Namanya Nino

tumblr_m7kkujdXV91qfhimeo1_500

“No, we didn’t date. Technically he wasn’t an ex-boyfriend. But he was an ex-something, an ex-maybe.”

Namanya Nino.

Tingginya lebih 15 senti meter dari diriku, irisnya mencuri warna biji kenari, hidungnya mancung, dan warna kulitnya kecokelatan. Dia tidak terlalu tampan, tapi cukup bisa dihitung sebagai cuci mata. Kalau berpakaian lebih sering serampangan daripada rapih—andai kuliah bisa pakai sendal, kaus oblong, dan celana pendek, barangkali aku terus melihatnya seperti itu.

Agak kasar, tapi bukan jenis yang suka pukul sana-sini tanpa alasan, hanya tidak suka menunggu jadi terkadang dia terpaksa membentak seseorang. Baik, kepada orang yang benar-benar dia kenal dan percaya, belum sempat kamu selesai menyatakan permintaanmu dia pasti akan menjawab siap. Tolol tapi pintar, lelucon tololnya garing, lantas mukanya berubah sedih (itu yang kamu tertawakan, wajahnya), tapi di balik itu, dia punya jiwa pejuang kelas perang demi meraih indeks prestasi a.k.a. IP yang cukup membuatnya dihujani kata selamat.

Itu sebagian tentang Nino bagi semua orang, tapi buatku dia punya sesuatu yang lebih mengesankan untuk dikenal. Dia tempatku bernaung, lelaki yang bahunya bisa selalu kupinjam, juga kotak penyimpanan ceritaku. Dia, seseorang yang jauh, jauh lebih pengertian jika ada yang mau mengerti dirinya.

Dan tentang kami… entahlah. Kami mencekokki setiap orang dengan kata teman jika ada yang bertanya kami apa, tapi kalau ada yang berkata kami pacaran tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mungkin kami jenis orang katanya teman tapi berciuman—bedanya kami tidak berciuman—mungkin.

Tentang aku? Tidak penting. Yang penting adalah namanya Nino dan dia sedang berjalan masuk dari pintu kedai ice cream ini bersama seorang gadis yang melingkarkan tangan di lengannya. Aku hanya mengamati dari tempat dudukku di pojok ruang.

“Eh, itu Nino, kan?” Dafa melempar tanya ketika dia melihat Nino berbicara dengan kasir sementara aku masih diam. “Mantan kekasihmu selama semester tiga?”

Kemudian aku menoleh cepat, “Bukan.”

“Ayolah, sudah dua tahun nih, skripsi di depan mata, dia mantan pacarmu juga tidak mengapa,” temanku dari kelas Bahasa—yang terpaksa aku ulang, fyi—memaksaku untuk “mengaku”.

“Bukan. Kami bukan mantan pacar.”

“Eh, kata anak-anak—” Dia menghentikan perkataannya cepat, menyadari tatapanku yang jengah dengan kata seseorang, rumor.  Pun begitu, dia tidak berhenti di sana, kalimat selanjutnya malah dilontarkan bersama tawa, “Lalu, apa, dong? Mantan kesayangan?”

Aku tergelak mendengar pertanyaannya—yang kalo mau diobservasi lebih lanjut menyimpan rasa pahit. “An ex-almost.”

 – Namanya Nino –

Note:

  • Mari asumsikan kalo Dafa itu gak sejurusan sama Aku & Nino, makanya dia gak tau nyatanya.
  • Thanks to tumblr for the quote: “No, we didn’t date. Technically he wasn’t an ex-boyfriend. But he was an ex-something, an ex-maybe. An ex-almost.”
Advertisements

17 thoughts on “Namanya Nino

  1. Plis ini sangat baper-able karena i got through this kind of phase twice, bayangin dua kali dan ini berasa kayak nyeritain aku versi lebih keren lebih apik lebih dewasa wkwkwk ngarep. Nino, Nino rasanya pengen ketemu Nino huhuhu. Ini bagus banget, baca fic ini malem malem berasa kesalahan terbesar karena bukanya tidur malah mikirin ex-doi:))) intinyamah bagus Sher!

    Like

    1. Aku juga baper pas lagi nulis, lama-lama nyeleweng ke ex-almost sendiri deskripsi Nino LOL. Nino Nino hanya cowok biasa di rl, yg tersembunyi aja keberadaannya hahaha.

      Tapi udah gak baper kan? :”) Makasih mala ♥

      Like

  2. Ini baguss :3 aku juga perna ngalamin kaya gitu, padahal masing-masing udah punya pacar malah dikiranya pacaran sama temen deket sendiri -_- dan aku tau gimana galaunya jadi si aku ini u.u

    Like

    1. Kadang ornag emang suka salah paham atau pingin bikin gossip aja LOL. Akunya harusnya tidak bernostalgia 😦

      Makasih sudaa baca 🙂

      Like

  3. Quote-nya jedar yhaaa menusuk tulang memburai akal sehat huhuuu dat ‘hampir’-moment asli top three ngenes time ever after wkkk
    Tari kusuka detail deskrip Ninonyaaaaa ❤ A whole new style dan asique sekali juga bumbu 'nyaris' jadi ex-nya hacep!

    Need a daily dose of Nino #slaps I love it Tari, and
    Keep Writing! ❤

    Like

    1. Pas dijalanin menurutku gak ngenes kok kak, pas udah pisah rasanya mau nyari si ex-almost terus marah-marah, baru kerasa ngenes HAHAHA.

      Diambil aja orangnya X)

      Liked by 1 person

  4. hai lagi sher!

    aduh pas baca aku bingung antara mau senyum atau gimana -ceritanya baper-, ini sumpah persis banget sama kisah nyata aku, hahahahaha seriusan akau jadi baper beneran . kadang gosip itu bisa jadi hal yang paling dibenci kalau udah urusan kaya beginian 😀

    quote-nya juara banget dah, terus suka sama kalimat ini
    Mungkin kami jenis orang katanya teman tapi berciuman—bedanya kami tidak berciuman—mungkin. apik banget.
    hahahaha, keep writing yaa 🙂

    Like

    1. Hi kak 🙂

      Jadi merasa bersalah membaperkan semua orang, tapi sempet baper juga sih pas selesai nulis. Paling kesel kalo kita digosipin, gosipnya salah, terus nyebar, repot LOL. Aku nulis pas jaman friendzoned lagi ngehitz dibahas, terus ada foto ciuman, tagnya, “Friend”, jadi kepikiran gitu.

      Makasih kak 🙂

      Like

  5. Oalaaaah ini toh yang kemaren ramee. HAHAHA IYA KOK KAYA PERNAH MERASAKAN YHA xD an ex-almost d4mn soooooo d4mn. Tapi aku suka ih bahasanya di satu bagian menohok banget aku ga ngerti lagi lah sher omg kenapa kamu bisa nulis yang menyakitkan kayak gini eheu :”)) keep writing sheer! 😊😊😊

    Like

    1. HAHAHA TOLONG JANGAN BAPER. Ex-almost lebih terngiang daripada ex-boyfriend kayaknya LOL. Suka aja soalnya sama genre yg kayak gini-gini :” hahaha.

      Makasih kak 🙂

      Like

  6. hah, lelah sendiri hamba disuguhi cerita begini karena berasa lagi ngaca terus jadinya galau sendiri wkwk. apik banget sher, sukaaaa ❤

    Like

  7. fall in love sama quotenya “No, we didn’t date. Technically he wasn’t an ex-boyfriend. But he was an ex-something, an ex-maybe. An ex-almost.” hahaha… nyinggung banget yah… nyinggung akunya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s