Rujak Cingur Mbak Ami

rujak-cingur.jpg

Maka, nikmat rujak cingur mana lagi yang engkau dustakan?

.

“Wa, nitip rujak cingur sing pedes![1]

Momen yang tepat untuk mencegat Jawa—Arjuna Jawaga; menolak dengan tegas dipanggil Juna karena tidak mau disebut mirip chef bengis yang akhir-akhir ini jadi idola sanak-saudarinya, lelaki tulen, 22 tahun, dilahirkan dengan darah Jawa, postur tinggi-kurus, kulit sawo matang, status: bujangan produktif-agamis—di langkahnya yang kesepuluh. Sedangkan yang berteriak itu Osing—Mabosing Dirgantara, laki-laki, 22.5 tahun, perantau, kulit putih langsat, semester akhir, jomblo—yang tak lain adalah tetangga kamar kos Jawa yang punya indera pendengaran paling peka, dan siap siaga melancarkan aksi nitip tiap kali terdengar gesekan merdu sol sandal jepit dengan permukaan paving di halaman rumah kos.

Tak peduli akan ke mana si mangsa bermuara, Osing selalu setia memesan menu juara hatinya: Rujak Cingur Mbak Ami. Yang mana warungnya berada dua blok dari rumah kos tercinta. Yang mana si mangsa harus naik motor kalau mau kembali dalam lima menit. Yang mana kalau sedang masa pengiritan bahan bakar, artinya harus jalan kaki selama dua puluh menit dan kena sengatan matahari lebih lama. Perlu dicatat, itu semua belum termasuk akumulasi waktu mengantre, dan proses mengulek kacang yang dilakukan secara manual.

“Tapi aku—”

“—pokok rujak’e Mbak Ami. Wegah aku lek gaweane Mbok Darmi![3]

Warung Rujak Cingur Mbok Darmi adalah warung terdekat di sekitar kompleks kos Jawa dan Osing. Hanya butuh lima langkah, juga melayani pesanan via BBM, LINE maupun WhatsApp, dan rujak siap diantar, kapan pun, gratis! Sayang disayang, Mbok Darmi usianya sudah lebih dari 40 tahun, beda dengan Mbak Ami yang masih muda. Dengan rambut hitam jelaga sepinggang yang kinclong, ditambah senyum tiga jari yang bening, dijamin bisa membuat siapa saja lupa pada mantan—yang terindah sekali pun—seloroh Osing dengan menggebu-gebu ala demonstran di bundaran DPR.

Sejatinya Osing yang tukang nitip mana tahu seperti apa sosok Mbak Ami sesungguhnya. Tapi sejauh ini belum ada mangsa baru yang bisa lolos dari trik yang satu ini. Meski pada akhirnya mereka semua akan kembali dengan tanduk setan di kepala, dan sebait doa semoga Senior Osing segera lulus, lalu mangkat dari rumah kos. Jangan tanya bagaimana detailnya, saya juga ndak tahu…pokoknya begitu.

Meratapi cuaca Kota Jember yang hari ini super menyengat, Jawa sudah siap-siap melayangkan sandal jepitnya, sayang yang akan disumpah-serapahi sudah keburu ditelan pintu toilet, untuk yang kesekian kalinya.

Cah edan! [4]

Tepat dua puluh lima menit lewat dua detik, sebungkus Rujak Cingur Mbak Ami sudah disematkan di gagang pintu kamar Osing. Tanpa sumpah serapah—sholeh benar sahabatnya yang satu itu.

Secepat kilat Osing duduk bersila anteng jumawa ala Wali Songo hendak mengadakan upacara pertemuan di balai kampung. Sebuah piring plastik dan kertas pembungkus berwarna cokelat berisi cingur[5], tahu, tempe, dan kawanan sayur-mayur yang memanggil-manggil centil, sudah di tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma petis, saus kacang, dan…cabai. Cabai?! Jawa pasti sudah kehilangan separuh pendengaran, atau mungkin sengaja ingin melenyapkan Osing dari rumah kos; bahkan muka bumi?!

Bukankah Osing sudah jelas berteriak minta rujak sing pedes? Tidak lihatkah sejak pagi buta Osing sudah memonopoli akses toilet karena—

Oh!

Tunggu dulu.

Sepertinya Osing yang amnesia karena kebanyakan menelan obat sepagian ini. Duh gusti, malang nian ia lupa kalau hari ini hari Jumat, yang mana berarti raganya belum pulang kampung ke tanah tumpah darah tercinta—Banyuwangi, seperti apa yang ada dalam delusi.

Osing lantas menatap lembar Pattimura kembar tiga dan satu strip obat sakit perut yang sudah sepenuhnya tandas. Matanya pedih, perutnya mulas.

.

