Solusi untuk Fikri

convenenow

credit pic: here

by aminocte

Tentang Fikri dengan segala kegelisahannya dan seorang sahabat yang memberinya solusi untuk permasalahannya.

Liburan, bagi seseorang yang biasa berkecimpung dengan gunungan tugas, aroma laboratorium, serta bolak-balik ke berbagai fasilitas kesehatan seperti Fikri, tampaknya adalah kebahagiaan besar yang tidak boleh ia sia-siakan.

Seminggu pertama sejak kelulusannya, Fikri merasa hidupnya terlambung ke langit. Hari-harinya seakan surga. Bebas melakukan segala. Mau berleha-leha sampil mengudap mi instan? Silakan. Mau begadang menonton serial televisi impor sampai dini hari? Tidak ada yang melarang. Mau berpura-pura menutup mata dengan tumpukan baju kotor yang menggunung? Sungguh, siapa yang memiliki otonomi di rumah ini selain dirinya?

Asalkan orangtuanya belum pulang bekerja, tentu saja.

Minggu kedua, Fikri mulai merasa jenuh berada di rumah. Pagi-pagi sekali, ia akan bersiap-siap, bahkan mendahului ayah dan ibunya. Setelah pamit seadanya, ia pergi ke tempat-tempat menarik di Bukittinggi, kota kecil tempatnya tinggal. Kadang ke pusat kota, keluar masuk distro, keluar masuk toko. Kadang ke kedai kopi, mencoba latte hari ini, lalu frappuccino esok hari. Kadang ke toko buku, mengecek harga seri novel kesukaannya atau berlagak rajin dengan membaca sampul belakang buku teks kuliah. Kadang ke Ngarai Sianok, bahkan Fikri menyempatkan diri menengok aneka satwa di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Bukan, bukan mengunjungi saudara jauh. Baginya, manusia dan primata jauh berbeda, meskipun sistem lima kingdom dalam Biologi tidak memisahkan Homo sapiens dari Kingdom Animalia.

Namun, kota ini terlalu kecil untuk memuaskan rasa jenuhnya. Destinasi yang ada sangat terbatas. Ia pun tidak ingin mendadak dikenal hanya karena hampir setiap hari pergi ke tempat yang itu-itu saja. Fikri mulai resah. Beberapa orang tetangganya mulai menanyakan statusnya. Ia memang sudah lulus, lalu apa? Apa gunanya lulus dengan predikat cum laude jika tidak memiliki pekerjaan?

Minggu ketiga, ia mendapat kabar bahwa Yogi, sahabat karibnya pulang dari Yogyakarta. Atas nama reuni, mereka pun pergi berkeliling propinsi. Hari pertama, mereka pergi menuju Pesisir Selatan untuk menikmati Pantai Carocok yang indah. Esoknya, mereka ke Sawahlunto melihat berbagai peninggalan zaman Belanda di Kota Tambang itu. Lusanya, mereka bersiap ke Danau Singkarak, berfoto-foto dan menyempatkan diri makan katupek angek, ketupat sayur panas, yang buka 24 jam. Hari keempat, mereka pergi ke Puncak Lawang untuk mencoba paralayang. Sayang seribu sayang, cuaca yang tidak menguntungkan membuat mereka terpaksa harus puas dengan melihat Danau Maninjau dari atas.

Hari terakhir minggu itu mereka tutup dengan berkunjung ke Padang, pusat kehidupan modern di Sumatera Barat, juga kota tempat Fikri menyelesaikan pendidikan tingginya. Saat mereka menyeruput kopi sambil mengobrol santai, saat itulah Fikri merasa keresahannya hampir meluap ke permukaan. Memang dia yang lebih dahulu lulus dari sahabatnya itu, tetapi dirinya sama sekali belum memiliki perencanaan masa depan yang matang. Tidak seperti Yogi yang sudah mendirikan startup portal belajar daring bersama teman-teman kuliahnya, Fikri bahkan masih harus hidup dengan menadahkan tangan pada orangtuanya.

