Kim Jongin

tumblr_nblfk0DoA71twc5sfo1_250

Kim Jongin © Fantasy Giver

.

“For whatever we lose (like a you or a me), It’s always our self we find in the sea.”

—E. E. Cummings

.

.

Jongin melihatnya pertama kali pukul enam lewat lima belas, ketika ia keluar dari pondok kecilnya demi mengumpulkan kayu-kayu atau daun kelapa kering yang akan digunakan ibunya untuk memasak nanti. Umurnya baru delapan kala itu. Si Gadis Asing duduk di pasir bersama seorang pria yang lebih tua. Tangannya menggenggam tutup termos, lalu ia mendekatkan benda itu ke mulut.

Wajahnya tak begitu terlihat. Ia mengenakan sebuah gaun bagus bercorak bunga-bunga warna merah dan sepasang sepatu krem. Kulitnya mulus, putih susu. Rambutnya yang berwarna kecokelatan—diasosiasikan Jongin sebagai warna sayap ngengat—terbang ditiup angin. Jongin berasumsi mereka sebaya, kalau tidak lebih tua atau lebih muda setahun-dua tahun darinya.

Jongin belum pernah melihat gadis itu sebelumnya, jadi ia hanya mengedikan bahu dan melanjutkan pekerjaannya. Mungkin hanya orang baru yang tinggal di perumahan mewah dekat pantai.

Satu dari sekian orang yang lebih beruntung darinya.


Si Gadis Asing baru menyadari eksistensi Jongin di dunia tiga tahun kemudian.

Jongin sudah dibolehi ikut melaut oleh ayahnya, jadi mulai sekarang, setiap malam selama sisa hidupnya akan dihabiskan di antara ombak dan amis garam. Nelayan pemula seperti Jongin memiliki tugas yang sebenarnya tak begitu penting. Hanya melipat jala, kemudian membuat simpul-simpul pancing, atau membuang air yang masuk ke perahu. Kata ayahnya semua itu latihan untuk menghadapi tugas yang lebih berat saat ia dewasa nanti.

Pada suatu pagi yang dingin, Jongin pulang ke daratan dengan kepala pusing karena kurang tidur. Kapal merapat ke pasir, kemudian seorang teman ayahnya yang ikut menjala melemparkan jangkar ke air. Memastikan perahu mereka tidak akan terseret arus, akhirnya ayahnya mengomando Jongin—yang tinggal sendirian di kapal—untuk turun.

Bocah itu berputar, mencari barang yang harus ia bawa ke pondok saat ia mendongak dan mendapati atensi Si Gadis Asing memaku miliknya. Cokelat dan hitam bertaut untuk pertama kali. Ekspresi gadis itu segera berubah. Ia terkesiap, seperti tertangkap basah mengambil permen mahal dari toko di tengah kota.

Jongin mendengus pelan. Apa yang terjadi agak menarik, rupanya. Meskipun kaget, gadis itu tidak bisa melepaskan pandang darinya. Jongin membalas saja, mengikuti alur, menantang. Dan barulah ketika ayahnya berteriak karena ia terlalu lama, Jongin memutus kontak.

Ia melompat dari perahu, lalu menatap jala yang harus dibawa. Kebetulan, benda itu lebih lebar dari biasanya hari ini, jadi cukup berat dan sulit mengangkutnya dari perahu kembali ke pondok.

Si Anak Pantai terpaksa memeluknya dan, entah kenapa, merasa malu ketika melewati Si Gadis Asing.


Sewaktu-waktu, ketika badai datang dan ayahnya tidak melaut, Jongin akan datang ke pantai, kemudian menunggu Si Gadis Asing dari balik bayang-bayang batu besar. Oke, ia harus mengakui bahwa sejak insiden tatap-tatapan terakhir kali, Jongin jadi meletakan suatu ketertarikan pada gadis itu. Ia penasaran siapa namanya juga kebenaran atas asumsinya dulu; apakah benar ia salah satu dari golongan atas lima ratus meter dari sini?

Pertanyaan pertama terjawab dengan mudah. Untung telinganya masih baik, jadi ia bisa mendengar suara ayah Si Gadis Asing memanggilnya ketika ia mulai berlari terlalu dekat dengan ombak.

“Gly, kembali, kau tidak bisa berenang!”

Oh, namanya Gly. Dan ia tidak bisa berenang.

“Tapi, Papa—”

“Ayo pulang. Nanti terlambat sekolah.”

