Obscure Sorrow: Catoptric Tristesse

lonely bird

Celakanya lagi, karakter yang sulit ditinggalkan tersebut bergerak paralel dengan benakku yang gemar memprediksi.

.

© 2016 namtaegenic | picture credit to theschooloflife

.

Aku pernah dilegakan sesaat oleh kalimat “Jangan pikirkan pendapat orang lain terhadapmu. Di dalam benak mereka, ada pula rasa penasaran soal apa yang kamu pikirkan tentang mereka”. Menyenangkan sekali ketika itu. Kubayangkan bahwa apa yang selama ini bersemayam di kepalaku adalah percuma. Bahwa membesar-besarkan hal negatif yang tak pasti hanya membunuh kesenangan.

Kubilang, sesaat.

Melegakanku sesaat—laksana: (1) ketahuan mengantuk di kelas, (2) dan dosenku siap-siap meluncurkan amunisi yang melibatkan porak-porandanya nilai semester akhir, (3) namun  tiba-tiba aku memasang kuda-kuda dengan jurus Batuk Pendistraksi Multifungsi Terutama Waktu Asistensi, (4) lantas apa pun yang diingatnya hanyalah bahwa aku adalah anak dari rekan sesama staf pengajarnya, hingga seketika ia mengajakku mengobrol akrab. Leganya seperti itu, kurang lebih.

Setelahnya ia masih juga memberiku peringatan untuk tidak meneteskan air liur pada diktat—paling tidak, tak tepat di depan hidungnya.

Pada kondisi malas berpikir pun, kurasa aku punya kecenderungan pulang ke titik di mana aku bukan apa-apa. Aku selalu kembali pada spasi kuno di mana aku adalah diriku yang dulu. Tidak berarti aku tak pernah berusaha mencari pembenaran. Jika semua makhluk hidup punya label, sudah pasti ada plang besar Harap Tenang, Sedang Ujian, tepat di dahiku. Harap dipahami, sedang dalam suasana hati yang buruk. Harap dipahami, sedang menjelma jadi siluman kelabang. Harap dipahami, harap dipahami, harap dipahami—kasihan sekali orang yang menampung harapan-harapan menjengkelkan tersebut dariku.

Karakter jelek sulit ditinggalkan. Celakanya lagi, karakter yang sulit ditinggalkan tersebut bergerak paralel dengan benakku yang gemar memprediksi.

Apa yang orang pikirkan tentangku?

Apa mereka pikir aku menyenangkan? Menjengkelkan? Apa mereka pikir aku teman yang baik? Atau teman yang payah? Apakah aku mudah disukai? Atau mudah dilupakan? Apakah jika aku tidak punya sesuatu yang dipamerkan, lantas mereka berhenti membanggakanku?

Lebih jauh lagi.

Apakah mereka membicarakanku dari belakang? Apakah pembicaraan di belakang itu berupa pujian? Atau cemoohan? Apakah mereka bahkan peduli mengenai kehadiranku?

 ‘Mau diapakan lagi’ sudah menjadi frase favoritku sejauh ini. Itung-itung membesarkan hati. Karena kalau bukan aku yang menerima diriku sendiri, tak akan ada rekan yang memulai.

Apakah aku membuang waktu kalian?

Apakah kalian bosan membaca tulisanku?

Apakah kalian akan menarik napas lega ketika kuakhiri ini dengan FIN?

Retoris, pembaca. Retoris.

.

(Tenang saja, celotehan ini) FIN

notes:

catoptric tristesse: n. the sadness that you’ll never really know what other people think of you, whether good, bad or if at all—that although we reflect on each other with the sharpness of a mirror, the true picture of how we’re coming off somehow reaches us softened and distorted, as if each mirror was preoccupied with twisting around, desperately trying to look itself in the eye (source: thedictionaryofobscuresorrows)

 

Diikutsertakan dalam open prompt yang diadakan oleh La Princesa, mengenai Obscure Sorrow. Semoga tidak mengecewakan yang punya acara ^_^

 

 

 

Advertisements

19 thoughts on “Obscure Sorrow: Catoptric Tristesse

  1. Kalau memikirkan apa yang dipikirkan orang tentangku sih nggak bakal ada habisnya. Untuk melarikan diri, aku sering berharap dimengerti, dan ujung-ujungnya aku jadi merasa egois sendiri. Hahaha jadi curhat.
    Makasih ya kakeci, sudah menulis ini. 🙂

    Like

    1. hah bener banget mi. ngabis-ngabisin waktu aja mikirin pendapat orang lain ke kita. cuma emang kalo aku sih selalu ada yang ngeganggu pikiran padahal mah belom tentu juga.
      makasih ami ^^

      Like

  2. semalam aku sempat baca obscure sorrow yg tipe ini, dan kepikiran bikin. haha dan bingo! aku pengin yang ky’ giniii… :3 /kalau aku yang nulis pasti jatohnya malah jelek banget haha/
    terkesan sarkatis dan ngena abiis.

