Surfer on Acid

cats

by La Princesa

“I’m sick of always looking like a Darth Vader next to Sunshine Barbie.”

Blair Waldorf, New Haven Can Wait

pg for some harsh words and drinking scene

.

Ini semua bermula ketika Soojung dengar dari Sehun, yang dapat informasi dari Chanyeol, yang tanpa sengaja mendengar—dan tanpa bermaksud menguping—obrolan Junmyeon dan Kyungsoo bahwa Jongin punya pacar baru. Kalau tidak salah namanya Krystal, karena Baekhyun ada di sampingnya saat Jongin mengangkat telepon selagi tersenyum cerah ceria lalu memanggil nama itu disertai embel-embel ‘Sayang’.

Soojung menatap Sehun tajam selama dua setengah menit penuh sebelum yang ditatap sadar bahwa dia baru saja bertindak tolol dengan membocorkan rahasia besar karibnya kepada sang mantan kekasih. Sehun menenggak schnapps stroberi racikan si bartender dengan canggung sembari berusaha mengalihkan obrolan ke topik lainnya agar lawan bicaranya lupa.

Tapi Soojung terlanjur mendengar dengan jelas Sehun menyebut-nyebut Jongin dan tentu saja ia penasaran, dan juga marah, dan mungkin juga cemburu (walau sampai mati ia tak akan mau mengakui), dan ia juga merasa harga dirinya terinjak-injak karena berani-beraninya-Kim-Jongin-yang-biasa-saja-punya-pacar-lebih-dulu-dibanding-dirinya, dan tentu saja ia tak akan membiarkan Sehun semudah itu menanggalkan topik obrolan seperti ini dan menggantinya dengan topik lain. Karena mana mungkin Soojung pulang dari bar malam ini tanpa informasi yang ia butuhkan mengenai mantan-kekasihnya-yang-biasa-saja-itu-punya-pacar-lebih-dulu-dibanding-dia dan bisa tidur nyenyak? No fucking way.

“Jongin punya pacar baru, katamu?” tanya Soojung, mengonfirmasi. Dan walaupun pertanyaan tersebut bukan tentang dirinya (Sehun hanya kebagian tugas untuk menjawab, yang mana dia berada di posisi terdesak seperti itu juga karena kebodohannya), dia tetap bersyukur entitas agung di atas sana tak semurah hati itu hingga membekali Soojung dengan tatapan super saat ia diciptakan, atau Sehun yakin jidatnya sudah bolong di tengah karena ditatap Soojung semengerikan itu.

“Tapi sepertinya aku salah dengar, entahlah. Siapa juga yang peduli dengan kisah romansa Jongin, iya tidak? Hahaha.” Sehun terkekeh garing, tanpa sadar menggerak-gerakkan kakinya mengikuti alunan EDM dari lantai dansa dengan harapan bisa sedikit mengurangi tensi yang dia rasa. Lalu dia mencoba lagi, “kau sudah mencoba restoran sushi di ujung blok belum? Kata Junmyeon nigiri di sana yang paling e—“

“Namanya Krystal?” Soojung memang tulang tengkoraknya sekeras batu kali. Dan pada titik itu pula, Sehun gatal ingin menepuk jidatnya pakai panci presto saking bodohnya dia sampai bisa keceplosan seperti tadi. Hell hath no fury like a woman scorned; harusnya dia bawa stapler sekalian untuk mengokot bibirnya agar tidak bocor.

“Begini, aku tak tahu apa-apa tentang pacar baru Jongin, oke? Jadi kau bisa berhenti menginterogasiku seolah aku ini maling pakaian dalam wanita…” Dengan seluruh keberanian dan kenekatan yang dia punya, akhirnya Sehun menyuarakan isi pikirannya supaya Soojung sadar bahwa tujuan hidup Sehun nyatanya cukup sederhana: dia hanya ingin kehidupannya damai dan sejahtera dengan cara ‘tidak ikut campur urusan yang bukan urusannya; termasuk di dalamnya adalah kehidupan asmara sahabatnya yang seperti benang kusut’. Sekaligus berharap Soojung agar berhenti menempatkannya di situasi serba salah seperti ini, karena wow! Entah Soojung tahu atau tidak mengenai hal ini, tapi surprise, saudara-saudara, Sehun bukan penggemar seorang wanita yang sedang cemburu.

Lalu dia melanjutkan lagi argumentasinya dengan penuh percaya diri.

“…dan pada dasarnya aku tak peduli sih kalau Jongin punya pacar baru—no offense, Soojung, tapi statusmu sekarang kan cuma mantan kekasihnya. Jadi kalau memang benar Jongin pacaran dengan Krystal Jung—“

“Oh, jadi namanya Krystal Jung?”

Sudut-sudut bibir Soojung terangkat sedikit, membentuk seringai yang biasa kau dapati di film-film horor jika si boneka yang kerasukan arwah jahat sedang merencanakan pembunuhan untuk pemiliknya. Di detik itu juga, Sehun bisa merasakan rongga kerongkongannya disengat rasa panas luar biasa karena dia tersedak alkohol (dan itu bukan pengalaman menyenangkan, by the way) demi mendengar pertanyaan retoris Soojung barusan. Tapi Soojung—yang nyaris menghilangkan nyawa seseorang—tak merasa bersalah pada Sehun sedikit pun dan masih mengulas seringai penuh niatan jahat.

“Kau memang tak pernah pintar menyimpan rahasia ya, Oh Sehun?” lanjutnya santai.

Sumpah, mungkin lain kali Sehun harus membawa lakban dan lem kayu untuk memplester mulutnya.

.

Tolong jangan lupakan salah satu aturan paling utama dalam memahami wanita: bahwasannya wanita yang sedang cemburu lebih jago mencari informasi ke sana-ke sini dibanding FBI.

Hanya dalam waktu kurang dari 30 jam, Soojung sudah mendapatkan semua informasi tentang Krystal Jung. Bagaimana dan seperti apa Krystal ini, apa pekerjaannya, lahir tanggal berapa, di mana almamaternya, apa golongan darahnya, siapa saja mantan pacarnya, apa masakan yang dia bisa masak dan tak bisa Krystal masak, berapa ukuran sepatunya, Soojung sudah mengantongi informasi itu. Mungkin jika kau bertanya pada Soojung berapa nomor Social Security Krystal, ia bisa menjawabnya dengan lancar.

Soojung akui, Krystal ini cantik seperti bidadari. Ah salah, Krystal memang bidadari. Pada masa-masa seperti ini Soojung merasa perlu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada penemu layanan mesin pencari, karena berkat merekalah ia bisa bebas berselancar di tiap halaman sosial media milik Krystal.

