#DizzyJazzy

dfsdf

by La Princesa

Beberapa kali aku menjadi penonton #DizzyJazzy di JALC, baru kali ini aku mendapati Benji digantikan oleh saksofonis yang lain.

.

Seorang lelaki muda berusia pertengahan dua puluhan, aku menebak. Sedikit terlalu di bawah umur jika disandingkan dengan keseluruhan rekan setimnya yang rata-rata di atas tiga puluh, empat puluhan. Etnisnya Asia, yang mana adalah sebuah kejutan lainnya. Oh, tanpa bermaksud rasis—aku sendiri juga seorang Asia, omong-omong—hanya sedikit kurang familier melihat keberadaannya di tengah jajaran musisi yang mayoritas kulit hitam. Walau harus kuakui, warna kulitnya cenderung terlalu matang dibanding rerata orang Asia Timur pada umumnya.

Gesturnya sedikit canggung saat ia meniti undakan menuju tengah panggung, lalu menempati posisi di mana Benji biasa berada. Tubuhnya kurus, terlihat dari tulang selangkanya yang menonjol dari balik kerah kemejanya, tapi tidak mengesankan ringkih. Surainya sepekat warna tanah, ditata sedikit acak-acakan untuk menegaskan jiwa mudanya. Pun begitu, senyumnya secerah sinaran mentari sore yang bersinar di belakang punggungnya.

Fletcher memperpanjang sambutan pra-perform sejemang lebih lama kala ia menyinggung si saksofonis substitut. “Halo, namaku Kim Jongin,” begitu ia memperkenalkan diri, masih dengan gayanya yang canggung tapi tak menanggalkan senyumnya yang secerah—dan sehangat—matahari. Betapa yang ia lakukan adalah sebuah kebanggaan terhadap tanah airnya, mau menggunakan nama lahirnya di negara asing seperti ini.

Adalah hal yang lumrah jika aku dan banyak penonton lain menggantungkan ekspektasi kami tinggi-tinggi pada si saksofonis substitut—Jongin—mengingat Benji tak pernah sekali pun gagal menghipnotis ratusan telinga melalui alunan saksofonnya. Menggantikan tempat yang biasa diisi maestro sama artinya menyuruh Jongin mengerahkan semua kemahiran yang ia miliki.

Pertanyaannya adalah, apakah telinga kami terpuaskan? Well, aku cukup terkejut mendapati kepiawaiannya yang bisa dibandingkan dengan skill Benji—pada beberapa teknik malah Jongin lebih menguasai. Semua gestur canggung dan malu-malu yang tadi membuntutinya mendadak lesap kala ia menarik napas dan melepasnya melalui alunan instrumen. Ia tahu persis apa yang ia lakukan, secara akurat mengeksekusi nada-nada jazzy tanpa kepayahan, pula tak gagal membuat penonton kesusahan menahan decak kagum. Jongin bermain di nada soprano; yang mana adalah sesuatu yang juga tak bisa diremehkan, karena hanya saksofonis berkemampuan mumpuni yang mampu bermain di range tersebut.

Sebagai seorang pengganti, harus kuakui, Jongin sangat tahu bagaimana caranya memenuhi ekspektasi.

Kesenjangan—dari segi umur maupun ras—yang membayanginya seolah lebur kala Jongin dengan terampil bercengkerama dengan rekan setimnya melalui suguhannya. Memang benar bahwa musik adalah bahasa universal, apa yang tengah kusaksikan ini buktinya. Tak hanya Jongin, seluruh kerja tim yang dipimpin Fletcher secara harmonis mengiringi vokal merdu Gloria, si penyanyi.

But for me, Jongin steals the show this evening. Ada sesuatu tentang lelaki itu yang membuatku urung mengalihkan tatapanku darinya. Entahlah, mungkin aku penasaran dengan sosoknya, atau aku cuma terpikat oleh performanya. Berulang kali aku mendapati seringai lepasnya di tengah tiupan, atau beberapa gerak tubuhnya yang lolos dari kontrol diri. Jika tak mendengar langsung kemahirannya meniup saksofon, mungkin sudah kusarankan ia menjadi jazz dancer. Several times of swaying are enough to tell me how talented he is as dancer.

