Cass’s

large

credit pict; here

by Adelma

.

“Besok, jam satu siang, di Cass’s.”

.

Perbincangan mereka begitu singkat.

Setelah saling memperkenalkan diri dan berbasa-basi sebentar, keduanya pun akhirnya memutuskan untuk mengatur jadwal pertemuan, dan—yah—sebenarnya Pangku lah yang berinisiatif, tak suka terlalu lama berbincang di telepon adalah alasan mengapa langsung mengajaknya bertemu.

“Boleh. Kapan dan di mana?”

“Besok, jam satu siang, di Cass’s.”

“Oke.”

“Punya opsi lain?”

“Opsiku nggak penting, lagi pula aku nggak keberatan atas usul kamu. Jam satu siang aku free, kayaknya Cass’s tempat yang menyenangkan,” jawab Kanina sambil mengangkat kedua bahunya sekilas.

“Kamu belum pernah datang ke sana?”

“Mmm, belum.”

“Sedikit informasi, Cass’s bukan tempat yang menyenangkan, mereka nggak punya menu yang oke dan musik yang bagus, suasana yang jauh dari kesan riuh lah yang bikin aku sering datang ke sana.”

“Apa kamu golongan pria yang senang menyendiri?”

“Hah? Bukan, kok. Biasanya aku datang ke sana buat numpang tidur—yah—seperti itulah.”

“Oh, maaf udah sok tahu,” katanya sambil menahan hasratnya untuk tertawa.

“Permintaan maaf diterima,” sahut Pangku cuek. “Well, rambutku hitam dan potongannya biasa aja, kayaknya besok aku bakal pakai kaus bergambar Keith Moon.”

“Keith Moon? Kamu fans-nya The Who?”

“Aku bukan, tapi ibuku ya,” jawab Pangku. “Jadi, petunjuk apa yang harus aku ingat tentang kamu?”

 “Rambut pendek sebahu, sweater sewarna laut.” Oh, sweater itu adalah kado dari Inara di ulang tahunnya yang ke-22, omong-omong. Dan dia tak mengerti kenapa ingin mengenakannya saat bertemu Pangku nanti.

“Kedalamannya?”

“Kurang dari seribu meter,” jawabnya setelah terpekur selama dua detik.

Nice, kayaknya aku tahu gambaran warna birunya seperti apa, kalau gitu sampai ketemu besok.”

Kanina tersenyum. “Ya, sampai ketemu besok juga, Pang…”

“Pangku. Namaku aneh, ya?”

“Lumayan.”

Pria itu terkekeh sebelum akhirnya membiarkan nada ‘tut’ panjang bergerilya di telinga kanannya.

.

Kanina datang lebih dulu dan ia memilih table yang berada di lantai dua, persisnya di dekat jendela besar yang agaknya berfungsi juga sebagai atap lantaran bentuk bangunan tersebut nyaris seperti segitiga siku-siku.

Konsep Cass’s biasa saja, malah bisa dikatakan tak memiliki ciri khas layaknya kafe ataupun restoran yang biasa bertebaran di Jalan Riau, Bandung. Hampir seluruh bagian ruangannya bercat putih, ada kanvas yang menampilkan sketsa bertema surealis menggantung lemah di beberapa sisi. Mejanya persegi, berkursi empat, berbahan kayu yang telah dipelitur, dan jumlah keseluruhannya berkisar tiga puluh buah. Suasananya nyaris sepi lantaran volume musik yang tengah dialunkan kepalang rendah, kala itu yang terputar adalah What He Wrote milik Laura Marling.

Di menit ketiga kunjungan pertamanya, sang pramusaji pun akhirnya datang, dan menyodorkan buku menu sambil mengulas senyum ramah. Dengan cepat Kanina menunjuk peppermint tea lalu berkata jika ia akan segera memesan menu lain begitu seorang temannya tiba di tempat ini, padahal—yah—tidak juga. Di samping karena ia tak merasa lapar, rupa-rupanya ucapan Pangku tadi malam ada benarnya; Cass’s tak punya menu yang oke.

Kanina melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul satu, lebih.

“Silakan,” kata si pramusaji sambil menurunkan minuman dari tray. Pelayanannya cukup cepat, tapi hal itu dirasa tak spesial karena siang itu table yang terisi kurang dari sepuluh.

Di saat bersamaan, satu notifikasi pesan pun muncul di ponsel Kanina. Ia mengetuk layar, tak sadar merasa tak sabar untuk segera membaca pesan dari pria itu.

Aku baru sampai di Cass’s. Telat tujuh menit. Kamu ada di mana?

Jari-jari Kanina bergerak acak menyentuh deretan aksara, serta-merta jantungnya berdebar kepalang kencang.

Di lantai dua, selamat mencari.

Posisinya yang membelakangi tangga secara otomatis takkan membuatnya tahu siapa saja orang yang datang jika ia tak berbalik. Kanina menyesap peppermint tea-nya yang masih mengepulkan uap tipis sebanyak dua kali lantas beralih menatap layar ponselnya yang kini telah terang kembali setelah beberapa saat meredupkan diri.

Aku menemukan kamu, bisa berbalik?

Rambut hitam dengan potongan biasa saja, kaus bergambar Keith Moon. 

Apa? Dia?

Sepasang iris mereka akhirnya bertemu, membuat keduanya menjadi terpaku. Jutaan rasa dan tanya sekonyong-konyong menyerang secara membabi-buta, menguapkan ribuan kosakata.

-fin.

