[Writing Prompt] Menjadi Seperti Dirimu

microbiology-163521_1280

DNA

by aminocte

Tak jarang aku gamang. Benarkah ini jalan yang tepat untukku? Benarkah aku ditakdirkan untuk meneruskan seluruh kelebihanmu?

.

Mungkin sudah ribuan kali aku berkata kepada diriku sendiri bahwa aku ingin menjadi seperti dirimu. Aku ingin meniru segala kebaikan yang ada dalam dirimu, yang mampu menempatkanmu pada posisi yang terhormat di tengah-tengah masyarakat.

Pembawaanmu yang tenang membuatmu disegani. Karisma yang kau pancarkan membuatmu dihormati. Kerja kerasmu yang tidak mengenal waktu membuatmu diteladani. Guyonan yang sesekali meluncur dari bibirmu membuatmu disenangi. Kecerdasan dan nalarmu yang senantiasa terasah membuatmu ahli dalam perencanaan dan strategi.

Termasuk strategimu untuk membesarkanku menjadi dirimu versi junior, yang mungkin kau harapkan akan menggantikanmu – tidak, mungkin untuk menjadi sosok yang lebih baik daripada dirimu. Kau percaya bahwa sejak di dalam kandungan, setiap janin harus mendapat perhatian khusus agar tumbuh dengan baik. Kau mengingatkan Ibu untuk senantiasa menjaga asupan nutrisi, bagaimana pun caranya. Kau berganti-gantian dengan Ibu memperdengarkan lantunan ayat suci, agar kelak aku mampu mendaraskannya dengan baik sejak dini. Kau bahkan mengajak Ibu untuk bersama-sama mengerjakan soal-soal matematika agar kelak aku menjadi seseorang yang terasah nalarnya dan cermat perhitungannya.

Kau, tentu saja tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku. Hanya Ibu yang mau membagikan rahasia-rahasia kecil itu kepadaku.

***

Usaha-usahamu untuk membuatku menjadi orang perlahan membuahkan hasil. Sejak kelas 1 SD, aku selalu menjadi nomor satu di kelasku. Piala-piala dalam berbagai ukuran berderet-deret memenuhi lemari di ruang tamu. Aku masih ingat senyummu saat melihat piala ke-21 menghuni lemari itu. Piala itu berbeda dengan pendahulu-pendahulunya, yang hanya mampu membuktikan bahwa aku layak menjadi jawara kelas. Piala itu berbeda karena mampu menjadi semacam bukti bahwa aku tidak hanya jagoan kandang, tetapi juga mampu mengalahkan jawara-jawara dari sekolah lain. Dengan piala itu, aku menutup masa sekolah dasarku dengan manis.

***

Memasuki masa SMP, kau tidak sedikitpun membiarkan waktuku terbuang percuma. Agaknya kau tahu benar bahwa masa SMP juga merupakan masa yang penuh loncatan energi dan rasa keingintahuan dari bocah-bocah menjelang masa pubertas. Masa SMP adalah masa yang penuh bunga, juga penuh duri. Masa-masa itu akan indah bila mampu dijalani dengan semestinya, tetapi bisa menjadi petaka bila dibiarkan berlalu tanpa arah.

Kau mulai mengatur pergaulanku dengan ketat. Aku hanya boleh bergaul dengan mereka yang terjaga prestasi dan kelakuannya. Aku hanya boleh belajar kelompok di rumahku, bukan di rumah teman. Aku tidak boleh berhubungan terlalu dekat dengan anak laki-laki. Aku bahkan tidak boleh menonton televisi di atas pukul enam sore karena acara-acara yang ditayangkan – menurutmu – banyak merusak. Aku menurut saja, lagipula dampaknya sangat baik terhadap performaku di kelas.

Ibu tidak menentang keputusanmu. Agaknya, melihat gurat wajahmu yang keras, Ibu tahu bahwa kau tidak bisa digoyahkan. Sebagai gantinya, Ibu membuatkanku cemilan pengganjal lapar setiap kali aku menghabiskan malam dengan belajar. Ibu juga menghiburku dengan mengatakan bahwa semua yang kau perintahkan adalah untuk mempersiapkan masa depanku.