Dari penemuannya itu, Soojung bisa menyimpulkan bahwa tak ada satu pun foto Krystal yang menunjukkan bahwa setidaknya sang bidadari pernah melewati satu hari di mana dia tak terlihat terlalu cantik. Bahkan di postingan Facebook Krystal lima tahun yang lalu saat dia sedang merayakan ulang tahun dengan muka coreng-moreng terkena krim dan rambut yang belum disisir, sang bidadari tetap terlihat sebagai titisan Aphrodite.

(Yang mana jika objek foto itu adalah Soojung, ia pasti sudah membakar semua foto dan menyewa jasa hacker kalau perlu, untuk memastikan tak ada satu pun foto aibnya diunggah di bagian internet mana pun).

Kan menyebalkan. Soojung cemburunya jadi berlipat-lipat. Iri pada Krystal, juga merasa harga dirinya makin terinjak karena bisa-bisanya Jongin yang biasa saja punya pacar lebih dulu dibanding dirinya—dan lebih cantik pula. Kurang ajar. Padahal di satu bagian hatinya yang paling dalam dan berukuran ultra miniscule, Soojung masih mengharapkan Jongin untuk kembali. Tapi apa kenyataan yang malah didapatnya dari Sehun malam itu? Soojung tak menyangka si buaya darat itu sudah melupakannya—melupakan hubungan mereka. Jongin bahkan sudah move on dan punya pacar baru yang lebih cantik, meninggalkan Soojung seorang diri merasa diberi harapan palsu.

Berbekal kecemburuannya yang tak berdasar tapi terlanjur meletup-letup, Soojung bertekad bahwa ia tak mau kalah dari Jongin dan Krystal, pacar barunya yang titisan Aphrodite.

.

Langkah pertama yang akan Soojung tempuh agar ia tak kalah dari Krystal, tentu saja, dengan meng-upgrade penampilannya.

Pada dasarnya, Soojung adalah gadis yang cantik dan menarik—ia tahu, sering mendengar, juga aware terhadap pujian-pujian serupa yang sering dilayangkan untuknya. Jadi untuk meng-upgrade penampilannya, Soojung tak merasa sampai perlu melakukan prosedur bedah plastik. Selera berbusana yang stylish dan pengaplikasian make-up yang tepat sasaran ia rasa cukup, mengingat rivalnya sendiri bukan tipikal gadis menor. Krystal lebih suka pakai riasan natural; jika Soojung pakai riasan yang terlalu tebal dan berat, bukannya cantik bisa-bisa ia terlihat seperti tante-tante. Kan bahaya.

Maka pada hari Minggu sore, dua hari setelah ia mendengar cerita dari Sehun, Soojung sudah anteng di ruang tengah apartemennya, buku diary dan personal notebook di pangkuannya dengan kedua kaki ditumpangkan di atas meja kaca, mulai menyusun agendanya tentang apa yang harus dan tidak boleh ia lakukan.

“Kebanyakan wanita seperti itu,” Soojung membuat kesimpulan di agendanya dengan semangat menggebu-gebu ketika ia baru selesai membaca beberapa laman di internet. “Tak memedulikan penampilan mereka (malah cenderung self-destructive dan tampil acak-acakan) dan mengharapkan belas kasihan dari mantan pacar mereka supaya mereka mau kembali. Ha, padahal itu strategi yang salah. Buat apa para lelaki mau kembali ke mantan pacar mereka yang seperti penyihir jika masih banyak wanita cantik di luar sana?”

Lalu ditutup dengan sederet kalimat motivasi khas seorang wanita yang baru putus cinta.

“Daripada mengasihani diri sendiri, lebih baik segera bangkit, pergi mandi, then dress up and doll up as pretty as you can. Biar mantan pacarmu menangis meratapi nasibnya karena menyesal sudah memutuskanmu, biar mereka juga tahu rasanya menelan harga diri saat mengajakmu balikan. Dan kalau rencanamu itu gagal, setidaknya kau bisa menarik perhatian pria-pria lain agar menjadi kandidat kekasihmu yang selanjutnya, hahaha.”

.

Padahal kemungkinan Soojung dan Jongin akan bertemu di jam kantor pada hari kerja hanya selebar lubang jarum, karena mereka bekerja di tempat yang dibentang jarak sejauh tujuh kilometer, bukan tujuh kotak kubikel.

Pun begitu tetap tak menghentikan Soojung bangun lebih pagi dari biasanya dan berdandan secantik mungkin. Soojung yang dulu masih jadi pacarnya Jongin mungkin sedikit cuek jika lengan kemejanya kusut, tapi tidak sekarang. Soojung yang dulu mungkin tak terlalu peduli jika lipstiknya terhapus setelah ia menyesap kopi paginya, tapi tidak sekarang—ia bahkan membawa pouch ekstra untuk membawa perlengkapan perangnya. Pokoknya tak ada sesekon pun Soojung membiarkan dirinya tak terlihat cantik, membuat Sehun si rekan kerja kubikel sebelah nyaris mati lagi karena tersedak kopi.

“Tumben,” adalah hal pertama yang Sehun katakan pada Soojung ketika batuk-batuknya mereda. Soojung hanya mengangkat sebelah alis, tapi sudah bisa membuat Sehun merasa terintimidasi.

“Tumben apa?”

“Tumben ada yang berbeda—please, jangan tanya apanya yang beda, aku tak mau dianggap seperhatian itu padamu. Pokoknya ada yang beda, aku tahu, tapi tak tahu apa,” Sehun meracau tak jelas sementara Soojung hanya memutar bola matanya jengah.

It’s a girl thingy, kalian para lelaki dengan kadar kepekaan seluas sendok teh tak akan mengerti.” Soojung mengulas senyum sekretif dan lagi-lagi Sehun harus memalingkan wajahnya karena sumpah… demi entitas agung yang dipuja dengan berbagai nama di atas sana, ia tak mau punya pengalaman nyaris-mati-karena-tersedak sampai tiga kali hanya karena wanita yang sama. “Lagipula aku sengaja tampil beda supaya Jongin menyesal sudah putus denganku.”

“Seperti Jongin bisa melihatmu saja.”

Komentar Sehun singkat tapi skakmat, membuat Soojung jadi kepikiran. Kekurangan common sense begitu tapi ada benarnya juga dia. Buat apa Soojung tampil cantik-cantik kalau Jongin tak bisa melihatnya—membuat Sehun terkesan? Ha. Mau ia diangkat jadi Ratu Inggris pun, Soojung yakin Sehun tetap tak akan tertarik padanya. Dan Soojung juga tak mau punya pacar seperti Sehun yang merepotkan begitu.