Dek a, Ki? Bamanuang se mah.[1] Pertanyaan Yogi yang begitu tiba-tiba membuat lelaki itu terkejut. Lamunannya mendadak buyar. Padahal tadi ia sudah mengkhayalkan dirinya lulus tes CPNS Badan Pengawas Obat dan Makanan. Orangtua Fikri memang menghendaki putranya untuk menjadi Aparatur Sipil Negara. Lelaki itu menurut saja. Kalau memang lulus, pasti orangtuanya akan luar biasa bangga. Belum lagi jika beberapa dekade mendatang, ia diamanahi memegang jabatan tertinggi di lembaga non kementerian itu. Wah, bukan main hebatnya.

Namun, Fikri harus mengakui bahwa semuanya baru khayalan semata. Baru  sebatas teater kecil yang dimainkan di dalam benaknya.

Ndak ado do, Gi. [2]Fikri menggeleng sambil mengaduk-aduk latte-nya dengan asal. Sadar diperhatikan, Fikri mengatur ekspresi wajahnya menjadi serileks mungkin. Ia bahkan membubuhkan tawa di akhir kalimatnya. “Ha, ndak galak wak nampak, ko ha. [3]

Ee..,” Fikri meringis pelan saat tinju Yogi mendarat pada lengan kanannya. “Sok-sok galak lo gai. Hati rusuah, hati manangih. A guno no[4]?”

Ndak ado wak baa-baa do. Serius! Sumpah demi Allah[5].”

Oo.. mantun rupono. Ndak kawan wak lai do [6]?”

Fikri bimbang. Yogi terus mendesaknya untuk bercerita. Namun, dirinya kepalang malu.

Caritolah Ki. Ma tau wak bisa manolong, [7]” bujuk Yogi, akhirnya.

Maka Fikri pun menceritakan keresahannya karena belum mandiri secara finansial. Ia juga iri kepada Yogi yang sudah merintis usaha sendiri, berbekal kewirausahaan yang telah dimilikinya sejak sekolah dasar. Menunggu tes CPNS, jadwalnya belum jelas. Mau berusaha sendiri, Fikri keburu enggan membayangkan argumentasi panjang yang harus dibangunnya untuk meyakinkan orangtuanya. Bisnis itu harus kuat modal dan kuat mental. Jangan sampai kamu belum mendapatkan hasilnya, malah terbelit utang, pasti itu yang akan dikatakan oleh ayahnya kelak.

Yogi iyolah. Alun lulus se lah bausaho. Awak minta pitih jo ka rang gaek baru. Ndeh, malu bana wak rasonyo, Gi. Sabana malu ko ha[8].”

Sampai detik ini, Fikri pasrah bila harus diceramahi. Ia rela jika harus mendengar nasihat panjang dari Yogi. Tentang pentingnya membangun mental wirausaha sejak dini. Tentang pentingnya mengetahui keinginan sendiri dan memperjuangkannya, bahkan bila mendapat tentangan keras dari orangtua. Tentang pentingnya memiliki nyali lebih sebagai lelaki, bukan sekadar untuk memenangkan tantangan fisik, tetapi juga persaingan ketat untuk memperebutkan pekerjaan selepas lulus kuliah.

Ha.. bantuak ko sen lah. Amuah Ki join jo wak? Kami paralu urang untuak mambuek konten portal online tu. Awak ado lo kenalan anak Farmasi di sinan, ndak paralu Ki cameh do. Ado kawan maota lamak sambia baraja. Sambia manunggu tes CPNS tu, tingga selah di tampek wak. [9]

Fikri terperangah. Terbayang olehnya lulusan Farmasi UGM yang cerdas-cerdas, membuat dirinya merasa seperti atom di tengah hamparan samudera.

Hah? Awak… jo anak UGM tu? Urang tu santiang-santiang, Gi. Ndak tairiangi di awak do. Awak ko a bana nyo. Kajai-kajai pangabek cindua. [10]

Yogi mendecak kesal. Fikri terkejut mendapati sepasang mata itu menatapnya dengan begitu tajam. Seingatnya, Yogi hampir-hampir tidak pernah semarah ini kepadanya.

