Absurditas Tiada Akhir

 chickenegg1

credit pic: here

 by aminocte

Ayam ataukah telur? Aku juga tidak tahu mengapa harus menjawab pertanyaan itu.

Siang ini, aku, Hidenori, dan Yoshitake duduk bersila di dalam kamarku, suatu rutinitas yang sangat sering kami lakukan. Tidak ada aktivitas apa pun yang berarti. Paling-paling mengobrol diselingi camilan dan minuman. Atau membaca komik. Atau bermain Dragon Quest atas usul Hidenori. Atau menggosipkan Motoharu dan Karasawa. Atau memperbincangkan saudara perempuan kami yang sama-sama ganas. Atau merencanakan konspirasi jahat untuk mengerjai Mitsuo untuk yang keseratus kalinya.

“Ngomong-ngomong,” ujar Yoshitake, membuka perbincangan – yang hampir kupastikan akan berakhir absurd – pada siang ini. “Hari ini panas sekali, ya?”

Begitu menyelesaikan ucapannya, Yoshitake langsung berdiri dan membuka parka yang ia kenakan. Hidenori menatapnya kagum, sementara aku hanya mendengus pelan. Panas apanya? Sekarang sudah akhir Desember dan salju pertama sudah turun dua hari yang lalu.

“Kau benar. Hari ini memang sangat luar biasa panas sekali,” timpal Hidenori, tidak mau kalah. Mengikuti Yoshitake, ia berdiri dengan lagak sok keren sambil membuka kancing coat-nya satu persatu. Ck, aku masih normal, tahu. Mau kalian sampai bertelanjang dada pun, aku tidak akan tertarik.

Ya, aku tidak akan tertarik. Tolong camkan itu baik-baik, kawan-kawan.

“Tada~” Tiba-tiba saja mereka berseru serempak sambil menunjuk baju kaus yang mereka kenakan. Sepintas terlihat mirip. Saat kuperhatikan dengan cermat, ternyata baju itu memang sama persis warna dan motifnya. Warnanya hitam dengan motif telur dan ayam yang bersisian.

“Bagaimana, Tadakuni? Keren, ‘kan?” tanya Yoshitake sambil menarik-narik kerah baju kausnya, seakan-akan dia adalah anggota boyband yang sedang bergaya untuk sebuah video musik. Seakan belum puas, ia mengibas-ngibaskan rambut pirangnya dengan gaya seperti penyanyi rock gagal.

“Apanya? Baju kaus itu? Huh, biasa saja.”

“Yang benar? Jangan-jangan kau iri karena tidak kami belikan,” celetuk Hidenori. “Ya, ‘kan? Ya, ‘kan? Ayo, mengaku sajalah, Tadakuni-kun…. ”

“Siapa yang iri? Baju sejelek itu-“

“Ya, ‘kan? Kau iri, ‘kan?” Kali ini Yoshitake yang ikut memanas-manasi. “Sayang sekali, Tadakuni. Baju kaus ini hanya ada dua di dunia. Limited edition! Hidenori yang mendesain dan aku sendiri yang menyablonnya. Maaf ya, aku lupa membuatkannya untukmu.”

Bagus, bagus sekali. Rupanya aku sudah benar-benar tidak dianggap sebagai bagian dari mereka. Mendadak aku menyesali keputusanku untuk menampung mereka hari ini. Apa sebaiknya mereka kuusir saja, ya? Kalau perlu tidak usah berkumpul lagi di kamarku. Untuk selama-lamanya, kalau bisa.

“Dasar tidak tahu terima kasih. Pulang sana!”

Satu.

Dua.

Tiga.

Tidak ada reaksi. Astaga, mereka ini tidak mendengar atau apa, sih?

Hello, Mister Hidenori? This is Yoshitake speaking. I want to ask you something.”

Ck, aku dianggap angin lalu rupanya.

Yes? What is it, Mister Yoshitake?” Hidenori bertanya balik dengan logat sok Inggris. Huh, memuakkan.

“Aku penasaran. Benar-benar penasaran,” jawab Yoshitake sambil mengamati gambar pada baju kausnya. “Sebenarnya mana yang lebih dahulu ada: telur atau ayam?”

Hidenori mengerutkan dahi, selayaknya orang yang sedang memikirkan sesuatu. “Menurutku, yang lebih dahulu adalah telur.”

“Kenapa?”

“Yah, karena telur lebih kecil daripada ayam. Sama seperti halnya: mana yang lebih dahulu, bayi atau orang dewasa. Ya jelas bayi, lah. Karena bayi yang lebih kecil daripada orang dewasa.”

