A Smell of Wine and Cheap Perfume

by fikeey

Strangers, waiting, up and down the boulevard. Their shadows searching in the night.

//

Falling Angel tak pernah kehilangan pelanggannya, sehari pun, bahkan saat kalender menunjuk hari Selasa malam yang nyatanya adalah hari kedua tersibuk dalam seminggu. Kau duduk di tempatmu yang biasanya, menyesap dalam-dalam Black Bush yang kau pesan setengah jam yang lalu. Ini gelas keduamu, dan selama belum ada sensasi pening menyerang―sesuai prinsipmu―tambahan gelas ketiga adalah mungkin.

Petikan gitar akustik yang kaudengar jauh dari belakang kepalamu mendadak samar, digantikan dengan suara serak si penyanyi kacangan, memberitahu jiwa-jiwa di ruangan itu bahwa ia akan membawakan lagu berikutnya. Suaranya semakin samar ketika kau menyadari bangku tinggi di sebelahmu kini terisi.

“Sehun,” sapamu, sementara nyanyian si penyanyi terdengar bagai angin lewat di telingamu. Kehadiran lelaki itu membawa aroma anggur dicampur pengharum mobil yang mahal.

Lelaki tinggi di sebelahmu mengangguk singkat, meminta segelas wine putih yang tak akan memberikannya hangover terlalu berat keesokan pagi.

Kau tersenyum kecil―meremehkan lebih tepatnya. Lelaki itu tak pernah kuat menahan alkohol.

Ketika kau sampai di gelasmu yang keempat dan lelaki di sebelahmu baru saja menghabiskan gelasnya yang pertama, kau menopangkan sisi kepalamu dan mengarahkan seluruh perhatianmu padanya. Sementara kau mempelajarinya dengan matamu, senyum kecilmu muncul lagi tatkala ia berkomentar akan kebiasaanmu minum terlalu banyak dan merokok di sela-selanya.

Katanya, hal itu adiktif. Dan kau telah kecanduan.

Gelas keduanya kini terisi setengah, lalu ia menaruh asal-asalan beberapa lembar dolar di meja―ia tak peduli―yang pasti itu kelewat banyak untuk membayar dua gelas wine yang dipesannya. Maka, kau berasumsi bahwa ia juga membayar minumanmu.

Tarikannya di tanganmu cukup erat, dan hal itu hampir membuatmu oleng ketika ia membimbingmu keluar dari bar tua ini.

Kau tak perlu menebak dua kali ketika ia memarkir mobilnya depan sebuah motel murahan, memesan satu ruangan untuk semalam, sementara kau menunggu tak jauh dari resepsionis sembari bertahan setengah mati untuk tetap terjaga. Empat gelas minumanmu dan sebatang―atau dua batang, kau tak ingat―rokok kini mulai menertawaimu yang mencoba untuk tetap berdiri sambil menyender di mesin soda.

Pertama, ia akan mengamatimu dalam-dalam dengan matanya, membuatmu seolah hanya berlapis sehelai kain putih tanpa lembaran apa pun lagi. Lalu, dua tangannya akan mewujudkan apa yang tadi terekam dalam pikirannya, ketika sepasang mata cokelat itu seolah ada di seluruh tubuhmu.

Kau pikir semua itu cinta, ketika punggungmu menyentuh permukaan ranjang yang keras dan ringkikan besi murahan memenuhi ruangan. Namun kemudian ia membisikkan serentet kata-kata kotor, dan setelah itu kau tidak merasakan apa-apa. Tidak satu pun.

Ia seperti wine, minuman yang selalu ia pesan kala ia duduk di sampingmu di Falling Angel, yang kadar alkoholnya tidak mampu memberikan efek apa pun padamu. Lalu setelah ia ambruk di sampingmu dengan ucapan ‘terima kasih’ yang lemah, kau berkesimpulan kalau cinta hanyalah hal dungu yang menjadi dongeng berisi omong kosong.

Dan dengan pikiran itu, kau menyerah pada kedua kelopak matamu yang kian berat dan memblokir pandanganmu akan ruangan yang suram di sekelilingmu.

