Dijah, Dijah

woman-570883_960_720

credit pic: jill111

by aminocte

warning: mature theme

 Dijah, namamu elok, tetapi mengapa kau seperti ini?

Khadijah namamu. Dijah, demikian kau memanggil dirimu. Dijah, demikian pula kau ingin orang memanggil dirimu.

Dijah, namamu elok, perlambang doa yang baik. Agar kau berlaku santun tak ubahnya istri Nabi. Namun apa yang kau lakukan kini? Kudengar dari orang, perangaimu tak karuan. Kerja tak ada, tak jelas. Sebentar-sebentar raun dengan kawan-kawan yang kata kau, karib. Perempuan, laki-laki, sama saja. Sama-sama boleh kau jamah kulitnya, sama-sama boleh menyentuhmu pula.

Pagi ini, kau bergegas-gegas menemuiku di rumah begitu tersiar kabar di seantero kampung, bahwa aku pulang setelah lama bekerja di Jawa. Kau muncul di hadapanku dengan blus nyaris tak berlengan dan rok panjang yang menerawang separuh ke bawah. Kakimu yang ramping mengintip dari balik rokmu yang tembus pandang. Aku menelan ludah. Rasa-rasanya dulu kau tak malu mengenakan baju kurung ke mana-mana.

Kemudian, kau merayu, membujuk, bermanis mulut, bermurah senyum. Kau bilang aku bertambah gagah. Aku tersenyum saja. Lalu saat tanganmu bergerak hendak menjawil pipiku, kutepis ia dengan halus agar tak sampai menoreh dosa. Kulihat kau terkejut melihat sikapku, tetapi tak lama karena kau langsung saja memulai pembicaraan.

“Bang, Abang kan selama ini sudah teramat baik pada Dijah. Abang sudah macam Abang Dijah sendiri. Kalau tidak ada Abang, entah bagaimana hidup Dijah sekarang.”

Aku menggumam saja. Pasti ada udang di balik batu. Ada niat sumbang di balik rayu.

“Kudengar Abang sudah jadi manajer di Jawa. Manajer pastilah gajinya besar, ‘kan? Tak maukah Abang berbagi rejeki dengan Dijah?”

Kukulum senyum. Mana mungkin aku mendadak bakhil setelah dikaruniai begitu banyak rezeki? Meski tak habis pikir aku akan ulahmu, tak kan aku sampai hati untuk mengabaikanmu, Dijah.

“Ya maulah. Berapa yang kau mau?”

“Satu juta cukuplah, Bang.”

“Untuk apa sebanyak itu? Bukankah kau belum punya tanggungan selain dirimu sendiri?”

Lalu kau tersenyum malu-malu, sembari sesekali memelintir ujung-ujung rambutmu yang ikal dan kini, diwarnai kecokelatan. Entah sejak kapan pula kau mewarnai rambut macam itu. Memang jamak kulihat di Jawa, banyak pula kulihat di televisi, gadis-gadis yang mewarnai rambutnya. Namun, Dijah, tak kusangka kau ingin pula seroma dengan gadis-gadis itu. Padahal indahnya rambut hitam lurusmu tak ada yang mengalahkan di kampung ini.

Hah, bertambah sesak napasku melihat penampilanmu, Dijah. Begitu banyak yang berubah darimu sejak kampung ini kutinggalkan.

“Untuk pembeli gincu, Bang.”

“Semahal itu? Berapa banyak yang mau kau beli? Sekodi? Kau nak berjualan kosmetik?”

Dijah menggeleng-geleng.

“Bukan, Bang.”

“Lantas?”

“Kata teman Dijah, ada gincu impor, bagus bukan main. Harganya lima ratus ribu satu. Mana mungkin cukup satu, Bang? Jika habis, ke mana pula akan kucari uang untuk membelinya?”

Aku menghela napas.

“Untuk apa gincu semahal itu, Dijah? Kenapa tidak kau beli saja yang murah? Sama saja, bukan?”

“Lainlah, Bang. Bibirku ini sudah menghitam karena rokok. Tak mempan ditutupi dengan gincu murah.”

Kudengar dari orang, kau menggauli asap tembakau itu tak ubahnya makan nasi. Kau iringi pula dengan kopi. Lalu kau mengeluh tentang kulitmu yang mulai suram tak merona. Tentang bibirmu yang menggelap akibat ulah asap yang saban hari kau hirup-embuskan itu. Sehingga kau tutupi kekuranganmu dengan segala macam bedak dan gincu, agar kata orang kau tampak menarik jua.

Padahal tanpa semua itu kau sudah ayu, Dijah. Ayu dengan kulit sawo matangmu. Ayu dengan tingkah polosmu. Namun, kini tak ada lagi yang tersisa darimu selain kecantikan buatan dan tingkah genit, yang entah dari mana kau peroleh. Tak ada lagi yang tersisa darimu selain senyum menggoda dan rayu memabukkan, yang kudengar dari orang, acap kau umbar ke sembarang lelaki.