Kembali ke topik, lantas apa tujuannya ia tampil all out setiap hari jika Jongin—atau Krystal—tak bisa melihat penampilannya? Memang masih ada plan B, tapi kan Soojung masih ingin mengeksekusi plan A-nya, setidaknya ia ingin tahu bagaimana rupa penyesalan mantan pacarnya saat tahu dia telah bermetamorfosis menjadi si angsa yang rupawan. Mungkin Jongin akan mati tersedak, seperti biasanya Sehun? Atau dia akan mangap selama satu jam penuh dan baru sadar saat ada laba-laba yang membuat sarang di dekat molarnya? Atau Jongin akan menangis mengiba-iba dan memutuskan Krystal saat itu juga, lalu berlutut dan minta pada Soojung untuk balikan? Ah sumpah, Soojung penasaran.

Ia tahu ia tak bisa tinggal diam begitu saja dan menanti kebetulan akan mempertemukan mereka. Karena tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di dunia ini, maka Soojung harus menciptakan momentumnya.

“Kalau begitu temani aku ngebar di Excelsior malam ini!”

“Bodoh, ini masih hari Senin dan kau sudah mau mabuk-mabukan.”

“Tapi Jongin bukan penganut TGIF, dia ngebar kapan pun dia mau.”

“Jadi tujuanmu ke Excelsior cuma untuk bertemu Jongin?”

Well, bukan bertemu juga sih. Lebih tepatnya supaya Jongin sadar seberapa besar dia merugi karena putus denganku…”

“Lagian dia sudah punya Krystal juga, buat apa, sih, kau masih mengharapkan di—“

“Siapa juga yang mengharapkan Jongin, aku cuma mau dia menyesa—”

“Tunggu, kenapa kalimatku barusan seolah-olah aku peduli padamu?”

“Kau pikir aku juga mau kau pedulikan? Aku tak seputus asa itu, tahu,” Soojung membentak tak sabar. “Pokoknya kau harus menemaniku ke Excelsior malam ini, dan besoknya, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi, sampai Jongin menyesal. Atau…”

“Atau apa?” sambar Sehun jengkel.

Soojung mengulas lagi senyum a la boneka horor yang kerasukan arwah jahat dan sedang merencanakan pembunuhan untuk pemiliknya—iya, senyum yang bisa membuat Sehun berpotensi mati karena tersedak minuman.

“Atau aku akan menyebarkan foto aibmu saat Halloween tahun lalu, masih ingat?”

Kedua bola mata Sehun yang membulat hingga sebesar piring terbang adalah apa yang memotivasi Soojung untuk makin mengancam rekan kubikel sebelahnya yang malang.

“Kalau kau lupa, Sehun, sini aku ingatkan. Waktu itu kau pakai kostum kelinci—lengkap dengan telinga dan ekornya—dan kau mabuk berat, jadi aku terpaksa harus mengantarmu pulang atau kau hanya berakhir tinggal nama jika kubiarkan menyetir sendiri, tapi di sinilah bagian paling serunya. Kau selalu membuka kaca jendela lebar-lebar di setiap lampu merah, lalu kau akan melambaikan tangan dan melancarkan aegyo-mu pada setiap orang yang melihatmu seolah kau anak kecil berumur tiga tahun yang kelewat bahagia dibelikan baju baru berbentuk kelinci, dan jika menurutmu itu adalah momen paling memalukan di hidupmu maka kau salah besar. Kau bahkan mencium pipi satpam apartemenmu saat dia membantuku membopongmu masuk. Haha, kau harus lihat bagaimana mukamu yang seperti kerasukan arwah kelinci.”

Pada saat Soojung selesai dengan monolognya, Sehun sudah sepenuhnya kehilangan rona di pipinya. “You… wouldn’t dare, Soojung,” ucapnya terbata-bata.

Why wouldn’t I?” tantang Soojung telak, kedipan matanya dibuat secentil mungkin tapi Sehun terlanjur muak. Mungkin jika menjambak rambut Soojung tak masuk kategori kekerasan terhadap wanita, sudah pasti Sehun melakukannya sejak tadi sampai rambut Soojung rontok dan dia bisa membuka usaha jual beli rambut palsu.

“Pokoknya kau akan menemaniku ke Excelsior setiap malam sampai Jongin menyesal putus denganku, dan aku tak terima penolakanmu kecuali kau mau seluruh kantor tahu betapa menggemaskannya Sehun the cutie bunny.”

.

Bisa jadi Sehun di kehidupan sebelumnya adalah seorang panglima perang yang hobinya menindas desa-desa kecil dan menuntut rakyatnya untuk memberinya upeti berupa emas sepuluh kilo setiap bulannya, mengingat Tuhan di atas sana begitu enggan mengabulkan doanya kini.

Doa pertama, Sehun hanya ingin menjalani kehidupannya dengan damai dan sejahtera dan tak mau melibatkan diri mencampuri urusan yang bukan urusannya, termasuk di dalamnya adalah kehidupan asmara sejawatnya yang seperti benang kusut. Tapi kenyataan di lapangan adalah duo kombo mengenal wanita beringas bernama Soojung—yang adalah mantan pacar Jongin—dan mulutnya yang kelewat ember hingga menyebabkan doa pertamanya gagal dikabulkan.

Doa kedua, adalah supaya Soojung segera bertemu Jongin. Kurang baik apa, sih, Sehun sebagai teman; apa yang Soojung ingin, Sehun bantu mendoakan agar lekas terkabul. Sesederhana itu, ya Tuhan, tidak muluk-muluk juga, kan? Tapi kenapa belum ada tanda-tanda akan terpenuhi dalam waktu dekat? Karena kalau Soojung tak kunjung membuat Jongin menyesal, itu artinya Sehun harus rela menghabiskan setiap malamnya (diulang dulu biar dramatis: setiap malam) menemani Soojung ngebar di Excelsior—yang mana hal itu jelas bukan agenda favoritnya, karena wow! Surprise, saudara-saudara, tapi Sehun juga punya kehidupan asmaranya sendiri.

