Empati

 hands reaching across sunlit sky

 credit pic: here

by aminocte

Apa kamu benar-benar tidak bisa berempati?

Berada di kantin ini berdua saja dengan Aris, tak ayal, membuat Nita rikuh setengah mati. Penampilannya jauh dari standar menarik, mungkin mendekati minus. Hanya baju kaus panjang warna ungu yang pudar karena terlalu sering dicuci, rok panjang berwarna hitam, serta kerudung berwarna hitam pula. Sebagai alas kaki, ia menggunakan sepatu berbahan karet, dengan sol tebal dan model yang jauh dari kata elegan. Sementara lelaki di hadapannya ini agaknya sadar betul bahwa kemeja pendek berwarna merah marun dikombinasikan dengan jeans hitam akan menambah daya tariknya beberapa kali lipat. Sepatu kets merah tua bersol putih menyempurnakan penampilan lelaki itu, sekaligus melindungi kakinya dari infeksi cacing tambang serta kuman tetanus.

Hatchiim.”

Nita tertegun begitu mendapati Aris memperhatikannya dengan dahi berkerut.

“Ada apa melihatku seperti itu?”

You caught a cold?” Aris malah balik bertanya dengan nada yang janggal: entah tidak percaya bahwa Nita hanya manusia biasa yang juga bisa terserang flu atau sangsi akan fakta bahwa virus influenza terlalu beragam untuk bisa menyerang manusia satu kali saja seumur hidup.

Dengan cepat, Nita menyambar sehelai dari satu pak tisu yang sengaja dibawanya dari rumah. Syukurlah belum terlambat untuk menyerap cairan lendir yang berlebih dari hidungnya.

“Aku bertanya dalam bahasa Indonesia, kenapa kamu harus bertanya balik dalam bahasa Inggris? Sudah muak menjadi WNI?”

Well, I have two reasons. First, because we meet here to prepare for TOEFL test. Second-“

“Tunggu-“

Nita menggerutu karena ucapannya harus diinterupsi oleh bunyi bersinnya sendiri.

“- bukankah kita harusnya belajar berlima?”

They said to me last night that they could not join us.” Aris menjawab dengan senyumnya yang menyebalkan. “And the second, just in case you do not realize it, I know that you sent me an anonymous question last night. About why I am so good in English or something like that.”

Adalah suatu keputusan yang salah untuk iseng bertanya kepada Aris mengenai kelebihan lelaki itu, itu pelajaran moral pertama yang diperoleh Nita pagi ini. Adalah suatu keputusan yang salah pula untuk bertanya sebagai anonim karena Aris, yah, tidak semudah itu untuk dikelabui.

Melihat senyum penuh kemenangan dari lawan bicaranya ini, membuat Nita semakin kesal saja. Ia berharap agar siapa pun, siapa saja datang menghampiri mereka berdua untuk mencairkan suasana yang terlanjur intens seperti lem kanji ini. Ah, bahkan membuat perumpamaan saja, Nita sudah tidak becus.

Saat bersin menginterupsi suasana hening di antara mereka sekali lagi, Nita merasa bahwa Aris memperhatikannya untuk yang kedua kalinya.

You caught a cold?”

“Bukannya tadi kamu sudah bertanya?” Nita melayangkan tatapan kenapa-kamu-nyinyir-sekali kepada Aris.

Yes, but you haven’t answered my question yet.”

“Tolong, berhentilah menggunakan bahasa Inggris untuk kali ini. Kepalaku sakit mendengarnya.”

Are you that allergic to English or what?”

“Bukan, astaga “ Nita mendadak kehabisan kata-kata. Flu ini membuat otaknya sulit diajak berpikir. Apalagi untuk melawan argumentasi Aris yang seakan menohoknya saat ini. Bukannya ia alergi bahasa Inggris, tetapi bisakah setidaknya dia mengerti bahwa orang yang sedang sakit seperti dirinya butuh lebih dimengerti? Tidak bisakah Aris mengiyakan saja permintaannya tanpa harus menyerangnya dengan kalimat tanya berbau rasa ingin tahu?

Not that I’m allergic to that language, but–“

Nita menyerah. Kosakata yang dibutuhkannya untuk menyusun sebuah kalimat utuh menghilang entah ke mana.

“Tidak bisakah kamu mengerti sedikit saja penderitaan orang yang baru terserang flu sehari yang lalu? Apa kamu benar-benar tidak bisa berempati?”

