Resolusi Wicak

resolusiwicak

by fikeey

Wis pergantian tahun. Iki resolusi aku, ndi resolusi koen?

//

Bagi Wicak, fenomena pergantian tahun adalah agenda yang tidak akan pernah diingkarinya.

Di tengah penyusunan skripsi yang mampu membuat kepala para mahasiswa berasap luar dalam pun, Wicak masih dengan santai menyanggupi tawaran acara di sana-sini: malam api unggun dengan teman-teman satu angkatan, tanding futsal melawan angkatan bawah (mumpung harga lapangan sedang turun drastis karena diskon akhir tahun), sampai acara peledakan kembang api di kampung tak jauh dari kampusnya.

Wicak sudah kepalang kenal dengan istri ketua RT merangkap pemilik warung nasi dekat kampus―yang harganya murah, enak, dan masih bersedia dihutangi pula. Jadi, begitu si ibu minta tolong untuk mengawasi jalannya acara kecil-kecilan itu, Wicak langsung setuju tanpa berpikir dua kali. Yah, hitung-hitung karena si ibu tidak serta-merta menegurnya karena masih hutang sepuluh ribu.

Mattor sakalangkong yo, Cong.[1] Wicak cuma asal menganggukkan kepala. Untunglah dia mengerti bahasa yang ini dari hasil gemblengan teman-temannya di kampus.

Selain undangan membludak yang banyaknya bisa mengalahkan undangan presiden, Wicak masih punya satu agenda lain. Untuk yang satu ini Wicak sengaja menyimpannya sendiri. Bahkan, ia harus memastikan teman-teman satu kosnya tertidur dulu baru ia bisa mulai “acara privatnya”. Maklum, kunci pintu kamar kosnya baru dibobol maling, dan dasar Wicak, ia masih malas lapor ke ibu kos perihal tumbangnya pertahanan garis depan ini.

Memastikan si Sultan, anak rantau dari Jogja yang tinggal tepat di depan kamarnya sudah menutup pintu, Wicak lantas berguling dari kasur ke depan lemari baju yang mungkin sama rapinya dengan kandang babi. Tangannya bergerilya di antara tumpukan penghuni lemari―yang entah sudah disetrika atau belum, sudah dicuci atau belum―lalu menarik keluar sepotong buku tulis berukuran kecil. Lagi-lagi hasil ekspresi wajah melas cuma punya lembaran seribu rupiah di kantong.

Berbekal bolpoin seharga dua ribu rupiah yang tintanya tersendat, Wicak tidur tengkurap di kasur. Tulisannya di baris pertama tidak terlalu mewah, hanya sebaris resolusi sederhana yang sudah dimantapkan di hati sejak lama.

Lalu, mengikuti gaya para princess yang mengubah posisi tidur menjadi telentang, Wicak melarikan pandangannya menelusuri langit-langit kamar kosnya. Tidak ada yang indah, hanya bercak-bercak cokelat akibat sering bocor waktu hujan, dan sepasang cicak saling berkejaran. Pikirannya berkelana, sembari si cicak pertama akhirnya bersembunyi di balik poster Ronaldinho yang sobek sebelah.

Ojo lali. Ojo lali. Ojo lali.[2]” Wicak mendapati dirinya berkomat-kamit.

Yah, selama ini Wicak selalu lupa. Menemui si dia hanya kalau ingat saja, bahkan kadang-kadang hanya tiga sampai lima menit lalu Wicak bergegas pergi lagi. Seringnya bertemu di waktu sore, itu pun kalau ingat―sekali lagi, kalau ingat. Lain lagi ceritanya kalau Wicak sedang dalam keadaan mengantuk luar biasa. Konsentrasi buyar, lantas pertemuannya tidak berjalan sempurna. Walaupun setelahnya Wicak mendapat efek yang luar biasa menyenangkan, tapi ia masih tetap merasa bersalah.

Tugas kampus, masalah organisasi, sampai alasan lari ke musola karena dikejar temannya yang menagih hutang menjadi alasan-alasan yang selalu diabsen Wicak ketika mereka bertemu. Namun kemudian, perasaan menyenangkan membanjiri diri Wicak ketika lawan bicaranya mulai melakukan tugasnya. Dan setelah pertemuan itu, kondisi mereka berdua akan baik-baik saja, dan pikiran Wicak akan lebih fresh dari sebelumnya.

Tapi, kembali lagi pada tujuan Wicak menuliskan resolusi ini, Wicak tetap ingin mengubah kebiasaannya. Pertemuan di sore hari tidaklah cukup. Ini masih di bangku kuliah, kalau ia meneruskan kebiasaan ini hingga bekerja nanti, wah bisa gawat. Maka, Wicak lantas meneguhkan hatinya sekali lagi, membubuhkan tiga biji tanda seru di akhir kalimat resolusinya, dan menutup bukunya dengan gerakan mantap (seolah baru saja berjabat tangan dengan Pangeran Arab).