Jongin menganggap wajah Si Gadis Asing—oh, dia punya nama sekarang; Gly—imut ketika ia mengerutkan bibir. Ia melontarkan protes, namun ayahnya hanya tertawa dan menggandeng Gly pergi. Jongin menganggap hiburan hari itu selesai dan ia harus kembali ke pondok untuk membantu ibunya.

Pertanyaan kedua terjawab beberapa hari kemudian, namun dengan cara yang tidak pernah Jongin bayangkan. Ia hanya sedang duduk-duduk di pantai, menunggu matahari tenggelam dan panggilan ayahnya, tidak pernah berpikir Gly akan datang. Namun ketika suaranya terdengar, diikuti tawa seseorang, Jongin tahu ia harus langsung bersembunyi.

Si Anak Pantai berlari menuju batu pengintaian dan mengintip. Ia mendapati Gly berjalan di garis batas ombak sembari mengobrol asyik dengan seorang laki-laki. Yang mengagetkan, laki-laki itu bukan ayahnya lagi, melainkan Lee Taemin.

Dan siapakah Lee Taemin, jika kau tanya?

Bocah kaya itu adalah putra walikota.

Aneh sebab ia tak pernah mempedulikan hal ini sebelumnya, namun ketika Gly tertawa dan menghambur ke arah Taemin yang menyambutnya dengan elusan di kepala, Jongin merasa panas. Ada naga yang bangun di perutnya. Tiba-tiba saja ia merasa hidupnya tidak pernah … adil. Ia melihat ironi menari-nari tepat di hadapan irisnya.

Siapalah Jongin, seorang anak nelayan miskin, dibandingkan dengan Lee Taemin yang kaya raya dan terpandang?

Jadi, sebelum meledak, Jongin memutuskan untuk pergi saja.


Satu hal yang ia syukuri: Jongin mewarisi sifat oportunis ayahnya.

Jadi ketika suatu hari Gly, secara ajaib, muncul sendirian di pantai, Jongin tak berpikir dua kali untuk mengambil kesempatan. Semua taruhan itu disambarnya dengan basis nekat belaka. Ia akan merasa bersyukur apabila Gly mau menerima perkenalannya, namun jika tidak—yah, anggap saja orang seperti Jongin dan orang seperti Gly memang tidak pernah ditakdirkan untuk berteman.

Gadis itu mengeluarkan ekspresi yang sama dengan ketika mereka berpandangan untuk pertama kali. Jongin berusaha mencairkan suasana, tapi sayang ia sendiri tidak pandai bersosialisasi. Lama mencari-cari alasan, Jongin hanya mampu mengeluarkan, “Bukankah kau yang sering datang ke pantai setiap pagi hari? Aku sering melihatmu di sini.”

Gly terlihat ragu, namun ia menjawab, “Um … ya, Papa senang dengan udara pantai pagi hari.”

“Oh, begitu.”

Payah, payah! Tentu saja jawaban itu dibalas dengan diam. Jonginlah oknum yang penasaran di sini, bukan Gly. Berharap Gly akan balik bertanya sama seperti mengharapkan hujan emas di siang bolong.

Merasa kalah telak dan sudah basah, Jongin memutuskan untuk menyelam saja sekalian. Lagipula, hei, laut ‘kan elemennya. Siapa tahu dengan menyelam ia bisa mendapat ikan yang lebih besar. “Aku Kai. Kau?”

Kai—nama yang digunakannya sehari-hari. Sebutan yang awalnya ditujukan padanya dari Sang Ayah, namun membuatnya lebih dikenal selama ini. Entah apa yang membuat orang-orang lebih mudah mengingat Kai dibanding Kim Jongin. Namun setidaknya, dengan memperkenalkan diri menggunakan nama “panggung”, Jongin berharap Gly pernah mendengar tentang dirinya.

Sekali saja. Tentang apa saja.

Tapi gadis itu hanya menjawab pertanyaan terakhir. “Glyceria. Gly.”

Pft. Ya. Tentu saja. Apa yang sudah Jongin harapkan?

Jadi Jongin hanya menarik bibirnya sedikit, menelan pahit kekecewaan dan membalas, “Senang berkenalan denganmu, Gly.”

Tapi di ujung kata, Gly tersenyum—awalnya kecil, lalu melebar, dan matanya menyipit. “Aku juga.”

Sumpah, Jongin baru tahu senyum seseorang bisa bertahan di kepalamu selama seminggu.


Di hari lain, Jongin kembali menunggu matahari terbenam untuk melaut lagi. Ia duduk di pasir, bersandar pada batu pengintaian, melamunkan sekaligus menyenandungkan musik-musik tropis yang didengarnya dari radio tadi siang, lalu tiba-tiba saja suara yang sudah dihafalnya sejak entah-kapan mendobrak telinga.