Satu bridge sebelum lagu ketiga berakhir, ia melepas seringainya lagi—kentara dari dua sudut bibirnya yang terangkat lebih tinggi. Yang tak kuduga adalah apa yang ia lakukan setelahnya; Jongin mengalihkan fokus atensinya ke arahku—seperti sedang menantang kedua manikku—lalu melempar sebuah kedipan sembari mempertahankan seringainya lebar-lebar. That little act of him caught me off guard. Tapi secepat kedipan itu datang, secepat itulah tatapannya kembali terfokus pada saksofonnya. Saat aku menghela napas kaget, ia sudah bertingkah seolah tak baru saja melakukan apa-apa.

Well

.

Angin malam kota New York yang menyapaku kala aku melangkah keluar dari lobi The Appel Room, sesaat setelah pagelaran #DizzyJazzy selesai. Bersama ratusan penonton lain yang berhamburan menuju destinasi masing-masing, aku meniti langkah dengan hati puas, baru saja mendapat suguhan megah nan memanjakan selera kami.

Aku sudah menjadi penggemar musik jazz sejak aku mengucapkan kata pertamaku. Ayahku adalah seorang fanatik, beliau tak pernah absen memutar lagu-lagu jazz favoritnya melalui piringan hitam dan gramofon di rumah, setiap pagi. Tumbuh di lingkungan seperti itu, juga warisan genetis dari ayah, aku jadi turut mencintai musik mahal ini. Andai aku punya sedikit bakat bermusik di diriku, mungkin aku tak segan meniti karir sebagai musisi.

Mengunyah hotdog yang kubeli di stall dekat kompleks Lincoln Center, aku merapatkan kancing winter coat-ku kala angin dingin bulan Januari berembus lagi. Jarum panjang di arlojiku menunjuk celah di antara sembilan dan sepuluh—beberapa belas menit sebelum jam sebelas malam dan city bus yang akan mengantarku pulang tiba. Pun begitu, kegiatanku menunggu justru diinterupsi oleh kehadiran SUV yang berhenti tepat di depanku.

Seorang lelaki bersurai sepekat warna tanah, beretnis Asia sepertiku, yang tadi kutonton penampilannya sebagai saksofonis pengganti Benji di #DizzyJazzy, melangkah keluar dari kursi kemudi. Ia masih mengenakan kemejanya yang tadi, namun ditumpuk oleh winter coat-nya yang terlihat nyaman dan hangat. Tapi tak sehangat senyumnya.

“Halo, namaku Kim Jongin,” ia mematri seringai lebar yang meregang dari sudut bibirnya ke sudut satunya. Menyebut namanya pelan tapi masih bisa kudengar. “Aku melihatmu di barisan penonton tadi.”

Refleks, aku menjungkitkan sebelah alisku. Tak menebak akan keramahan Jongin yang tiba-tiba, atau bagaimana ia bisa menemukanku dan bertukar konversasi denganku di sini. “Aku tahu,” jawabku akhirnya. “Aku mendengar Fletcher memperkenalkanmu tadi.”

“Oh, dan aku bukan penculik, omong-omong,” ia membalas lagi sembari mendera kekehan rendah yang sehangat senyumnya. Mungkin tak cuma jungkitan alis yang kupamerkan melalui ekspresiku, tapi juga belalakan mata kebingungan akan tingkahnya yang kian tak terduga. “Kau harus tahu hal itu, karena aku ingin mengantarmu pulang.”

Sorry?”

Jongin tak menjawab apa-apa. Ia cuma beringsut mundur, membuka pintu kursi penumpang mobilnya, selagi menungguku mengiyakan invitasinya. Aku berkontemplasi. Antara ragu, karena ia tak ubahnya orang asing. Atau setuju, karena… kau tahu.

“Benji kembali perform minggu depan, jadi aku cuma punya kesempatan malam ini untuk menawarimu, Nona,” si saksofonis manis tersenyum lagi.

Well…

.

-end

.