Sampai bilo ang ka bantuak iko, Ki? Awak laki-laki, ndak bisa manunggu se do. Kok santiang urang tu, awak yakin Ki labiah santiang lo li. Lulusan terbaik mah. IPK tigo koma lapan, padahal kuliah Farmasi tu sarik, ndak? [11]

Fikri tertegun. Ia, sejujurnya memang menginginkan kesempatan itu. Lima tahun hanya berada di Padang, jiwanya butuh pengalaman baru, suasana baru di kota yang baru pula. Seperti Yogyakarta, misalnya. Ia yakin akan menemukan sesuatu untuk mengakselerasi kematangan dirinya kelak di sana.

Kok payah bana manjalehan ka ranggaek Ki, bia wak tolongan. [12]

Fikri, akhirnya menemukan jawaban untuk tawaran sahabatnya itu. Sebuah anggukan setuju. Ini kesempatan emas. Tidak mungkin ia lewatkan begitu saja.

Jadih, Gi. Wak nio. Tapi… bialah awak se yang mangecek ka ranggaek wak.” Fikri tertawa kecil. “Bialah kok payah bana, ndak a do. Doakan se lah, Gi. Mudah-mudahan amak wak lai amuah malapeh anak bujangnyo yang surang ko. Kalau amak wak lah sese, apak wak manuruik se tu mah. [13]

Anggukan Yogi membalas ucapan Fikri barusan. “Aman tu, Ki. Untuak Ki a yang ka indak. Doa yang bamintakan ka awak, jadih. Kok pitih, bara Ki nio? Sabuik se lah. [14]

“Azeeh.. sagan se wak. Kok iyo bantuak itu, bayiaan minum wak ko dih. Wak ka tambuah agak sagaleh ha. [15]

Apo lo tu, Ki. Mambayiaan minum tu pakaro geleng di awak tu no. Pasan se lah latte tu baliak. Kok espresso jadih juo. Asa ndak aia cabuak pambasuah tangan se lah. [16]ujar Yogi seraya bercanda. Tawa pun meledak di antara keduanya.

Fikri merasa beban dalam dirinya terangkat seketika. Dadanya terasa lebih lapang, pikirannya terasa lebih lega. Perbincangan dengan Yogi telah membuka matanya, menunjukkannya pada secercah harapan. Dalam diam, Fikri menyusun langkah. Kali ini bukan angan semata, melainkan impian yang akan diubah menjadi nyata.

fin

 

Catatan kaki (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia non formal):

[1] Dek a, Ki? Bamanuang se mah.: Kenapa, Ki? Kok ngelamun aja?

[2]Ndak ado do, Gi. : Nggak kenapa-napa, Gi.

[3] Ha, ndak galak wak nampak, ko ha. : Nggak liat aku ketawa, nih?

[4] Sok-sok galak lo gai. Hati rusuah, hati manangih. A guno no?: Pura-pura ketawa. Hati risau, hati menangis. Apa gunanya?

[5] Ndak ado wak baa-baa do. Serius! Sumpah demi Allah. : Aku nggak kenapa-napa, kok. Serius! Sumpah demi Allah.

[6] Oo.. mantun rupono. Ndak kawan wak li do? : Oo..begitu rupanya. Jadi kita nggak temenan lagi, nih?

[7] Caritolah Ki. Ma tau wak bisa manolong. : Ceritalah, Ki. Mana tahu aku bisa membantu.

[8] Yogi iyolah. Alun lulus se lah bausaho. Awak minta pitih jo ka rang gaek baru. Ndeh, malu bana wak rasonyo, Gi. Sabana malu ko ha. : Yogi sih iya. Belum lulus aja sudah punya usaha. Aku masih minta uang ke orangtua. Duh, malu banget rasanya. Benar-benar malu.