“Kai!”

Jongin menoleh; tidak percaya Gly sedang berjalan ke arahnya setelah memanggil namanya. Sesuatu terbit di abdomennya, ringan dan lucu, namun sesuatu yang mengepak-ngepak itu langsung mati ketika ia menyadari seseorang mengekori Gly beberapa langkah di belakang.

“Kau menunggu sesuatu?” tanya Gly ketika jarak mereka tinggal tersisa dua meter. Matanya naik-turun, memperhatikan kaus kumal dan celana pendek Jongin, dan pada saat itulah level rendah diri Si Anak Pantai meningkat. Ia mencatat dalam kepala agar memakai baju yang lebih bagus jika ingin ke sini, lain kali. “Kau akan melaut, ya?”

Jongin tak bisa bersuara karena tenggelam dalam lautan insekuriti, jadi ia hanya mengangguk.

“Jam berapa?”

Ia berusaha menelan ludah dan gengsinya agar tidak dikira bisu. “Setelah matahari tenggelam.”

“Ah, begitu.”

Awalnya Jongin senang karena kurva di bibir Gly muncul, tanda gadis itu tidak menghakiminya, tetapi ketika Jongin melirik dengan ekor matanya, naga di perutnya kembali bangun. Gly meraih tangan Lee Taemin, menariknya maju.

“Omong-omong, kenalkan; ini temanku. Namanya Lee Taemin. Dia sudah tau dirimu, kok.”

Jongin tak ingin bertanya dari mana. Tidak penting apabila hanya bocah itu sadar akan eksistensinya.

Peduli setan.

Taemin maju beberapa langkah, menyodorkan tangan dengan sebuah senyum kasual. Jongin mau tak mau menyambut. Gly melebarkan senyumnya, membuat Jongin merasa pengorbanannya untuk berkenalan dengan si anak walikota ini terbalas.

“Nah, bagaimana kalau kita bermain bersama?”

Jongin akan menerima tawaran itu dengan senang hati kalau Taemin tidak memandang Gly seperti gadis itu adalah benda kesayangannya. Namun demi Gly pula, ia tidak menolak.


Sejak hari itu, ada yang berubah dalam tatanan hidup Jongin.

Kalau ia sampai di pantai sebelum matahari setinggi setengah telunjuknya, itu berarti ia akan melihat Gly. Dan ketika ia melihat Gly di pagi hari—juga senyumnya yang mengagumkan ketika Jongin menyapa—harinya akan terasa lebih berwarna (kalau tidak, ia akan berpegang pada harapan akan rutinitas sorenya yang baru).

Sampai di rumah, ia akan melipat jalannya sambil bersenandung pelan. Setelah menumpuk semuanya di depan tangga, ia akan masuk, membasuh dirinya agar tidak bau laut, kemudian mendapat sarapan sederhana yang ibunya masak. Hangat dan nikmat. Setelah sarapan, Jongin membayar waktu tidurnya yang terpakai di laut hingga tengah pukul dua siang hari.

Ia bangun, mengacak rambut dan menguap lebar-lebar, lalu berdiri dan mulai mencari kayu bakar di sekitar area bakau hingga pukul empat. Biasanya ia pulang dengan kaki dan tangan yang berlumpur, jadi ia butuh mandi lagi untuk terlihat keren. Kakaknya sering bertanya-tanya kenapa sekarang Jongin jadi rajin mandi—bocah itu tak menggubris. Setengah malu, setengah lagi tidak mau peduli dengan komentar orang lain.

Setelah ia merasa tubuhnya cukup bersih dan wangi, ia akan mengambil pakaian paling bagus, kemudian mematut dirinya di cermin dan merapikan rambutnya yang berantakan. Kakinya melangkah menuju tempat penyimpanan tali, mengambil sedikit bagiannya, kemudian berjalan cepat ke arah pantai (ia tidak berlari karena takut dikira terlalu bersemangat).

Di sana, Gly dan Taemin biasanya sudah menunggu.

Gly menyapanya dengan riang. Senyumnya membuat pelangi timbul di pikiran Jongin. Taemin biasanya mengajukan kepalan tangan—diterima dengan Si Anak Nelayan dengan kepalan tangan pula. Lama-kelamaan, Jongin tidak lagi bertingkah seperti musuh pada Taemin. Bocah itu ternyata baik, tidak membeda-bedakan, dan cerdas. Meskipun ia masih melihat Gly dengan tatapan yang sama, Jongin akhirnya berusaha menerima, mengalihkan pikirannya pada hal lain.