Ya ampun, jawaban macam apa itu? Aku tidak yakin Hidenori berpikir sebelum menjawab pertanyaan Yoshitake.

“Kau benar juga, Hidenori.”

Jangan-jangan Yoshitake juga lupa menggunakan otaknya sebelum mengiyakan jawaban Hidenori.

“Bagaimana menurutmu, Tadakuni?”

Dan ia masih sempat-sempatnya mencari opini kedua dariku.

“Menurutku, yang lebih dahulu adalah ayam.”

“Kenapa? Apa alasannya?”

“Karena telur tidak akan bisa menjadi ayam bila tidak dierami, bukan? Pasti ada dua ekor ayam yang pertama kali hidup di dunia ini, sebelum ayam jantan membuahi ayam betina. Kemudian, ayam betina bertelur, lalu mengerami telurnya hingga menetas.”

Yah, kalau tidak salah, guru SD-ku menjelaskan seperti itu.

Namun, Yoshitake malah menggelengkan kepalanya, seolah-olah tidak setuju dengan alasan yang kuberikan.

“Sepertinya jawabanmu salah.”

Apa-apaan…?

“Jadi kau cuma ingin mengujiku, Yoshitake? Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?”

“Tidak juga. Aku memang sama sekali tidak tahu. Makanya aku bertanya.”

“Aku juga tidak tahu,” timpal Hidenori. “Serius!”

Astaga, sampai kapan aku harus dipertemukan dengan orang-orang ini? Tolong… tolong selamatkan aku dari mereka berdua!

“Tunggu dulu, kenapa kita jadi membahas telur dan ayam?” Tiba-tiba Yoshitake bertanya lagi.

“Bukannya tadi kau yang bertanya?” balas Hidenori sengit.

“Oh, ya, aku lupa.” Yoshitake menggaruk kepalanya beberapa kali sebelum berhenti. Sepertinya ia teringat sesuatu. “Tapi, memangnya penting ya, membahas asal-usul telur dan ayam? Yang jelas keduanya sama-sama enak dan sama-sama bergizi.”

Hidenori mengelus-elus dagunya. “Yah, memang tidak penting sih.”

“Astaga, memangnya sejak kapan kita membicarakan hal-hal penting?” Aku berusaha menimpali, tidak tahan dengan segala kekonyolan ini. “Kita tidak pernah membicarakan hal-hal penting sejak pertama kali bertemu.”

“Tapi, sepertinya ini penting, Tadakuni. Mungkin bisa jadi awal untuk aliran filsafat baru. Ya, ‘kan, Yoshitake?”

“Oh, yah, kau benar. Seperti Harry Potter.”

“Apa hubungannya Harry Potter dan aliran filsafat?” tanyaku penasaran. Kuharap Yoshitake mampu memberikan penjelasan yang logis untuk jawabannya kali ini.

“Kau tahu, novel pertamanya itu berjudul Harry Potter dan Batu Berfilsafat?”

Aku menggeleng. “Bukan! Yang benar itu batu bertuah!”

“Oh, kukira bertuah dan berfilsafat itu sama.”

“Aku kira juga begitu. Philosopher’s stone bukannya berarti batu berfilsafat?” Hidenori pun ikut bertanya dengan ekspresi terbodoh yang pernah kulihat.

“Artinya bukan batu berfilsafat walaupun ada kata philosopher di dalamnya. Bahasa Inggris tidak sesederhana itu, tahu!”

“Ah, bahasa Inggris memusingkan sekali, ya?” celetuk Hidenori, yang dibalas anggukan setuju oleh Yoshitake. Lalu, mereka berdua berbisik-bisik entah membicarakan apa.

Seandainya saja Hidenori dan Yoshitake tahu bahwa bertahan menghadapi absurditas mereka seribu kali lipat lebih memusingkan daripada bahasa Inggris.

Juga seratus kali lipat lebih memusingkan daripada menjawab pertanyaan ‘Manakah yang lebih dahulu: ayam atau telur?’.

fin

Danshi.Koukousei.no.Nichijou.600.1209676

(ki-ka: Yoshitake-Tadakuni-Hidenori) credit pic: here

  • Danshi Koukousei no Nichijou adalah salah satu anime terabsurd yang pernah kutonton, jadi nggak yakin juga kalau cerita ini bisa menyamai absurditasnya. Sebenarnya, manga-nya juga ada, tapi aku belum baca.
  • Jadi bingung sendiri mau menyelipkan narasi di tengah-tengah dialog karena aku ingin menyamai gaya percakapan trio Tadakuni-Hidenori-Yoshitake.
  • Mudah-mudahan fic ini masih cukup jelas dan waras untuk bisa dipahami.
  • Mudah-mudahan ada penikmat DanshiKou yang nyasar ke sini dan ikutan baca.
  • Dan aku bukannya bermaksud menistai Harry Potter. Salahkan animenya yang juga membawa-bawa Harry Potter.
  • Mohon kritik dan sarannya 🙂
Advertisements