Terus bagaimana jadinya kalau Jongin dan Soojung tak segera bertemu, masa Sehun akan menghabiskan bermalam-malam ke depan jadi bar-buddy Soojung? Yang benar saja! Dihantui ketakutannya itu, Sehun segera menyambar ponselnya dan mengetik pesan dengan kecepatan kilat. Mumpung ini hari Jum’at, TGIF baby! Ini bisa jadi kesempatan emas Sehun lepas dari belenggu Soojung yang mengekangnya. Tanpa berpikir dua kali, dia segera mengirim pesan singkat yang tadi diketiknya ke lima nomor lain. Yang diharapkan Sehun untuk datang cuma satu, sih—dua jika menghitung Krystal—tapi untuk menutup kecurigaan Soojung—serta untuk menjadi wasit, siapa tahu sempat terjadi adegan jambak-jambakan di antara para wanita—ada baiknya keempat kawannya yang lain turut diundang.

TGIF!!!!!! 8pm @ Excelsior!! Must come, no buts!!! Bring along your girlfriends!!

Tonight will be one hell of a night.

.

Tak biasa-biasanya Sehun sesemangat ini saat mereka berangkat ke Excelsior sepulangnya dari kantor—seharusnya Soojung curiga, tapi terserahlah. Mungkin Sehun tadi pagi minum susu basi, atau sekrup di kepalanya lepas satu dan dia jadi sadar arti pentingnya membantu teman yang kesusahan. Soojung bukannya sedang mengeluh, toh kalau Sehun melanggar kontrak perjanjian (sepihak) mereka, dia sendiri yang akan menanggung akibatnya.

Junmyeon, Chanyeol dan Baekhyun sudah berbanjar memenuhi meja bar—masing-masing tanpa membawa pacar—setibanya mereka di Excelsior. Kyungsoo berhalangan datang karena tunangannya mau operasi usus buntu besok siang sementara Jongin belum kelihatan batang hidungnya, membuat Sehun sedikit was-was tapi cuma sebentar. Tak beberapa lama setelah Liquid Heroin pesanannya disiapkan sang bartender, Jongin datang menggandeng Krystal.

Kemudian duduk di samping Soojung yang terlihat kalem dan sedikit pongah, tapi di dalam hati ia sudah terbakar api cemburu.

Guys,” Jongin menyapa satu persatu teman lelakinya sembari mempersilakan Krystal duduk di samping kanannya. Lalu atensinya terfokus pada Soojung di sisi kirinya dengan satu alis terangkat—Soojung kenal ekspresi itu, biasa Jongin tunjukkan jika dia sedang penasaran terhadap sesuatu. Tapi Soojung pura-pura cuek dan tak peduli, ia harus bisa fokus dengan tujuan awalnya untuk membuat Jongin menyesal sudah putus dengannya. Ia bahkan sudah re-apply make-up dan membenahi tatanan rambutnya sebelum pulang dari kantor, tidak lucu kalau wibawanya luntur hanya dengan satu jungkitan alis dari Jongin dan dirinya yang kelewat kangen (walau tak mau mengaku karena gengsi).

“Soojung,” Jongin menyapa, menatap mantan pacarnya penuh-penuh tepat di kedua obsidiannya. “Didn’t expect to see you here.”

Why? Because you own this place?” Soojung menjawab dengan lagak se-sassy mungkin. Diperhatikan Jongin dari kepala hingga ujung kaki membuatnya makin menjadi, rambut brunette-nya yang mencapai punggung ia kibaskan dengan gaya seolah ialah ratu kecantikan sejagat. Sementara Sehun di lantar belakang sudah nyaris muntah melihat kelakuan rekan kerja kubikel sebelahnya yang penuh pencitraan. “Lu Han’s there makes the best shot of Jägermeister in town.”

I see,” Jongin hanya menatapnya simpel sebelum mengedikkan bahunya dan berbalik arah—yang mana membuat Soojung sebal karena ia masih ingin diperhatikan seperti tadi oleh Jongin, tapi si buaya darat malah menyudahi tatapannya dan kini menghadap Krystal. Jongin ini sudah pacaran berapa tahun dengan Soojung, sih? Kenapa kadar kepekaannya tak lebih luas dari level Sehun yang setara sendok teh? Dasar, menyebalkan!

Tapi apa yang dilakukan Jongin setelahnya justru makin menyulut api cemburunya.

“Omong-omong, aku belum mengenalkan ke kalian,” suara Jongin tumpang tindih dengan dentuman EDM yang mulai terdengar dari lantai dansa. “Krys, they are my friends: Junmyeon, Baekhyun, Chanyeol and Sehun. Dan guys, kenalkan Krystal—“

Nice to finally meet you, guys,” Krystal menginterupsi sebelum Jongin sempat menyelesaikan perkenalannya. Gema tawanya yang manja masih terdengar saat ia menjabat tangan para lelaki satu per satu.

Oh, and Krys,” Jongin memanggil perhatian Krystal ketika ia selesai menjabat tangan Junmyeon, “meet Soojung.”

Krystal benar-benar sesuai dengan bayangan dan foto-foto yang dilihat Soojung di akun sosial medianya. Dia cantik dan titisan Aphrodite; rambutnya pirang dan berponi, irisnya berwarna abu-abu, kalau tertawa terdengar manja dan membuat matanya membentuk sepasang bulan sabit.

Dari deskripsi itu saja sudah nyaris membuat kepercayaan dirinya menguap habis karena Krystal memang seorang bidadari, Soojung akui. Belum lagi kepribadiannya yang cenderung mudah bergaul; seorang ekstrovert yang akan menggenapi sisi introvert Jongin dengan sempurna.

Seolah itu saja belum membuat Soojung makin cemburu, ekspresi antusias yang terpancar dari paras Krystal bukan artifisial saat dia beradu tatap dengan Soojung sembari mengangsurkan tangan kanannya, menawarkan jabat tangan. Betapa Soojung ingin sekali menjambak rambut pirang Krystal yang terlihat luar biasa halus helai per helainya, alih-alih membalas sodoran tangan kanannya. Sementara rambut brunette Soojung masih sering kusut dan awut-awutan padahal sudah pakai kondisioner dua botol, kan tidak adil. Dalam hatinya, Soojung sudah misuh-misuh karena iri.

Ah, the one you told me about, right, Jo?” Krystal bertanya, mengonfirmasi—yang dibalas dengan anggukan oleh Jongin. Soojung jadi penasaran Jongin bercerita apa pada Krystal tentangnya—apakah Jongin menyebut kalau ia mantan pacarnya? Tapi bukannya canggung membahas mantan pacar dengan pacar barumu? Uh, makin dipikir Soojung malah makin cemburu tapi juga penasaran.

It’s nice to finally meet you, Soojung,” suara Krystal terdengar lagi membawa konsentrasi Soojung kembali menghuni serebrumnya.

