Paradoks

serimpi-rindong-sampur-cmprs

Hetalia – Axis Power © Hidekaz Himaruya

Paradoks © Fantasy Giver

.

 

Melepaskan bukan perkara mudah

.

.

Netherlands tak menunggu lebih lama ketika atasannya memberitahu bahwa Indonesia berada di sini—di provinsi yang sama, di pulau yang sama, dan hanya berjarak dua puluh kilometer dari barak tentara. Pria itu tak menggubris saran bawahannya untuk beristirahat barang sejenak, menunda pertemuan menjadi esok hari seperti yang sudah diagendakan, sebab ia baru saja mengalami perjalanan panjang dari negaranya. Netherlands menulikan telinga; mengambil asal seekor kuda dari istal, lalu segera menungganginya secepat  angin mengikuti peta menuju Pendopo Pekapalan di Alun-Alun Utara.

Empat puluh lima menit temponya hingga sampai ke tujuan. Netherlands tidak mempedulikan tatapan beberapa pribumi yang begitu tertangkap segera memasang posisi ngapurancang[1] dengan kepala tertunduk; tak berani melawan. Ia masih menarik tali kekang kudanya, baru turun ketika suara khas tembang Jawa menyapa telinga. Menuntun kudanya ke barisan pohon beringin di sekitar pendopo, ia menemukan sosok yang dicari. Pria itu menambatkan kudanya dekat pagar, membiarkan si hewan bersurai cokelat kemerahan beristirahat, sementara jantungnya yang ganti berderap.

Indonesia dalam balutan kemben polos serta kain panjang bermotif lereng. Sampur kuning pucat melingkari pinggangnya yang kecil, berayun-ayun ketika tubuhnya bergerak luwes mengikuti langkah demi langkah entah tarian apa yang sedang dimainkan. Jemarinya yang lentik ikut menari di udara. Dan meski dengan penerangan minim—hanya dari empat lentera yang tergantung di masing-masing tiang—kulit kuning langsat, rambut ikal mayang terurai, serta mata jatinya masih bisa mempesona Netherlands.

Kesabaran bukanlah hal yang bisa dibanggakan dari Netherlands, apalagi bila sudah berhubungan dengan Indonesia, maka pria berseragam lengkap itu keluar dari bayang-bayang pohon dan tanpa tedeng aling-aling, mendekati pendopo. Ia menyandarkan diri di salah satu pilar; kelereng hijaunya yang tajam mengawasi gerak-gerik Indonesia secara saksama.

Lalu ketika tembang berhenti menyemarakan suasana, gerakan Indonesia pun ikut mati suri. Ia menyeka keringatnya dan berbalik. Senyum terpasang; ayu, seperti yang seharusnya. Netherlands hanya tidak terbiasa membalas.

“Ah, Netherlands. Sampun rawuh[2]?” Bibir merah itu tersungging manis. Betapa Netherlands ingin menariknya mendekat, mencicipi manisnya—tapi tentu sulit mendapatkan yang terlarang. “Sugeng ndalu[3].

Indonesia dan segala basa-basinya. Netherlands bukan orang yang suka berputar-putar tanpa tujuan yang jelas. Tapi bagaimanapun, ini tanah Indonesia dan Netherlands harus terbiasa karena hal itulah yang menjadikan Indonesia Indonesia.

Si pria hanya mengangguk ketika sang penari mulai melangkah mendekatinya. Seorang penabuh kendang, jauh di belakang pendopo, yang tadinya bertugas untuk mengiringi tarian Indonesia, mulai memainkan lagu lain. Netherlands tak menggubris. Yang ada dalam seluruh inderanya kini hanya Indonesia.

Tanah masih basah, tanda hujan baru bertandang beberapa jam yang lalu. Netherlands melirik Indonesia. Wanita itu tak setahan dirinya dalam menghadapi udara dingin, apalagi dengan bahu terbuka seperti itu, jadi jauh di dalam hatinya, Netherlands khawatir. Udara Hindia Belanda, sedingin apa pun, masih belum dapat menandingi musim dingin di negaranya. Ia melonggarkan syal biru-putih kebanggaannya. Tawaran tergulung di pangkal lidah, sayang, sulit sekali terlontar.