Maka, untuk kesekian kalinya, kau kembali berakhir di Falling Angel, yang tak pernah kehilangan satu pelanggan pun, ditambah kalender menunjuk hari Jumat malam yang nyatanya adalah waktu favorit semua orang dalam seminggu. Kau duduk di tempatmu yang biasanya, menyesap dalam-dalam Black Bush yang kau pesan dua jam yang lalu.

Kau tak mendengar petikan gitar akustik ataupun suara penyanyi kacangan yang biasanya hadir di tengah hiruk-pikuk ini. Seharusnya ia tampil, para pengunjung akan dengan senang hati mengisi tas gitarnya dengan kepingan-kepingan uang receh atau selembar dolar karena mereka semua sedang berbahagia.

Alih-alih, kau hampir terlonjak akan kehadiran tiba-tiba seseorang di sebelahmu, menyenderkan tas gitarnya ke sisi konter, dan memesan segelas minuman yang identik dengan milikmu. Ia memberikan senyum tipisnya padamu sebelum menyambut pesanannya dari bartender di hadapannya―sedikit terbatuk ketika kau meniupkan asap rokokmu tanpa dosa.

Kau tersenyum kecil―meremehkan juga, jika boleh jujur―tanpa menyadari bahwa kehadirannya membawa aroma mint yang kuat dicampur parfum maskulin murahan.

Ketika kau sampai pada gelasmu yang keempat dan lintingan rokokmu yang ketiga, lelaki di sebelahmu baru saja menghabiskan gelasnya yang pertama. Sementara kau sibuk dengan pikiranmu sambil memainkan batang berasap di jemarimu, lelaki di sebelahmu berkomentar akan kebiasaanmu yang tak sehat.

Katanya, itu akan berdampak buruk untuk kesehatanmu.

Kau tersenyum kecut, kini menolehkan wajahmu kepadanya. “Kau tak pernah tahu. Kita baru bertemu malam ini,” sergahmu dengan nada sarkastik.

Namun kata-katamu dibalas oleh tawa rendah. “Kau tak pernah tahu. Aku selalu memperhatikanmu dari panggung itu,” katanya, dan kalimat itu hampir saja membuatmu tersedak.

Lalu, ia memberikan namanya padamu. “Kim Jongin,” ucapnya, dan kau membalasnya dengan memberitahu nama depanmu. Bukan kebiasaanmu memberikan nama lengkap kepada seseorang yang baru saja kautemui. Dan setelah itu, suasana di antara kalian kembali hening. Kau sibuk dengan minumanmu dan lelaki itu sibuk bersenandung kecil dengan suaranya yang pas-pasan.

Gelas ketiga lelaki itu kini terisi seperempat, dan ia kembali mengajakmu berbicara lagi―tidak, ia mengajakmu keluar dari ruangan ini, dan hal itu cukup membuatmu waspada. Namun, ketika ia menarik tanganmu dengan lembut dan menunggumu sampai kau berdiri dengan tegak di atas kakimu, kau menyerah.

Ia membawamu menuju sedan bututnya, membukakan pintu penumpang untukmu, dan menaruh tas gitarnya dengan debum halus di jok belakang. Mesin mobilnya meraung berisik di tengah malam yang sunyi, dan tahu-tahu kini kau berada 5 mil dari perbatasan menuju kota selanjutnya.

Angin beraroma laut yang semula memukul wajahmu dan menerbangkan anak-anak rambut yang luput dari ikatan kuncir kudamu kini terasa lembut, sementara wangi air asin yang kentara memenuhi lingkungan sekitarmu. Jongin memarkirkan mobilnya beberapa meter dari bibir pantai, tersenyum lebar ketika ia membukakan pintumu dan mengulurkan tangannya.

Ia mengangkatmu dengan mudah, mendudukkanmu di bagian depan mobilnya yang terasa panas karena mesinnya baru saja dimatikan. Dan seolah menyadari hal itu, ia memberikan dua helai selimut rajut untuk kaugunakan sebagai alas duduk, dan satunya untuk penghangat kalau-kalau kau merasa dingin dengan dress baby-doll milikmu tanpa jaket atau apa pun. Ia duduk di sebelahmu beberapa saat kemudian, dan menyenderkan tubuhnya di kaca depan, bertanya padamu apakah kau menyukai langit malam.