  1. “Sing/seng pedes”
  • Dalam Bahasa Jawa: yang pedas
  • Dalam Bahasa Banyuwangi: yang tidak pedas

 

  1. “ojo/ojok”
  • Bahasa Jawa: jangan (biasanya digunakan kepada yang sesama usia atau lebih muda)

 

  1. “Wegah aku lek gaweane Mbok Darmi.”
  • Saya tidak mau kalau buatan Mbok Darmi.

 

  1. “Cah edan”
  • Bocah kurang waras.

 

  1. Cingur
  • Bahasa Jawa: daging yang ada di moncong/hidung sapi.

.

~~

 

PANG’s Note: Halo, saya Ms. Pang, dan seorang penduduk asli Jember-Jawa Timur. Di kota ini selain ada beberapa lapak universitas dan kuliner (jangan minta bahas kuliner, saya sedang lapar), kalian bisa menemukan banyak bahasa daerah karena kota ini merupakan titik temu alias lokasi kongkownya native speaker Bahasa Jawa-Suroboyoan, Madura, dan Osing (Banyuwangi). Sayangnya, Jember sendiri tidak punya bahasa daerah, jadi bisa dibilang Bahasa Jember itu ya bahasa mashed-up/campuran dari ketiga bahasa diatas. Karena terkadang kalau saya tidak sengaja mengucapkannya, sadayana yang dari ketiga daerah itu pasang tampang ‘r u an alien?’, saking ngga terdaftarnya kata-kata itu di kamus Jawa, Madura, maupun Osing.

Background keluarga saya sendiri adalah Jawa tulen sebenarnya, tapi sungguh, maaf seribu maaf, kemampuan bahasa daerah dan nilai rapor mapel mulok saya tiarap, aslik. Tidak ada sedikit pun rasa bangga akan hal itu, dan saya sedang berjuang memperbaikinya. (lek kesenengen kuwi cah edan jenenge).

Cerita diatas adalah salah satu dari hasil diskusi soal do(s) and don’t(s) kalau mau beli Pecel Pincuk yang oh so famous di daerah Gumitir—rest area di perjalanan menuju Banyuwangi.

Selain itu juga kita sering membandingkan beberapa hal receh macam:

  1. Kata: Sawi, yang mana kalau dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa merujuk pada sayuran sawi, tapi begitu sampai di Banyuwangi berubah jadi sebutan untuk singkong.
  2. Jajanan dari tepung yang diisi taoge dan wortel, yang digoreng dan bentuknya bundar cekung, di Jember disebut ‘hongkong’, sedangkan di Banyuwangi disebut ‘bakwan’, di Surabaya disebut ‘ote-ote’, dan di Lumajang disebut ‘eci’.

(Ka Eci, did u read this? I do hope not.)

Itulah bahasa yha, sangat menggugah selera.

Special thanks to dearest Q, sudah mengadakan mini-event bahasa daerah dan mengijinkan saya sekali lagi buka rahasia (yang mana lebih condong ke aib).

May you won’t kick me out of universe after this ❤ Bikos WS is ma universe, ahay ❤

Seqian.

Advertisements

19 thoughts on “Rujak Cingur Mbak Ami

  1. Pertama, Kakpang, aku salah fokus baca judulnya. Kedua, aku jadi kangen rujak cingur karena baru coba sekali seumur hidup. Ketiga, bener tebakanku kalau nama-nama tokohnya nggak sembarangan, ada kaitannya tentang suku (soalnya aku pernah nonton liputan tentang orang Osing di televisi). Keempat, baru tahu kalau bahsanya beda jauh. Kelima, DUH OSING, KAMU AMNES YA? KOK BISA-BISANYA LUPA KALAU SI JAWA ITU ORANG JAWA? Keenam, kusuka banget nget ceritanya. Ketujuh, Pang’s note-nya informatif sekalii.

    Salam rujak cingur dan mudah-mudahan Osing lekas sembuh *sodorin oralit*.

    Liked by 1 person

    1. Pagi Ka Amiiiiiii!!! Mari peduli Osing dengan menyumbang sesendok oralit ❤

      Aslik kak aku kalap masuk universitas ketemu temen anak-anak dari berbagai belahan pulau (ea) lalu mereka membolak-balikkan kosa kataku yang sudah tiarap ini :'

      Terima Kasih bwanyak Kak Amiiiiii ❤

      Liked by 1 person

    2. Haha, nggak, Kak. Jualan rendang aja nggak, gimana bisa aku jualan rujak cingur?

      Kakpang, dari sekian nama kenapa harus itu? D:

      Like

    3. YAAMPUN KA AMI MIANHAYYYYYYYYYYYYYYY AKU AKU AKU AKU AKU BARU SADAR ._.
      ((TEPOK JIDAT))
      (((SUNGKEM)))

      ANGGAP SAJA KITA MEMBICARAKAN KA AMI YANG ADA DI BELAHAN DUNIA LAIN YANG SEDANG JUALAN RUJAK CINGUR ❤

      Liked by 1 person

  2. Aku sukaa kak..alamak… pinter gituu milih nama pemainnya. Ahahaha..
    Dan aku baru tau cingur itu daging dri moncong sapi, bneran ilmu kulineranku tiarap =_=
    Bahasa/penamaan tiap daerah jadi beda jauh gitu..huhu, gak kebayang kalau kuliah ke negeri orang gmna..hahaha..
    Seru dan keep writing kak! 😀