Untungnya Indonesia memutus sesi tatap-menatap yang canggung itu dan menggiring Netherlands duduk di pinggir pendopo. Jarak di antara mereka masih terjaga—kira-kira satu setengah meter panjangnya. Hening bergabung bersama bayu. Netherlands bukan tipe orang yang bisa memulai pembicaraan, meski hatinya meraung-raung rindu. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia bertemu Indonesia? Seingatnya pada saat itu, Indonesia tengah berada di barisan depan pasukan ranah Minang, berteriak dengan lantang; bernafsu membunuh. Lihat betapa berbedanya sosoknya sekarang.

“Tarian tadi namanya serimpi,” kata Indonesia, membuat Netherlands bersyukur dan menolehkan kepalanya. “Seharusnya aku menari berempat dengan beberapa rakyat yang sangat berbakat, tapi aku tahu kau akan datang dari Amsterdam malam ini. Dan aku memutuskan untuk menunggumu.”

Netherlands tidak tersipu atau merasa senang. Ia kepalang paham bahwa segala hal yang dilakukan Indonesia jika berhubungan dengannya memiliki maksud tertentu—dan pasti tak semanis yang ia inginkan. Dari situlah Netherlands belajar untuk tidak berharap banyak-banyak pada Indonesia. Apa pun yang dilakukan pria itu dibenci oleh si Asia Tenggara. Sekuat apa pun ia mencoba untuk menarik Indonesia, wanita itu tetap bertekad untuk lepas. Bebas.

Voor wat[4]?”

Indonesia tertawa sedikit. Kecil dan manis. “Menunjukkan apa artinya padamu.”

Dan ia berani bertaruh Indonesia akan melakukannya lagi; usaha-usaha terbang bebas. Meski perang-perang itu menimbulkan luka, baik batin dan fisik, Indonesia tetap melakukannya terus-menerus dan membuat Netherlands terpaksa mengerahkan kekuatan militer untuk mempertahankan Indonesia sebagai miliknya. Secara fisik, pria tegap itu masih bisa melihatnya: bekas sabetan di pundak Indonesia yang kini sudah kabur. Lecet di tangannya. Bilur di kepalanya. Sementara apa yang membekas dalam hati Indonesia masih ia coba untuk pecahkan.

Ada sesuatu yang menohok Netherlands ketika ia sadar kalau … ialah yang menyebabkan semua itu.

Tapi apa mampu ia melepaskan Indonesia? Tidak.

Ya, Netherlands memang egois. Ia memang jahat.

“Serimpi, Netherlands, adalah kisah milik rakyatku yang memberontak dari ikatanmu.” Api lentera memantul di manik jati Indonesia. Wanita itu mendesah panjang-panjang; tuturnya berbeda ketika Netherlands bertemu di Batavia, Sampit, atau bahkan Tanah Deli. Di tanah Jawa ini, tepatnya dalam region milik Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, kata-kata Indonesia terdengar lebih halus dan lembut seperti desik angin yang menyapa pucuk-pucuk beringin.

Netherlands mulai berinisiatif mengambil tangan Indonesia, namun sang empunya yang menyadari gelagat itu segera menariknya jauh-jauh. Sang Pria mendengus. “Kau tidak bisa terus seperti itu, Indonesia. Kau tahu keputusanku,” ujarnya sekering dan sedingin gurun salju.

“Ada komposisi dalam penari kami. Empat unsur pokoknya,” Indonesia tak menggubris komentar skeptis Netherlands, melanjutkan penjelasannya sambil menggulung ujung sampurnya pelan, “Grama, angin, toya, dan bumi[5]. Unsur-unsur ini adalah pembentuk dunia. Begitu pula dua kubu yang kami mainkan dalam berbagai lakon; jahat dan baik, benar dan salah, akal dan nafsu. Mereka berkontradiksi, tapi harus selalu ada dalam diri manusia.”

Netherlands menggertakkan giginya tak sabar. Ya, ia mengerti maksudnya. Semua omong kosong yang dikatakan Indonesia hanya bermakna satu: lepas. Melepas. Dilepaskan. Itulah yang ingin diwujudkan personifikasi di depannya. Apa pun akan dikurbankannya untuk pergi—uang, tenaga, otak, bahkan nyawa sekalipun. Sayangnya Netherlands kepalang cinta.

