Obscure Sorrow: Nighthawk

nighthawk

by fikeey
Credit pic
: here

Mereka datang menikammu ketika bulan tengah menggantung. Di bawah naungan langit-langit kamarmu yang seolah menjadi saksi bisu.

Hei, pernah menonton channel Animal Planet?

Perhatikanlah gerak-gerik seekor ular kala ia berburu di tengah-tengah kerasnya kehidupan hutan belantara. Sulur pohon merambat di mana-mana, serangga mematikan, pun sinar matahari yang tak sampai menapak tanah karena lebih dulu diblokir oleh dedaunan yang tumbuh serampangan. Namun kau tahu apa yang para ular itu lakukan? Mereka bersembunyi, memanfaatkan sulur-sulur pohon itu sebagai pelindung dan suramnya suasana di lantai hutan sebagai pengecoh. Gerakan mereka mulus, lincah, namun tidak terdeteksi. Dan kemudian hanya dalam hitungan menit, bokong tikus yang telah mereka pantau berubah menjadi makan siang super lezat yang akan menahan rasa lapar mereka hingga esok hari.

Sekarang bayangkan, kau adalah tikus, kehidupan hutan belantara adalah kehidupanmu, dan pikiran dalam kepalamu adalah si ular. Namun bedanya, kau akan dimangsa ketika matahari telah tergelincir jatuh dari singgasananya dan digantikan oleh bulan yang menggantung. Kau tengah bersiul pelan sambil melipat rapi bajumu untuk kau kenakan esok hari, lalu menyeberangi ruangan dan menyambungkan ponselmu pada kabel charge, selanjutnya kau merangkak naik ke tempat tidur. Lampu sudah dimatikan dan kau tinggal menarik selimut lalu membaca doa sebelum tidur, ketika si pemangsa akhirnya menerkammu tanpa ampun dengan tak meninggalkan ruang sekecil apa pun di dalam kepalamu.

Tengkorakmu rasanya penuh dan otakmu seolah diulur panjang-panjang lalu dibiarkan kusut sehingga bentuknya tak keruan di dalam sana. Ketika kau tengah memikirkan jalan keluar untuk satu masalah, tiba-tiba ada tendangan lain menghantam sisi kepalamu yang tak sabar ingin diperhatikan. Lalu apabila kau beralih ke pikiranmu yang itu, akan ada hentakan lain lagi menunggu untuk segera dinina bobokan. Terus begitu hingga akhirnya kau tenggelam dalam kubangan pikiranmu sendiri, meminta perlindungan pada langit-langit kamarmu yang seolah menjadi saksi bisu. Apabila penyiksaan mengenai dirimu belum cukup, maka pikiran-pikiran itu akan merembet kepada orang-orang terdekatmu sehingga menciptakan kecemasan yang luar biasa membuat gila. Tak jarang, kau akhirnya menyerah dan memejamkan matamu rapat-rapat, membiarkan air matamu berjatuhan satu-persatu.

Tapi, guys, dengan menangis bukan berarti mereka lalu meninggalkanmu begitu saja. Tidak. Rasanya sesak, sesak sekali. Dadamu semakin sempit dengan setiap napas yang kau hirup, dengan setiap bulir air mata yang jatuh ke bantalmu, dengan setiap kekuatan yang kau alurkan ketika meremas selimutmu. Biasanya, ini adalah puncaknya. Jamur-jamur kepala yang tadinya hanya menyenggol, menendang, dan menghentak di berbagai sisi kepalamu sekarang berlaku makin anarkis. Mereka merongrong, meneriakimu, mencemoohmu, menyudutkanmu seolah kau adalah korban bully di sekolah yang menjadi bahan tertawaan semua murid.

Ketika mulanya di pikiranmu hanya terlintas soal kesalahan kecilmu pada seorang teman SMA dulu, pada menit ini mereka akan muncul dengan pertanyaan: Bagaimana jika ia tak pernah ingin mengenalmu lagi?

Jika tadi ada sesuatu yang menelisik tentang masa depanmu yang masih belum pasti, maka pada detik ini mereka akan duduk bersila di hadapanmu, dengan wajah menyebalkan sambil bertanya, “Bagaimana jika nantinya kau hanya menjadi seorang pengangguran?”

Dan yang paling menyakitkan, saat kau teringat bahwa kau belum melakukan apa pun untuk membahagiakan kedua orang tuamu, membalas apa yang telah mereka limpahkan padamu, atau sekadar menanyakan kabar. Maka, pikiran itu, dengan santainya akan berbisik di telingamu: Apakah kau yakin ayah dan ibumu masih baik-baik saja sekarang?

