Nasihat Maimunah

by La Princesa

warning: language.

Jam tiga sore adalah jam-jam kritis bagi Mahmudin yang sedang belajar rajin puasa Senin-Kamis.

.

Ia tidak munafik dengan menyangkal fakta itu, karena pada sekitaran jam segitulah cacing-cacing di perutnya mengadakan unjuk rasa besar-besaran (lengkap dengan acara bakar spanduk) menuntut untuk diberi asupan gizi. Cadangan energinya dari makan malam sudah habis dipakai beraktivitas seharian, sementara ia harus bersabar setidaknya selama tiga jam ke depan hingga tiba waktu berbuka.

Maka dari itu, saat ia mencium aroma kuah Indomie ayam bawang yang datang dari dapur tetangga sebelah, Mahmudin cuma bisa menelan ludah. Inilah godaan terbesarnya yang paling nyata dan tak terbantahkan, karena sebagai seorang pecandu mie instan, nikmat mana yang mampu Mahmudin dustakan dari seseruput kuah hangat mie ayam bawang di tengah cuaca Surakarta yang dinaungi rinaian hujan? Aduh, definisi surga menurut Mahmudin memang sesederhana itu. Tapi, semakin ia menantikan adzan maghrib, semakin hukum relativitas Einstein malah bekerja untuknya.

Lebih dari sekadar kemantapan tekatnya untuk beribadah, Mahmudin menyimpan alasan lain mengapa ia harus bisa menahan rasa laparnya di tengah terpaan badai Indomie ayam bawang. Ia tak mau menjadi bahan ejekan Maemunah kalau puasanya batal di tengah hari. Mahmudin yakin, adik kembarnya itu tak akan membiarkan dirinya lolos begitu saja kalau dia sampai tahu Mahmudin mokah¹ gara-gara tak kuat menghidu aroma mie. Ia juga sih yang salah karena terlalu sesumbar bakal bisa menjalani puasanya hari ini dengan lancar jaya, sementara niat mulianya mau bangun sahur saja harus ia relakan saat muadzin di langgar sudah menyanyikan kalimah terakhir adzan subuh.

Tidak, tidak, tidak. Pokoknya, Mahmudin tak rela harga dirinya tercabik karena diejek oleh Maemunah. Apa pun yang terjadi, mau itu ada badai Indomie ayam bawang atau penjual mie tek-tek lewat di depannya pun, Mahmudin harus kuat dan tidak boleh lemah iman. Pokoknya Mahmudin bisa, pokoknya Mahmudin sang—

Eh, tapi, tunggu dulu, deh.

‘Kan Maemunah sedang tidak ada di rumah? Satu jam yang lalu bukannya dia pamit mau ikut kursus menjahit? Ibu juga sedang tidur dan Bapak belum pulang kantor. Atau bahasa singkatnya: Mahmudin sedang sendirian di rumah. Kalau dia mokah dan bikin Indomie pun, seharusnya tak ada yang tahu.

Dasar setan tak pernah berhenti menggoda yang lemah. Dasar Mahmudin kelewat lemah sampai tergoda bujuk rayu si setan.

Melesat ke dapur dengan kecepatan serupa pesawat supersonik, Mahmudin segera mengeluarkan panci dan masak mie tanpa menimbulkan begitu banyak keributan supaya tidak membangunkan Ibu. Biarlah ia mulai puasanya minggu depan dengan persiapan yang lebih matang dan alarm yang lebih kencang, Mahmudin menyugesti dirinya sendiri sembari mencari pembenaran akan tindak kriminalnya terhadap keberlangsungan imannya. Berselang lima belas menit kemudian, semangkok mie ayam bawang favoritnya sudah ada di tangan. Mengucap doa dan terima kasih pada Yang Maha Kuasa sembari menyisipkan satu-dua kalimat minta ampun, Mahmudin mulai melahap surga kecilnya itu.

Dan langsung tersedak kala dwimaniknya menangkap sesosok figur yang tengah berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan tersilang seraya mengulas seringai penuh arti.

“Wah,” komentar Maemunah, pendek namun sarkastik. Mahmudin mati kutu.

“Enak, ya?” lanjut saudara kembarnya memancing. Tapi Mahmudin tak mau ikut terpancing, maka ia nekat menjawab, “mau?”

