[Writing Prompt] Jalan Tikus

JalanTikus

Jalan tikus

by qL^^

.

Ah, apa pun mungkin saja terjadi di Jalan Tikus…

Kirana melangkah terburu-buru. Ia berdiri di persimpangan jalan, ragu antara berbelok ke kanan melalui jalan tikus atau lurus saja melewati jalan raya. Ia cuma punya waktu sepuluh menit lagi untuk mencapai kafe tempatnya bekerja sebelum terlambat. Dosennya hari ini sedang memiliki suasana hati yang buruk sehingga kelasnya dibubarkan lebih lama daripada biasanya. Menelan ludah dan membulatkan tekad, akhirnya Kirana bergegas belok kanan.

Jalan tikus itu diberi nama Jalan Tikus.

Well, itu karena tidak banyak orang yang mau melewati jalan itu selain tikus-tikus yang kerap berlarian di atas penutup selokan. Jalan itu tidak layak disebut jalan sebenarnya karena sempit sekali, mungkin hanya seluas dua orang dewasa yang berjalan bersisian tanpa bersenggolan bahu. Sinar matahari tidak bisa menerobos masuk menerangi jalan itu dengan leluasa karena terhalang gedung-gedung tua yang tinggi di kiri kanan. Bohlam murah dengan cahaya kuning adalah penerangan di malam hari. Jadi baik siang maupun malam, jalan itu selalu remang-remang. Aspal jalanannya sudah lama berlubang di sana-sini dan kali ini dipenuhi genangan air, becek lantaran hari ini hujan turun seharian.

Tidak banyak yang tahu keberadaan Jalan Tikus itu, kecuali penduduk yang tinggal di daerah situ. Padahal dengan melewati Jalan Tikus bisa menjadi jalan pintas di antara dua jalan raya, terutama orang-orang seperti Kirana yang diburu waktu untuk mencapai sisi jalan raya yang satunya. Penduduk sekitar biasanya senang bergurau kalau Jalan Tikus itu kadang digunakan oleh ‘tikus-tikus masyarakat’, yah maksudnya orang tak taat hukum. Itulah alasan terbesar Kirana sebisa mungkin menghindari Jalan Tikus, meksipun kali ini ia dipaksa keadaan.

Seperti dugaannya, Jalan Tikus sangat sepi. Kirana tidak berpapasan dengan siapa pun. Bahkan suasana sunyi sekali sehingga ia bisa mendengar derap langkahnya sendiri. Barulah sekitar seratus meter kemudian, Kirana melihat dua sosok lain ada di sana. Dua orang itu merapat pada dinding jalanan. Yang perempuan ditindih oleh si laki-laki pada dinding. Kepala lelaki itu tenggelam dalam lekuk leher si perempuan membuat Kirana buru-buru memalingkan muka.

Ah, Jakarta!

Persetan dengan kedok budaya timurnya!

Kirana terus berjalan, masih dengan memalingkan wajah berusaha tidak melihat dua insan yang sedang bercumbu itu. Namun ia tidak tahu mengapa, seolah ada magnet yang membuat kepalanya terangkat dan ia menatap lekat pada si perempuan. Mata perempuan itu sayu dan tangannya terjulur ke arah Kirana dengan lemah. Si lelaki masih tak sadar dengan gerakan si perempuan.

Lalu seolah peremuan itu berteriak dalam pikiran Kirana, ‘tolong aku!’

Langkah Kirana terhenti dan mendadak ia bisa melihat detil yang tadi terlewatkan olehnya.

Taring panjang si lelaki yang menancap di leher si perempuan.

Dan Kirana melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya. Ia berbalik dan berlari cepat sekali. Secepat yang ia bisa sampai ia mencapai mulut jalan dan berteriak dengan kencang. Masa bodoh jika ia harus terlambat tapi perempuan di dalam sana sedang dalam bahaya.

“Tolong! Tolong!” jerit Kirana.

Orang-orang berkumpul mendengar teriakannya, bertanya ada apa.

“Di-di dalam sana,” tunjuk Kirana dengan nafas terengah. Ia panik dan sama sekali tidak sadar bahwa ia gemetar sejak tadi. Ia hanya mampu menjawab demikian, tidak bisa menjelaskan dalam kata-kata apa yang persisnya ia lihat di dalam sana.

Orang-orang menuju arah yang ditunjuk Kirana. Kirana sendiri menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri dan mengikuti ke mana orang-orang pergi sampai ke bagian di mana ia melihat perempuan dan lelaki tadi.

“Di mana, Mbak?” salah satu dari mereka bertanya padanya.