Pleasure to meet you too, Krys,” Soojung membalas dengan senyuman ringkas di ujung bibirnya, tapi ia tak gagal mendapati Jongin yang turut menatapnya dengan pandangan yang susah diartikan. “I really hope Jongin told you only good things about me.”

Krystal mengulas tawa manjanya sekali lagi sembari melirik Jongin. “Ah, sure he told me only good things about you,” ia menjawab. “Isn’t he a sweetheart?”

Sweetheart my ass, Soojung membatin. Ia mengalihkan tatapan tepat waktunya saat Jongin membalas komentar garis miring pujian Krystal berupa cubitan di pipinya—satu hal yang sering Jongin lakukan terhadap Soojung dulu kalau dia sedang gemas dengan tingkah kekasihnya.

Bersebelahan dengan mantan pacar yang membawa kekasih barunya sudah merupakan hal yang susah dilakukan, Soojung tak mau wibawanya perlahan luntur karena gagal tangguh dan berakting tak kena pengaruh jika terus menatap Jongin dan Krystal yang pamer kemesraan. Para lelaki lainnya sudah sibuk sendiri dengan minumannya; Chanyeol bahkan sudah turun ke lantai dansa. Sehun yang dari tadi diam di samping kiri Soojung kini terkekeh tanpa suara, lalu mengaduh—juga tanpa suara—saat Soojung menendang tulang keringnya.

“Katanya mau buat Jongin menyesal putus denganmu, lihat sekarang siapa yang cemburu sendiri,” Sehun nekat menggoda, sepenuhnya mengabaikan konsekuensi yang bisa dia dapatkan karena membuat macan betina ngamuk—masa bodoh! Tak setiap hari juga wanita beringas penghuni kubikel di sampingnya terlihat sebegini menyedihkan, Sehun jelas tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Apa pun yang terjadi, kau harus bisa menyelesaikan misimu malam ini; berhasil atau tidak. Aku muak harus menemanimu ngebar setiap malam—sana sebarkan foto aibku, aku tak peduli.” Dan tanpa menunggu tanggapan Soojung terhadap ultimatumnya, Sehun sudah mengikuti Junmyeon dan Baekhyun turun ke lantai dansa.

Meninggalkan Soojung, Jongin dan Krystal di meja bar.

Dua orang itu masih sibuk dengan dunia mereka; tertawa, mengobrol, tertawa lagi, mengobrol lagi, begitu terus sampai Soojung hangus dibakar api cemburu. Pupus sudah tujuan Soojung membuat Jongin menyesal putus dengannya, lelaki berengsek itu bahkan tak meliriknya sekilas pun (dan sebenarnya hal itu bisa dimaklumi mengingat pacar baru Jongin memang cantik hingga Soojung merasa tak ada seujung kukunya).

Tahu rencananya akan gagal total seperti ini, ia tak melakukannya sekalian sejak awal. Bukannya sukses membuat Jongin menyesal dan mengajaknya balikan, yang ada Soojung justru menyesal sendiri karena senjata makan tuan. Rasanya seperti mempermalukan dirinya sendiri.

Soojung menyesap Surfer on Acid-nya yang terasa lebih masam dibanding biasanya, sementara Lu Han si bartender, yang beberapa kali mengerling dan beradu tatap dengan Soojung dari balik meja bar memberinya tatapan simpati. Menjadi pelanggan dadakan selama empat hari ke belakang membuat Lu Han punya gambaran tentang apa yang terjadi pada Soojung dan kehidupan romansanya. Soojung bisa saja melancarkan plan B-nya sekaligus mencari tahu apakah Jongin akan cemburu jika Soojung flirting ke Lu Han tepat di depan hidungnya, tapi mood Soojung terlanjur terjun bebas tanpa parasut hingga mendarat di jurang neraka yang paling pelosok. Jangankan untuk flirting, menyesap koktailnya saja ia sudah kehilangan selera.

Maka sebelum logikanya ditelan habis oleh kecemburuan lalu membuat sistem motorik tangannya bergerak sendiri menjambak rambut pirang Krystal sampai si korban tak bersalah diangkut ke rumah sakit, ada baiknya Soojung segera menyingkir dari lokasi. Tidak usah pamit ke Jongin dan Krystal, toh mereka tak akan sadar kalau Soojung sudah tidak di situ. Tidak usah pamit ke Sehun juga, toh dia juga tak peduli—yang ada malah Soojung nanti ditertawakan.

Angin malam khas bulan Januari yang menyambut Soojung ketika ia melangkah keluar dari Excelsior, meniupkan dingin yang menusuk hingga ke tulang karena Seoul sedang memasuki fase terdinginnya. Soojung merapatkan lengannya di depan dada, sedikit menyesal karena memakai blouse berlengan pendek tanpa outerwear apa pun. Langkah-langkah kakinya dipercepat menuju halte, menunggu bus atau taksi—mana pun yang lewat lebih dulu—yang akan mengantarnya pulang.

Namun ia malah mendengar seseorang memanggil namanya saat ia memasuki naungan kanopi halte. Soojung menoleh, tak bisa memungkiri bahwa ia berbunga-bunga mendapati Jongin yang memanggil dan menyusulnya sampai di sini. Tapi kemudian Soojung ingat kalau Jongin sudah bukan pacarnya—dia malah sudah punya pacar baru yang lebih cantik dari dirinya. Membuat Soojung makin jengkel, kesal, bad mood dan cemburu saja kalau mengingat hal itu.

“Mau kemana?” tanya Jongin setengah berlari mendekatinya. Soojung mengangkat bahunya, pura-pura tak peduli dan tak terpengaruh dengan pertanyaan Jongin.

“Pulang,” jawabnya pendek.

Jongin belum merespon, malah sibuk membuka kancing french coat yang dia pakai. Rasanya canggung bagi Soojung berdiri berhadapan dengan mantan pacarnya begini; berlagak cuek padahal rindu setengah mati, lisannya bilang mau cepat pulang tapi hatinya teriak ingin balikan, berakting kalem padahal—

Ia tak menyelesaikan ocehan di kepalanya kala menyadari apa yang dilakukan Jongin. Lelaki itu memajukan tubuhnya mendekati Soojung lalu menyampirkan french coat miliknya di bahu si gadis, membuat Soojung kaget sekaligus merasa hangat. “Sudah kubilang jangan lupa bawa jaket, apalagi musim dingin sedang liar-liarnya begini. Kau masih saja lupa,” kata Jongin sembari mengulas senyumannya yang biasa. Tapi Soojung bukannya tersentuh dengan perhatian Jongin, ia malah makin jengkel.

