang gelap gulita tapi pembahasannya bisa seluas iniiii. aku suka banget cerita yang sebenere temanya sederhana (apalagi bawa bawa penyakit psikis deuh) tapi bisa dikembangin sebegini kereeen huhu. duhlah ini golden sekali. aku nunggu lanjutan serinya yah kaaaak, dan maaf komenku rush gini :” keep writiinngggg ❤

    Like

Comments are closed.