Obscure Sorrow: Mal de Coucou

bw-room

Credit pict: Unsplash

by Adelma

.

“Mari kita akui, tak ada satu pun di antara kita yang mau terkena malnutrisi sosial akut dengan terus merasa lapar meski sudah melahap berton-ton interaksi.”

.

Seseorang pernah berkata bahwa hidupku tampak membosankan; lingkup kehidupan sosial yang tak lebih luas dari kotak sepatu dengan hiasan beberapa figur manusia yang jumlahnya cenderung tak berubah dari waktu ke waktu. Katanya itu adalah pola sosial yang salah, dan aku cuma bisa menggaruk sela-sela bokong sambil haha-hihi tak jelas saat mendengarnya. Ini lucu, tahu apa, sih, dia tentang benar dan salah? Terlebih jika hal yang disinggungnya adalah kehidupan sosial orang lain yang mana terlalu kompleks untuk dirunut dan dikaji. Bayanganku saja tak pantas berkata seperti itu, karena bagaimanapun juga fungsinya di hidupku cuma menemani—tidak ikut menjalani. Lalu apa kabar dengan dia yang fungsinya saja tak jelas untuk apa tapi berani-beraninya berkata jika hidupku tampak membosankan? Yah, menurutku dia tolol. TOLOL.

Bukannya tidak pernah; aku menarik benang sosial ke sana kemari, mengaitkannya satu sama lain sambil berpikir jika mereka akan terjalin menjadi sedemikian rupa dan membentuk kain yang mana akan memperindah diriku (abaikan jika kau tak mengerti perumpaan ini, aku mengetiknya sambil mabuk, omong-omong). Tapi, yah, alih-alih berevolusi menjadi kain, benang-benang itu malah menjadi kusut dan menambah satu pekerjaan—ralat, masalah—baru di hidupku, yakni mengurai mereka satu per satu.

Memang, sih, kehidupan manusia takkan pernah luput dari masalah. Tapi apakah salah jika aku berupaya untuk meminimalisirnya? Mempertimbangkan jumlah manusia di lingkar sosial adalah salah satu contoh nyata yang sudah kulakukan, karena demi Tuhan dan semua Nabi yang pernah diutus-Nya, membentuk dan menjalani kehidupan sosial bukahlah perkara mudah. Satu langkah bagi mereka sama dengan seribu langkah buatku. Memutar kunci dan membuka pintu untuk pribadi-pribadi baru adalah hal yang menyulitkan. Stok maklumku sedikit, belum lagi pertimbangan-pertimbangan tolol yang senantiasa menyembul saat radar sosialisasiku menyala sumringah. Rasa was-was dan tak aman serta-merta membalutku, menyeretku menuju persimpangan yang mana memaksaku mengambil keputusan cepat; terima eksistensi mereka atau tidak. Seperti manusia pada umumnya yang tak mau ambil resiko, aku lebih sering menolak mereka tanpa mau tahu apakah mereka tulus atau tidak. Katakan aku jumawa atau sok oke, tapi sumpah, kalau seandainya saja nanti mereka mencipta masalah yang meski cuma sebesar telur kutu, siapa yang akan susah? Haha, tentu saja aku.

Sedikit memuji diri sendiri, sampai detik ini aku masih berusaha semaksimal yang kubisa. Kendati bersosialisasi bukan keahlianku, aku tetap melakukannya dengan sedikit senang hati, dan karena hasil takkan mengkhianati usaha, mungkin itu sebabnya sekarang aku memiliki beberapa manusia yang disebut teman. Yah, mereka-mereka lah yang selama ini telah berkontribusi banyak dengan sukarela, yang paling tulus mendengarkan dan memaklumi tak peduli seberapa gobloknya aku menjadi manusia, yang tak pernah capek mengingatkanku agar tetap waras di tengah-tengah kegilaan hidup, yang tak pernah bosan meminjamkanku telinga untuk menampung dan menghapus segala macam racun psikologi yang bersarang dan terus berakumulasi dari waktu ke waktu. Mereka adalah kelembutan di tengah-tengah luapan amarah, sapuan warna pastel di tengah-tengah warna pekat yang dipaletkan, sentuhan angin lembut ditengah-tengah amukan tornado, dan segelintir keaslian di tengah gempuran hal berbau artifisial. Kehadiran mereka secara tidak langsung telah membantuku keluar dari kubangan buruknya asupan gizi sosial, pun memberiku udara segar di tengah-tengah polusi kedunguan dan kepalsuan yang melelahkan. Yah, meski tak menutup kemungkinan mereka akan mengerucut secara jumlah, tapi aku yakin, secara nilai mereka jelas akan lebih dari sekadar berharga.*