Gly berperan menjadi guru membaca dan berhitungnya. Taemin terkadang mengajarkannya Bahasa Inggris. Dalam waktu setengah tahun, Jongin berhasil menyelesaikan empat novel tipis pemberian dua anak itu yang dibacanya di tengah laut dengan bantuan lampu badai. Dan sumpah, Jongin heran pada orang-orang yang mengeluh malas belajar sebab menurutnya, belajar itu sangat mengasyikan.

Sebagai ganti atas jasa teman-temannya, Jongin mengajarkan keahliannya membuat simpul dan alat pancing sederhana. Taemin yang paling senang mengikuti kursus kecil ini. Ia cukup bagus, sementara kemampuan Gly nol besar sebesar apa pun ia mencoba. Tapi tidak apa-apa, ketertarikan Jongin pada Gly tidak hilang bahkan ketika ia harus memotong jalinan-jalinan kusut di jemari Gly yang membuat gadis itu menangis.

Ayah Jongin, yang sebenarnya merasa senang juga karena putranya akhirnya mendapat teman, akan berteriak dari pantai ketika semua persiapan melaut sudah siap. Jongin akan berdiri, berbagi janji untuk bertemu esok hari, lalu ia akan berlari ke kapal dan melompat masuk.

Rutinitas itu berputar-putar seperti siklus.

Jongin tidak pernah bosan.


Mungkin Jongin bisa menyalahkan fase remaja dan berjalannya roda kehidupan atas kecacatan yang terbentuk pada lingkaran rutinitas mereka.

Semuanya dimulai dengan ayah Jongin yang mulai sakit-sakitan. Jongin berusia tujuh belas dan secara instan, ia menjadi tulang punggung keluarga. Perekonomian keluarganya berporos pada pekerjaan Jongin. Sadar akan hal itu, maka Jongin mendedikasikan hidup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ia bertekad akan memiliki uang untuk setiap sandang, pangan, papan yang dibutuhkan ibu dan kedua kakaknya, serta obat untuk ayahnya. Keluarga dan bekerja adalah prioritas. Sejak itu, Jongin melaut dengan jangka waktu maksimal dan belum pulang apabila perahunya belum penuh.

Lalu, alasan lain mengantar perginya Taemin. Rupanya pemuda itu memilih untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Pada hari keberangkatan, setahun yang lalu, Jongin meluangkan waktu untuk mengantarnya ke bandara. Gly sempat menangis sebentar, namun pelukannya pada Taemin bertahan sangat lama hingga Jongin agak menyesal ikut. Terlebih ketika mereka melepaskan diri dan si putra—mantan—walikota ganti memeluk Jongin dan menepuk punggungnya, berpesan, “Jaga Gly untukku,” seolah Jongin tukang titip anak-anak.

(Oh, tapi ia akan tetap menjaga Gly, tentu saja. Bukan untuk Taemin, namun untuk Gly sendiri. Juga untuk kewarasannya.)

Dan sekarang, akhirnya, kecacatan itu menyentuh Gly.

Jongin agak bersyukur gadis itu masih berada di sekolah menengah. Memang, hubungan mereka mulai renggang lantaran persiapannya untuk memasuki akademi perawat, tapi Jongin tahu pada setengah tahun pertama setelah Taemin pergi, Gly masih sering datang dan duduk di batu tempat mereka biasa bermain dulu.

Jongin ingin bergabung, sungguh, namun karena kesibukannya, ia lebih sering absen.

Dan sejak saat itulah Sang Nelayan tidak pernah lagi bicara dengan Sang Gadis Bergaun Bunga-Bunga.


Adalah suatu hari di mana mentari memilih untuk bersembunyi di balik gulungan awan kelabu. Sebuah situasi paling buruk dan alasan paling baik bagi Jongin yang sedang malas melaut untuk menunda agendanya. Ia tak tahu harus bersyukur atau mengumpat, namun kepenatan di pondok membuatnya pergi keluar, dan kemudian, tanpa ia sadari, ia sudah duduk beralaskan batu yang membuatnya mengenal kata teman.

Pemuda itu tak sadar berapa lama ia hanya diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga ia sadar seseorang duduk di sisinya. Jongin menoleh dan menemukan Gly. Hal pertama yang muncul dalam kepala Jongin adalah bagaimana ia merindukan Gly, diikuti dengan kesadaran akan berapa cantiknya Gly dalam blus lavender dan rok selutut seperti ini. Rambutnya dibiarkan tergerai, berantakan karena angin, namun tetap atraktif.