[9] Ha.. bantuak ko sen lah. Amuah Ki join jo wak? Kami paralu urang untuak mambuek konten portal online tu. Awak ado lo kenalan anak Farmasi di sinan, ndak paralu Ki cameh do. Ado kawan maota lamak sambia baraja. Sambia manunggu tes CPNS tu, tingga selah di tampek wak. : Begini aja. Ki, mau join aku, nggak? Kami perlu orang untuk membuat konten portal online itu. Aku ada kenalan anak Farmasi di sana, Ki nggak perlu cemas. Ada teman ngobrol seru sambil belajar. Sambil menunggu tes CPNS itu, tinggal aja di tempatku.

[10] Hah? Awak… jo anak UGM tu? Urang tu santiang-santiang, Gi. Ndak tairiangi di awak do. Awak ko a bana nyo. Kajai-kajai pangabek cindua. : Hah? Aku dengan anak UGM itu? Mereka pintar-pintar, Gi. Nggak terkejar olehku. Aku ini apa lah. Karet gelang pengikat (bungkus) cendol.

[11] Sampai bilo ang ka bantuak iko, Ki? Awak laki-laki, ndak bisa manunggu se do. Kok santiang urang tu, awak yakin Ki labiah santiang lo li. Lulusan terbaik mah. IPK tigo koma lapan, padahal kuliah Farmasi tu sarik, ndak? : Sampai kapan lu mau seperti ini, Ki? Kamu laki-laki, nggak bisa hanya menunggu. Kalau dia pintar, aku yakin Ki jauh lebih pintar. Lulusan terbaik begini. IPK tiga koma delapan, padahal kuliah Farmasi itu susah, ‘kan?

[12] Kok payah bana manjalehan ka ranggaek Ki, bia wak tolongan. : Kalau sulit sekali menjelaskan kepada orangtua Ki, biar kubantu.

[13] Jadih, Gi. Wak nio. Tapi… bialah awak se yang mangecek ka ranggaek wak.Bialah kok payah bana, ndak a do. Doakan se lah, Gi. Mudah-mudahan amak wak lai amuah malapeh anak bujangnyo yang surang ko. Kalau amak wak lah sese, apak wak manuruik se tu mah. : Oke, Gi. Aku mau. Tapi… biar aku saja yang berbicara dengan orangtuaku. Biarlah walaupun sulit, nggak masalah. Doakan saja, ya. Mudah-mudahan ibuku mau melepas anak laki-lakinya yang satu ini. Kalau ibuku sudah sese (=acc = setuju), bapakku menurut saja.

[14] Aman tu, Ki. Untuak Ki a yang ka indak. Doa yang bamintakan ka awak, jadih. Kok pitih, bara Ki nio? Sabuik se lah. : Aman, Ki. Untuk Ki, apa sih yang nggak. Minta doa, oke. Mau uang, berapa yang Ki mau? Sebut aja.

[15] Azeeh.. sagan se wak. Kok iyo bantuak itu, bayiaan minum wak ko dih. Wak ka tambuah agak sagaleh ha. : Cieee… aku jadi segan nih. Kalau memang begitu, bayarin minumku ya. Aku mau tambah barang segelas.

[16] Apo lo tu, Ki. Mambayiaan minum tu pakaro geleng di awak tu no. Pasan se lah latte tu baliak. Kok espresso jadih juo. Asa ndak aia cabuak pambasuah tangan se lah. : Apa deh, Ki. Membayarkan minum itu perkara remeh buatku. Pesan saja latte itu lagi. Mau espresso, boleh juga. Asal bukan air kobokan pencuci tangan aja.

 Author note:

Yeeyy, tembus 1000 kata! *trus?*

Yatta! Tantangan fic berbahasa daerah sudah selesai. Terima kasih buat para author yang sudah menginspirasi aku dalam membuat fic berbahasa Minang ini. Ternyata memang enak ya membuatnya? Dan lebih membebaskan *cailaahh*.

Ohya, bahasa percakapan antara Fikri dan Yogi itu adalah bahasa percakapan yang cukup halus antar cowok. Mereka tidak menggunakan kata waang/ang (kamu) sebagai kata ganti orang kedua, justru panggil nama kecil masing-masing. Mereka juga tidak menggunakan kata aden/den sebagai ganti orang pertama, justru awak/wak yang lebih halus. Dan fenomena ini lumayan jamak ditemukan, terutama di lingkungan akademis.

