Benang Merah

4028785369_58a72e3a5d_b 

“It hungers, always. It takes shape after shape as its own, and each body it puts on is as hungry as the last.” ― Adam Slater

Aku mengaduk cairan hitam kental di cangkir keramik putih dengan gerakan teratur. Kepulan asap dari cairan itu naik, memenuhi indra penciuman dengan aroma khas kopi hitam Brazil kesukaanku. Sungguh, rasanya seperti mencari masalah saja dengan meminum kopi di saat petang seperti ini. Tapi apa boleh buat, tumpukan tinggi berkas yang menanti di meja tidak akan selesai dengan sendirinya. Kerja lembur pun tak terelakkan lagi untuk malam ini.

Tak jauh di ruang makan, Lily tengah bermain dengan teddy bear yang baru saja kubeli di perjalanan pulang tadi. Senyuman tersungging di bibirku saat aku mendengar Lily bercakap ria dengan boneka barunya.

“Hee… begitukah? Lalu, apa warna favoritmu, Mr. Teddy?”

Merah. Merah itu warna yang mengesankan. Merah darah, itu warna favoritku.

Senyumku lenyap. Suara anak-anak yang dingin dan melengking menyahut Lily. Itu bukanlah suara yang biasa Lily buat ketika bermain dengan boneka-bonekanya. Aku berhenti mengaduk dan memasang kuping, mendengarkan dengan seksama. Lalu kudengar suara itu lagi.

Kau mau menjadi temanku, Lily? Aku janji akan memberimu jubah merah yang cantik.

Seketika bulu kudukku berdiri—firasatku tak enak. Meletakkan cangkir kopiku, aku lantas berjalan menuju ruang makan. Lily tengah duduk bersila di depan perapian yang apinya berkobar menghangatkan ruangan. Kedua lengan kecilnya memeluk si teddy bear dengan sayang.

“Lily-flower, kau sedang apa?” tanyaku lembut sembari menghampirinya.

Lily mendongak. Manik birunya berbinar senang. Bibir mungil Lily melengkung membentuk senyum manis.

Mummy! Lihat, lihat! Bonekanya bisa berbicara saat aku menarik benang merah ini!” katanya takjub. Ia memperlihatkan bonekanya padaku, lalu menarik benang merah yang mencuat di punggung boneka.

Kembali, suara dingin melengking itu terdengar;

Ayo main ke atap. Aku punya permainan menarik yang ingin kutunjukkan padamu, Lily-flower.

Aku menarik napas tajam. Segera kurebut boneka itu dari tangan Lily dan melemparnya ke dalam perapian. Kugendong Lily dan berlari secepat yang kubisa menuju lantai atas, melesat masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintunya.

Lily menangis, namun aku hanya memeluknya erat dan membisikkan kata-kata manis—berjanji bahwa besok akan kubelikan teddy bear baru untuknya.

Aku tak tahu bagaimana aku dapat menjelaskan kepada putriku bahwa benang merah itu hanyalah benang biasa.

.fin


A/N: Fyi, jubah merah di sini adalah implikasi Mr. Teddy bahwa ia akan membunuh Lily hingga darahnya meresap ke setiap inci pakaian yang dikenakan, hingga terkesan seolah Lily mengenakan jubah merah.

Advertisements

4 thoughts on “Benang Merah

    1. lmao, you’re welcome, Pang!! ❤ ❤ XD

      ps: sure u don't want to move ur teddy bears back to your bedroom? they'll luv u forever hahah ❤

      Liked by 1 person

  1. utk suatu alasan yg tidak jelas aku tahu ini fiksi pendek yg menarik dan hei tebakanku ga salah! XD dan jujur fic horor ini masih bikin aku murung beberapa saat setelah membacanya… huuf utg aku udh ga punya teddy bear. keren ceritanya dan aku suka deskripsinya. keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s