“Tutup mulutmu sekarang juga, Nona,” kata Netherlands ketus. “Aku tak ingin mendengar lebih banyak.”

Tapi Indonesia terlalu keras kepala untuk tunduk. “Tarian ini mengenai keseimbangan, Netherlands. Mengenai sifat-sifat kemanusiaan yang kita miliki. Ada peperangan yang tak akan habis antara sisi jahat dan sisi baik dalam hidup manusia, tapi kita harus bisa mengontrolnya.” Wanita itu menarik napas. Kini, ia menoleh—senyumnya melengkung lebih curam. Tulus, Netherlands bisa melihat dari matanya, namun terlalu pahit untuk pria itu telan bulat-bulat.

“Ada beberapa hal yang memang tak bisa kita miliki dan kita harus tahu sampai mana kita bisa meraihnya. Kontrol diri. Jangan membuat sisi jahat dari dirimu menang, Netherlands.”

Ik laat je niet gaan, Indonesië! Geen voor altijd[6].”

Konversasi final. Indonesia hanya dapat mendesah pelan.

Suara tembang kian melambat dilahap sang waktu. Menyadari atmosfer yang menegang, si penabuh gendang berdiri dan pamit pada Indonesia. Tahu diri; tak sopan bila ia tetap di sini. Si wanita mengiyakan dengan halus dan anggun, berpesan untuk hati-hati di jalan. Netherlands hanya menganggukkan kepala sekali ketika pria berkulit sawo matang itu menghormat dengan cara jawa ke arahnya. Kini, hanya bersisa mereka beserta larutnya malam yang mengundang jangkrik menggantikan senandung sajak Girisa.

Netherlands memutuskan untuk mengeluarkan apa yang selama ini bercokol dalam kepalanya. “Rakyatmu pecah. Saling menusuk dari belakang. Surakarta menikam Yogyakarta diam-diam—menyerahkan daerah ini padaku. Inikah yang kau sebut ingin melepaskan diri?”

“Ya,” jawabnya keras, namun sinar di wajah wanita itu meredup. “Kau menyebabkan banyak penderitaan bagi kami. Apa gunanya bertahan? Bukankah semua ini juga akal-akalanmu, Netherlands? Devide et impera. Jangan kaukira aku tak tahu. Aku hanya … butuh waktu untuk menyatukan semuanya. Dari paling Barat hingga paling Timur, bersama-sama, kami bisa lepas darimu.”

Netherlands sudah biasa mendengar tekad itu. Sekuat baja, seberat beton, setinggi langit. Dan pria itu merasa berdosa untuk berharap Indonesia tidak akan pernah menggapai citanya.

Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi tekan pati[7].”

Kening si pria segera berkerut. Begitu banyak bahasa daerah yang dikuasai Indonesia—ratusan jumlahnya, membuat Netherlands bingung ketika wanita itu tiba-tiba mengubah susunan kata baku yang sudah dikuasainya.

“Apa?”

“Kau akan tahu nanti,” jawab Indonesia halus.

“Kapan?”

“Pada saatnya, Netherlands. Bersabarlah sebentar.” Ia tersenyum manis, lalu berdiri. Posisi tubuhnya menghadap Netherlands—kini jarak diminimalis hingga jika Netherlands mampu, lengannya bisa bergabung dengan sampur di pinggang Indonesia.

Netherlands memejamkan mata. Mereguk napas sepuas mungkin ketika aroma melati merangsek dalam hidungnya, bercampur dengan tanah basah dan tembakau dari pakaiannya sendiri. Jiwanya melayang ketika Indonesia membelai rambut emasnya dan menghadiahkan kecupan di kening sang personifikasi negeri kincir angin. Kedamaian, kerinduan, perih dan cinta bercampur aduk menjadi satu. Netherlands sakit dan bahagia di saat yang bersamaan.

Dan demi Tuhan, simpul-simpul kepribadian Indonesia terlalu rumit untuk diurai. Kata-kata serta perlakuannya merupakan sebuah paradoks tersendiri bagi Netherlands. Lucu bagaimana semua orang, bahkan wanita itu sendiri, beranggapan kalau Indonesia membenci Netherlands, padahal apa yang ada di depannya membuktikan sebuah kebenaran yang berkontradiksi dengan premis-premis tersebut.

