Senyum Abadimu

2008377_20141122035540

Senyum Abadimu

written by Niswahikmah

Diane memang dikenal karena senyumnya yang lebar-lebar. Sama dengan lebarnya auditorium di Mallory Towers—semua mengenalnya karena kecanduan serial Enyd Blyton—juga sama dengan lebarnya mulut wali kelas kalau sudah berceramah. Tidak pernah dia ingin terlihat sendu, sedih, menangis, atau sesuatu macam itu.

Ia menjadi sosok yang kukuh dengan keakuannya. Semua cewek di kelas akan gentar kalau ia mengutarakan pendapat, hanya bisa iya-iya seperti burung beo. Sama halnya dengan di kelas, dia juga punya kekuatan dengan senyumannya itu di lingkungan organisasi. Sekali tersenyum dan mengenalkan diri, semua orang segera saja menghafalnya. Alasan lainnya: dia supel, humoris, dan tentu saja—suaranya khas.

Aku melihatnya dalam jejak-jejak kesempurnaan. Sebagai seorang teman yang selalu menaruh pandangan buruk terhadapnya, kadang keheranan itu mencuat. Ada heran ketika dengan mudah ia memengaruhi cara berpikir lebih dari setengah isi kelas. Ada kesal saat apa yang dia lakukan—meskipun buruk—ditiru oleh seluruh murid, menjadi trending topic dalam sekejap.

Kesempurnaan Diane itu ganjil. Karena ada kata ‘terlalu’ tersemat di sana. Dan dalam hematku, tidak ada satu pun orang yang bisa menandingi kesempurnaan Tuhan.

.

.

Akhir musim dingin di Paris, semua mulai melepas sweater, mantel bulu, sampai jaket yang biasa dikenakan. Es mulai mencair, dan waktu-waktu kami saling melempar bola salju telah lewat. Setidaknya, aku meringis senang dalam hati karena pernah berulang kali melempari Diane dengan bongkahan es itu. Kebencianku—yang meski tak kentara—dapat terbalaskan.

Namun, saat itu juga, kulebarkan langkah-langkah kaki. Ingin segera mencapai halte dan masuk bus.

Ibu sakit, ayah baru saja mengabarkan.

Seumur-umur aku hidup, ibu jarang sekali sakit. Apalagi sampai dilarikan ke rumah sakit seperti hari ini. Maka, cemasku sudah terletak tepat di ubun-ubun. Tidak kupedulikan kebencian yang seharusnya tidak pernah terkubur di dalam dada.

Aku tidak pernah tahu kalau di rumah sakit itu … aku akan tahu siapa Diane sesungguhnya.

.

.

“Seharusnya kamu tahu kalau membenci orang tidak baik,” Ibu lagi-lagi mengutarakan hal yang sama.

“Perilakunya sendiri yang memicu orang membenci. Aku tidak bersalah, Bu.” Aku tetap ngotot dengan argumenku dari awal.

“Teman-temanmu yang lain tidak ada yang membenci.”

“Karena mereka semua bodoh!” seruku, kesal. “Mereka tidak sadar Diane selalu mengatur-atur segala urusan seakan dia Tuhan. Memangnya dia sesempurna apa sampai punya hak prerogratif itu?”

“Ya Tuhan, dia hanya menutupi kelemahannya, Clara.”

“Aku tidak peduli. Bukan urusanku sudah berapa lapis tebal muka dia yang harusnya terkelupas satu-satu. Aku tidak suka perangainya. Titik. Tidak bisa ditawar lagi.”

Dengan itu, kutinggalkan Ibu. Kubiarkan fakta bahwa tangisku hampir meledak melihat Diane, gadis yang menebar senyumnya setiap hari, harus ditopang dengan alat bantu kesehatan setiap denyut jantungnya melemah. Maut selalu ada di ujung hidungnya, sedekat mata dengan korneanya.

.

.

Musim semi akhirnya datang. Bunga bermekaran seharusnya membawa kebencian itu menguap tanpa bekas. Lebih banyak pertimbangan ketika melihat Diane masih tersenyum seperti biasa jika di sekolah. Senyum palsu yang menyembunyikan luka-luka di tubuhnya.

“Diane,” panggilku.

Alat-alat itu sudah ada di tanganku. Aku harus melakukannya sekarang.

Baiklah, dia menoleh.

“Bisa ikut aku sebentar?”

Dia tersenyum hingga matanya menyipit. Kemudian mengangguk kecil. “Ke mana, Cla?”

Bungkam, kugenggam tangannya yang bertemperatur hangat. Kubiarkan langkah-langkah kaki membawaku ke kelas pojok—kelas cadangan yang masih dikosongkan hingga kini.

“Duduklah,” kuperintahkan padanya selagi kutarik kursi.

Selanjutnya, kututup pintu.

Hari ini sudah cukup senyum palsunya bersemayam. Aku akan mengabadikannya. Biarlah luka itu mengering sirna, selagi aku melakukannya dengan alatku.

Benang dan jarum.

Dan, aku bersumpah, Diane manis sekali dengan senyum barunya.

end.