Gadis itu tertegun begitu memperhatikan raut wajah Aris mengeras tiba-tiba. Senyum setengah meledek, yang mengisi paras lelaki itu beberapa saat yang lalu, mendadak sirna.

“Aku khawatir kamulah yang tidak punya empati di sini.”

What?”

“Flu berat, terus menerus bersin, seenaknya menyebarkan virus ke mana-mana. Lihat dirimu sendiri, siapakah yang sebenarnya tidak bisa berempati? Bagaimana jika setelah ini ada sekitar tiga hingga lima orang yang terserang virus influenza karena kamu yang menularkannya kepada mereka?”

Semangat belajar Nita menguap sudah. Ia bersusah payah melawan rasa tidak nyaman yang membelenggu raganya hanya untuk sebuah kesempatan belajar bersama. Demamnya belum turun, produksi lendir hidungnya semakin menjadi-jadi, tenggorokannya pun terasa nyeri. Belum lagi suhu udara di musim penghujan seperti sekarang membuat ujung-ujung jemarinya terasa dingin bagaikan es. Nita merasa tidak butuh untuk menjelaskan kondisinya kepada lelaki yang berada di hadapannya ini. Ia bukan pengemis empati, dan tidak ingin dianggap demikian. Namun, Aris yang terlalu teguh dalam pendiriannya, malah berbalik menuduhnya sebagai penjahat, alih-alih memahami kondisinya.

“Setidaknya gunakanlah masker, jika kamu bersikeras untuk berada di sini.”

Ini saran yang sangat baik dari seorang mahasiswa yang cukup menguasai isu kesehatan nasional seperti Aris. Namun, Nita kadung jenuh. Setelah dituduh sebagai pelaku kriminal bersenjata biologis dengan logika yang tidak pada tempatnya, dirinya tidak bisa lagi menerima saran apa pun dari lelaki itu.

“Menggunakan masker tidak akan menurunkan derajat kecantikanmu, kalau itu yang kamu khawatirkan.”

“Bukan itu yang aku khawatirkan!“ Ya, memang bukan kecantikan. Untuk apa gadis yang tidak merasa cantik sepertinya mengkhawatirkan kecantikan? Nita hanya lupa membawanya karena takut datang terlambat. Hanya itu. Akan tetapi, Aris lagi-lagi terlampau sok tahu.

“Lalu apa? Kamu lupa membawanya? Aku punya beberapa.”

I am okay, thanks.”

You are not okay, Nit. Perlu kusebutkan satu persatu kemungkinan hasil pemeriksaan fisik yang menyebabkan kamu patut didiagnosis menderita common cold sekarang? Just go home and take enough rest. Drink plenty of water and eat lots of fruits. Take acetaminophen[1] or any antipyretics[2] for your fever.”

Fine, thank you for your advice, Doc. Seperti katamu, aku harus pulang sekarang.”

“Silakan.”

Saat Nita hendak mengemasi tasnya, saat itulah tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Aris. Merasa rikuh, Nita lekas menarik tangannya menjauh. Lelaki itu tertegun sesaat. Sedikit celah di antara kedua bibirnya adalah isyarat bahwa dirinya hendak berbicara. Nita menyadarinya, tetapi mengabaikan isyarat itu begitu saja. Langkah-langkah panjang gadis itu memaksanya menjauh dari tempat itu.

Sebuah panggilan masuk membuatnya harus berhenti sejenak untuk menerimanya. Sebuah suara yang kelewat familiar menyapa telinga Nita setelahnya.

Tanganmu dingin. Mau kuantar pulang?”

Kejadian di kantin tadi mengaduk-aduk perasaannya tanpa ampun. Rasa panas merambati tenggorokannya, lalu menuju matanya. Cairan jernih menggenang di sana.

“Tidak usah, terima kasih.” Ia menghela napas cepat. “Pikirkan saja kesehatanmu sendiri, maka kamu tidak perlu bersusah payah meneleponku seperti ini.”

fin

Catatan kaki:

[1] Asetaminofen = parasetamol : sejenis obat penurun panas

[2] Istilah dalam ilmu Farmakologi untuk menyebut kelompok obat penurun panas/demam.