Kirana tertegun.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada jejak apa pun. Hanya Jalan Tikus yang kosong.

“Di mana, Mbak?” salah satu dari mereka bertanya lagi. Kali ini lebih mendesak seperti ingin memastikan bahwa Kirana bukan baru saja membual pada mereka.

Tapi Kirana tidak bisa menjawab. Jelas-jelas yang tadi itu bukan khayalannya, namun yang ada di hadapannya saat ini jelas bertentangan dengan apa yang tadi dikatakannya.

“Mbak salah lihat kali,” mereka berkomentar dengan nada bersimpati.

“Sudah malam, Mbak, wajar kalau salah,” tambah yang lain menimpali.

Mungkin mengasihani Kirana yang terlalu lelah sampai berhalusinasi.

Pada akhirnya, kerumunan itu pergi. Sebagian melemparkan tatapan kasihan pada Kirana, sebagian lagi memaki-maki dalam hati karena baru saja ditipu seorang gadis muda di malam hari. Kirana hanya bisa menggumamkan maaf tapi ia tahu pasti bahwa ini bukan sekedar salah lihat karena lelah atau malam hari.

Kirana tetap tinggal di sana sampai ia hanya sendiri. Lalu pelan-pelan sekali, ia mendekati dinding tempat tadi ia melihat si perempuan dan lelaki. Harusnya ada bukti yang tertinggal di sekitar sini. Kirana menunduk ke arah aspal jalanan yang berlubang. Ada bagian jalan yang kini hanya terisi tanah biasa dengan noda gelap di atasnya. Seperti tetes air, namun lebih kental.

Hati-hati, Kirana menyapukan jari di atas noda gelap itu dan ia bergidik, kemudian tanpa pikir panjang segera berlari meninggalkan Jalan Tikus. Ia tidak menoleh ke belakang sama sekali sampai ia aman dalam keramaian jalan raya. Ia sudah kepalang terlambat dan ia akan mengambil risiko dipecat daripada harus melewati jalan itu lagi.

Kirana menunduk, menatap noda merah di jarinya.

Darah.

Pertanyaannya : apakah mungkin ada vampir di Jakarta?

© 2016 qL^^

Advertisements

28 thoughts on “[Writing Prompt] Jalan Tikus

  1. CAKEP WEEEYYYY VAMPIR JAKARTA.
    sebenernya yang cakep itu ceritanya sih, aku suka banget rajutan kisah ini. ringan dan seperlunya, bikin betah. oiya aku suka line “Persetan dengan kedok budaya timurnya!” yes, yes, kece.
    Halo, Qiqi, saya Eci. Senang tulisanmu singgah di sini ^^

    Like

    1. Sulit yaa bayangin ada vampir jakarta, gosong duluan sih sama teriknya sini heuuu. Line yg itu emg sengaja harus masuk :p

      Halo juga Eci 🙂 seneng juga karena karya nya udah dibaca, makasih yaa

      Like

  2. gaya nulisnya asik banget. terus kebayang aja gitu gimana suasana jalan tikus karena memang aku pernah sih beberapa kali nelusurin jalan tikus wkwk. sama kayak putri, aku juga awalnya mikir ini kasus pemerkosaan. etaunya :O wuhuuuu plot twist-nya deus banget! hehehe. keep writing yaaaaa ❤

    Like

    1. Aku anak FKG, kalau nyari pasien harus nelusurin jalan tikis jadi aku kebayang banget settingnya huhu #bocorinrahasia

      Makasih udah baca yaa ❤

      Like

  3. plot twistnya keren! walaupun deskripsi teratas aku lewat2in aja tapi yg bawah2, habis muncul taring itu mataku gak meleng sama sekali hahaha. bisa ya dibikin cerita vampir gitu di jakarta XD serem juga sih kalo ada beneran.
    keep writing!

    Like

  4. Vampiiirrr huhu Ka Qiel you makes my day!
    Sumpah atuhlah bayangin di gang sempit malem-malem, oh my, deskripnya mulus pula, kebayang sudah sengeri itu masih dibonusin papasan dengen mereka, but yeah awalnya ah ini soal kriminal atau yang lain, karena disinggung budaya timur, tapi, WOW! Endingnya! Mangstab kak seryusan! ❤ Luvit from gang tikus ke rumah mas pampir ❤
    Glad you're hereee, Ka Qiel!!! ❤

    Like

    1. Rumah mas pampir kira2 dimana ya? Hehehe biar tahu atuh besarnya cintamu :p ehm, sebenarnya vampir jg ga cocok sih sm budaya timur, erotisme nya itu kontradiktif jg sama budaya timur

      Thank you for reading yaaa Ms. Pang 😀

      Liked by 1 person

  5. seperti komennya gak put, aku kira tadi itu korban pemerkosaan, ternyata vampire toh. Jadi ingat halfworlds (yah meski ceritanya bukan vampire sih) tapi tetep aja ada makhluk-peminum-darah di jakarta.

    omong-omong aku indah, 97line, salam kenal qL.

