Senja dan Mereka

tumblr_muqopeqhsn1srcyv0o5_1280

by Hani

.

Katakan kepadaku, Senja, ke manakah perginya anak-anak Dusun Meri yang gemar bermain setiap pulang sekolah, melarikan kaki telanjang mereka di atas tanah pekarangan depan kediaman Mbah Jum yang lapang?

Sebab, terakhir kali kulihat mereka seakan-akan baru siang kemarin. Meramaikan tengah hari dengan seruan cempreng khas kanak-kanak. Tetapi sebelumnya, mereka harus menyalin baju dan makan siang dulu. Aroma gorengan lauk—tempe, tahu, telur ceplok—buru-buru menyebar di kampung kecil itu, Dusun Meri yang terpinggir. Segera selepas santap siang, anak-anak tersebut berhambur keluar sampai melupakan sandal mereka lantaran kelewat bersemangat.

Katakan kepadaku, Senja, ke manakah perginya anak-anak Dusun Meri yang menderaikan tawa menyenangkan dari celah geligi mereka, berkejar-kejaran di bawah naung pohon kersen dan sengat mentari yang merembes melewatinya?

Sebab, senandung “Krupukan, krupukan[1]… Minta jalan kandang sapi…” adalah yang paling kuingat. Dilagukan ketika mereka berbaris melalui dua mbok-mbokan[2] membentuk terowongan dengan sepasang lengan.

Atau kalau mereka sudah bosan main krupukan, anak-anak itu akan ramai-ramai ber-hompimpa untuk dilanjut dengan main singidanan[3]. Dolanan[4] yang satu ini agak traumatis. Pernah sekali, anak-anak Meri bersembunyi di halaman samping rumah Mbah Jum, tempat di mana memean[5] beliau diangin-anginkan. Alhasil, wanita renta itu muncul dengan daster berbau minyak gosok beserta koyok melekat di pelipis, mengusir mereka menjauh dari jemurannya, “Wis, wis, ngalih! Lugur kabeh mengko memeane! Buyar, buyar… Mbah lara untu iki, lho!”[6].

Nah, kalau sudah begitu, anak-anak Meri akan beralih pada permainan engklek[7]. Petak-petaknya digambar menggunakan patahan ranting pohon kersen yang berbuah lebat, gaconya adalah lempeng batu yang mudah ditemukan.

Atau kalau mereka sudah bosan main engklek, anak-anak itu akan bermain karetan[8]—meski kebanyakan lelaki tak mau bergabung, barangkali karena takut mencederai kelanangan mereka, hingga memilih untuk nekeran[9] saja. Jika beruntung, sang pemenang akan pulang membawa sekantung kelereng hasil ngeruk[10]. Si pecundang hanya bisa nggremeng[11] di belakang meratapi gundu yang ludes.

Senja, jangan kaukira arek Meri bisa kehabisan dolanan. Karena kalau mereka sudah bosan melakukan semua itu, anak-anak tersebut masih punya bola bekel[12] beserta kelima bijinya tersimpan di rumah, seperangkat dakon, layang-layang berekor yang tak sabar mengangkasa, juga mobil rakitan dari kulit jeruk bali yang siap digeret ke sana kemari.

Dan satu-satunya hal yang kusadari adalah: kebahagiaan anak-anak Dusun Meri memang sedemikian sederhana.

Namun, katakanlah kepadaku, Senja, ke manakah perginya sorak-sorak bergembira anak-anak Dusun Meri yang dahulu senantiasa mengudara, pertanda bahwa mereka terlalu asyik bermain sampai lupa waktu, sementara kau mulai menyusul di ufuk barat?

Sebab, terakhir kali kulihat mereka seakan-akan baru sore kemarin. Para ibu berbondong memanggil nama putra-putrinya. Beberapa bahkan mengomel lantaran mereka bolos mengaji gara-gara keseruan bermain. Sementara yang dimarahi hanya cengar-cengir, sadar bahwa ketiaknya menguarkan bau kecut. Di dalam jedhing[13], keran menyembur bak mandi dengan air hingga tumpah ruah. Menuntut cerita tentang betapa senang dan letihnya anak-anak Meri sore itu.

Keceriaan mereka selalu kunanti di hari esok, esok, esok, maupun esoknya lagi.

Tahukah kau, Senja?