Aku tak akan berbohong. Tangisku selalu memuncak pada detik ini.

Ingin rasanya kupercepat waktu malam lalu berlari menuju ponsel untuk memutar nomor rumah dan memastikan tidak ada yang salah. Namun nyatanya, aku hanya berbaring di ranjang, bergelung dalam selimut dilingkupi suasana kamar yang gelap gulita. Dadaku sesak, kepalaku sakit. Dengan mudahnya ditumbangkan oleh hal abstrak yang bahkan tidak bisa kutendang atau kucekik. Seringnya aku menangis hingga lupa waktu, kadang saat jarum pendek telah bersandar di angka dua, kadang hingga adzan subuh akhirnya tiba. Alhasil, hari itu kulalui dengan kantong mata sebesar bokong panda dan badan remuk seperti habis bergulat dengan singa. Namun setidaknya, kepalaku sedikit kosong. Tidak ada lagi pikiran yang berjejalan di sana.

Biasanya aku bisa menghindari kejadian ini, namun caranya tidak enak. Tidak sama sekali. Aku memforsir tubuhku di waktu siang, masa bodoh dengan gejala anemia yang kadang kambuh, atau kawah-kawah putih kecil yang bermunculan di bibir. Masa bodoh. Keinginanku yang paling utama hanyalah tidur pukul sepuluh malam nanti dan terbangun keesokan hari. Kadang, aku bisa menghindarinya selama seminggu, namun ada waktu di mana pikiranmu sudah kian menumpuk dan akhirnya bergulingan lalu jatuh menimpamu. Jika sudah begini, maka fasenya akan terulang. Pikiran itu akan datang menghantuimu setelah menghabiskan banyak waktu menimbang di luar jendelamu, kapan waktu terbaik untuk datang dan akhirnya kembali melahapmu.

nighthawk
n. a recurring thought that only seems to strike you late at night—an overdue task, a nagging guilt, a looming and shapeless future—that circles high overhead during the day, that pecks at the back of your mind while you try to sleep, that you can successfully ignore for weeks, only to feel its presence hovering outside the window, waiting for you to finish your coffee, passing the time by quietly building a nest.


  • ditulis untuk open series by La Princesa.
  • semoga hasilnya nggak mengecewakan yang punya hajat hehe (semoga kakput suka yaaah).
  • intinya curhat sih hahaha xD
  • terima kasih bagi yang sudah membaca!
Advertisements

15 thoughts on “Obscure Sorrow: Nighthawk

  1. kak fikaa… hmm baca ini kok kaya’ lagi ngaca gitu yaa?! huhu suka susah tidur cuma gara2 menghawatirkan masa depan? menghawatirkan pandangan orang2 ke kita? duh, apalagi kalau udah urusan orangtua. bisa dibilang mereka itulah yang kudu wajib jadi tanggung jawab kita nantinya, makanya sekuat tenaga harus bisa berjuang ngukir masa depan gemilang biar mereka ngga kecewa sekaligus ‘tak layak hidup’ di masa tua. /mendadakmellow/

    nice kak! aku sukaaa :3 keep writing ^^

    Like

    1. hai aneee x)) iya emang kalo udah judulnya mengkhawatirkan masa depan kayaknya nggak ada habisnya hehe. apalagi ditambah aku orangnya cemasnya kebanyakan, terus apa apa dirasa nggak bener ya gitu gitu deh hehehehe. jadi yah….gitu lah. makasi banyak ya anee udah mampir, baca, dan komeeen hihi x))

      Like

    2. semoga kecemasan kita soal masa depan ngga berkepanjangan yaa kak 😀 hihi
      sukses buat kak fika! fika marissa pasti bisa! *kibaspompom* 😀

      sama-sama kak ^^

      Liked by 1 person

  2. Fikaaaa aku suka sama ficmu pokoknyaaaa ❤
    Aku kebayangnya semacam erep2 (?) masa /ngaco/
    Tapi aku emang ga bisa tidur juga karena mikir hal kayak gitu sih /apa/

    Keep writing Fika!

    Like

    1. hai nariiin, waah syukurlah pabila kamu sukaaa hehe. emang normal kok, banyak yang ngalamin tenang sajaa hehe. kamu juga terus menulis yaaa, dan makasi udah baca sama komeeen hihi.