Buku sudah tersembunyi apik di bawah kasur, sekarang tinggal menyetel alarm. Pergantian tahun sudah terjadi―ditandai dengan ledakan kembang api yang sejam lalu hampir membakar kakinya sendiri―dan langkah barunya akan dimulai beberapa jam lagi. Alarm disetelnya pukul enam pagi, lalu selanjutnya dianulir menjadi pukul lima karena Wicak sadar mungkin dosanya sudah menggunung gara-gara selalu telat solat Subuh.

Menjelang tidur, Wicak kembali mengulang kalimat resolusinya dalam kepala: Shower, aku janji. Mulai 2016 sesok, aku adus ping pindho. Isuk karo sore. Temenan iki.[3]

―−―

[1] Terima kasih, lho ‘Nak. (Dari bahasa Madura. Cong = ‘nak. Kalo di bahasa jawanya mungkin Le (cowok) sama Nduk (cewek))

[2] Jangan lupa.

[3] Shower, aku janji. Mulai 2016 besok, aku mandi dua kali. Pagi dan sore. Beneran ini.


  • sebelumnya bagi yg menyadari adanya kesalahan pada bahasa-bahasa di atas mohon beritahu aku yaa. maklum da aku bukan asli jawa apa madura. korban pencampuran berbagai daerah jadine cuma bisa bahasanya sedikit-sedikit aja xD
  • belom telat kan ya nulis resolusi pas udah tanggal segini?
  • gais stay healthy ya semuanyaa, jangan makan yg aneh-aneh x)
  • thank you for reading!
Advertisements

8 thoughts on “Resolusi Wicak

  1. Kirain awalnya ketemu sang Pencipta buat shalat gitu, tp kok asa ndak cocok..ah, pacar kali, eh, lebih gak cocok..
    Trnyata buat ketemu shower .______.
    Fix oke, resolusi Wicak juga bakal masuk resolusi aku juga….taun depan, xD #plaaakk
    Semangat nulis lagi ya kak! 😀

    Like

  2. Awalnya kukira pacar, tapi… kok rada ga cocok ya? Tapi apalagi coba kalo bukan pacar?

    Eh, makin ke bawah, makin ke bawah… soal adus ternyata x’D

    Spontan ketawa loh kak :’ Btw suka deh sama kata-kata bahasa Jawa dan Madura yang dipilih, hehe

    Like

  3. Duh, Wicak.. Wicak, kukira pacar, lho. Eh tahunya shower. Tapi bener juga sih, meskipun sepele, itu kebiasaan yang harus diubah sesegera mungkin. Mudah-mudahan besok paginya Wicak bisa ketemu si dia lagi. Ojo lali, yo, Cak 😀

    Aku suka ceritanya, Kak . Ini kayak menertawakan kenyataan tapi ada banyak pelajaran yang bisa diambil 🙂

    Like

  4. Bahahaha aduh ini tuh udah kaya resolusi taunan yg ga kecapai gitu kali ya kak xD

    beda sama si wicak, aku kalo abis pergi atau capek justru penginnya langsung mandi soalnya emang seger gitu kan. Nah kalo liburan mah entah kalo inget ya mandi, kalau lupa atau diajak pergi, baru deh ketemu aer.. rasanya males aja gitu kan dirumah ga ngapa2in trs ga ngeluarin keringet xD

    Seperti komen yg lain, aku merasa tertipu. Abisan dikirain resolusi sering pacar akibat jarang ketemu kan. Taunya….. ahaahaha

    Like

  5. “… Shower, aku janji. Mulai 2016 sesok, aku adus ping pindho. Isuk karo sore. Temenan iki.” — THIIIISSSS XD

    Kirain soal apa, ternyata… XD

    Like

  6. Wah ternyata yang masuk jebakan betmen bukan cuma saya XD (((menertawai para korban yang sudah melakukan pengakuan dosa di atas))) BIKOS AKU NGIRANYA JUGA KETEMU PACAR HAHAHAHAHHAHAHA (((kemudian menertawai diri sendiri yang nista ini)))

    Trus ada disinggung soal musholla, meski jadi tempat pelarian pas ditagih utang, tetap saja ah resolusi rajin shalat kali, ya…
    BUKAN
    BUKAN KARENA
    BUKAN KARENA TERNYATA WICAK OPPA MAU MANDI DUA KALI SEHARI SAUDARA-SAUDARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA (shedhappytears)

    Entah kenapa tiba-tiba aku mengkhawatirkan masa kos-kosanku di masa mendatang gimana kalo aku jadi lupa mandi dua kali sehari kaya Mas Wicak :’

    KAPIKA LEHUGA KA RESOLUSI DAN PLOT TWISTNYA KUTERJEBAQUE TSANTIIIK TSANTIK~ ❤ ❤ ❤

    Like

  7. WAHAHAHA WADUH KAKPUUUUT xD tapi iya sih kak kalo udah liburan tuh males banget kayae buat mandi haha. tapi ini bawaan dari surabaya gegara di sana panas ya, jadi sabtu minggu pun aku harus mandi 2 hari sekali. kalo engga beuh rasanya gaenak buanget sumpah ._.

    hahyaaaaa? sumpah kakpuut ada ada ajaaa tapi bisa pas gitu yaaa. gakpapa kakpuuut shantay aja sama aku mah hehe. makasi banyak ya kak udah baca dan komeen x)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s