“Bagaimana, Bang?”

Aku diam saja. Pelik bagiku untuk memutuskan. Uang sejuta untuk pembeli gincu? Rasa-rasanya tak sanggup aku memenuhi permintaanmu yang ganjil itu. Namun, apa pula katamu kelak jika aku menolak?

“Sebenarnya, Dijah, Abang rela memberikan uang sebanyak itu kepadamu. Tapi bukan untuk pembeli gincu. Banyak yang lebih berguna dibandingkan kecantikan sesaat itu, Dijah.”

Kau merengut. Wajahmu keruh.

“Lebih elok bagimu jika kau tinggalkan kebiasaan burukmu itu.”

Kau sunggingkan senyum timpang. Kau sambung pula dengan decakan lidah.

“Sudahlah, Bang. Aku tidak ke sini untuk mendengar ceramah Abang. Kalau memang tak mau, tak usah berlagak hendak memberi!”

“Bukan begitu maksud Abang.”

“Alah, tak usah cari alasan, Bang. Apa Abang jijik melihat Dijah? Macam yang dilakukan semua orang di kampung ini?”

“Mana mungkin Abang merasa jijik denganmu?” Aku tercenung sejenak. “Terkejut, mungkin iya.”

“Karena penampilanku ini?”

Aku mengangguk.

“Karena tingkah lakumu juga, Dijah. Kau berubah banyak. Hampir aku tak mengenalimu lagi.”

Lalu kau menangis. Tersedu-sedan, hingga aku takut kau kehabisan napas. Kau bilang semua orang yang tua-tua tidak menyukaimu. Ibu-ibu tidak mempercayaimu. Gadis-gadis menjadikanmu sebagai contoh yang tidak patut ditiru. Hanya bujang-bujang yang gemar melemparkan senyum padamu, itu pun sembunyi-sembunyi karena takut dicap buruk laku.

“Dan sekarang, seratus ribu pun Abang tak nak beri?”

Aku terperangah. Masih tak yakin dengan pendengaranku sendiri. Mengapa pula tiba-tiba kau menurunkan jumlah uang yang kau minta sedemikian jauhnya, Dijah?

“Bukannya tadi kau minta sejuta?”

“Tak jadilah, Bang. Terlampau banyak buat Dijah.”

Kemudian, kuminta kau menunggu barang barang beberapa saat untuk mengambil uang di kamar. Kau mengangguk.

Aku kembali dengan sepuluh lembar uang merah di tangan. Kuangsurkan semuanya kepadamu. Kau tercengang.

“Bukankah tadi….“

“Tak apa-apa. Ambillah, Dijah.”

Tanpa menghitung, kau memasukkan semuanya ke dalam dompetmu. Katamu kau percaya saja dengan jumlah uang yang kuberikan. Aku tersenyum saja mendengar ucapanmu.

“Terima kasih banyak, Bang. Entah bagaimana caranya Dijah harus membalas kebaikan Abang.”

“Tak usah ambil pusing. Aku tahu kau benar-benar memerlukan uang. Mudah-mudahan bisa untuk memenuhi kebutuhanmu yang lain.”

Kau menyunggingkan senyum lebar. Wajahmu mendadak cerah. Jejak air matamu seolah menguap, sirna. Lekas-lekas kau pamit pulang.

“Kuantar kau ke rumah, ya?”

“Tak usahlah, Bang. Ada teman yang menjemput.”

“Laki-laki?”

Kau mengangguk.

“Ya sudah. Hati-hati.”

“Ya, Bang.”

Tak lama setelah kau menghilang di balik pintu, kudengar derit pagar, disusul deruman motor. Dari balik jendela, aku melihat seorang lelaki menadahkan tangan kepadamu. Kulihat kau tertawa-tawa, Dijah. Kau sempatkan jua memukul lengan lelaki itu sembari merengut manja.

Kemudian, aku melihatmu mengeluarkan dompet, menarik sejumlah uang dari dalamnya,lalu menyerahkannya kepada lelaki itu. Entah mengapa aku yakin bahwa uang itu adalah uang yang tadi kuberikan padamu. Yang katamu untuk pembeli gincu.

Entah mengapa aku yakin bahwa kau baru saja menipuku demi lelaki itu.

Entah mengapa, aku yakin saja bahwa kau setega itu.

Duhai, Dijah, haruskah aku tidak mempercayaimu juga, seperti semua orang di kampung ini?

fin

 

Author’s note:

Terinspirasi dari prompt yang diberikan adikku, Pemuja Gincu. Awalnya aku mau memberikan judul yang sama untuk cerita ini, tetapi tidak jadi karena ceritanya melenceng jauh.