Sesuatu terpacu dalam dirinya—ada sesuatu yang tertahan, namun juga meledak. Ia tak mampu lagi berbicara, hanya dapat menyunggingkan sebuah senyum sederhana.

Hanya itu hingga Gly berkata pelan memecah kesunyian.

“Aku … merindukanmu.”

Sebuah kalimat yang efeknya mampu meruntuhkan seluruh kontrol diri Jongin. Pikirannya mengenai ikan, kebutuhan rumah tangga, reaksi Lee Taemin jika ia melakukan hal ini, dan sisa-sisa kesadarannya menguap. Semua bayangan di alam bawah sadarnya digantikan dengan imaji riil seorang Gly saja. Hanya dia.

Well, Jongin ingin bilang bahwa ia juga merindukan Gly hingga hatinya ngilu, tapi alih-alih bicara, tubuhnya bergerak lebih dulu dengan menangkup pipi Gly. Tanpa sadar, Jongin sudah mendekatkan wajah mereka. Ia meraup aroma Gly banyak-banyak, maniknya, gambar bulu mata gadis itu dari dekat, kemudian menutup mata.

Hal terakhir yang ia tahu, bibirnya berada di atas bibir Gly.

Gadis itu membalas.


“Untung langitnya sedang cerah hari ini.”

Jongin harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang berubah. Tak ada kata cinta yang terucap pada kejadian seminggu yang lalu. Mereka masih teman—dan masih ada Lee Taemin yang akan membunuh Jongin apabila ia berani menjadikan Gly pacarnya. Jongin harus meyakinkan diri bahwa tak ada yang salah dengan menjemput temanmu ke pantai untuk menghabiskan waktu bersama.

Tak ada.

Lagipula malam ini ia akan melaut, jadi biarkan kenangan tentang Gly memenuhi otaknya kalau-kalau ia kebosanan nanti.

Jongin menoleh; menemukan sinar di mata Gly lebih indah dari bintang di langit. Gadis itu sedang memandang ke atas, berputar-putar, dan tertawa kecil. Lalu tiba-tiba saja Jongin punya ide.

“Ikut aku,” katanya sambil menarik tangan Gly.

Gly tidak bertanya, hanya mengikuti langkah setengah berlari Jongin. Ia mendekati kapalnya yang berada di kedalaman sekitar paha orang dewasa, lalu melirik Gly dan pakaiannya, berpikir bahwa gadis itu bisa masuk angin bila ia biarkan berjalan masuk ke laut. Terlebih, ia masih ingat rahasia kecil bahwa Gly tidak bisa berenang.

“Jangan berteriak, ya.” Jongin memberi peringatan.

“Berteriak bagaima—hei, Kai!”

Tanpa berpikir dua kali, Jongin mengangkat Gly, membiarkan gadis itu mengalungkan tangannya di lehernya, lalu berlari menuju kapal. Butuh beberapa langkah hingga teriakan Gly digantikan genta tawa, sementara Jongin merekam suaranya baik-baik di memori.

Dari samping kapal, pemuda itu meletakan Gly hati-hati, lalu ikut melompat masuk. Tiba-tiba saja, suara air yang menabrak dinding luar terdengar lebih merdu daripada biasanya. Gly duduk di salah satu bangku di ujung dan menatap ke arah laut. Jongin duduk di sampingnya. Celananya basah kuyup, tapi ia tak keberatan.

Si Nelayan menunjuk ke arah laut. “Kautahu, di sana bintang-bintang terlihat lebih bagus daripada di sini.”

“Aku tahu.” Gly tersenyum kecil, lalu menoleh. “Omong-omong, kau bisa membaca rasi?”

“Semua orang yang mengaku nelayan seharusnya bisa membaca rasi.”

Ada tawa lembut lagi. “Oh, berarti kapan-kapan kau harus mengajariku.”

Jongin menoleh, menatap Gly tepat di mata, lalu membentuk senyum kecil. “Oke, kapan-kapan kuajak kau ke tengah sana dan menikmati jalur susu, lalu kita akan membaca rasi bersama-sama.”

Ada hening yang terentang sejenak dan ia sadar napas Gly menerpa bibirnya. Aromanya manis; seperti permen rasa cherry. Jika gadis itu terus meminimalis jarak, Jongin tak tahu lagi apakah ia bisa bertingkah seolah mereka hanyalah teman.

Dan Jongin baru sadar Gly adalah candu.

“Janji?” Sedikit, hanya sedikit, bibir itu menyapu bibirnya. Jongin seolah melihat konstelasi dari dekat. Oh Tuhan, mata Gly begitu menghipnotis.

“Janji.”

