[Writing Prompt] His Little Sister

his little sister cover

Gajian

by Cheery

.

Kim Hanbin merasa bersalah pada adiknya. Tidak seharusnya ia pulang terlambat saat adiknya sakit demam di rumah, ditambah lagi dengan cuaca yang buruk. Oh, Hanbyul pasti ketakutan di rumah sendirian. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya di bagian keuangan menuntutnya untuk mengurus pemberian gaji para karyawan.

Setelah memberikan laporan keuangan pada atasannya, Hanbin kembali ke mejanya lalu mengetikkan pesan singkat via Line pada adik perempuannya.

Hari ini aku pulang terlambat karena harus mengurus gaji karyawan. Baik-baik di rumah, tutup jendela kamar, cuacanya buruk dan sepertinya akan turun hujan. Oh, kau mau kubelikan sesuatu? Mumpung gajian dan aku dapat tambahan karena beberapa kali lembur, hehe.

Hanbin baru akan melanjutkan pekerjaannya ketika ponselnya berbunyi, balasan dari Hanbyul.

Tenang saja, aku sudah lebih baik. Aku baru selesai makan bubur buatanmu dan minum obat. Oh, aku ingin mi kacang hitam, omong-omong. Apa boleh? Aku juga ingin roti cokelat dan pizza. Aku bosan makan bubur.

Ya! Perutmu tak akan muat. Sekarang istirahatlah.

Hanbin kembali menyimpan ponselnya di saku celana setelah membalas pesan Hanbyul. Ia merasa lega adiknya baik-baik saja dan yang terpenting, adiknya sudah bukan lagi anak kecil penakut.

Hanbin ingat saat ia harus pulang terlambat sekitar dua bulan lalu dengan cuaca yang sama buruknya, ia menemukan Hanbyul di kamar sendirian melilit tubuhnya dengan selimut, persis seperti kepompong. Bahkan Hanbyul berteriak histeris saat Hanbin menepuk pundaknya. Tidak lupa dengan segala racauannya seperti “Kau benar Kak Hanbin?”, “Kau bukan hantu, ‘kan?” atau “Ayo sebutkan nama rumah sakit tempat aku dilahirkan!”

Hanbyul takut akan tiga hal; hujan, petir, dan gelap. Dan sungguh disayangkan mengetahui fakta bahwa ketiganya adalah teman baik. Biasanya, hujan selalu datang ditemani petir, dan jika keduanya telah berkolaborasi, peluang listrik padam akan meningkat.

Hanbin masih betah menggarap rincian gaji untuk karyawan ketika merasa seseorang menepuk pundaknya. “Kudengar adikmu sedang sakit,” ternyata Kim Jiwon.

“Iya, Hanbyul demam sejak kemarin.”

“Pulanglah duluan, biar aku yang mengurus sisanya. Kasihan Hanbyul sendirian,” saran Jiwon.

“Eh, jangan. Ini sudah jadi tanggung jawabku,” tolak Hanbin.

“Aku sudah memintakanmu izin pada manajer Yang, dan ini gajimu bulan ini,” Jiwon menyerahkan amplop cokelat persegi panjang.

“Serius?” Jiwon hanya mengangguk mantap. “Terima kasih, ya. Besok kutraktir makan!”

“Kupegang janjimu, Bin,” ucap Jiwon sambil terkekeh.

Setelah membereskan mejanya, Hanbin meraih tas dan mantelnya lalu langsung melesat menuju tempat parkir. Dihampirinya sedan hitam yang baru lima bulan ini dicicilnya. Yah, semenjak bekerja, Hanbin sudah tidak mau mengandalkan kiriman dari orang tuanya. Paling-paling hanya diambil untuk uang sekolah Hanbyul, selebihnya Hanbin harus mengelola gaji yang didapatnya.

Sedan milik Hanbin melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Seoul. Hujan sudah mulai turun, aroma petrichor melesak ke penciuman Hanbin saat ia keluar dari mobil untuk membeli vitamin di apotek pinggir jalan.

Usai membeli semua pesanan Hanbyul, Hanbin kembali melajukan mobilnya. Jalanan sekitar rumah Hanbin tampak gelap, meskipun masih sore. Awan mendung yang menaungi Seoul cukup untuk menghalangi cahaya matahari. Juga dengan tidak adanya lampu yang menyala di pinggir jalan maupun dari rumah-rumah. Rupanya listrik sedang padam, simpulnya.

Pemuda Kim itu membuka pintu rumahnya dengan kunci duplikat yang dibawanya. Bunyi nyaring ketika engsel diputar menyapa gendang telinganya, suasana rumah yang gelap menyambutnya.

Namun tak begitu sulit untuk menemukan Hanbyul yang terbungkus selimut sedang duduk malas di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. “Hanbyul.”

“Lho, bukannya Kak Hanbin pulang terlambat?”

Hanbin menggeleng, “Tidak jadi.” Setelah meletakkan tas dan bawaan lainnya di meja, atensi Hanbin kembali pada Hanbyul, menempelkan telapak tangannya di kening sang adik.

Dingin.

Syukurlah, demamnya sudah reda.

Hanbin mengempaskan dirinya di samping Hanbyul, membiarkan adiknya membuka bungkusan makanan yang ditaruhnya di atas meja, sedang ia sendiri mengambil alih remote televisi. Menunggu listrik kembali menyala sambil menonton televisi bukan hal yang buruk, kok.