      Like

  3. Kepikir ngebandingin sama ular hutan gitu ;A;
    Makanya kalau aku sukanya tidur gamatiin lampu. Matiin lampu malah makin bikin beban pikirannya lbih berat..huhu..
    Solilokiuinya bner2 sama dg yg aku pikirin di hampir setiap malamnya.. zuperr lah kak :^

    Like

    1. HAHAHAHA. aku sebelum nulis ini nonton animal planet dulu soale ada pemburu ular gitu keren orangnya (eaaa hahaha). wah makasih yaa dhilaa hihi, makasih udah baca dan komeeen x))

      Like

  4. fik, kupikir aku doang yang sering kayak begini. ternyata orang lain pun sama ya. itu artinya aku nggak sendiri. alhamdulillah banget, berarti aku ga perlu mikir kalo aku orang yang super lebay, karena ternyata hal ini lumrah terjadi pada siapapun :’) makasih udah nulis ini fik, gatau kenapa aku ngerasa lega sendiri bacanya (peluk)

    Like

    1. wah nisaaa youre not alone kok nis, aku sering kayak gini hehe. apalagi kalo lagi ngerasa sendirian banget, wah, besoknya mata aku udah bukan bengkak lagi lah. tambah flu, sariawan, demam hahaha lebay ya tapi gimana xD gakpapa nis, gak lebay kok. emang kalo gini ya mau digimanain lagi ya gak hehe. (peluuuk)

      Like

  5. Kak Fikaaa… duh setiap baca OS aku biasanya mikir, lama banget. Ini semacam cerita yang intens, yang mengajak pembaca untuk masuk ke dunia kecilnya penulis gitu. Dan yah, aku pernah beberapa kali sulit tidur kalau ada masalah yang bikin hati dan kepala nggak enak, trus menghantui dan besoknya bangun jadi nggak segar padahal harus beraktivitas.
    Keep strong and healthy, Kak. Keep writing 🙂
    (maaf aku bisanya komen cem ini)

    Like

    1. hai amiiii x)) wah hehehe aku belum baca satu pun by the way, mau spare waktu kosong dulu biar bacanya enaaak hehe. jadi maafkan aku yaa belom baca punyamu.
      yap, bukannya nggak seger lagi sih, udah sampe mood berantakan. makanya kalo aku udah kayak gini seminggu, percaya deh kamu nggak bakal mau deket deket aku lagi. dijamin itu seminggu aku cemberutin hahahaha xD i will, ami, kamu juga yaaaa. makasi banyak yaaaaa x))

      Liked by 1 person

  6. Midnight though itu emang kalo gak ide-ide badhay, ya pemikiran mengerikan yang kesannya mangsa kita sendiri. Dan kak Fika berhasil nulis yang kedua dengan sangat mengesankan.

    Midnight though paling absurd sampe sekarang dan super gak penting, adalah what if ada yang narik kaki kita kalo lahi tidur HAHAHA. Tapi sisanya literally mengerikan, mikirin orang, masa depan, tugas, tangungan… tidur bangun-bangun sakit kepala.

    Terus nulis kak fika ♥♥

    Like

    1. iya sher emang. kalo nggak ide badai buat writing prompt (EA CURHAT AKUNYA) ya pikiran pikiran macem gini lah. dan besoknya bukan sakit kepala lagi lah, itu beneran aku langsung nggak mood seharian hahaha. kebayang kalo kayak gininya seminggu penuh. udah jangan deket deket fika kalo ngga mau aku cemberutin xD

      terima kasih sher udah baca dan komeeen hihi ❤

      Like

  7. iya kak, terima kasiiiih banyak udah ngasih aku klinik buat curhat gini hahahaha (sumpah gabisa muvon dari kata kata klinik OS by kakput hahaha). beneran selesai nulis ini rasanya lega gitu hahaha beneran ga boong. iya kak gabisa dibandingin ini dan itu. masalah orang beda, dan itu tadi yang kakak bilang topik yang diangkat juga beda hehehe. (DAN AKU MASIH SENENG KALO KAKPUT SUKAAAA HUHU). makasih kaaaak sekali lagi ❤

    dan… yap. mungkin ini sebagian diri fika marissa yang tadinya nggak mau aku bagi hehe. tapi pas aku selesai nulis tuh yang: here you are, sebagian fika yang sebelumnya aku tutupin hehe. dan aku seneng pabila kakak bisa relate. makasih kak, kalo ini bukan something bad. aku juga kepikir mau kabur lah, apa lah kalo misal udah mulai ininya keluar. aku pernah semingguan kayak gini dan temen deket pun aku cemberutin. tidur gakbisa, sekalinya pengen ngantuk wah the struggle is real. dengerin musik gak mempan, nonton, jalan juga gak mempan hahahah yaampun aku malah curhat. yap, kita setrong kak. we're strong and will always be x))

    makasih banyak kakput komen dan karna udah ngebuka open series ini (kak jangan bosen aku terima kasihin terus ya huhuhu). much much love from fika to youuu ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s