Advertisements

10 thoughts on “Dijah, Dijah

  1. Baca ini jadi ngerasa horor *?*
    Gak kebayang aja kalau org yg kita kenal ayu, sekarang jd berubah karena zaman ._.”
    500rb buat lipstik? Alamak berputar2 perutku mendengarnya, dijaah *halaah*
    Inituh narasinya melayu sangad, eh, apa ya istilahnya.. pokoknya brasa baca narasi karya sastra minang diindonesiakan gitu. Ah sudahlah komen saia makin tak jelas. Salam olahraga!

    Liked by 1 person

  2. Tiba-tiba inget mau beli lipstick yang agak oren & inget sama Dijah yellow juga malah LOL.

    Andalannya kak ami itu slice of life banget ya, kerasa deket sama kehidupan. Terus dijahnya minta dicemplungin ke kali. Kasian kadang, pasti dia dulu cantik kan (terkesan dari ceritanya), terus malah mau kekinian tapi caranya salah.

    Tadi ada yang lupa ke spasi (dosa.Kulihat), sama pembeli gincu niatnya membeli gincu, apa emang bahasanya sengaja gitu ya kak? .__.

    Terus nulis yang nyelekit-nyelekit lah kak hahaha, pasti aku ada part yang gregetan kalo baca tulisan kakak 👍👍👍

    Like

    1. Halo, Sher, aku juga keingat Dijah Yellow masaa. Etapi yasudahlah, sudah telanjur bikin nama tokohnya seperti itu.

      Haha, iya, aku suka menulis slice of life, mungkin karena nggak perlu khayalan tingkat tinggi dan logika yang oke kayak fantasi dan misteri, ya. (tapi ini mungkin alasanku saja).
      Pembeli gincu itu… sebenarnya sengaja, sih, tapi jangan-jangan nggak benar menurut kaidah bahasa Indonesia u.u. Makasih, ya Sher, atas koreksinya.

      Siaaap, Sher, semoga aku makin rajin nulis yang nyelekit-nyelekit :).

      Like

  3. iya ih aku setuju sama sher. ami emang keren banget kalo udah nulis yang slice of life gini, terus mana nyelekit gitu lagi duh si dijah :” aku suka pendeskripsian ami pas ngegambarin si aku yang segitu terkejutnya liat penampilan dijah sekarang. mana dari ceritanya kayaknya dulunya dijah kaya bunga desa gitu ya. mana sopan, pake baju kurung, rambutnya lurus heu :” sayang banget jadi salah pergaulan gitu.

    dan pas scene akhir, waktu dijah dijemput sama laki laki tu aku kok pengen nendang dijah ke sawah ya heu. kasian si aku nya abisaaan. mana kalimat dia di akhir akhir: haruskah aku tidak mempercayaimu seperti orang orang kampung ini. huhuuuu itu heart-breaking bangeeeeet dan bikin jadi geregetan ngunu deh sama dijah ._.

    ami banyak banyakin slice of lifenya yaaaa mi, aku suka sekaliiii hehe. keep writing yaaah x))

    Like

    1. Kakfikaaa..aku kayaknya setengah mabok nulisnya, haha. Dan aku juga miris sendiri menulis cerita ini. Karena ya hal-hal yang seperti ini banyak terjadi, tetapi aku harus membayangkan sisi ironinya. Syukurlah kakak suka dan mudah-mudahan aku bisa bikin slice of life yang lebih bagus lagi 🙂

      Terima kasih, Kak :).

      Like

  4. Ndak cukup dipotekin sekali, sekarang dua kali! Dijah… Dijah… Asli bikin geleng-geleng..
    Udah mencoba ikhlas seperti aku yang akhirnya milih ngasi duit ke Dijah, TAPI APAH, apah yang kau lakukan dijaaaaaaaaaaaaaah?!?!?
    Wah ampun…kadang emang niat baik ngga ketemu hasil yang baik ya Kak Ami :”
    Dan beginilah jadinya. Kalimat penutupnya nendang bana!!! Ngebet nendang dijah ke sawah rame-rame juga!!!
    Dijah yang kukira tidak seperti dugaan masyarakat ternyata tidak seperti yang kuduga 😦

    KA AMI KEEP WRITING!!! ❤

    Liked by 1 person

    1. Err… iya, Kakpang, sejujurnya aku nggak tega menulis yang sebegininya. Tapi kenyataan memang seringkali pahit, mau bagaimana lagi. Aku suka konklusi yang kakpang ambil : Dijah yang kukira tidak seperti dugaan masyarakat ternyata tidak seperti yang kuduga 😦

      Makasih Kakpang, keep writing juga yaa 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s