Advertisements

12 thoughts on “Cass’s

  1. ARGH ASDFGHJKL NISAAAA DIPOTONGNYA NAHA PAS LAGI SERU SERUNYAAA :”((

    Pertama aku bayangin kanina tuh kiko mizuhara tau nis, gatau pikiran darimana. Tapi awalnya sih gegara deskrip rambut sebahu itusih hahaha. Yg pangku, aku malah belom ada bayangan, tapi malah kaos keith moon nya yg kebayang xD hahaha maafkeun akuu niiis mikirnya ke mana-mana. Btw gakmau spekulasi banyak tapi…….ini ada lanjutannya kan nis? Ya kan ya kaaaan? /maksa/ hahaha abisan ini kayak open ending ngunu gitu lhoo jadi penasaran :-)))
    Well kalopun ga ada pun aku pasrah. Yaudahlah pokoke di pikiranku mereka pernah ketemu sebelumnya /dikeplak nisa/ hehe okeh nis. Ini tbc atau engga sing penting keep writing yaaah ehe ♡♡♡

    Like

    1. haha haha haha. sebenere ini recycle dari fanfic sih, fik. dan visualisasi kanina itu adalah… jengjengjet! ya itu lah pokoknya wkwk.
      yep, mereka emang pernah ketemu sebelumnya. nanti aku ceritain deh dikit-dikit heuheu. btw ini timeline-nya random sih fik, kadang pas mereka udah pacaran kadang pas belum. ada niatan dibikin series tapi kayak masih nggak yakin jadinya aku bikin cerita lepas aja deh :))
      thanks fika udah bacaaaa. lavlav.

      Like

  2. eh serius put lebih nendang di orific??? alhamdulillah kalau begitu :” ini emang ada rencana dilanjut sih put, cem series gitu tapi aku masih belum yakin. huhuhuhu. doain aja ya supaya lancar dan konsisten /lah.

    terus soal koreksinya makasih banyak!!! ini ampe aku copy ke sticky note bikos aku beneran suka lupa mulu sama si pun-punan ini :)) soal penulisan angka juga, makasih banget ya koreksinya ^^ ah kamuuuu aku mah nggak tersinggung malah seneng diingetin terus hahaha. thanks ya put dah baca ❤

    Like

  3. Aku rasanya pernah baca ini versi ff (mudah-mudahan bukan delu) tapi versi orific-nya lebih joss (?) Kak. Nama cowoknya unik ya, Pangku. Dan bisa aja menggunakan kedalaman laut untuk acuan warna (huhu, aku mana tahu yang begituan).

    Kalau aku boleh kasih komentar sedikit, Kak, kayaknya cerita ini, walaupun ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, lebih fokus ke Kanina, ‘kan, ya (terutama di penggal kedua cerita)? Tetapi aku baca di awal-awal, ada bagian yang fokus ke Pangku juga walaupun nggak banyak. Jadi, mungkinkah bagian awalnya memang disengaja menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, lalu dialihkan ke Kanina saja?

    Kayaknya aku bakal ikutin terus ceritanya. Keep writing, ya, Kak :).

    Like

    1. halo, mi! maaf baru bales heuheu. iya ini dulunya fanfic, terus ada niat dibikin orific series tapi belum yakin 😦

      iya mi, setelah aku baca lagi ternyata sudut pandangnya kurang konsisten. tapi udah aku edit kok, jadi fokus ke kaninanya aja xD makasih ya mi ^^

      Like

  4. Nama lengkap cowoknya siapa kak? Kok unik banget, Pangku.

    Aku cinta banget part pas pangku nanya, “Kedalamannya?” Ha, gemes. Aku penasaran gimana mereka tau satu sama lain, soalnya part awal terkesan mereka baru ketemu. Dan gimana ini lanjutannya X)

    Nice fic kak 👍👍

    Like

    1. nama lengkapnya? pangku bumi HAHAHA gadeng becanda, aku belum kepikiran nama lengkapnya nih, punya ide? ehe

      makasih ya sher udah baca ^^

      Liked by 1 person

  5. Kanis aku pengakuan dosa dulu nih ya, selain dengan bantuan google aku paling kagok kalau disuru ngafalin kedalaman laut (anak IPS macam apa), dan aku lagi mikir gimana caranya jawab pertanyaan Pangku misalnya aku ada di posisi Kanina :” (dan sinyal ngadat, akses google pun lewat)

    HOW TO NOT LOVE KANISA TAPI ENDINGNYA DIGANTUNGIN MAU GA LUV KANIS TAPI GABISAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA BIKOS DIS IS TOO CUTE ❤

    Like

    1. HAHAHA YA ALLAH PILSA NIAT AMAAAT ;___; tapi aku senang karena itu artinya kamu mendalami cerita ini wkwk
      makasih ya kakpang udah bacaaa aku juga luv banget ma kakpaaang ❤

      Liked by 1 person

  6. bentar deh kak kayaknya aku gak asing sama cerita ini:””) waktu itu yang kubaca castnya kris sama cass atau jill yak duh aku lupa pokoknya ini tetep keren bingo!!!!! suka banget namanya pangku sama kaninaa omg ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

  7. Pangku and Kanina kinda remind me of Kris and Jill. tapi mungkin itu gara-gara si Cass-nya yang saya rasa sudah kepalang akrab saya baca menjadi tempatnya Kris-Jill. hmm jadi kangen mereka. tapi ini gak spenuhnya kayak Kris-Jill sih soalnya bahasa Pangku-Kanina endonesya sekali. ini macam kayak baru prolognya gitu (soktauhaha) , jadi ditunggu kelanjutan kisahnya Pangku-Kanina, semoga bisa jadi otp kesayangan selanjutnya 🙂

    Like

  8. Sebagai penggemar kris wu yang waktu itu baper abis pas baca the story before, saya jelas lebih suka versi fanficnya. Bias sih, tp rasanya nama kris udah terlalu sulit keganti.
    Anyway, pemilihan nama cast di versi yg ini lucu deh. Catchy bgt! Apalagi cast cowoknya. Suka! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s