Netherlands tahu benar bahwa perasaannya berbalas. Namun—

Pria itu baru saja tersadar dari candu dan mabuknya akan sentuhan Indonesia—dan tentu, ingin menahan wanita itu agar bertahan lebih lama—namun punggung mungilnya yang tenggelam dalam gulita membuat Netherlands tersadar.

—ditinggalkan; itu adalah masa depannya.

Entah kapan, tapi pasti.

.

Fin

.

A/N:

  • Yep, recycled dari blog pribadi dengan sedikit-banyak perubahan. Banyak terinspirasi dari fanfic mirip begini, cuma latarnya di hutan Kalimantan (nama tariannya saya lupa) punya salah satu author di FFn.
  • Kalau ada yang belum tahu atau ingin tahu kenapa nama tokohnya negara … well, Hetalia universe works that way. Tokohnya negara dan plotnya sejarah atau budaya. Animenya nggak seserius cerita ini, kok. Ceritanya malah dibelokin, diparodiin, dan absurd.
  • Anyway, timeline cerita ini sebelum perang Diponegoro, tahun 1812. Setelah Yogyakarta dijatuhkan Surakarta ke Daendles dan sebelum Inggris mengambil alih Indonesia.
  • Semua penjelasan tentang serimpi didapat setelah riset-riset kecil di wikipedia dan beberapa blog lain. Banyak unsur budaya yang dipakai selain itu juga, terselip di detil-detil keci, kayak misalkan kain lereng itu sebenernya melambangkan perlawanan. Bahasa Jawa yang dipakai kromo inggil (bahasa jawa yang paling tinggi dan paling halus).
  • Indonesia-Netherlands itu pairing favorit ketiga setelah Prussia-Hungary, dan Denmark-Saya Germany-NYO!Italy.
  • Last, maaf saya belum bisa berinteraksi secara penuh di sini, termasuk mengomentari karya-karya hebat lain dan balesin kotak komentar, baru bisa post-post saja. Ada kesibukan duniawi, soalnya. But I’ve got Q’s permission, tho.

Arti bahasa jawa (dan belanda):

  • [1] : Sikap orang Jawa yang menunjukkan tata krama. Tangan menyatu depan perut. Wajahnya menunduk, tidak mempertahankan kontak mata.
  • [2] : Sudah datang?
  • [3] : Selamat malam.
  • [4] : Untuk apa?
  • [5] : Api, udara, air, tanah.
  • [6] : Aku tidak akan melepaskanmu, Indonesia! Tidak sampai kapanpun.
  • [7] : Sejengkal dahi, sedahi bumi, pasti dibela sampai mati. (Ini semboyan semangat kemerdekan zaman itu. Semacam merdeka atau mati.)
Advertisements

13 thoughts on “Paradoks

  1. Wuoohhh..Hetaliaaa!
    Ih, dirimu bisa aja sih nulis cerita seperti ini. Ada sejarahnya, ada romansanya, ada kerumitan Indonesia dipadu dengan Netherlands yang to the point. Meskipun penjajahan tidak pernah ada romantis-romantisnya (karena itu Indonesia justru melawan, ‘kan?) tapi cerita ini justru memperlihatkan sisi lain di balik penjajahan itu. Dialog-dialognya asli cerdas, dan aku nggak bisa nggak suka dengan caramu bercerita.

    Keep writing ya, Evin 🙂

    Like

    1. kak amiii!

      iya, hehe, hetalia! :)) waktu itu lagi kesurupan sesuatu aja, makanya bisa nulis begini, kak. hehehehe. ini indonesia melawan sih, cuma dia cenderung denial, lagi masa suka sama penjajahnya sendiri? hehehe. makasih banyak yaa, kak ami!