Maemunah cuma menggulirkan kedua bola matanya sebagai jawaban.

Sudah terlanjur ketahuan juga, Mahmudin justru semakin barbar menjalankan aksinya. Ia tak malu-malu lagi makan mie di depan Maemunah yang memicingkan matanya—setengah jijik, setengah tak percaya dengan kelakuan kembarannya. Yang dipandangi seperti itu tak terpengaruh sedikit pun, apalagi jadi sadar bahwa ia baru saja melakukan dosa.

Lha piye?²” Mahmudin mengobral kalimat dengan mulut dipenuhi kuah Indomie—sungguh keajaiban ia tidak tersedak saat tadi berbicara. Kembarannya yang melihat kelakuannya kian melempar tatapan jijik. “Gek isuk aku ora tangi saur. Ngelih aku.³

Maemunah menghela napas panjang memupuk kesabaran.

“Terserah sih, ‘kan awakmu sing makan omongan sendiri.” Maemunah menjawab enteng, alisnya berjungkit satu tanda meremehkan. “Tapi pas ngunyah, mbok mulutnya ditutup supaya suaranya nggak kedengaran orang lain. Kalau mau goblok, gobloklah dengan santun.”

Dan tanpa menunggu amukan keki dari Mahmudin, Maemunah sudah mengeloyor pergi.

.

[¹] Batal puasa sebelum waktunya.

[²] Mau bagaimana?

[³] Tadi pagi aku nggak bangun sahur. Lapar aku.

.

-end

.

  1. Kalimat terakhir yang diucapkan Maemunah, terinspirasi dari twit manusia paling jago nyinyir se-Indonesia Raya. *brb kabur sebelum didamprat yang bersangkutan* :))
  2. Challenge bahasa daerah, done! Ah, ini gara-gara Mala dan Kaeci yang terlalu menginspirasi, sih. Btw, ini status line yang kemaren kita ketawain, Mal. XD
  3. Aku yang nulis juga berharap segera ketemu Mahmudin/Maemunah lagi, hehe. I’m so in looovvvveee writing them, hehehe.
  4. Thanks for reading, anyway. Review dan komentar dipersilakan!
Advertisements

10 thoughts on “Nasihat Maimunah

  1. Ngakak aku, haha! btw kasian Mahmudin nahan laper sampe jam 3 sore, akhinya dia mokah terus ketauan Maimunah :3
    ditunggu Maemunah-Mahmudin series lainnya kak ❤

    Like

  2. Duh, si Mahmudin ada-ada aja deh. Nggak berisik pun itu aroma Indomie ayam bawang tidak bisa ditutup-tutupi juga kali… -,- tapi Maemunah sadis juga ya, aku kalau jadi Mahmudin mungkin melipir aja deh.

    Kusuka ceritanya, Kak. Singkat, padat, tepat sasaran (?), menghibur dan ada pesan moralnya. Btw, kukira gek itu artinya nanti..haha (jadi nambah kosa kata juga)

    Kerp writing, ya, Kak! 🙂

    Like

  3. Lucu banget wkwkkwk. Mahmudin juga apaan banget sih mokah gitu gara-gara bau mie. Tapi, emang sih, aku akuin bau mie emang menggoda apalagi hujan begitu ah sedaaap ;_;

    Seperti biasa, bagus banget. Apalagi nama tokohnya hehe, terus yang paling bikin ngakak ya bagian ‘gobloklah dengan santun’ XD Enak banget dibaca sore-sore gini, santai sekali pembawaannya. Terus, aku suka karakternya Maemunah yang judes abis lha seimbang banget sama kembarannya.

    Keep writing kak!

    Like

  4. HAHAHAHAHAHAH NGAKAK SIK NGANTI TAUN BARU 2017 😂

    mahmudin pasti tengsin abis tuh gara-gara maemunah HAHAHAH XD btw quotes-nya mantap abis dah :3 ceritanya relatable banget kakput. emang kalo puasa senin-kamis tuh bawaannya susah yhaa. dan gimana ngga pingin mokah kalo godaannya indomie kuah rasa ayam bawang. bayanginnya aja aku pingin makan mie, padahal tadi siang udah WKWK ._.