Advertisements

23 thoughts on “Senyum Abadimu

  1. Hai, Niswa, selamat datang!
    Fic-mu selalu bikin aku speechless. Ada masalah yang seperti digantung dari awal cerita, lalu di ending..BOOMM! tiba-tiba ada twist yang jauh dari prediksiku.
    Nggak ada bayangan sama sekali si Aku bakal melakukan hal itu. Dan entah kenapa fic ini auranya gelap sekali. Aku jadi merinding.

    Keep writing!

    Liked by 1 person

    1. Halo kak amii 🙂 bwahahah iya katanya ending yang diendapkan bisa ngetwist. Sebenernya aku ngga ngendapin ending, tapi ngendapin idenya. Biasanya dapet ide langsung tulis, tapi ini enggak.

      Makasih udah berkunjung ya~

      Liked by 1 person

  2. Hallo Niswa, salam kenal 🙂
    Aku suka cara kamu ngebawa cerita ini jadi gloomy gloomy mystery. Si aku ini mungkin sebenarnya iri pada Diane yang bisa senyum gimana pun keadaan dia ya?

    Like

    1. Hallo juga kak(?) cherry, salam kenal yaa, aku dari garis 99 🙂

      Iya terima kasih. Yaa kira-kira begitulah. Tapi di ending, dia lebih ke kasihan karena ternyata diane cuma bisa senyum palsu. Jadi dia lakukan itu hhe. Terima kasih komentarnya~

      Liked by 1 person

  3. halo kak niswa, selamat bergabung di WS yaa kak!

    betewe, beneran nih aku ngga nyangka bangeeett. secara clara (kukira) udah simpatik sama diane, jadi aku mikirnya clara bakal minta maaf apa ngapain gitu ke dia. eh ternyata……..ASJSKAJSKAJAKS. twist-nya parah bener kak, aku kaget ;;A;; endingnya emang ngga dijelasin secara eksplisit, tapi justru itu yang bikin merinding heuheu.

    keep writing yaa kak niswaa! semangaaat! ❤

    Like

    1. Halo juga hani. Anyway kamu sudah masuk chatroom belum sih? Aku kok nggak liat kamu nongol hehe. Dan kamu berapa line? :3

      Iya makasih yaa penyambutannya hihi. Maaf membuatmu kaget dengan ini xD keep writing juga buat kamu, dear.

      Like

  4. ENDINGNYA NISWAH. SUMPAH GAK KEPIKIRAN.

    Nice, nice 👍👍 kayak awalnya ngalir, terus pas di rumah sakit aku mulai bertanya ini mau dibawa ke mana. Pas di ending, kayaknya ini anak masih kesel gak mungkin minta maaf, tapi… wow!

    Tulisanmu emang bagus-bagus deh parah, kusuka sekali 👍👍

    Liked by 1 person

    1. Apalah ini kak sher. Hanya ending gegabah yang membawa ketakutan pada diriku sendiri ((aku ngarangnya bayangin boneka chucky cobak)) ((sambil merinding sendiri)) xD

      Ah tulisan kak sher juga bagus kok, gak kalah. Makasih uda mampir ya kak ^^

      Like

  5. Halo kanjeng put. Mehehe iyaa ngga papa. Yang penting kakak tau aku kan. Aku aja yg baca karya kakak (inget bacaannya liburan pick up line strikes xD)

    Oke trima kasih kunjungannya kak ^^

    Like

  6. NISWA CONGRATS FOR YOUR DEBUUUUTTTT!!!
    o
    mo
    na
    Niswa aku uda gelepar di lante bikos plot twistnya galak banget duh ambyarrrrr ❤ karakter tokohnya yang diam-diam hobi menjahit itu…kujugasangadsukaaaah!

    Keep writing yhaaaaa ai luvitttt so muchie ❤

    Liked by 1 person

  7. Endingnya nggak disangka-sangka. Apa si Clara itu psiko ya? Duh ckckck.

    Duh ini tuh bagus banget, kebetulan lama nggak mampir ke sini jadinya ketinggalan update. Salam kenal, ya, Nina 98line 🙂

    Liked by 1 person

  8. hai niswah! aku tamu baru di writers secret, kamu bisa panggil aku ivana -ayau lebih enaknya pana aja ^^. aku kelahiran 96. salam kenal yaaa 🙂

    terus terus aku kaget banget baca ending. ENDINGNYA JUARA BANGET!!!!
    di awal aku mikir kalau akhirnya bakal maap=maap gitu karna di awal si Clara udah kasih simpati dari awal cerita, eh, rupanya ada ynag lain dari Clara. auranya clara di akhir cerita parah banget gelapnya, akkkk, aku sukaaaa ❤

    keep writing yaaa, 🙂

    Like

    1. Halo juga kak pana ((dunia ini pana)) xD /ditabok

      Semuanya kaget ya baca ending wkwk, padahal sebenernya dari awal udah keliatan kan si clara ngga ada niatan baikan. Dia cuma kasihan dg senyum palsu itu hehe. Anw makasih komentarnya kak, salam kenal yaa aku niswa 99line 🙂

      Like

  9. gokil, gila, parah, apa ini, alamak.
    pas awal masih berasa nyantai, ke rumah sakit okeh, kirain bakal mengharu biru, eh ternyata..
    saya sukaa cara nutup ceritanya dengan gaya psycho itu..love it!!!!

    okee, nice story!!! 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s