Dan dengan itu, konstelasinya digantikan gelap. Ia membiarkan nalurinya menang. Pagutan di bibirnya terasa sangat nyata dan kali ini bukan kecupan malu-malu seperti yang pertama. Entah berapa lama ciuman itu mereka nikmati hingga Gly menarik diri. Ia terengah-engah, wajahnya merah. Jongin terkekeh pelan, menyentuh bibir lembut dengan ibu jarinya.

“Kai, kau akan—” Ada raut khawatir di sana. Jongin ingin menghapusnya dengan kecupan lain.

Be quiet and feel my presence.”

Dan Jongin memastikan ia tak akan pernah melihat raut yang sama di wajah Gly.


Badai datang tanpa dapat diprediksi. Begitu cepat dan begitu ganas. Jongin berteriak sementara tiga temannya sibuk mengeluarkan air dari perahu. Ia merasa tertipu—jika ia tahu langit akan berubah seburuk ini, ia pasti tidak akan mempertaruhkan diri keluar dari pondok. Terutama, saat ia baru merasakan kebahagiaan.

Demi nyawanya, kenapa Dewi Fortuna tidak pernah berpihak pada seorang Kim Jongin?

Ombak kembali berdebur. Entah berapa kubik air asin yang kembali masuk ke perahu. Ada panik yang mulai menjalari Jongin ketika ia teringat Gly. Ia harus kembali ke daratan. Ia harus bertemu Gly, membawanya ke tengah laut dan membaca rasi bintang, lalu bilang padanya bahwa ia menyukai gadis itu sejak kali pertama.

Tidak, ia belum boleh mati.

Perahu kecil itu terombang-ambing ketika ombak yang ada semakin membesar. Jongin berdiri, menyuruh beberapa orang untuk tetap mempertahankan kestabilan kapal. Merealisasikan perkataannya, ia mencoba meraih tali layar untuk mengatur arah, namun pada saat itulah ia terlempar ke laut.

Jongin buta dan tuli. Air memenuhi paru-parunya. Asin meracuni mulutnya. Wajahnya lebam terkena sudut perahu. Jongin mendengar temannya berteriak, kemudian hilang ketika tubuhnya masuk ke air. Ia mencoba berenang ke permukaan, namun hanya disambut oleh air yang bergoyang ganas. Ombak menamparnya keras-keras. Perahunya berada beberapa meter di sebelah barat.

Tak ingin mengalah, Jongin kembali berenang—hingga kemudian sebuah serangan membawanya menjauh. Teman-temannya kembali berteriak dan ia kembali menelan air asin. Kali ini, sebuah ombak raksasa kembali, memecah jalan, membuat Jongin menyelam lagi.

Dan ketika ia kembali ke permukaan, perahunya sudah hilang.

.

.

The End

.

A/N:

  • Lagi-lagi, re-written dari fan fic berkomentar terbanyak di blog pribadi saya: Kai. It’s been two years since I wrote that. Kalau di sana Gly-centric, saya sekarang nulis dari Kai-centric.
  • Ngepost ini di sini agak shame tapi shameless, saya tahu. Dan maaf, saya masih ga bisa bikin ide original baru. Alasan klise: writer’s block. Jujur saya nulis ini berhari-hari karena mencoba mengurangi kekakuan dan menyamakan bahasa sama Kai (satu scene bisa makan dua sampai tiga hari. Yep, waktu mulai jadi hal yang kritis ;w;;).
  • But I really hope you enjoyed it, tho.
  • By the way, untuk pertanyaan jadi Kai mati apa enggak? Bagaimana ke depannya? Apa Kai bisa ketemu Gly lagi? Apa Kai dimakan ikan hiu? Apa Kai berubah jadi merman ganteng? Well, it’s your choice. Ah, ya ending cliffhanger memang menyenangkan (slapped).
  • See you (and sorry again I still can’t reply your comments, but I promise I will as soon as I have time to spare)!
Advertisements

20 thoughts on “Kim Jongin

  1. Pengen kasih selamat ke diri sendiri karena ini fic terpanjang yang pernah kubaca selama kirakira setahun belakangan heuheu (serius, selama ini cuma tahan 1,5k) Mau bilang EVIN YOU ROCK!
    Ngalir banget sampe nggak terasa udah ending aja, trs endingnya pake ngegantung lagi kan aku mewek T^T. Aku baca berulang-ulang bagian akhir enw. Berusaha dapetin clue. Malah mikir janganjangan yg dimaksud itu permukaan dunia lain HEU. OTAKKU.