Menurutnya Jongin menyebalkan. Sudah mantan pacar saja masih sebegini perhatian, maunya Jongin apa sih sebenarnya? Memberi harapan palsu bahwa mereka masih punya kesempatan untuk kembali padahal kenyataannya tidak? Sumpah deh, jika Jongin belum punya pacar baru, mungkin Soojung sudah teriak di depan Jongin kalau dia kangen. Tapi bisa apa ia sekarang kalau Jongin sudah punya Krystal? Memang yang harus dilakukan Soojung adalah menolak bentuk perhatian Jongin yang seperti ini, tapi itu sama artinya dengan membohongi dirinya sendiri dan Soojung benci harus melakukan itu.

Soojung hendak melepas french coat Jongin dan mengembalikannya tapi Jongin sejemang lebih cepat; setengah memaksa, dia mengancingkan kancing paling atas supaya mantelnya yang kebesaran tidak jatuh dari pundak Soojung. “Jangan mulai keras kepala deh, udaranya dingin dan kau tidak bawa baju hangat satu pun,” katanya tegas. “Ayo, kuantar pulang.”

Sampai di sini, Soojung sadar inilah saatnya untuk memberi batas yang jelas untuk menjaga hati dan perasaannya. Toh sudah tak ada kesempatan bagi mereka untuk kembali, buat apa terus memenangkan hatinya dengan harapan palsu kalau nanti dia yang dongkol sendiri. “Tidak usah,” tolak Soojung pura-pura kuat. “Aku pulang sendiri saja.”

Jongin yang hendak mengenggam pergelangan tangan Soojung tapi meleset tak menyangka akan mendapat penolakan dari Soojung. Dia bahkan tak membunyikan raut kaget di wajahnya. “Kenapa?” tanyanya.

Soojung mendesah napas keras, menyilangkan kedua tangan di depan dada sebagai bentuk defensif, tapi juga buang muka—enggan menatap Jongin. “Kau ini yang kenapa?” tanya Soojung balik dan retorik. “Jangan repot-repot mengantarku pulang, apalagi sampai membuat Krystal menunggumu.”

Berkebalikan dengan ekspresi bingungnya tadi dan ekspresi kesal Soojung, Jongin justru mengulas seringai lebar yang langsung terpecah menjadi kekehan. Lalu ia bertanya polos dan tanpa dosa, seolah pertanyaannya adalah hal-hal sepele seputar ramalan cuaca esok hari dan bukannya hal sensitif yang menghantui Soojung sejak seminggu yang lalu. “Kau cemburu pada Krystal, ya?”

Menurutmu saja deh! Aku sampai dandan secantik mungkin supaya tidak kalah dari pacarmu dan kau mau melirikku, Soojung membatin kesal pada Jongin yang masih bisa terkekeh dan sangat… sangat tidak peka terhadap perasaan wanita—bahkan melebihi Sehun. Bagaimana para lelaki ini kadar kepekaannya bisa berada di level semengerikan ini, Soojung masih belum mengerti.

Kembali ke topik, inginnya Soojung membalas seperti itu, tapi tentu saja harga dirinya tak mengizinkan. Maka ia hanya mendengus napas keras-keras, masih dengan satu tangan bersedekap di depan dada—karena yang satunya ia pakai untuk menyibakkan rambut—tapi sudah berani menantang tunak manik obsidian Jongin. “Siapa yang cemburu? Aku? Enak saja, buat apa aku cemburu?”

Jongin masih terkekeh menatap Soojung. Sebelah tangannya terulur guna mencubit pipi Soojung yang kemerahan karena dingin dan tersipu sebelum sang pemilik sempat menampik tangannya, sembari melancarkan satu, dua kalimat menggoda.

“Jadi kau masih mengira aku dan Krystal pacaran?” tanyanya santai, menyulut kecemburuan Soojung sekali lagi karena tega-teganya Jongin terus membawa-bawa pacar barunya di tengah obrolan padahal mereka sedang berdua. “Belum diberi tahu juga oleh Baekhyun?”

“Apa?” sambar Soojung galak.

“Kalau Krystal sepupuku,” terang Jongin yang langsung membuat beban seratus kilo yang sesaat lalu menggelayuti pundak, hati dan pikiran Soojung terangkat serta-merta.

“Aku sudah pernah cerita, kan, kalau aku punya sepupu di California? Krystal itu yang kumaksud, dia anak dari kakak ayahku. Aku juga jarang bertemu dengannya karena dia jarang pulang ke Korea. Tapi berhubung kakakku menikah minggu depan, Bibi Kim, Paman Jung, Krystal dan kakaknya memutuskan untuk pulang dan tinggal sementara di sini. Ujung-ujungnya aku yang kena jatah jadi tour guide, mengantar dan menemaninya ke sana-kemari. Awalnya mau kukenalkan padamu dulu biar dia punya teman wanita, tapi kita terlanjur break waktu itu, dan kau malah mengira aku pacaran dengan Krystal.”

Well, aku cuma dengar dari Sehun kalau pacarmu baru…”

“Karena Baekhyun mendengarku menjawab telepon dari Krystal dan memanggilnya ‘Sayang’, kan?” Jongin menginterupsi. “Padahal aku sudah mengklarifikasinya saat itu juga supaya tak salah paham—tapi dasar Baekhyun.”

Jadi begitu?, Soojung membatin masam. Selama ini kecemburuan dan insekuriti yang ia rasakan sejak kedatangan Krystal sama sekali tak berdasar dan ternyata salah besar? Semata-mata karena Baekhyun yang menyimpan informasi sendiri, ditambah yang lain yang asal lompat ke kesimpulan, serta dirinya yang mudah terpancing cemburu? Lalu apa gunanya selama ini Soojung bangun dua jam lebih awal demi merias diri dan tampil cantik agar tidak kalah dari Krystal, padahal sejak awal Jongin tak pernah punya pacar baru? Menyadari apa yang ia lakukan seminggu ini adalah sebuah kebodohan, Soojung justru merasa semakin bodoh.

But thanks to Baekhyun, aku jadi tahu bagaimana sikapmu kalau sedang cemburu.” Vokal Jongin terdengar lagi, memotong suara-suara di dalam kepala Soojung yang sedang menyanyikan puji-pujian karena Jongin belum punya pacar baru; yang bersahut-sahutan dengan sebagian suara lain yang memaki kebodohan Soojung seminggu ke belakang. “Kau menggemaskan sekali.”