    Like

    1. Ada yg nonton halfwords jugaa? Uhuuuy, meski nonton itu bikin aku parno sama makhluk2 di dalamnya. Anw, nulis ini juga agak parno sih haha

      Halo indah, aku Qiqi, 93L. Salam kenal yaa 🙂

      Like

  6. Hihi baru liaat. Aah seneng deh bisa dapat kesempatan publish naskah dan mejeng disini 😀 it really is an honor

    Tadinya kupikir ini plotnya mainstream bgt tapi syukur deh kalau twist nya ga ketebak.

    Salam kenal juga kak putri 🙂 terima kasih semangatnyaa

    Like

  7. Haha haha ahahahaaduuh
    Jd seyem ini mah. Kepepet bukannya cepet sampai tujuan malah jd diambil makhluk jadi2an .=.
    Sukaa critanya kak qL! Sama kyk kak eci, aku juga suka ama line yg itu..uhuhuhu..

    Like

  8. Apapun bisa terjadi ya… ((abis itu gak mau lewat gang sempit))

    Gak nebak vampir sih :” tapi emang ada yang aneh, kalo ceweknya gak berontak/nangis, kenapa dia diem aja, ternyata lemes diambil darahnya. Dan endingnya pas badannya ilang, serem banget, itu dikemanain.

    Padet dan jelas, bahasanya enak dibaca plus ngerinya kerasa 👍👍👍

    Like

  9. Lah lah lah aku awalnya mikir kalo ini mereka semacam sepasang kekasih yang ngelakuin hal tidak senonoh di gang sempit, terus pas tahu kalo si cewek minta tolong itu jd berspekulasi kalo ini kasus pemerkosaan etaunya….. malah vampir. Anjas bgt plot twist 😦 mana bawa bawa vampir lagi duh gabisa bayangin aku kalo masih ada vampir di kota :’v

    Keep writing btw kak 😊

    Like

  10. Banyak yang ngirain ada pemerkosaan, termasuk aku. Suka banget sama ceritanya, ga ketebak gitu jalan ceritanya. Aku juga jarang baca yang tokoh nya indo. Kusuka fict nya😊

    Like

  11. Wah? Jalan tikus?
    Ngebayangin seremnya .. how dare Kirana did it!
    berinding kak.
    I feel so scary and interested with this story. Next kak.
    Oh ya. LOTB kak. Iam waiting for it!

    Like

  12. Keren banget hahaha aku suka banget sama diksinya yang enjoyable sampe akhirnya nemu ending yang bikin kejebak sama plotnya yang twist. lolll xD aya-aya wae padahal udah serius banget kirain ada kasus pemerkosaan atau apalah gitu hahaha pokoknya ini keren aku suka! ❤

    keep writing!

    Like

    1. Hahahaduuh aku juga ga nyangka ternyata itu bener bener bisa jadi plot twist. Makasih yaa udah suka fiksinyaa ♡♡

      Like

  13. QIQIIIIII omg maafkeun aku baru baca prompt kamuuuu :”(( aseli aku seneng pas liat di komenan writing event tiba tiba kamu udah take prompt, terus udah take prompt selanjutnya pulaaa aku seneeeeng. daaaan as always aku suka cerita kamu yang mana udah bawa bawa something mysterious giniiii hahaha. aku beneran langsung melek pas baca: vampir di jakarta omggggg. aku suka sekalii tulisan dan pengemasannya. keep writing yah qi x)

    Like

    1. FIKAAA sebenarnya aku ga nyangka naskah ini bakal lolos review dan ga tahu juga naskah prompt berikutnya bisa lolos atau engga hahaha.. kayaknya kalau settingnya jakarta atau Indonesianya fiksinya lebih ngena ya di kamu hehe. Makasih fika semangatnyaa 😀

      Like

  14. “Taring panjang si lelaki yang menancap di leher si perempuan.”

    ooh, vampire! a rather pleasant turn of event there ❤

    "Pertanyaannya : apakah mungkin ada vampir di Jakarta?"

    i like vampire. but only if they're fictional thank you very much :")

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s