Ke mana gerangan perginya anak-anak Dusun Meri beserta dolanan-dolanan mereka sekarang? Kau dan semburat jinggamu ke manakan para meri[14]—sebutan Mbah Jum untuk para bocah berisik tersebut—yang dulu selalu berkeliaran di pekarangan? Menembangkan lagu-lagu daerah—Cublak-Cublak Suweng, Rek Ayo Rek, Lindri—yang kini terasing dan usang? Ke manakah perginya anak-anak Dusun Meri yang selalu kurindukan semenjak kaujemput mereka sore itu, Senja?

Sebab, mereka tak pernah kembali.

selesai

.

Glosarium ala kadarnya:

[1]  Permainan tradisional yang lebih dikenal dengan sebutan ‘ular naga’.

[2] Artinya induk, sebutan untuk kedua anak yang jadi ‘gerbang’ (kalo aku, sih, bilangnya ‘terowongan’) dalam permainan ular naga.

[3] Petak umpet.

[4] Permainan.

[5] Jemuran.

[6] “Sudah, sudah, pergi! Jatuh semua jemurannya nanti! Bubar, bubar… Mbah sakit gigi ini, lho!”

[7] Permainan tradisional yang umumnya disebut ‘sondah’.

[8] Lompat tali, tapi talinya menggunakan rangkaian karet gelang yang biasa buat nasi bungkus. Biasanya dimainkan anak perempuan.

[9] Bermain kelereng dengan cara menjentikkannya menggunakan jari hingga kelereng milik lawan keluar dari lingkaran arena. Yang berhasil biasanya boleh mengambil kelereng tersebut.

[10] Istilah apabila salah seorang pemain telah memborong seluruh kelereng milik lawannya hingga tak bersisa.

[11] Semacam bergumam tidak jelas sambil merutuk, gitu. Kalau ada yang tahu definisi lebih tepat dari ‘nggremeng’, silakan berbagi, yaa :3

[12] Permainan yang dimulai dengan melambungkan bola dan menaburkan biji bekel yang tadi digenggam, lalu selama bolanya melambung, pemain harus memungut biji bekel yang terserak.

[13] Kamar mandi.

[14] Meri adalah sebutan untuk anak bebek. Ceritanya, Mbah Jum memberi julukan demikian karena anak-anak Dusun Meri rame banget dan nggak bisa diam seperti bebek.

.

Hani’s notes:

  1. Ditulis karena sedang kangen zaman SD sekaligus untuk memenuhi tantangan bahasa daerah. Betewe, bahasa daerah yang aku pakai di sini adalah bahasa daerah Jawa Timur.
  2. Beberapa bagian sengaja dibuat repetitif, beberapa yang lain khilaf. HAHAHAHAHAH ampuni akuuu.
  3. Maaf baru bisa muncul lagi. Soalnya belakangan (dan mungkin untuk beberapa waktu ke depan) aku lagi hibernasi dari dunia perwordpressan karena suatu hal, jadi belum bisa sepenuhnya aktif heuheu maaf yaa :’3 Tapi kalo sempet insya Allah bakal baca-bacain tulisan kece lain dan balesin komentar, kok.
  4. Terakhir, terima kasih banyak yaa yorobun! Luvluv!
Advertisements

8 thoughts on “Senja dan Mereka

  1. “mbah lara untu iki lho” —- sumpah dekhan bagian yang ini kebayang banget di akuuu hahaha. anak-anaknya cengangas-cengenges bilang maaf ke mbah tapi tetep aja bikin berisik dan… iya aku jadi nostalgia jaman sd main petak umpet, dakon, karet (walopun seringnya aku digantiin terus kalo udah lompat yang tinggi tinggi), dan maenan lain lain yang bikin kita keluar rumah. sumpah aku mah bahagia banget masih termasuk ke generasi doraemon (generasi yang minggu paginya diisi dengan ngejogrog depan tipi nonton kartun sampe siang. terus siang tidur. terus sorenya maen ke luar hahahaha). aku rada miris sama anak anak kecil sekarang. coba suruh mereka nyanyi cublak suweng, atau rasa sayange, atau minimal nyanyi satu satu deh. banyak yang gak tau (ini beneran btw soalnya adek sepupu aku kelas 5 sd ngga tau satu pun lagu ini hahaha). wah beneran nostalgia jadinya, terus dekhan nyeritainnya asik banget pula. kusukaa sampe sejuta juta kali. me love you dekhaaan ❤