  1. Lincoln Center Performing Arts adalah sebuah kompleks bangunan tempat berkumpulnya pagelaran seni kelas dunia di New York City, dan salah satu event-nya adalah Jazz at Lincoln Center (JALC) yang diadakan di Rose Theater, The Appel Room atau Dizzy’s Club Coca Cola. Pagelaran jazz di sana hampir tiap hari ada, bahkan sering ada tiga pagelaran di tiga tempat sekaligus. Tapi #DizzyJazzy cuma rekaan aku aja, sih. Yang lagi nge-hits di The Appel Room kalo nggak salah American Singbook. CMIIW.
  2. The Appel Room (tempat Jongin perform di cerita ini) is ubber pretty!! Bisa menampung 493 tempat duduk, panggungnya ada di depan ruangan gitu dan background-nya adalah kaca bening setinggi 15 meter dengan pemandangan Central Park. Ini penampakan The Appel Room versi siang, dan ini versi malemnya.
  3. Akhirnya kesampean bikin ff dari poster di atas, mana jazz pula biar matching sama soundtrack di front page WS (walau kemarin sempet diganti jadi dangdut Keti Savera 😄 ). Thanks to dear Fika yang ngomporin buat nulis jazz/saxophonist!AU pas lagi ghibahin playlist depan. Heuheuheu makasih banget Fika ❤ akhirnya jazzy!Jongin comes true, akhirnya Jongin perform juga di performing arts nomor satu sedunia. :’)
  4. Thanks for reading and review is alriiighhhhttt!! 😀
Advertisements

10 thoughts on “#DizzyJazzy

  1. Jazz, bener, musik mahal. Haha, si aku ini berbanding terbalik denganku deh. Seleta musik ibu negara setinggi termosfer, dan sama sekali nggak menurun kepada anaknya ini.

    Baca nama Fletcher mengingatkan aku pada Whiplash, dan langsung mikir bahwa Jongin ini pasti luar biasa hebat sampai bisa perform dengan Fletcher. Duh, kenapa salah fokus sih.

    Jongin stranger pede abis. Mungkin dia tahu kalau si Aku nggak bakal nolak? Well…

    Aku suka ceritanya, Kak. Salut deh bisa mengangkat tema musik, jazz, dan saxophonist pula. Keep writing ya, Kak 🙂

    Like

  2. Ini apaan sih put??? Apaan???? Hih 😦 tau gak? Baca ini tuh momennya pas, maren w dateng ke acara tribute to Ismail Marzuki dan di sana bertebaran saksofonis cakep anjeeeeerrr ya ya ya w jadi kebayang terus gitu selama baca ini. Gimana mempesonanya mereka saat meniup alat musik yang bagi gue tuh bentuknya sebenere kurang seksi /apaan inih/ Dan, gue pengen nangesh gue bacanya juga lah sumpah :(( tema yang diangkat, pembawaan nulis, feel, karakter, semuanya sadis. Aku bisa apa coba mbak? Aduh. Mana dari kemarin tuh yang pada bikin cerita Jongin edan semua, KALIAN LAGI ADA MISI MENAMBAH POPULASI JONGIN STAN ATAU GIMANA? Dan aku… aku… agaknya aku terjerat huft. Aku ga tahan pas bagian Jongin maen saksofon sambil menyeringai itu aku ahajajaakakaka. Huhuhu. Keep writing put ❤

    Like

  3. Kak put!! Aduh aduh aku mau sesek napas dulu ngebayangin jongin main saksofon terus sambil ngeliatin gitu pake seringai2 segala.. rasanya mau mate aja.. dia joget2 di atas panggung aja banyak anak perawan mati di tempat, gimana jadi saksofinis huhuhuhuuu

    Aku gak ngerti musik jazz, tapi suka aja denger sepintas gitu.. Deskripsinya bagus banget berasa ada di sana, ngeliatin jongin di atas panggung. Terus mana diajakin pulang bareng padahal belom kenalan pula. Ya siapa juga yang bakal nolak ahahahaha xD
    Keep writing kak!