Maaf, judulnya nggak ada bagus-bagusnya.

Kalau ada yang kurang jelas, silakan tanyakan padaku di kolom komentar, ya.

 

Advertisements

12 thoughts on “Solusi untuk Fikri

  1. Kajai-kajai pangabek cindua. <<<< ini yang terjemahannya karet pengikat cendol itu bukan, mi? ahahaha boleh juga nih buat dipake sehari-hari, oplos pake bahasa sunda! yuhuuu! wkwk
    aku suka ceritanya, dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. lega sih udah lulus, tapi yo galau juga karena kehidupan yg sebenernya justru baru dimulai :)) mau menentukan pilihan pertimbangannya juga pasti banyak, belum lagi komentar-komentar sumbang yang muncul pas kita memutuskan sesuatu, dsb. hehehehe
    intinya ini bagus banget, meskipun agak kesulitan tadi coba baca bahasa minang. belum biasa kali ya? hihi tapi lumayan nih, wak jadi belajar dikit-dikit :)) nice, keep writing ya mi!

    Like

    1. Kak Nisa, sebenarnya aku kaget karena kalau di notif, komennya kepotong sampai kajai-kajai pangabek cindua itu. Dan aku bingung ini maksudnya kakak komen sependek ini apa, ya? Eh tahunya pas buka postingan ini, komennya panjang banget. Me likey!

      Huhu, iya, sebenarnya ini dari refleksi kegalauan pribadi, Kak, jadi ya begitulah. Syukurnya sudah nggak lagi.
      Senang kalau apa yang kuinginkan sampai ke pembaca. Terima kasih Kak, sudah membaca cerita ini biarpun agak kesulitan juga. Aku terharuu ❤

      Like

  2. KAJAI-KAJAI PANGABEK CINDUA HAHAHAHA
    Astagaaa aku suka banget! Entah kenapa, aku nggak bisa berenti senyum-senyum sendiri bacanya. Kak Ami urang awak, kah? Samo kito 😀
    Baca bagian Fikri jalan-jalan bikin aku ngebayangin tempat-tempatnya juga, aku jadi kangen pulang kampung. Dialog antara Fikri-Yogi itu menurut aku pas banget(?), aku bisa ngebayangin intonasi sama ekspresi mereka gimana. Aaah aku suka pokoknya!
    Konfliknya juga menurut aku realistis dan menegaskan kalau sebenernya cerita yang menarik, yang punya deep meaning (seenggaknya menurut aku) itu bisa diangkat dari hal-hal di sekitar kita dan nggak harus mengangkat tema cinta melulu. Kak Ami keren lah, aku padamu kak 😀 Terus menulis ya, kak!

    Like

    1. Serius? Kamu asli mana? Huahaha, aku juga sebenarnya suka banget part kajai-kajai itu.hahaha. Ayo pulang kampung mana tahu kita bisa ketemuan. Dan yah, syukurlah dialognya pas, karena aku, selain khawatir pembaca yang dari luar Minang nggak paham, juga takut kalau dialog Fikri-Yogi itu nggak pas kalau ada ‘urang awak’ yang nyasar baca.
      Makasih ya, Bi. Aku padamu jugaaa ❤

      Like

    2. Ayahku Solok, ibuku Payakumbuh. Aku sendiri lahir dan sampai sekarang di Jakarta, jadi mungkin udah nggak ada hawa-hawa Padangnya, hahaha. Kakak dari mana?
      Mungkin karena udah biasa denger ayah-ibuku dialog pake bahasa Padang kali ya, jadinya aku bisa ngebayangin percakapan tokoh-tokohnya. Selain itu, menurut aku kakak bisa nuangin kalimatnya, jadinya aku ngerasa klop banget.
      Sama-sama, kak :DD

      Liked by 1 person

  3. Huwee, baiklah, sepertinya kajai-kajai pangabek cindua perlu diresmikan penggunaannya di WS..haha.
    Iya, Kak, aku susah ngerem bahasa Minangnya, abis keenakan. Sama bahasa jambi-palembang memang banyak yang nggak mirip, Kak, tapi akhiran ‘o’ dan beberapa kata adalah yang mirip.