Manusia baik dan tak palsu adalah rejeki. Tapi tetap saja, butuh banyak waktu dan kesempatan bagiku untuk menerima mereka seratus persen—dan mungkin begitu sebaliknya. Setiap orang memiliki standar sendiri untuk menentukan manusia mana yang cocok dikategorikan sebagai teman dan kenalan, karena pada dasarnya ada perbedaan yang signifikan di kedua label tersebut yang mana hanya dibatasi oleh kesadaran.

Sekali lagi, menyeleksi manusia untuk eksis di lingkar sosial bukanlah sesuatu yang buruk, karena mari kita akui, tak ada satu pun di antara kita yang mau terkena malnutrisi sosial akut dengan terus merasa lapar meski sudah melahap berton-ton interaksi.

.

mal de coucou;

n. a phenomenon in which you have an active social life but very few close friends—people who you can trust, who you can be yourself with, who can help flush out the weird psychological toxins that tend to accumulate over time—which is a form of acute social malnutrition in which even if you devour an entire buffet of chitchat, you’ll still feel pangs of hunger.

-fin.

A/N:

  1. Obscure sorrow: mal de coucou is done! Jujur aja, aku nggak tahu apakah solilokui ini akurat dengan makna mal de coucou yang asli. Tapi, yah, kalaupun nggak, aku lega sudah memuntahkan perspektifku tentang kehidupan sosial yang mana buatku sangat sulit dan melelahkan.
  2. Ditulis dalam rangka berpartisipasi di open prompt: obscure sorrow-nya La Princesa 🙂
  3.  (*) terinpirasi dari kutipan kak bee dan savira, hehehe thanks banget.
Advertisements

12 thoughts on “Obscure Sorrow: Mal de Coucou

  1. BAIK DIBAWAH NAUNGAN TAJUK ADELMA ATAU THEBOLEROO, KESANKU TIAP BACA FIKSINYA PASTI GINI :

    INI MAKAN KBBI APA GIMANA? MAKAN NOVEL TERJEMAHAN DARI MANA AJA?

    KAKNISA, NABIL KOK SELALU GEREGET YA KALAU BACA PUNYANYA KAKNISA? KEBAGUSAN IH, SOK DIEDANKEUN WAE. TEU KUAT SAAT MENENJO TULISAN FIN 😦

    POKONYA SUKAA LAH

    Liked by 1 person

    1. AAAH PIRAKU BIL????? HAHAHAHA. ADUH ASLI KENAPA AKU NGAKAK BACA KOMEN KAMU 😦 KAMU ORANG MANA SIH BIL? SUNDANYA BEGITU RANGU HAHAHAHA.

      MAKASIH BANYAK YA NABIL UDAH MENENJO TULISAN INI AKU TERHURA BANGET :”)

      Like

  2. NABIL? NABIL WESTERN SIH KAK … WEST BANDUNG YANG KOTA KEMBANG WAKAKAKA. RADA NGAMPUNG SIKIT KE ARAH LEMBANG YANG ADA GUNUNG NANGKUBAN TEA HEHE :)))

    DAN BTW, RUGI DEH KALAU GABACA TULISAN INI. MEMANG PANTAS DITENJO KOQ

    KUTUNGGU YANG LAIN YAAA

    Like

  3. tulisan kak nisa ngga ada yang bikin nyesel buat luangin waktu baca, selalu bagus dan menginspirasi dan ngajarin meski ngga terkesan ngegurui TT_TT mana bahasanya selalu bikin nganga terus, mungkin klo dianime, mataku berbinar2 selama baca ini sampai tulisan fin
    makasih kak sudah menulis ini :))

    Like

    1. alhamdulillah kalo begitu, padahal aku murni curhat ((plak)) tapi syukur deh kalo ada manfaat yang bisa dipetik dari tulisan ini ((lah w kok bahasanya jadi begini)). makasih banyak ya udah baca :))

      Like

  4. KANISA MARI BERBAGI PELUKAN MAL DE COUCOU!!!
    Hell yea siapa juga ya yang mau tanggung jawab kalau ada benang kusut atau masalah sebiji sawi in the end kalau ngga kita sendiri, dan tbvh, I’m on mal de coucou side, bikos aku setuju aja kalau dibilang milih-milih temen. Datz my way to survive in this sassy world. ((pinjem sassy-nya Q sek))
    As kaput said, I sense anger, ahahaaa tapi rasanya itu normal sebagai human being getting judged by an ‘innocent’ society
    Perumpamaannya menggemparkan jagad raya aholay pakabar akal sehatku sudahkah engkau diterbangkan ke samudra hindia?