    Like

  4. Huyeeeeey akhirnya aku bacaaaa. Maafkan keterlambatan ini ya kak huhu, padahal namaku nampang di notes x) kembali kasih kakpuut. Haruskah kita ghibahin another thingy biar kita ada bahan buat nulis yg aneh-aneh hahahaha xD yaampun ku bahagia akhirnya ghibahan kita ada yg bermanfaat yaah. Oke back to the story sekarang x))

    AKUUUUU BENERAN LANGSUNG OFF GUARD LIAT POSTERNYA DOOOONG. KOK PAS BANGET SIH HUHUHU. Muup capslocknya. Itu foto jonginnya pas banget gitu lagi berdiri depan orang-orang heu aku bayanginnya dia sama musisi lain pas keluar dari ruang pagelaran terus disambut media gitu ahaha xD udahlah jongin les jadi saksofonis aja gih ah. Pantes wae lah kalo dia mah :”

    Terus terus kucinta banget deskripnya kakak. Kakput spesialis cerita stranger banget lah fix huhu. Padahal si aku sama jongin kan baru ketemu, eeeeh udah maen mata aje. Sebenere emang yaaa rada impossible sih secara pasti banyak orang kan ya di dalem situ but but but kakak nyeritainnya seolah mereka tuh baru kenal tapi langsung klop ngunu lho. Huhu manis banget yaallah aku suka x))

    Sok atuh kakput mau kukomen apanya lagi huhu aku suka banget sampe beriburiburibu kali heu (ini sering ngetik heu keikut kakput lagi btw ahahahahaha). DAN YG PALING BIKIN BAPER TUH JONGIN DAN SERINGAINYA DEMI APA PUN HUHUHU. Kayaknya feature terbaik jongin di antara semua feature yg udah baik tuh seringainya yaa hehehe x)

    Kakak let me drown with this ship jongin x jazz hahaha xD keep writing yaaa kakpuuut. Lavlav selaluuuu ♡♡♡♡♡

    Liked by 1 person

  5. Hallo kak put. Eumm, udalah aku mau makasih aja ini fanfic menghibur banget. Oke iya aku bukan jongin stan, bukan banget tapiya gimana manusia ini seringainya kok jahat dan bikin meleleh. Ya apa ini garagara kak put as specialist jongin mungkin, soalnya kenapa….. kalo jongin di apain juga sama kaka kokya hasilnya bgini jahat.

    ((Seneng bgt ka, bisa baca fanficnya kaka))

    Like

    1. Huhu, soalnya dulu pengen baca fanfic kaka terus blognya kaka di privat terus ya….. Gitudeh, berburu ff kaka di blog-blog lain, huh

      Like

  6. Aduh kak put pusing aku bayangin si mas jongin jadi saxophonist. Tadinya gak mau ngekomen, maunya nge-like aja ribuan kali. Mas jongin+saxophone+jazz+ditulis oleh kak put bikin melayang ke surga tau gak. Tanpa perlu denger lagu jazz pun aku bisa bayangin gimana mas jongin mainnya sesuai deskripsi kak put, dan aku senyum sendiri tapi buyar semua gegara dia senyum genit pas diatas panggung. Kok yo sempet-sempete toh mas jongin genit-genit yoan. Pegel lah adek iki. Huft.

    Um, well, siapa yang mau nolak dianter pulang sama mas-mas sexophonist macem gitu.

    Like

  7. AKHIRNYA AKU KETEMU JAZZ!JONGIN AWWWWWWWWWWWWWW 😄

    HARUSNYA GA TANYA KENAPA DESKRIP JONGINNYA YAHUY SEKALI YAAMPUN DETAILNYA KAPUT AMPUN AKU DILEMPARKAN KE ANTARIKSAAAAAA!!!
    Apa itu apa dianter pulang apa kenapaaaaaaaaaaaaaaaaa mas kenapaaaaa
    Feelnya tetep dapet ko kaput biar juga lagu di ws sudah berganti dan aku baru berkesempatan ketemu jazz!Jongin (shedhappytears)

    MISS YOU AND YOUR WRITING SO MUCHIE KAPUT!!!! ❤ ❤ ❤ kaklokasinyakecekakantarakukesanakaput ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s