Open Your Mouth, Darling

by O Ranges

Jauh, jauh di dalam lautan yang hanya mendapatkan secercah sinar matahari sebagai penerang, terbentang kerajaan kaum Mer.


Di sana, pilar-pilar berlumut menjulang tinggi dengan sulur-sulur hijau yang melingkar menghiasi. Sulur-sulur tersebut akan bergoyang seolah hidup seiring dengan arus laut yang menerpa. Pepohonan gaib tumbuh subur. Jika di daratan burung-burung hinggap dan bermain di pepohonan, maka di sini ikan-ikan dengan segala macam jenis dan bentuk yang menguasai pepohonan itu.

Istana raja kaum Mer terletak di tengah-tengah. Temboknya terbuat dari jejeran kerang raksasa. Sesekali, kerang-kerang itu akan membuka mulutnya, menampakkan butiran mutiara terbaik dan terindah kebanggaan kaum Mer.

Di istana itu, sang Raja tinggal bersama enam putrinya. Diantara enam putri sang Raja, Putri Keenam lah yang paling menawan. Kulitnya lembut bagaikan kelopak bunga, biru matanya seperti biru lautan yang disorot oleh sinar matahari—berkilau dan penuh akan kehidupan.

Namun saat ini, bukannya berenang bersama dengan saudara-saudaranya atau bermain bersama kawanan ikan, Putri Keenam dengan nekat menyusup keluar dan berenang seorang diri menuju Lembah Sunyi, menemui penyihir yang terkenal seantreo samudra akan kesaktiannya.

Ia menginginkan sesuatu dari si Penyihir, dan tidak ada seorang Mer pun yang dapat mengetahuinya.

Putri Keenam berenang dan berenang, menyusuri lembah yang lenggang oleh suara kehidupan. Ia merangkul diri. Ketakutan terpantul jelas di manik birunya. Lembah Sunyi membuat instingnya resah. Putri Keenam bergidik. Ia sapu ekornya semakin kuat menyibak lautan. Tak lama, ia melihat sebuah gua raksasa dengan mulut hitam menganga. Saat ia berenang mendekat, Putri Keenam melihat Mer berekor hitam mengkilat tengah mengaduk sesuatu dalam kuali yang isinya berpendar lemah. Rambutnya yang segelap ekornya melayang mengikuti gerakan air.

“Halo,” sapa si Penyihir tanpa menoleh. “Ada yang bisa kubantu?”

Suara si Penyihir menggema aneh dalam kesunyian. Putri Keenam menahan diri untuk tidak bergidik.

“Aku jatuh cinta dengan seorang manusia,” kata Putri Keenam berterus terang. Ia punya firasat berbasa-basi bukanlah suatu tindakan yang tepat jika berhadapan dengan penyihir ini.

Sementara itu, si Penyihir menahan diri untuk tidak menarik napas bosan.

“Oh?” sahutnya pendek, masih mengaduk ramuannya. “Lalu? Kau ingin menjadi manusia, begitu?”

“Tidak, tidak,” Putri Keenam menggeleng cepat. Ia berenang mendekat, “aku ingin manusia itu menjadi salah satu kaum Mer.

Tangan si Penyihir berhenti mengaduk.

Perlahan, bibir merah si Penyihir meliuk membentuk senyum licik. Ia menghapus senyuman itu saat memutar tubuhnya, menghadap Putri Keenam.

“Menjadikannya Mer, hmm?” si Penyihir memandang Putri Keenam dari atas ke bawah, tampak menilai. Manik hijau terangnya berkilat. “Lalu siapa… manusia ini?”

Ekor Putri Keenam mangayun gelisah. Ia tampak ragu menjawab, namun pada akhirnya ia membuka mulutnya;

“Pangeran Eric.”

Alis si Penyihir terangkat.

“Anak Raja Arthur itu?” tanyanya, mengklarifikasikan.

Ia melihat Mer muda itu mengangguk. Ekor hitam si Penyihir mengibas. Ia lantas berenang perlahan mengitari Putri Keenam.

Well, aku bisa memberimu ramuan untuk membuatnya menjadi salah satu kaum Mer… tapi dengan sebuah imbalan.”

Mer berekor hitam itu membelai pipi Putri Keenam dengan kelembutan yang menipu. “… kau harus memberikan sesuatu yang akau anggap paling berharga kepadaku.”

Putri Keenam menggigit bibirnya. Manik birunya bertemu dengan manik hijau terang si Penyihir. Ada ketakutan yang terlukis di manik biru itu.

“Apa… apa yang kau inginkan?”

Tangan si Penyihir terulur. Telunjuknya lalu mengetuk pelan leher Mer muda. “Aku menginkan suaramu.”

Putri Keenam tersentak. Jemarinya yang berselaput mengecup lehernya dengan gemetar.

“Suaraku?” ulangnya parau. Matanya melebar. “Bagaimana aku bisa berbicara dengan Pangeran Eric kalau kau mengambilnya?”

“Jangan bodoh,” tukas si Penyihir, menyipitkan mata. Pandangannya menyelidik. “Matamu yang indah u dapat mengekspresikan lebih dari kata-kata. Kau juga masih punya kecantikan yang mampu menarik perhatian setiap Mer, apalagi kalau Mer itu dulunya manusia.”

Si Penyihir lalu bersedekap, menunggu keputusan si Mer muda.

Putri Keenam menunduk. Beberapa saat kemudian, ia mendongak dan mengangguk.

“Baiklah.”

Si Penyihir menyeringai.

“Besok akan ada badai besar yang akan menggulingkan kapal pangeranmu. Pastikan kau menemukannya sebelum ia sadar dan berikan ramuan ini kepadanya,” kata si Penyihir. Ia menyodorkan sebotol kristal kecil berisi cairan bening. Jemarinya lalu mengecup dagu Putri Keenam. Sebilah pisau bergagang perak tiba-tiba telah berada dalam genggamannya.

Now, open your mouth, darling…

.fin

Advertisements

7 thoughts on “Open Your Mouth, Darling

  1. Tbvh aku paling ngga bisa nulis genre fantasy karena penyampaiannya kudu detail dan aku ndak mau brain bleeding, but, uwooooohhhhh here you aaaaaare! Mau tepok ame-ame dulu setelah tersepona berkali-kali, bikos dengan eksekusi yang singkat bisa menjaga settingnya agar sedetail mungkin… adulah aku tenggelam di Kerajaan Mer ❤

    WELKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAM and nice to meet you here, O Ranges! Keep writing ❤

    Like

    1. aahh, thank you, Ms Pang~ ❤ i nearly cried because it's been a long time since i wrote a story like this and this is rather hard for me to write… but it seems you enjoyed my story, so it's worth it~ and thank you for your kind comments! ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. Wuoohh..aku nggak bisa komen apa-apa. Fantasi itu susah dan aku belum mampu untuk membuatnya, tapi ini bagus dan detail banget dan a bit creepy, tetapi justru di situ menariknya cerita ini. Keep writing yaa 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s