    AKU SUKA BANGET LHO KAI JADI ANAK PANTAI XD Trs munculnya Lee Taemin menghibur banget xD Duh Glyceria nama yang elok banget :)) Pasti dia bakal ceria trs deh. AKU SUKA BANGET PLOTNYA. SUKA BANGET ADEGAN MANISNYA XD Romansanya tuh gak berlebih dan tepat sasaran, ah.
    Daebak bgt sih evin :”

    Ohya trs aku mau ngoreksi dikit, untuk putera, yg bener putra. Trs ada mengedikan dan meletakan. Trs tukang titip anak-anak mungkin lebih nyaman kalo jadinya tempat penitipan anak? Duh maaf ya evin ini gaada maksud menggurui atau apa. Evin mah ketjeh badaaaiiiiiiiiiiiii.

    POKOKNYA INI KEREN INI BAGUS INI MEMBAHANA. KEEP WRITING YA EVIN. I ADORE YOU ♡

    Like

    1. yeay selamat kak lia telah menyelesaikan tulisan panjang ini!!!!! (throws confetti around)

      cliff hanger itu memang menyenangkan lho HAHAHAHA (slapped) maaf yaa, kak, udah panjang-panjang terus dibikin penasaran lagi hahahaha xD IYAAA di kepalaku jongin banget pas nulis ini, hahaha. glyceria itu nama temenku, tbh. aku pake aja tanpa izin karena…… namanya bagus hahahaha.

      dan makasih buat koreksiannya, kak liaaa! semuanya sudah kubenarkan bareng koreksiannya kak put. kakak-kakak emang the best lah! ❤ ❤ ❤ KAKAK JUGA MENULIS TERUS, YAAA! I LOVE YOU, KAK LIAKYUUU! ❤

      Like

  2. EVIN TIAP KALI LIAT POSTANMU AKU JADI YAKIN WRITER’S BLOCK ITU MITOS DAN AKU TAU KENAPA

    Evin diz iz gold untuk kesekian, ah entah berapa puluh kalinya, dan aku ga bosen, ga ada matinya, o My God, Freshman’s year itu masa-masa adaptasi yang menyedot waktu, psikis, fisik, TAPI, EVIN BENER KATA LIA: YOU ROCK!!!!!
    Seriously aku langsung cabut ke fantasy finder dan taraaaaaaaaaa~~~ Ambyarku dobel!
    Aku harus bilang apa lagiiiii…ficmu itu panjang tapi nyamaaaaaaan banget buat diikutin, Vin… dan aku akui fic ini punya style dan charm-nya sendiri dibanding yang Gly-sentris.. So mau dibaca sendiri, atau berbarengan, sensasinya bakal beda lagi
    Whoa kamu berhasil melewati level yang lain lagi, Evin (standing applause sampe tahun baru)

    EVIN I LOVE IT FROM THE SEA SHORE TO THE HEAVEN!!! ❤ ❤ ❤

    Like

    1. Romance-nya, konsep anak pantainya, cliff hangernya, semuanya cadasss dibabat Evin sampe tuntas, wes aku bubar jalan aja dengan harapan Kai jadi merman ❤

      Like

    2. KAK FILZZZZZZZZZZZZZ ENGGAK KOK, WB BUKANLAH MITOS PERCAYALAH PERCAYALAH!

      ah, tulisan kak filz lebih gold apalagi yang jaket kulit manusia itu. aku suka sekali, huahahahahahahahah (ketawa nenek lampir). seriously, aku fan kak filza a.k.a miss pang nomor satuuuu!

      memang agak beda sih bahasanya sama yang gly-centric, ya, kak? mungkin karena pengaruh gaya tulisanku berubah juga, hahaha. tapi aku seneng deh kalau kakak suka hahaha. aku juga balik ngasih standing applause buat kakak!!!! makasih banyak kak! i love you from the heaven to the sea shore turn to the moon for a while and to the infinity and beyond then back to heaven again! ❤

      Like

  3. Belajar itu menyenangkan, ya Allah, Jongin, seandainya aku bisa kayak kamu :””)

    Aku sama banget sih sama kak lia, rekor. Gak suka baca cerita panjang, super mager, tapi tulisanmu tuh kesannya… pendek, kayak, ini habis gitu aja tanpa aku sadar. Nice fic ♥

    Koreksinya udah disebut semua kayaknya hahaha. Sooo, di luar itu, ini nyenengin banget. Karakter yang kamu bawa, tempat yang kamu tulis variasinya sungguh banyak, dan well, aku rasa itu lebih ngebuktiin kalo wawasan kamu soal hal-hal itu luas X)

    Btw,… kamu anak kelas 12, makanya sibuk? Atau baru masuk kuliah? #OOT.