    Like

  2. DEKHAAAAAAAAAAAAAAAAN THROWBACK JAMAN SD-NYA NULAR ABESSSS!
    Jadi kangen main sama anak se-gang sebelum akhirnya naik kelas empat dan waktu main dirampas tugas rumah made by ibu-bapak guru ma luv

    Kalo dulu kita yang sebodo mau serame apa, sekarang aku bisa bayangin geuregetannya orang tua jaman dulu denger anak rame tuh sampe rasanya seisi ubun-ubun bisa beruban yaampun the power of anak-anak yak tereak dari subuh ampe magrib juga kuat aja ((ko malah curhat e eee))

    Bahasanya wuenak dan alhamdulillah aku familiar jadi kusangat menikmatinya DekHan gudjoooooooooooob ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

  3. YAAMPUN KAMU SUKSES SEKALI NGEPORTRAY ANAK BEBEK INI DENGAN TULISAN ♥♥♥

    Anak SD emang rusuh gitu ya, dulu aku rusuh gak ya, tapi sekarang gak suka orang ribut, jadi kadang kesel sih liat mereka 😦 (!??!). Tapi kadang lebih sedih ketika mereka terjebak dengan gadget dan gak bertemu mainan bareng di dunia luar.

    Ini bagus banget han, sukaaa ♥ ditunggu tulisanmu yang lain ya 🙂

    Like

  4. Duh, baca cerita ini jadi inget masa-masa SD dulu. Nostalgiaa :’)

    Aaaaahh no words can describe how much I love this story ❤ ❤ 🙂

    Like

  5. Aku baca ini bener-bener merasa bersalah. Bersalah soalnya aku baru baca sekarang, kenapa gak kemaren-kemaren, atau kemarennya lagi.
    Ide ceritanya bikin aku ngebayang rumah nenekku di kampung sana. Masih asri, plus bener-bener bikin kesan sebuah “kampung” yang kuat. (dalam arti positif lho ya). Terakhir aku ke sana dua tahun lalu, “kampung”nya udah ngota. Hampir gak ada sisa-sisa era dusunnya sama sekali. Jadi sedih.

    Baca ini tuh seolah aku lagi baca diri aku sendiri. Bahasa, alur, diksi, plot, semuanya pas. Oh, dan, aku seneng juga bisa nambah referensi dari fiksi kamu ini. Hehe, semangat Han!

    Like

  6. Pengen nangis baca ini. Baru kemarin aku nangis2 sendiri di kamar, cuma krn tetiba keinget rumah si mbah di desa yng sepuh tapi adem, seadem orang2nya :’))))

    aku paling suka sama cerita yng ngajak kita nge-flashback masa lalu apalagi masa kecil (pertanda orng yng ga susah move on X,D ) dan kadang sedih juga lihat anak kecil jaman skarang. mungkn kalau nanti aku punya anak, aku ajak mrk dholanan jaman dulu gini ya hahaha;;;;
    makasih ya udah nulis tulisan yg heuheuheu ini :’)

    Like

  7. Aww… Ini keren, menyentuh, indah, bikin kangen, Jawani banget, dan deskripsi mainannya mereka bener” bikin aku ngebayangin anak” lagi mainan di kampung yang emang ndueso banget, di kaki gunung… Pokoknya khas zaman dulu gtu :” Langsung menegakkan diri wkt baca paragraf ketiga… dan akhirnya nangis wkt baca paragraf terakhir…

    Seriusan, berasa diaduk-aduk wkt baca orific ini :”

    Duh, abaikan komenan saia yg telat dan SKSD ini :’)

    Like

  8. Aduuh aku sengaja banget ninggal postingan ini di email. udah niatan mau baca nanti mau baca nanti. tapi emang baru kebaca sekarang, maafkan aku hanii /.\

    tapi ga nyesel ngesave ini. karena bikin penasaran gitu ending-nya. jadi maksudnya ini ironi ke anak-anak sekarang yang udah ga ada mainan kaya gitu alias ga familiar lg sama gituan, ya? atau ada hal lain yg terjadi sama anak-anak meri? (maafkeun anaknya suka berspekulasi)

    yauda segitu aja deh yaa, makasih ceritanyaa dan keep writing!! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s