    Ahah, aku, aku aku, aku, aku kapan bisa ngga ngaha-ngehe pas baca tulisan someone called: ADelma

    dan yeoksi tadi pas Nabil nyinggung theboleroo dan ADelma, abdi langsung keingetan Mas Kris ahak ahak idk why, tapi ADelma yang sekarang style nulisnya lebih blunt yet classy, sedang di masa theboleroo yang kukenal ia adalah word-composser yang sekali rilis langsung all-kill chart tangga lagu seantero nusantara, alias lebih smooth dan ramah lingkungan. BUT THIS NEW STYLE MAKES ME MAKIN LUVIT ❤ ❤ ❤

    Like

  5. Membaca solilokui ini aku berasa duduk di ruangan temaram, trus ngeliatin Kak Nisa membacakan tulisan ini, dan aku diam aja, menghayati, manggut-manggut, dan sesekali merinding. Kalau aku boleh jujur, tulisan-tulisan kaknis dengan nama pena Adelma sangat jujur, dan aku (harus) belajar banyak soal ini.

    Makasih sudah menulis ini, Kak 🙂

    Like

  6. sehari dapat dua tonjokan. yg pertama di ‘Obscure Sorrow : Daguerreologue’, dan yg kedua di sini :’)

    and thiiiiisss:
    “Sekali lagi, menyeleksi manusia untuk eksis di lingkar sosial bukanlah sesuatu yang buruk, karena mari kita akui, tak ada satu pun di antara kita yang mau terkena malnutrisi sosial akut dengan terus merasa lapar meski sudah melahap berton-ton interaksi.” — IT’S SPOT ON THUMBS UPPPP

    Love this story ❤ ❤

    Like

  7. Aku agak speechless menemukan paragraf yang super panjang di tengah, tapi paragrafnya gak ngebosenin dan enak aja dibaca :”)

    Aku ngerasa banget sih kak, kayak semua temen deket tuh dipilah-pilah. Ya gimana ya, abis kadang yang lain ngeselin LOL. Dan itu gak masalah kan.

    Cerita jujur jujur dari kak Nisa itu dabest 👍👍👍

    Like

  8. Nisa. *tarik napas*
    I will never regret to make you one of my favorite.
    Pertama, tulisan mal de coucou ini nonjok. Iya bener. Kehidupan sosial yang rumit, sana-sini cuma jadi benang kusut. And I feel it.
    Tulisan kamu, yang satu orang bilang di atas, seperti makan kamus, memang benar! Hahaha. Tapi dari tulisan-tulisan kamu itu aku belajar banyak kosakata baru. Tulisan kamu selalu cerdas dan aku selalu suka! Udah segitu aja. 🙂

    Like

  9. Halo kak kenalan dulu yah nama aku Vivian dari line 01 ^^ Pertama-tama aku minta maaf karena baru komentar sekarang padahal aku bacanya kemarin 😦 Aku suka banget sama Obscure Sorrow ini ❤ ❤ Aku tertarik banget buat baca dari author lain juga gara-gara baca punya kakak hehe 😀

    Overall kerennnnnnn banget dan terasa jujur banget. Yah meskipun aku baru berusia hampir 15 tahun tapi aku juga merasakan hal-hal yang kakak tulis di atas. O iya kak, aku nemu ada kesalahan penulisan 'bukahlah' di kalimat "…membentuk dan menjalani kehidupan sosial bukahlah perkara
    mudah." (kurasa ini typo ya kak (?)) dan kata 'resiko' di kalimat "Seperti manusia pada umumnya yang tak mau ambil resiko, …" yang seharusnya ditulis risiko jika disesuaikan dengan kata baku.

    Duh maaf ya kak kalau seperti sok tahu dan atau menyinggung. Sekali lagi ini keren bangettt dan bikin aku ingin belajar nulis sama kakak padahal selama ini aku cuma tertarik jadi penikmat sastra bukan pembuat karya hehe XD

    I think it's enough. Makasih banyak ya kak sudah baca komentar aku 🙂

    Best Regard,
    Vivian

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s