    Makasih Kakput, aku juga senang menulis cerita mereka. Keep writing juga ya, Kak :).

    Like

  4. Hah, serius… serius, kay? Aduh itu masa-masa suram banget kay. Kamu nongkrong (?) di sjff tahun 2010-an gitu ya? Senang ketemu lagi di sini.

    Haha iyaa. aku lebih konsen di dialognya memang. Sempat khawatir juga bikin pusing, mana bahasa Minangnya full pula, bukan selingan. Terima kasih ya, kay. Keep writing juga untukmu :).

    Like

  5. duh mi yang paling nempel di kepala tuh bagian kajai-kajai pangabek cindua sama cabuak pambasuah tangan xD boleh nih boleh dipake buat pengganti remah khong guan hahahaha. aku suka suka sukaaaa banget mi sama slice of life-nya. deket banget sama kehidupan sehari-hari dan yah, lagi kualamin, bareng sama temen-temen aku yg pada lagi galau menunggu panggilan juga xD btw maaf ya malah curhat. intinya aku suka banget miii. plus aku trenyuh sama persahabatan mereka. di kampus aku banyak juga sih yg udah mulai usaha ini itu dan kebanyakan anak cowok. seriusan deh aku salut banget.

    ohiya mi, aku sedikit koreksi boleh? eh tapi cmiiw ya mii, takutnya aku salah. kata baku orangtua itu orang tua mi, jadi penulisannya dipisah hehe. udah itu aja, yang lain sudah okeee. btw terkait pembenaran dari aku kalo aku salah tolong kasihtau aku yah mii, takutnya aku malah nyesatin kamu huhu. last last, keep writing amiii x))

    Liked by 1 person

    1. Kak Fika, maaf aku telat banget balasnya..huhu. Aku senang kakak suka ceritanya, dan slice of life-nya karena entah kenapa aku khawatir ceritanya agak gimanaa gitu ya, takut nggak pas aja.
      Haha, fix deh kajai-kajai pangabek cindua jadi istilah bahasa Minang yang harus dilestarikan.
      Oya, soal orang tua dan orangtua itu aku ragu, karena setahuku kalau orangtua itu artinya ayah-ibu, eh tahunya pas dicek lagi yang benar orang tua.. makasih ya Kak Fika, atas sarannya. Keep writing juga, Kak 🙂

      Like

  6. Ka amiiii dah abdi mah naon kajai-kajai pangabek cindua 😄
    (((nagih kak pangabek cinduanyaaaaaaa)))

    Ayayayayaya topiknya wuasek yhaaa Ka Amiiii… jleb!!~ Langsung bikin galo muahahahahah udah mirip terrornya mahasiswa…
    Apalagi uda keluar kalimat keramat macem: “buat apa IPK tinggi kalo belom kerja,” wahaduh, rasanya mo mati aja 😄 tapi ya gimana namanya juga lingkungan sosial bisanya cuma liat hasil ya kan, proses urusan nomer sekian.. Pokok punya title, punya job, baru dikasi jempol… hvt jadi curhat ke kak ami (sungkem)

    KAK KUSUKA INI! LANGSUNG MENGINSPIRASI UNTUK CARI KERJA KE NEGERI OPAH BARANGKALI ADA LOWONGAN JADI JODOH OPPA ‘-‘)b
    Aslik Ka Ami kusuka ini ❤ Keep Writinggggg~

    Like

    1. Haha, lagi-lagi kajai-kajai pangabek cindua.
      Bener banget, kuliah bikin galau, tetapi kehidupan pascakampus itu lebih bikin galau lagi. Ayo, Kakpang, kudukung perjuanganmu 🙂

      Makasih ya, Kakpang 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s