Ambiguitas

ambiguitas

by titayuu

Ada film bagus di bioskop, tuh.

Kalimat dalam layar datar ponsel muncul sejak lima menit lalu. Mendistraksi aktivitasku sejenak untuk mengulang kalimat yang sama. Aku tak begitu berniat untuk membalas dengan tergesa. Enggan untuk memberi asumsi yang tak perlu. Setidaknya ia harus tahu, kalau aku tak mudah untuk dirayu.

Nada persuasif terselip di antara baris kalimat itu, aku tahu. Ia tak pernah benar-benar membuka topik pembicaraan langsung pada intinya. Ia menyelipkan sesuatu dari tiap kata yang tertulis maupun terucap, berpolah bagai teka-teki. Menghasutku agar bisa memecahkannya sendiri. Sialan, aku tidak pernah suka teka-teki atau sesuatu yang berbau ambiguitas. Tapi tetap saja ia berlagak tolol dan menganggap bahwa aku mengerti maksud yang ingin ia sampaikan.

Dia tetap tidak berubah, sama sekali.

Masih belum berniat membalas pesannya, buku karangan Riordan kuangkat lagi. Mungkin sugesti karena mendapat pesan darinya, rasanya ingin kutaruh buku itu di sofa lagi. Itu kepunyaannya, menginap di kondominiumku sejak setahun lalu. Ia tak pernah menyinggung soal buku itu sejak kupinjam, tak pula bertanya apa aku sudah menyelesaikannya. Entah karena lupa atau memang sengaja berpindah kepimilikan. Aku ingin mengembalikan, tapi ia sudah terlanjur memutus tali komunikasi sejak berbulan-bulan. Ia hilang, dan kini muncul bagai hantu tak tahu diri.

Ia muncul pada hari sabtu di awal bulan November pada pukul dua belas malam. Muncul di layar ponselku dengan momor yang berbeda, lantas menuliskan rangkaian kata selamat ulang tahun beserta doa. Berpolah bagai tak pernah terjadi apa-apa, bersikap kalau aku masih baik-baik saja. Ia tak pernah tahu seberapa keras usahaku untuk menyingkirkannya dari ingatan, ia tak pernah tahu kalau aku berusaha untuk bergerak maju tanpa peduli apa yang sedang ia lakukan. Toh, kupikir dia juga tak pernah memikirkanku. Tapi pada kenyataannya, dia orang pertama yang mengucapkan kalimat itu di hari spesialku.

Star Wars juga akan tayang sebentar lagi. Kamu gak mau nonton?

Deretan kalimat muncul lagi setelah ponselku bergetar. Masih dengan kalimat serupa, masih dengan kalimat informatif sekaligus ajakan yang sama. Sedangkan di sini aku masih ingin mengulur waktu, membuatnya sedikit menunggu. Bahkan mungkin ia sedang tak begitu menunggu balasanku. Mungkin ia sedang bersama teman-temannya, membicarakan hal bodoh, atau melakukan kegiatan bersama pacar barunya, tanpa begitu berharap akan kalimat balasanku.

Kuputuskan untuk berbaring di sofa, menatap langit-langit berwarna putih. Beberapa kali kelopak mataku ingin terpejam, namun selalu gagal di detik ketiga—ketika otakku masih berfungsi untuk mengingatnya. Biasanya di bawah langit-langit itu ia melakukan apa yang sedang kulakukan. Biasanya ia terlelap bahkan ketika aku sedang tak ada di rumah. Biasanya ia membaca buku jika aku sedang tertidur pulas di kamar. Biasanya ia bercerita tentang hal random, dengan akhir yang bisa membuat perutku terkocok. Biasanya ia di sini, membuatku terjebak ke dalam perasaan aneh yang tak terbalas. Bertahan dalam waktu yang cukup lama, hingga hilang ditelan kesendirian karenanya.

Nonton bareng, yuk? Aku yang traktir deh.”

Napas keluar dari mulutku ketika pertanyaan dari inti kalimatnya tertulis dilayar ponselku. Akhirnya ia menyerah bermain teka-teki. Kuharap ia menyadari kalau aku tak lagi berambisi untuk menebak semua kalimat ambigunya. Aku tak tahu harus bagaimana. Jemariku menari di atas layar, menekan beberapa huruf, lantas menghapusnya lagi. Berulang selama tiga kali, disertai dengan lemparan ponsel ke atas sofa. Aku nyaris tak benar-benar ingin membalas, hingga tiba-tiba jariku kerasukan sesuatu untuk kembali menekan layar ponsel. Kuharap aku tak menyesal setelah menekan tombol kirim setelah ini.

Akhir-akhir ini aku sedang sibuk, sorry ya.

.

Tamat

.

Advertisements

4 thoughts on “Ambiguitas

  1. Wah, ternyata berkode-kode terselubung tidak selamanya bagus ya, salah-salah justru membuat lawan bicara lelah sendiri. Secara umum aku suka ceritanya, hanya ada beberapa salah ketik dan mungkin akan lebih bagus lagi kalau ada sesuatu yang lebih emosional dalam cerita ini.

    Keep writing, Tita:)

    Like

    1. iya, kode2an bikin capek sebenernya. aturan mah langsung aja ke intinya xD
      oh iya, iya kayanya emang ada yg salah tulis. makasih sarannya, ami. makasih juga udah baca! 🙂

      Like

  2. Paling males kalo ada yang kode-kodean gak jelas, mending langsung ngomong ke intinya. Topiknya padahal dekat dengan keseharian tapi aku bahkan gak pernah kepikiran kalo topik semacam ini juga bisa jadi tulisan yang menarik!!
    Salam,
    Farza

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s