      Liked by 1 person

  2. halo eviiin! kangen banget deh 😦
    gila gila gila. ini bagus banget vin hahaha ampe bingung mau komen apa, minder banget ngomenin cerita yang sebegini cerdasnya, asli! meskipun sejarahnya di sini kentara banget, tapi cara kamu membawakan itu sama sekali nggak ngebosenin. intinya cerita ini cantiiiik sekali huhu. iri deh iri pengen bisa nulis beginian 😦

    Like

    1. halo, kak nisa! aku juga kangen banget sama kakak. maaf yaa belum bisa balik bales baca dan komen di tulisan kakak lagi. nanti kalo aku udah bisa napas, asap deeeh. hehe. duh, tulisan kak nisa juga cerdaaaas! cerdas dan bagus banget. hahaha. jadi ga usah minderlah. aku mah apa dibanding kak nisa. aku malah yang ngefans banget sama tulisan kakak, hehe.

      makasih banyak yaa, kak nisaaa! :))

      Like

  3. hetalia!! ❤ ❤
    aah, i've got no words to express my feeling. just… perfect. i completely adore this story ❤ ❤

    Like

  4. “karena hal itulah yang menjadikan Indonesia Indonesia.”
    VIN UDAH BUYAR PENANTIANKU VIN KANGENKU KE KAMU AMBYAR SUDAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHH ❤ WES AKU KUDU BILANG APA INI GOLDNYA GOLD VIIINNNNN!!!
    Dari awal sampai akhir meluncur mulus aku cuma bisa mesam-mesem nahan bengek abis Mas Netherland sama Mba Indonesianya dahsyattttt!!!
    Bukan Evin namanya kalau ngga ada something new-nya tiap kambek itu karakter kamu banget, Vin! Di sini karakter yang kamu buat bener-bener wow komplit, kuat, dan hidup!!!
    Topiknya wahaduh aku bisa apa Vin jadi guru sejarahku dong Vin plis beneran I need youuuu!!!

    EVIN SUKSES TEROS YAAAAAA AIMSYU AND YOUR GOLDEN COLLECTION SO MUCCCCCCCCCCCCCCHHHHHHHHHHH!!!!!

    Like

    1. MISS FILZZZZZZZZZZ! MAKASIH BANYAK PUJIANNYA HUHU AKU UDAH HAMPIR MELEDAK KESENENGAN INIIIII. wahaha, aku suka sejarah (makanya aku suka hetalia) sih, kak, jadi ya… iseng aja, hehe.

      MAKASIH BANYAK MISS PANGGGGG!

      Liked by 1 person

  5. Reblogged this on Personification and commented:
    Saya selalu berpikir saya manusia aneh karena sering tanpa sadar memanusiakan banyak hal, baik materi fisik maupu abstrak. Makanya saya sangat senang menemukan tulisan ini. semoga suatu saat saya bisa menemui fiksi-fiksi serupa ini agar bisa saya pelajari dan nikmati. Ini luar biasa. Pakai sungguh-saya-enggak-lebay.

    Like

    1. halo, kak bee! salam kenal, aku evin!

      aku baru pertama kali (dan maaf belum bisa berkunjung ke blog kakak karena lagi sibuk-sibuknya di dunia nyata) ketemu kakak di sini, tapi tau dari cericip-cericip anak ws di line kalau kakak salah satu penulis yang super bagus, jadi feel honoured banget bisa dibaca dan dikunjungi plus direblog ke blog kakak. makasih banyak, kak bee! :))

      Like

  6. kak puuuuuut! makasih makasih. huhu komen kakak juga bikin baper. btw, aku juga kangen kakak, makanya maaf belum bisa balik bales baca dan komen di tulisan kakak. nanti kalau semua kegilaan ini berakhir, aku langsung lenje-lenje lagi deh di wordpress. sekali lagi, makasih kaak! :))

    Like

  7. Berasa telat bgt komentar, tapi sayang bgt klo ditinggalin gtu aja >< Suka bgt waktu Indonesia njelasin makna pertentangan dalam diri manusia … makna paradoks-nya … dan favoritku waktu "Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi tekan pathi"… Itu mbekas bgt di hati ;-;

    Oke, kurasa cukup segitu komen dari pembaca telat yg baru nampang di kolom komentar -,-

    Like

    1. halo kevin evan! salam kenal! namaku evin, jadi kita kevin evan evin! (apa) (enggak, aku bercanda)

      ga kok, ga ada komen yang terlambat, jadi santai aja. aku malah makasih. makasih ya udah baca dan komen. kamu semangat terus! 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s