    ini fiksi yang segar kakputt! syedap banget bacanya kea lagi makan indomie ditemani dengan teh anget (dan wu yifan) (gak ding). oh iya kakput, seingatku kata ‘tekat’ itu mestinya ‘tekad’ kakputt. but it’s ok it’s luv bikos jangan-jangan kakput nulisnya di samping kakanda jongin nih makanya aga ga konsen :3 ((iyain jha))

    nice one kakpuuutt! semangat nulis! ‘kan kutunggu mahmudin-maemunahnya lagi! ❤

    Like

  5. Aku tadi baca ini sambil makan mie kuah jadi menghayati posternya banget ya. Trus di tengah-tengah makan aku ngakak gara-gara badai indomie ayam bawang hahahahaha kayaknya mahmudin semacam fetish indomie banget ya put.
    Aku baru tahu kalo berbuka sebelum waktunya itu namanya mokah. selama ini bilangnya ‘mecah puasa’ hahaha akan kucatat mokah. trus bahasa Jawanya akrab bangets yay! Maemunah-Mahmudin siblings are way too hilarious!

    Like

  6. Ceritanya lucu dan memuaskaan.. etapi kasian sebenarnya, udah jam 3 baru dibatalin, kan nanggung banget ._.
    Puasa sunnah emang banyak godaan. Aku pernah diskusi panjang “batalin gak ya, batalin yuk, eh jangan, nanggung, eh tapi gmna ya?” Sama temen selama sejam pas zuhur karena hari panas banget dan kita sama2 gak sahur. Alhasil kami milih bertahan walau habis itu lesu gak brtenaga ._. Kalau gak ada dia mgkn udah aku batalin kali ya..wkwkwk

    ‘Gobloklah dengan santun’ ini amazing banget..suka.. 😀
    Nice story, kak!

    Like

  7. “Kalau mau goblok, gobloklah dengan santun.”–kaput tolong share tutorial mokah yang santun bagaimana aku mau nyoba nanti pas Ramadhan…

    Challenge bahasa daerah sungguh bermanfaat bikos selama ini kenalnya batal puasa disebut motel…((yang kalo di negeri Paman Sam wujudnya penginapan))
    Plus ini lagi ujan waktu baca aduhai sekalih kujadi pengen mi kuah ❤
    asliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik Indomie seleraku dan Kanjeng Maimunah idolaquw~~~ ❤

    Like

  8. btw kakput…………..aku laper. salah nih salah baca ginian jam 9 malem hahahaha. aduh mana gambar mi kuahnya enak banget pula salah deh salah xD oke balik ke cerita.
    ASELI INI MAH ADEK AKU BANGET LAH KAK xD jadi waktu itu dia sok sokan ngikutin aku sama bu negara puasa senen-kamis, tapi yha jangankan jam 3 sore. pas jam 10-an doi bangun kan, mandi, pas jam 12 sama bu negara disamper ke kamar: dek, jadi ikut puasa? tadi pas sahur dibangunin susah banget. terus adek aku tuh yang kaya belom minum sama makan 5 hari jawabnya: ku…at. bu…. sumpah aku aja kasian ngeliatnya xD akhire pas dibilang sama bu negara sana makan aja lah daripada sakit, doi ngeloyor ke bawah terus ke dapur cepet buanget. semangat yha emang yang namanya batalin puasa ft. indomie (HAHA APAINI MALAH CURHAT)

    dan……itu kalimat terakhirnya maimunah kill banget sumpah. gobloklah dengan santun xD hahaha suka suka sampe 1000000x. aku berdoa supaya kakput sering-sering bikin fic slice of life terus karakternya mahmudin sama maimunah hehehe. keep writing yah kaaak x))

    Like

  9. ((badai mi instan))

    kasusnya mirip aku nih, imanku gampang goyah kalo dihadapkan dengan aroma mi instan ayam bawang ahaha murahan banget ya tergodanya sama mi instan tapi atuhlah nikmat pisan etamah komo lamun dicengekan, hih 😦

    sangat menghibur put, asik sekali deh orificnya 😀

    Like

  10. Ini lucu banget kak puuut. Piye yo, bahasa jawanya nampol banget bikin aku ngakak. Hehe. Mie instan emang paling juara deh godaannya apalagi mie kuah, waduuuuh aromanya. Perkataan Maemunah “Kalau mau goblok, gobloklah dengan santun” udahlah ampuuun aku kaaaak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s