Jika Jongin tidak tepat waktu mencengkeram pergelangan tangan Soojung, mungkin yang bersangkutan sudah melompat masuk bus yang membawanya pulang sembari memendam jengkel. Jongin menganggap kecemburuannya menggemaskan, bisa-bisanya! Apa dia tahu seberapa besar penderitaan yang Soojung rasakan, bagaimana ia harus menyeret Sehun setiap malam agar mau menemaninya ke Excelsior dengan harapan bisa bertemu Jongin dan membuatnya menyesal sudah putus, bagaimana di bar tadi Soojung merasa kalah telak oleh kecantikan Krystal yang seperti titisan Aphrodite sampai membuat Soojung tak ada apa-apanya. Dan Jongin menganggap apa yang Soojung lakukan menggemaskan?

“Menggemaskan?” ulang Soojung hilang kendali—masih menolak percaya Jongin menganggapnya begitu. Bibirnya mengerucut membentuk cebikan dan kedua alisnya menyatu di tengah dahi, sementara Jongin menahan diri agar tak langsung mencubit kedua pipi Soojung yang kemerahan atau gadisnya akan semakin muring.

“Jongin, aku tak cuma cemburu, tahu, aku insecure juga! Kau lihat tidak seberapa cantiknya Krystal? Kau lihat tidak seberapa tidak cantik dan biasanya aku? Dan kau lihat tidak kalau aku dan dia sangat… sangat berbeda? Jongin, rasa-rasanya seperti aku ini Darth Vader yang bersebelahan dengan Sunshine Barbie tadi waktu kau mengenalkanku dengan Krystal, tahu! Dan kau menganggap itu sebagai hal yang menggemaskan? Kau tahu tidak bagaimana rasanya saat diberi tahu Sehun kalau kau punya pacar baru, secepat itu kau sudah lupa padaku padahal aku masih kangen tapi aku gengsi, dan ternyata pacarmu secantik bidadari? Mengesalkan sekali, tahu! Dan tega-teganya kau membiarkan aku salah paham, padahal aku sengaja dandan secantik mungkin supaya tak kalah dari Krystal dan kau mau melirikku lagi supaya kau menyesal sudah putus denganku, tapi kau malah menganggapku menggemaskan? Jongin, kau tahu ti—“

Kalau tidak dicium paksa, Soojung akan terus mengeluh dan mengoceh sampai pagi, Jongin tahu. Maka ia segera menangkup kedua pipi Soojung dan menekan bibirnya di bibir Soojung, membiarkan semua kata-kata yang sesaat lalu sudah berada di ujung lidah dan siap ditumpahkan jadi menguap. Soojung awalnya mau menolak, tapi Jongin tahu masalah akan selesai tak lama lagi ketika perlahan gadisnya balas menciumnya. Karena tidak cuma satu pihak yang menyimpan rindu, kan? Pihak satunya sama saja, tapi gengsinya Soojung yang seluas samudera yang membuatnya rela melakukan hal bodoh semingguan ini dibanding mengakuinya langsung.

“Sudah selesai ngomelnya?” tanya Jongin ketika ia mengambil jarak. Pipi Soojung masih kemerahan karena dingin dan bersemu, ia juga masih bersungut-sungut karena jengkel, tapi genggaman Soojung tak mau lepas mengisi spasi kosong di antara jari-jarinya—Jongin suka. “Aku menyusulmu untuk mengingatkanmu agar datang ke pernikahan kakakku minggu depan, bukan untuk mendengar ocehanmu.”

“Cuma itu?” tanya Soojung memastikan sekaligus memancing. Padahal sudah tanggung begini, tapi ia masih saja gengsi dan menunggu Jongin yang bilang dulu. “Tidak ada yang lain?”

“Apa contohnya?” Jongin tak mau kalah membalas permainan Soojung—membiarkan seringai sekretif bermain di ujung bibirnya supaya Soojung tersulut emosinya lagi.

“Entahlah, kau pikir saja sendiri,” Soojung menjawab galak, sudah mau balik arah dan menghentikan taksi yang lewat kalau Jongin masih saja main tarik ulur (ia lupa padahal ia duluan yang mulai). Tapi lagi-lagi Jongin lebih cepat menyambar tangan Soojung, secara tak langsung menyuruh gadisnya itu agar tidak ke mana-mana.

“Iya, aku mau mengundangmu ke pernikahan kakakku minggu depan sebagai pasanganku, bukan sebagai tamu undangan biasa,” Jongin akhirnya memberi ketegasan; paham benar jika dia tidak begitu maka Soojung juga masih bertahan dengan gengsinya. “Itu juga kalau kau belum punya pacar baru.”

“Mmm, bagaimana, ya?” Soojung lagaknya seperti sedang berpikir keras—satu jarinya menempel di dagu dengan pandangan mengawang langit bergemintang di atas kepala mereka, seolah keputusan yang akan dibuatnya menyangkut harkat hidup orang banyak. Hiperbolik sekali memang wanita satu itu—tapi Jongin sudah terlanjur sayang jadi mau bagaimana. “Ya sudah deh, kalau kau memaksa. Aku bisa apa untuk menolak?”

Lalu ia tertawa-tawa manja, melebihi tawa manjanya Krystal tadi malah. Bahagia dan lega karena akhirnya berhasil balikan dengan Jongin tanpa mengorbankan gengsinya.

“Kau ini, maunya balikan tapi tidak mau bilang dulu.” Jongin mendesah, menggamit tangan Soojung ketika keduanya berjalan menyusuri trotoar. “Ayo pulang, aku yang antar.”

“Krystal bagaimana?”

“Sudah dijemput kakaknya sejak tadi kubilang aku mau mengejarmu,” jawab Jongin sembari menuntun langkah-langkah kaki mereka menuju parkiran Excelsior. “Kenapa, mau balik ke dalam dan pamit ke Sehun dulu?”

Di sampingnya, Soojung membuat ekspresi seolah-olah ia sedang muntah. “Kurang kerjaan sekali pamit ke Sehun segala,” ujarnya cuek. “Ayo pulang, sudah malam.”

.

-end

.

  1. thanks for reading buat yang baca sampe abis ❤
Advertisements

10 thoughts on “Surfer on Acid

  1. kak put?? makan apa siihh??? bahasanya gilaaa bikin ngiri :3

    aku kira beneran itu Jongin pacaran sama Krystal, eh ternyata salah paham. dan lagi2, baekhyun si biang kerok. hahaha

    Liked by 1 person

    1. asal tulis tapi malah bikin terkesan kece gitu yaa, kak? hmmm 😀
      yaa pokoknya aku pengin juga bisa nulis asal gitu, haha cz pas aku baca tuh jadi bisa kebawa betapa rempongnya karakter sojung di sini 😀

      iya, kak 🙂 makasih doanya 😀 hehe

      Like

  2. “Sudah selesai ngomelnya?”