Kau memeluk lututmu, menjawab dengan kata ‘ya’ yang singkat.

Kau mencoba untuk membuang kenyataan saat kau berpikir bahwa itu cinta, ketika ia mulai memetik gitarnya, menyenandungkan potongan lirik manis dari lagu Isn’t She Lovely milik Stevie Wonder. Walaupun Stevie menyanyikannya dengan genre R&B, namun Jongin menyulapnya menjadi lagu akustik yang tenang―lupakan suaranya yang pas-pasan, kau tersenyum kecil sembari membuang wajahmu ke arah lain.

Dan memang, kau hampir merasakan cinta―dan segalanya―ketika ia menyadari sebelah pipimu basah oleh air mata, lalu ia mengulurkan ibu jarinya untuk menghentikan butiran lain yang akan jatuh. Ia memelukmu, erat, namun tidak terburu dan menambahkan kata-kata penghibur di telingamu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kemejanya berbau seperti whiskey, dan layaknya minuman itu yang selalu membuatmu pulang dalam keadaan pening dan setengah terjaga, kau membiarkannya bertahan dalam posisi itu.

Kau mulai berpikir bahwa mungkin inilah yang dirasakan setiap remaja yang baru saja jatuh cinta, karena ketika kau menyesap dalam-dalam aroma maskulin lelaki itu, yang hadir di pikiranmu adalah langit biru dan petikan gitarnya yang merdu.

Dan dengan pikiran itu, kau menyerah pada kedua kelopak matamu yang kian berat dan memblokir pandanganmu akan lingkungan yang suram di sekelilingmu.

―namun ketika keesokan harinya kau terbangun, Jongin masih ada di dekatmu, kini dengan sebutir aspirin, segelas air putih, dan candaannya tentang bagaimana kau tertidur lelap dari tempat kalian semalam menuju ke apartemen kecilnya ini.

Kau tersenyum, dan ia bilang ia benar-benar menyukai senyummu serta wajah polosmu ketika kau tertidur. Oh, dan ia tak keberatan dengan perjalanan malam hari lainnya denganmu.

*


  • omg ngerasa berdosa jarang banget ngepost huhu :”
  • makasih banyaaaak buat kak putri yang udah bantuin aku ngebeta. lavlav x)
  • thank you for reading!
Advertisements

9 thoughts on “A Smell of Wine and Cheap Perfume

  1. Duh pika x) aku tuh suka banget sama tipe tipe cerita begini. stranger tapi chemistry nya langsung taraktakdukces kayak suara kendang di lagu keti sapera 😦 apalagi kalo berakhir bobo bareng /eh/ apalagi kalo sama jongin /eh part 2/ tapi ya sama sehun juga lumayan lah, kapan lagi nyicip yang begitu HUAHAHAHA KENAPA KOMEN GUE BINAL GINI YA TUHAN? ^^
    Pika pengen dikomenin apanya sok aku udah baper duluan udah terlena /ea dankdud abis/ banget baca ini dari atas sampe bawah, ga kepikiran komen yang serius maunya baper bareng aja deh ma putri tuh di atas ampe komennya dinomorin begitu kan bodor HAHAHAHAHA.

    MAKASIH UDAH BIKIN CERITA BAPER-ABLE KEK GINI FIK LAV LAAAAAAAAAAAAAAAAAAV!

    Liked by 1 person

  2. Satu parfum murah, satu parfum mahal. Satu classy, satunya biasa aja. Satu biasa aja, satunya lagi justru berkesan. Ih kak fika kok bisa aja ya bikin komparasinya kayak gini, aku kan jadi… (jadi apa ayo?) jadi pen nulis bagus cem ini. Keep writing ya kakaa 🙂

    Like

  3. Anyeongggg Fikaa. .
    salam kenal :))
    Maaf bru nongol wlwpun aq udah ngefollow kmu dari smalem. .
    Aq dapat rekom dri di ANee ttg tulisanmu.
    Dan wwooowww. aq speechless bgt mau comment apa, krna tulisan kmu terllu mulus tanpa celah,
    sjauh ini, aq nyaman ama diksinya ANee yg kadang masih dapat review dri kmu. dan teryata, tulisanmu kmu juga yg jadi pembelajaran buat dy.
    kyaknya Si ANee gak salah pilih guru. yg dijadikan patokan emank bner2 rapi, gak ada typo, dan lgi diksi yg kmu pke brasa nyantol gtu aja. . .