Author’s note:

  • Aku senang menulis tentang mereka berdua, tetapi belum sanggup berkomitmen untuk menulis series/standalone. Semoga alasan ini dimaklumi.
Advertisements

17 thoughts on “Empati

  1. Kog aku bacanya manis ya huhuhu. Sebenernya benci bnget tipe cowok sok-sok an macem Aris ni. Tapi ini sok-nya, sok perhatian. Jadi patut dipertimbangkan kkk

    Like

  2. Ih, ini mereka pacaran apa enggak siih? Akunya jadi gemes..hahaa..
    Dan wohaa, brtaburan inggris dan kedokteran.. *0*
    Smoga si Aris ngomongnya lbih alus dikit ya.. terpapar dg org seperti Aris lama2 spertinya tak baik untuk kesehatan hati..xD

    Like

  3. jadiin series aja mi aku kadung suka sama aris/nita ini huhu mereka tuh unyu unyu smart gimana gitu kan gemes yha 😦 dan aris, duh, aku love/hate sih sama tipe cowok yang kayak gitu. love karena menurutku cowok cerdas tuh seksi jadi gimana gak greget 😦 tapi atuhlah sifat ngotot dan sinisnya bikin ga tahan wkwkwk NITA KAMU SABAROOOOO :’)

    Like

    1. Iya, maunya sih begitu, Kak, tapi aku susah komitmen.huhu, ntar malah gantung karena nggak diselesaikan.
      Haha, iya ya, cerdas tapi sinisnya nggak tahan >.<. Makasih ya, Kak, sudah menyempatkan diri baca fic ini 🙂

      Like

  4. ami, aku boleh nitip nggeplak aris gak? hahaha. duh yaaaa sebenernya sih aku suka tipe cowo yg pinter kaya dia, tapi bagian nyinyir/ngototnya itu lhooo yaallah minta didepak pake kursi kantin 😐 duh nita yg sabar yaaa. lain kali kalo dinyinyirin, depak aja sekali biar tersalurkan emosinya. TAPI KENAPA DI AKHIR SI ARISNYA CARE GITU SIH AH. sumpah hal pertama yg keinget pas baca ini tuh love story nya sasuke ama sakura tau mi (anime strikes again yeah). hahahaha gatau kenapa keinget mereka aja xD
    duuh aku suka sekaliiii. keep writing yaaa amii x))

    Like

    1. Boleh banget, Kak, sini kugeplak dia pake pemukul kasur yang dari rotan itu. E iya, kenapa dia sok care sih, obsesi pengen jadi Sasuke yak? Hahaha
      Makasih banyak, Kak. Keep writing juga ya kak fikaa 🙂

      Like

  5. ARIS TIPE COWOKKU BANGET HAHAHA ((lah)). Ngeselin berengsek minta dijambak tapi pinter, peduli, ngangenin LOL.

    Jadiin series aja aku terima kak, aku sungguh terima. Tapi pas part dia ngomong Nita yg egois, rasanya mau garuk otaknya, argumennya!?

    Nice lah kak, manis-manis greget dengan takaran yang pas 👍👍

    Like

    1. Haha, mungkin Arisnya juga kehabisan argumen logis, tapi ya.. mungkin saja begitu. Makasih, ya, Sher. Semoga bisa jadi series beneran karena sebenarnya aku juga nggak ada ide ceritanya mau dibawa ke mana.

      Like

  6. OHMYYYYYYYYYYYYYYY TERNYATA TERNYATA TERNYATA INIII MAS-MAS ANON ASEFEM ITU LAGI AAAAAAAAAAAAAAAAA ❤

    Ka Ami…biasanya aku suka alergi kalo uda disodorin kata-kata asing macem obat-obatan but thiiiiiiiiiiissssssssssssssss yaampun nagih aku uda kesengsem sama Dokter Aris huhu mau dijodohin :' #gagitu
    Cool-care-acuh-nyebelinnya itu yahahahahahaha karakter paling siahaaaalan ka ami tegaaaaaaaaaa (((but I luvit whyyyyy)))

    Ka, aku juga mau tanya sedikit yang ini: “About why I am so good in English or something like that.” bukannya “About why am I so good in English or something like that.”? Udah itu aja yang mau aku tanyain kaaak~

    Eniwei aku masi penasaran sebenernya mereka berdua ada apa ya (jeng-jeng) bikos…yha ada setrum-setrum mematikan yang bisa bikin makin meler kalo misal lagi influenza nih kayae hahaaa ditunggu selanjutnya ya Ka Amiiii!! Fighteeeeeeeeeeeeeeeeeeng!!! ❤

    Like

    1. Kakpang maafkan dakuuh karena aku balas komen langsung dari notif WP jadi komennya kakpang kepotong huhu. Soal koreksi kakpang juga lupa aku perhatikan. siip aku cek lagi ya :). Makasih kakpang (dan sekarang aku kangen nulis mereka berdua lagi masa’ hahaha)

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s