    keep writing authornim ^^

    Like

  3. topiknya harap-harap cemas unlimited aaaaaaaaaaaaaaa
    akhirnya ada yang merefleksikan isi kepalaku yang lebih berisik dari yang punya kepala, meski bedanya, yang didemoin yang remeh-temeh macem kira-kira menurut orang-orang itu jilbabku miring ngga ya? otakku miring ngga ya? meski intinya bahan demoan mereka sama-sama bikin sakit kepala, tapi tulisan kaeci hadir sebagai pelega sakit kepala, yoksi kaeci pancen OYE! ❤

    Like

  4. kakak nulis ini tuh semacam tepat sasaran. aku juga suka penasaran sama apa yang orang pikirin tentang aku. terus ujung-ujungnya insecure, terus ujung-ujungnya nyalahin diri sendiri, semacam… kayaknya w emang menyebalkan deh, geje, dan sok pengen dimengerti. haha. terus kalo udah sadar lagi suka jadi malu sendiri, “dih nisa lebay banget santai ajalah~” gitu.

    nice kak, self-reflection-nya ngena sekali ❤

    Like

  5. Sering banget mikirin orang mikirin aku apa (!?). Anehnya aku gak enak sendiri, takut mereka mikir jelek; tapi pas udah tau mereka mikir jelek, ya biarkan saja, tak peduli. Mungkin hanya butuh kepastian, karena digantung rasanya gak enak ((lah ini kayak nungguin cowok)).

    Suka sekali lah, intronya, endingnya, bahasanya, cerita tentang dosen itu HAHAHA. Kak eci writes it so well 👍👍👍

    Like

    1. bener juga sih. sher. barangkali kita cuma perlu kepastian jadi kita ngga nebak-nebak sendiri. betewe cerita tentang meneteskan liur di diktat itu tidak nyata kok cuma gambaran aja hahaha makasih sher ^^

      Like

  6. KAECI AKU SEDIH 😦 Soalnya semua yang kaka tulis di sini itu aku banget. Apalagi paragaf ini : Apakah mereka membicarakanku dari belakang? Apakah pembicaraan di belakang itu berupa pujian? Atau cemoohan? Apakah mereka bahkan peduli mengenai kehadiranku?

    Sumpah lha tiap kali aku seneng-seneng, guyup rukun(?) gitu sama temen-temen, intinya pas berada dalam fase tertinggi dalam pertemanan(?) aku selalu mikir duh, depannya sih nyenengin, tapi nanti kalo dia dibelakang tahu tahu ngomong yg engga engga gimana :”) Trus ditambah aku itu orangnya bida dibilang cukup negative thinking duluan ditimbang positiv jadinya milih jadi teman yg netral alias gak mihak geng sana ataupun geng sini wkwk

    Dan btw maapkeun komen owe yang dah cem sampah ini kak, bukannya review malah numpang curhat lol. Keep writing kaeci~ suka as always❤

    Like

    1. i know rite? kayak yang aku baru aja ngomong sepatah dua patah trus orang ga respons trus akunya langsung ‘jangan-jangan gw salah ngomong jangan-jangan gw garing’ dan semua jangan-jangan lainnya. dan yah, ini memang curcol sih jadi dikomenin dalam bentuk curcol pun nggak apa-apa hehehe makasih Vi udah mampir ^^

      Like

  7. KAKCI MAAF MERUSUH BUT THIS IS KINDA ME KAK /sok inggris/ /digebuk/
    Secara ga langsung apa langsung tapi entah merasa “kayak aku juga gini” gitu kak.
    But as always aku sukaaaaaa fic kakCi ❤

    Like

  8. aku sendiri tipe yng kayak gthu. mikiran jalan pkiran orang lain. sangking mikirny kadang bikin stres sendiri. agak berlebihan. mungkin aku emang aneh lol awkward. aku orangny emang kaku.
    aniwey, aku baru inget dulu juga pernah nulis salah satu dr obscure sorrow ini, tp bentuknya aku bwt fanfic, huhu

    Like

    1. aku sebenernya nggak kaku sih, cuma kalo lagi kumat banyak omongnya (atau banyak tingkahnya) suka yang ‘ah tar orang mikirnya gue gini gini gini padahal enggak’ hehehe, makasih fatima ^^

      Liked by 1 person

  9. Nabil setuju, sependapat, seiya sekata. Kadang mikir juga apa yang orang lain pikirin tentang kita, terus apakah ada perbedaan saat kita sama mereka atau engga. Tapi ya, sesuai frase mau diapakan lagi, nabil orangnya kadang peduli kadang engga hehe x) /apaan malah curhat sendiri/ maapkeun kaeci/

    Terbaiik yaaa kaecii hihi :))

    Like

  10. Halo, Put ^^
    iya put aku bingung nulis kesedihannya itu kayak apa, barangkali kebiasaan nulis satir-sarkasme makanya kecemplungnya balik-balik ke sana.
    dan yes aku 80% insecurity loh hahaha sedih memang.
    makasih putri sudah mampir ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s