    Ditunggu tulisan lainnya evin X)

    Like

    1. seandainya kita sama kayak jongin, tar……. haha

      tulisan kamu jauh lebih baday lah dari aku. lebih dari baday yang nenggelemin jongin bahkan hahahaha xD terus buat pertanyaannya, sudah terjawab, ‘kan? heheheh. makasih yaaaa, tar! kamu keep writing! :))

      Like

  4. Hi evin, ini bagus banget, serius.

    aku suka narasinya, aku suka bagian kai-gly, aku suka bagian kai-taemin yang meski sama-sama suka gly gak bertengkar sok drama ngerebutin sang putri. terus apa ya, pas kai-gly ciuman juga aku mikir ‘elah kai napsu amat dah’ HAHA. dan kuharap kai tak mati meski ia telah sampai ke permukaan.

    salam kenal.

    Like

    1. halo, indhsky! salam kenal jugaa! maaf yaa aku baru sempat bales komen kamu sekarang. hahaha makasih banyak lho pujiannya. kamu semangat terus, yaa! :))

      Like

  5. Haduhhh keren bangetttt >_< adegan romance nya pas banget nggak lebay :v dududududu~ daritadi bacanya sambil senyum senyum sendiri sampe dikira temen orang gila/? :v huehehehe

    nggak tau kenapa tiba tiba udah ending T-T kalo bisa yang panjaaaaaaaaaaaaaaaanggg banget, jangan panjang banget juga, kasian tangannya :v

    mungkin tadi terlalu seru ngebaca sampe nggak sadar end kali yakk??

    Au ahh bingung mau comment apa lagi :v

    Like

  6. Pada manggil evin … Ikutan ah, hehe haii evin, salam kenal ^^

    Aku baca ini dapet rekomen dari kak fika sama kak put. ehe daaan baaang!!! Ini aslinya panjang kan yaa tapi aku bacanya berasa enaaaak gitu, eh tau2 end. Yaaampuunnn
    Mana itu adegan romansanya ngga lebay dan bikin bilang ‘wow’.

    Jongin pas kalau jadi anak laut, ehe kalau yg putih2 kan agak ngga pas. /elahfrontal/ hahaha

    Diksinya suka~ suka suka suka. Ah, intinya kusuka.

    Keep writing evin!!! ^^

    Like

  7. Pada manggil evin … Ikutan ah, hehe haii evin, salam kenal ^^

    Aku baca ini dapet rekomen dari kak fika sama kak put. ehe daaan baaang!!! Ini aslinya panjang kan yaa tapi aku bacanya berasa enaaaak gitu, eh tau2 end. Yaaampuunnn
    Mana itu adegan romansanya ngga lebay dan bikin bilang ‘wow’.

    Jongin pas kalau jadi anak laut, ehe kalau yg putih2 kan agak ngga pas. /elahfrontal/ hahaha

    Diksinya suka~ suka suka suka. Ah, intinya kusuka.

    Keep writing evin!!! ^^

    Like

  8. Pada manggil evin … Ikutan ah, hehe haii evin, salam kenal ^^

    Aku baca ini dapet rekomen dari kak fika sama kak put. ehe daaan baaang!!! Ini aslinya panjang kan yaa tapi aku bacanya berasa enaaaak gitu, eh tau2 end. Yaaampuunnn
    Mana itu adegan romansanya ngga lebay dan bikin bilang ‘wow’.

    Jongin pas kalau jadi anak laut, ehe kalau yg putih2 kan agak ngga pas. /elahfrontal/ hahaha

    Diksinya suka~ suka suka suka. Ah, intinya kusuka.

    Keep writing evin!!! ^^

    Like

    1. haloo kak aneeee

      whoa, merasa terhormat sekali bisa direkomenin sama kak fika dan kak put hahaha xD thank to them. dan thank to youuu, kak anee, udah mau baca dan komentaaaar! kakak semangat terus yaaa! :))

      Liked by 1 person

  9. haloooo, kak put!

    gapapa, kok kak kalau visualisasinya bukan jongin. tapi kayaknya jadi agak mengganggu, ya? hahaha. tbh aku malah kepikiran jongin banget-banget pas bikin ini, hehehe. dan emang deh kak put yang paling tau. pas nulis ini emang lagi stuck banget, jadi pengaruh juga deh ke tata bahasanya. dan makasihhhhhhh banyak buat koreksiannya! semuanya sudah kuperbaiki dan aku jadi tau deh mana yang beneryang salah hahahaha xD

    kak put semangat terus yaaa!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s