    HAHAHAHA BUYAR AKU WASSALAM SURFER ON KASUR DENGAN INDAHHAHAHAH KAPUT MAKES MY DAY!!!!! THANKIES A BUNCH SAMPE LEBARAN HAJI!!!!

    Lah sumpahan seharian kena signal bapuk malemnya dikasi beginian tuh…kemurahan hati Tuhan mana lagi yang engkau dustakan, Filzaaaa??? (shed tears sek)
    Kalau aku bahas karakternya satu-satu sampe subuh ngga kekirim juga komennya aslik lah gimana ashoy sekali kak krystal kak sassy kak kak kak tolongin aku kak jongin kak kak kak kak kantong oksigen mana kak udah disumpahin buaya darat endingnya ngasi jaket, anter pulang, balikan, aku mau nanya kapan mereka naik pelaminanya?????
    Huhu sumpahlah cutie bunny hunnie penyelamat bangsa, biar juga hidupnya sengsara, bikos of his TGIF-message menyelamatkan harga diri Soojung dan kejombloannya… God Bless Hunnie ❤
    STYLE KAPUT GA DA MATINYA HAHAHAHA YANG ADA YANG BACA YANG MATI SURI MULU ❤
    Aku mau bilang tapi gatau istilahnya, pokok ada setrum-setrum baru yang bikin perjalanan makin gereuget yang bikin wah buset nih kaput makin makin wah seatbelt mana seatbelt?!?!? Kalo ga pake seatbelt aku ga sampe ke kolom komentar dah tengkurep di dasar jurang baper ga bisa naek ke permukaan ga bisa say thankies a bunchies :'
    Ini juga ngetik sambil pause-scream, ngetik, pause-baper, ngetik, pause-keingetan-sqeualing, ngetik, ambyar.

    Plotnya semulus paha SNSD dan aku sampai dengan nosebleed setandon
    (send virtual big hands to kaput)
    a bunch a lot an unlimited thanks to Kaput ❤ YAHUY KAPUT MANSAE ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    KAK AKU NGEFAN KALAU MAU DAFTAR FANCLUB LA PRINCESSA DISEBELAH MANA YHA?

    Like

  3. put! hahahahahahahaha! sepanjang baca cerita ini aku cengar-cengir sendiri lah. koplak banget asli :))))) apalagi interaksi soojung-sehun, anjay gemesin banget sih tuh anak dua pengen w pepet pake ketek. terus, terus, monolognya! asli put lawak banget wkwk. apalagi yang pas ‘diulang biar dramatis’ anjir aing ngakak kenceng banget. harus banget gituhh???!!!!!! hahahahahaha. bagian paling favorit mah pas si soojung ngoceh, ngaku cemburu insecure dan pengen balikan wkwkwkwk anjaaaay soojung you’re the woman! uyeeaaaah! aduh pokoe suka banget ff ini luvs ❤

    Like

  4. Bentar deh, bukannya dulu kak put pernah nulis ini tapi pemain utamanya Ra bukan? Kayak deja vu soalnya. ini kerasa familiar banget dan tetap aja bikin senyum bagian terakhir jongin-soojung.

    Like

  5. Haaai kak putriii, wuh aku buka blog ini dan isinya keren2 semuaaa. Dan ada kak put kubahagiaa haha.
    Fic ini! Wah aku inget bgt betapa aku suka sm fic ini pas kak put pos di blognya kak put waktu itu dgn cast ra. Dan tbh aku lebih suka yg ra sih mungkin karena aku udh jatuh cinta sm karakter ra yg kak put buat jd pas ganti nama jd soojung aku tuh kayak ngerasa aneh aja. Tapi ya teteup keren lah kak puut!

    Like

  6. too sweet to be true wkwk
    ceritanya simpel, lucu, cuma monolognya si soojung ini lho yang bikin senyam-senyum depan laptop sendirian. duh jongin, padahal maren aku udah mulai ngebias yang lebih muda-muda eh sekarang ketiban cinta buat kamu lagi ah
    di awal-awal sebenarnya saya setengah berharap soojung will ended up with the cutie bunny. Thanks for the funny story kak put. Syudah membangkitkan cintaku pada lelaki dengan senyum paling menawan ini lagi wkwk

    Like

  7. Halo, kak Put?
    Salam kenal, saya Rere. 😊
    Sebenernya udah lumayan lama (beberapa pekan yang lalu) mulai menjelajahi tulisan-tulisan kakak dan library nya writer secrets.
    Pengen banget ikutan komentar kayak yang lain, tapi entah kenapa rasa minder nya kebesaran😞
    Takut salah penulisan diksi kata juga. Hihi. Minder juga pada komentar pake bahasa inggris. Saya paham apa yang dibicarakan, tapi nggak bisa nulis/ngerangkai kata pake bahasa inggris. Udah empat tahun ini terlalu mendalami bahasa mandarin, bahasa inggris paling gitu-gitu aja saya belajarnya.
    Dan, saya emang kurang bisa mengolah kalimat yang baik untuk nge-review/nge-nilai tulisan orang. Jadi hingga saat ini saya masih setia jadi silent reader. Alasan saya masih jadi sider disini, karena kalau di wp2 fan fiksi lain saya biasa komentar sesuai dengan komentar pembaca lain. Palingan bahas tentang jalan cerita, konflik, dan ngasi semangat buat author nya. Dan yang terpenting, biar bisa dapet password kalau sewaktu-waktu ff nya diprotect.
    Kalau disini, bahasan para komentator nya terlalu tinggi 😂 Jadi maluu mau komen, kak. 😓

    Ngomong-ngomong sider, suka deh sama author2 di writer secrets. Tulisan-tulisannya berkualitas, tapi nggak pernah maksa pembaca nya untuk like atau komentar di fan fiksi or original fiksi mereka (atau saya nya aja yang belum pernah liat?). Kalau semua author seperti itu, saya rasa.. sider-sider diluar sana bakalan sadar dengan sendirinya (saya, misalnya?). karena kalau dipaksa komentar, toh nggak semua orang akan komentar secara tulus.
    Finally, saya pribadi tetep mengakui kalau jadi sider itu salah. Mulai sekarang saya bakal jadi sider yang baik, eh reader yang baik maksudnya. 😂

    Terima kasih ya, Kak Put sudah menulis fiksi-fiksi yang sweet-nya kebangetan!😍
    Maafkeun saya karena komentar tidak jelas dan semrawutan ini 😔

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s