Eh, apa?

“Hanbyul.” Hanbyul menoleh ke arahnya. “Bukannya listrik sedang padam? Bagaimana televisinya bisa menyala?”

“Ups, aku lupa, Kak. Hehehe,” mungkin hanya perasaan Hanbin saja, tapi kekehan Hanbyul barusan terdengar mengerikan.

Deringan ponsel Hanbin membuyarkan lamunannya. Jung Chanwoo. “Ya, Chanwoo?”

Raut Hanbin menjadi pucat disertai keringat dingin saat suara serak familiar menyapanya di ujung telepon.

“Halo, Kak Hanbin. Ini Hanbyul. Aku takut sendirian, jadi sekarang aku di rumah Chanwoo. Ponselku ketinggalan di rumah. Kalau sudah pulang jemput aku, ya. Dah, Kak.”

Setelah sambungan telepon terputus, rasanya Kim Hanbin ingin pura-pura mati saja.

.

FIN

Advertisements

24 thoughts on “[Writing Prompt] His Little Sister

  1. WADUH WADUH ITU JELMAAN SETAN DEKET DEKET SAMA HANBIN WADUH

    Tepat waktu nabil liat posternya foto mz hanbin langsung pengen nguyel nguyel tulisannya yaaa. inu creepy weh, listrik mati tapi tv nyala.

    Keep writing!!

    Like

    1. Iya Hanbin ganteng banget sih, sampe makhluk dunia lain pun mau deket-deket sama dia hehehe
      makasih komentarnya dan salam kenal πŸ™‚ Ce, line 97

      Liked by 1 person

  2. Dih, serem banget. Nggak nyangka bisa dipuntir jadi cerita horor begini.
    Ceritamu bagus, Cheery, cocok untuk menemani musim hujan seperti sekarang ini. Keep writing, ya :).

    Like

    1. Halo Kak Ami, ketemu lagi πŸ™‚ wah syukurlah aku kira ini bakalan gagal soalnya pertama kali nulis horror.
      Makasih komentarnya, Kakak πŸ˜‰

      Like

  3. Bentar ya, aku kaget… dikira bakal lawak or sweet, ternyata ya aku ngeri sih.

    Ini bagus, sampe aku ngeri sendiri LOL. Abis pas jawaban adeknya, “Aku lupa,” lah ini lupa apaan, kok lupanya bodoh nyeremin gitu, ternya… huft.

    Anyway, salam kenal dan keep writing ya πŸ™‚

    Like

    1. Hai Sher, salam kenal. Ce, line 97 πŸ™‚
      sebenernya pas nulis ini aku juga takut sendiri sih, maklum jiwa horrornya jongkok.
      makasih buat komentarnya πŸ˜‰

      Like

  4. Ini emang gada adegan hantu keluar dari tipi atau suara kratak-kratak hantu ngerangkak di para tapi sumpah aku pengen ikut pura-pura mati aja sama abin. Anjay serem banget siiiii :((

    Nice banget, terkecoh abis. Kupikir ini bakal berakhir mengharukan atau unyu-unyu gemes secara ini HANBIN X HANBYUL…. tapi-tapi, malah jadi horror!!!!! Ini antara takut sama takjub gimana dong???? Keep writing, ya. Kusuka!

    Like

  5. HAHAHAHA DINGIN YHA HAHAHAHA TIVI NYALA YA HAHAHAHAHA BOLEH GAK AKU IKUTAN PURA-PURA MATI SAMA HANBIN INI GAKUAT MO NGETIK KOMEN GEMETERAN KAK CHERRY AH SIAL MANA UDA MALEM KAK :’ #akudendamkesumat #akutakut #inibukansoalterorbomsarinah

    SOOPER NICE KAK PLOTTWITSNYA KUCINTAAAAAAAAAAAAA ❀

    Like

  6. keren! memang sih twistnya agak sedikit mainstream tapi mbayangin muka hanbin yg ‘pingin pura2 mati’ itu rasanya malah kebelet ngakak. tulisannya juga bagus, singkat, padat, dan jelas! maap gak bisa komen panjang2, ini lagi ngempet ngakak mbayangin muka hanbin soalnya, salam kenal ya, Liana here ^^

    Like

  7. Yampun ini horor banget, apalagi aku baca pas semua lampu pada mati (meski siang sih) tapi tetep aja kan agak gelap dan sepi. Bagus banget plot twistnya aku kira bakalan cerita family gitu hanbin abis dapet gaji, ternyata hanbin diajak main toh.

    Like

  8. Nice ff kak cherry! Kesan horornya dapat banget T-T untung aja aku bacanya disiang bolong, hwhw
    Udah mulai curiga waktu Hanbin masuk rumah dan televisinya menyala, padahal lampunya lagi padam. Dan itu setannya ga ngapa-ngapain Hanbin kan??

    Like

  9. anjir!!! gila gak nyangka banget ini bakaln horor sumpahh!!! keren banget asli bikin merinding di bagian akhir. kalau gue jadi hanbin entahlah mau jadi apa pas dapet telepon dari si hanbyul yang asli. wkwkwk i love it! keep writing! πŸ˜€

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s