    Knpa aq baca yg ini? krna castnya lgsg menarik perhatianku. Oh Sehun dan Kim Jongin, hahaha. tpi ntar2 aq pasti baca tiap ff kmu. . cuma masalah wktu aja, dan quota tentunya. . .

    Pokoknya salam kenal buat Fika. . aq musti panggil apa nih? Fikaa, dek Fikaa apa Kak Fikaa ||Niru’ in ANee||.
    Intro dulu deh. biasanya intro psti didahulukan. tapi aku lebih suka intro belakangan
    Nama aku Rini, terserah mau panggil apa, aku 89Line, tua bangeett yaa? 😀
    Aq maniak baca, apalgi ff ama novel, apapun genrenya psti aq nikmati. . .
    tpi aku lemah kalau berimajinasi trus disuruh nuangin dalam bntuk tulisan. jadi aq lebih berbakat jadi reader drpada writter.
    Oke, sekian intro dri aku. . berharap kedepannya bsa trus jaga pertemanan ini. Amiinn

    Liked by 1 person

    1. haloo kak riniii x) salam kenal yaa kak, aku fika garis 93 hihihihi. waaa iya kak aku sering liat nama kakak di blognya anee hehe. sumpah aku masih seneng direkomendasiin, makasi ya kak udah berkunjung ke tulisanku :”)

      iyah kak. aku pertama kenal anee juga pas anee komen di postingan aku di saladbowl. terus akhirnya anee maen ke blog aku, terus aku maen ke blog anee, terus yauda deh sering ngobrol hehe. huhu makasi banyak ya kaaak. sumpah ini bales komen kak rini aku bingung soale masih seneng ehe.

      btw panggil fika aja kaak kan aku lebih mudaa 😀 akuuuu juga suka bacaa. ff atau orific/novel hehehehe. kalo genre… rada ngga sreg sama full romance sih tapi akhir akhir ini lagi suka terutama yang fluff bikin gigit jari hahahaha xD asli komen kakak panjang banget sedangkan aku balesnya pendek. makasih banyak ya kaak udah baca dan komeen. aamiin… iyaah semoga jadi bisa ngobrol ngobrol dan thanks to anee juga kitanya jadi kenalan hehehe.

      Like

  4. kenapa tiba tiba rasanya krystal sekali eaaaaaaaaa astagahhh jongen.. astagahh sehunnie astagahhh kenapa kamu bejat banget bang??? kenapa??? miranda sedih abang beginiin.. jadi miranda berpaling sama si abang pacarnya ital *plak

    ini bagus duhh.. kusuka kata katanya.. biasanya aku tipikal yang susah baca yang rada imagine begini tapi ini mendalem banget duhhh

    btw salam kenal ya.. aku farah. panggil saja farah dengan begitu mesrah bwahahahahha

    Like

    1. btw kenalan duluu. hai farah (dengan begitu mesrah hahahahaha), aku fikaa dari line 93 hihi x) salam kenal juga yaaah.

      MIRANDA xD hayo hayo jongen sudah ada yang punya hahaha xD yaampun aku buat ini juga antara sadar dan tidak sadar (lah) hahaha. makasi yaa farah udah baca dan komeeen x)

      Like

    2. halo kak fika, aku line 94 kita cuma beda 10 tahun :3

      bhaqs, iya kak, ini miranda kerr, dan miranda gaterima aak ceuni bejatin cewek lain, cukup sama miranda ajahh bhaqs.. jongen udah sold out padahal mau aku jodohin sama model victoria secret :3
      cama cama kakanyaaaa

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s