11 thoughts on “Absurditas Tiada Akhir

  1. YA ALLAH KAK AMI BAWA FIC DANSHIKOU ((nangis pelangi))

    mereka bertiga parah bener kaakk HAHAHAH. yang dibahas aneh-aneh aja trio absurd ini. hidenori tuh kenapa sih ganteng ganteng ngeselin amat heuheu :” yoshitake juga belagu banget minta dibungkus sama lalapan AKU KAN SEBEL ((han cukup han)).

    bicara tentang komedi, danshi koukousei no nichijou ini ga perlu ditanya lagi selucu apa ya HAHAHA. asli biarpun guyonan mereka kadang garing tapi kalo nonton bawaannya ketawa mulu wkwk :3

    keep writing yaa buat kak ami! semangat nulis! ❤

    Liked by 1 person

    1. Iya Hani, dirimu juga suka Danshikou, kah? Entah kenapa aku teringat animenya dan terinspirasi bikin ff Danshikou. Hidenori cakep-cakep kadang norak juga ya, trus Yoshitake suka sok cool.
      Siaapp, makasih Hani, sudah sudi membaca cerita absurd ini.

      Like

  2. OMAYGAD KA AMI JUGA NONTON ANIME TERABSURD SEJAGAD RAYA YANG TIDA SEHAD BAGI AKAL SEHAD SADAYANA TAPI NAGIHIN ITU?!?!
    Ampun aku merasa berdosa nonton mas-mas segenk yang kehidupannya ngga manfaat #slaps
    Anyway ayam ato telur adalah misteri tanpa solusi aku juga lelah mendiskusikannya… Kak Ami ai luvittt ❤

    anyway, mungkin yang bagian ini agak perlu dirapihkan sedikit lagi kak…
    "yang hampir kupastikan akan berakhir absurd – pada siang ini. “, hari ini panas sekali, ya?”"

    itu aja dan keseluruhannya AILUVIIITTT ❤ KA AMI KEEP WRITING YHA!

    Like

    1. IYAAA Kakpang, aku keracunan Danshikou gara-gara dengar kabar adaptasi live action-nya, trus kepo, trus donlot semuanya. Entah udah berapa kali tonton ulang sampai sekarang.
      Aku juga merasa menyesal sudah mengenal mas2 itu. Sayang, sudah telanjur, jadi sedikit banyaknya berdampak ke otakku..haha.

      Terima kasih kakpang 😀 *toss*

      Liked by 1 person

  3. OMG FANFIC DANSHI OMGGGGG. Duh ini anime terabsurd setelah Gintama lah fix banget mi. Kamu ada rencana buat bikin fanfic Gintama kah? Bagaimana kalo kita kolab fanfix Gintama? HAHAHAHAHA. Makasi udah bikin aku kangen nontonin anime ini. Btw btw yang live-actionnya kurang nendang sih tapi koplak abis yang jadi Hidenori hahahaha xD keep writing amiii! 😊😊😊

    Like

    1. Kak Fika, glad to read your comment! Yeey, akhirnya modusku berhasil. Abisnya aku masih ingat kita mention-mentionan di twitter tentang Danshikou ini *atau aku salah ingat..haha*

      Aku mau bikin ff Gintama, tapi Gintama aja belum khatam, Kak. Cuma sanggup nonton beberapa episode awal. Gintama itu isinya absurditas level termosfer u.u aku nggak kuat. Tapi aku tertarik buat kolab. Ntar ajarin detil-detilnya ya kak 🙂

      Iyaa, live actionnya kurang nendang, Kak, tapi Hidenorinya kocak 😀

      Makasih Kak Fika, keep writing buat kakak juga 🙂

      Like

  4. deuh jadi tadakuni itu pasti sengsara. udah tokoh utama porsi munculnya ga jelas pulak hahahaha
    tapi ini kocak tau, absurdnya dapet yg jelas. bikin hidenori x bungaku shoujo dong hahahaha itu part favku dari anime itu sesungguhnya
    keep writing! maaf ya komen pendek trs seenaknya request2 pula…

    Like

    1. Iya bener, padahal tokoh utama tapi sering dikacangin (dan diilangin eksistensinya) aku juga suka interaksi hidenori x bungaku shoujo, mudah-mudahan bisa bikin ceritanya kapan-kapan. Makasih sudah mampir, liana 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s