    Liked by 1 person

    1. Pagi Dhilaaaaa!
      Wah ndak usah ndredeg kalau mau kuliah di negeri orang, harus yaqin serunya bakal makin-makin muahahahahaha… abisnya masi di negara sendiri beda sejengkal wilayah aja bedanya uda kea gini apalagi ngeloncatin benua yakaaaaaan

      SEMANGAT YOK DHILAAAA AND THANKIES SO MUCHIES YAAAAA ❤ HAVE A WONDERFUL DAAAAAY~

      Like

  3. Aku belom pernah makan rujak cingur, karena mendengar cingur adalah lidah, dan aku geli bayanginnya LOL.

    Anyway, aku pertama kali juga salah fokus sama judulnya hahaha. Terus pas denger si Osing protes kok pedes aku kesel soalnya inget banget dia ngomong, “Sing pedes.” ternyata bahasa banyuwangi beda ya HAHAHA.

    Mmm, menurutku pas kalimat awal soal Jawa, deskripsi di antara tanda “—” kebanyakan, enak dipecah kalimat sama yang dia dicegat itu? Aku aja sih mungkin.

    Nice fic kak, aku selalu suka pembawaan yang santai sedikit ngelawak gitu 👍👍👍 dan seneng juga bacainnya an-nya hahaha. Keep writing kak 🙂

    Like

    1. Terima gaji banyak-banyak Tariiiii atas masukannya, dan, sejatinya tujuannya memang di panjangkan begitu, kalau mengganggu maaf yaaaaa
      akan saya usahakan lebih baik lagi kedepannya, Thankies a bunch for the suggestion Tariiiii ❤ ❤ ❤

      Like

  4. kakpang, aku mah baca ini asa inget pas dulu pertama kali makan rujak cingur tuh selow gitu kan. enak sih, cuman tuh petisnya rada kebanyakan jadi aku yg makan, minum air, makan, minum air sampe kenyang sendiri. eeeeh makin kesini tau kan kalo cingur tu bagian di moncong sapi terus………aku gamau makan itu lagi wkwkwkwk xD rada gimanaaa gitu hahahaha, padahal kata ayah (yg orang madura asli) cingur tu paling enak ._. omo not for me kayake haha.

    TERUS INI SI OSING PENDENGARANNYA BOLEH JUGA YHA HAHAHAH. jadi inget ih sama kaka kelas aku di lab kerjaannya nitip kalo ada yg mau keluar nyari makan wkwkwkk. untunglah ngga nyusahin kek osing xD dia mah ngikut aje kita makan apa, pokoke dia dibeliin ahahah. duh aku kenapa malah curhat.

    hm hm yg agak sedikit mengganggu bacanya mungkin sama kaya sher ya yg di atas hehe. tapi emang aku dasarnya suka bikin dan baca kalimat panjang alhamdulillah aku mah tadi lancar2 aja. but kalo yg gak kebiasa mungkin harus langsung serius bacanya hehe. udah gitu ajaa. ficnya menghibur sekali kakpaaang ehe. keep writing yah kakpaaang lavlav ❤

    Like

    1. Aku juga pernah ngalamin gitu yang mirip kafika alias trauma makan makanan gegara trus denger ceritanya, tapi kasusku soal lele 😦 huhu lele my luv my past

      Thankies so muchies soal kalimat panjangnya kapikaaaa iya nih asli lagi belajar bikin kalimat panjang, baru debut, masi acakadut mweeehe

      OLWEIS LAVYUTU KAPIKAAAAAAA ❤ AND AI LUV YOUR GRAVATAR MWAHAAHAHHAHAHAHAHA ❤

      Like

  5. “… dan siap siaga melancarkan aksi nitip tiap kali terdengar gesekan merdu sol sandal jepit dengan permukaan paving di halaman rumah kos.” — APA INI BELOM JUGA SAMPE SETENGAH CERITA UDA DIBIKIN KETAWA DULUAN XD XD /slaps/

    eh dunno what else to say. too busy laughing XD

    luvit ❤ ❤

    Like

  6. Gak paham lagi kakpang tuh kalo bikin cerita enak banget bacanya duh kayak yang ini nih, humornya kerasa dan gatau kenapa kesannya classy aja gitu lol narasinya seperti biasa, bikin nagih awuwuwuwu :3 note-nya informatif sekali aku sukaaaaa!!! Unik banget facts yang kakpang jabarkan di sana dudududu. Keep writing kakpang ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s