Piala-piala itu masih sering kuhadiahkan untuk menghiasi ruang tamu – yang sedari dulu selalu kekurangan sesuatu yang menarik. Piala-piala yang dulu, cat keemasannya mulai memudar, tetapi kau biarkan saja. Biar saja seperti apa adanya, katamu.

Aku, lagi-lagi, menurut saja. Apa katamu selalu benar, sejauh yang aku tahu waktu itu.

***

Memasuki masa SMA, aku sudah mulai terbiasa berada dalam kesibukan. Awal masa pubertasku memang sudah berlalu beberapa bulan yang lalu – agaknya karena aku terlalu sibuk belajar. Masa SMA adalah masa untuk pembuktian diri. Eksistensi dan pengakuan adalah hal yang penting. Aku mulai mencoba untuk berorganisasi. Tidak, tidak sebagai pengurus inti OSIS, tetapi hanya sebagai anggota biasa di KIR[1]. Kata teman-temanku, kelompok itu membosankan karena hanya diisi oleh mereka yang tergila-gila dengan sains dan eksperimen. Mereka selalu membujukku untuk mencoba klub Seni yang lekat dengan citra gaul dan asik, alih-alih KIR yang membuat anggotanya merasa puas dengan penelitian-penelitian yang sulit dimengerti. Namun, katamu, KIR tak ubahnya bagaikan mutiara yang tersembunyi di dalam lautan berlumpur. Sedikit sekali yang menyadari kilaunya, tetapi begitu tersibak, tidak ada seorang pun yang menyangkal keindahannya. Kau juga mengatakan bahwa KIR adalah titik tolak perubahanmu hingga menjadi seperti saat ini. Aku percaya saja, lagipula aku bisa melihat buktinya dengan jelas. Logikamu yang tajam serta sepasang matamu yang jeli melihat detail-detail terkecil, pastilah berawal dari kelompok itu, bukan?

Aku menuruti nasihatmu, untuk yang kesekian kalinya. Aku mencoba untuk terlibat aktif. Namun, di antara anggota-anggota lain, aku hanyalah bagaikan sebutir debu elektron[2] di antara gumpalan albumin[3] berbobot besar. Mereka tidak hanya cerdas, tetapi juga berwawasan luas. Sementara wawasanku hanya mampu terbang rendah, terkurung di antara tingginya dinding-dinding kelas. Aku mampu memahami pelajaran dengan cukup baik, tetapi tidak untuk menciptakan solusi untuk sebuah permasalahan. Aku bisa menjawab soal ujian dengan nyaris sempurna – nilaiku masih menjadi yang terbaik di kelas – tetapi aku tidak bisa menyusun hipotesis dan menjawabnya melalui serangkaian penelitian.

Aku nyaris menyerah. Mungkin bakatku bukan di sini, kataku waktu itu kepadamu. Kau menggeleng tidak setuju.

Maka, aku terus memaksakan diri untuk sekadar mampu bertahan. Dari yang sekadar butir debu elektron, agaknya bolehlah bila aku mengumpamakan diriku menjadi seperti glukosa[4]. Suatu molekul[5] yang sederhana, tetapi jelas lebih berbobot dibandingkan elektron yang teramat kecil dan begitu ringan. Ide-ide penelitianku mungkin masih tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka, tetapi cukuplah untuk menjadi syarat bahwa aku layak berada di sana.

Menjelang akhir masa SMA, peraturan yang diberlakukan untukku semakin ketat. Selain mengerjakan tugas sekolah dan mengabaikan acara televisi, kau juga menyuruhku untuk menyelesaikan lima soal ujian akhir dalam satu hari. Bukan, bukan sekadar lima soal, melainkan lima soal per mata pelajaran yang diujiankan: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, dan Biologi. Sesekali kau mengawasiku, memastikan bahwa aku tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. Leher dan otot tanganku kerap terasa tegang, tetapi kau tidak lantas membebaskanku untuk berleha-leha. Kau justru membekaliku dengan satu tube krim analgesik[6]. Katamu, aku boleh memintanya kapan saja aku mau.

“Kalau Rara capek, biarkan saja dia beristirahat. Kasihan dia.”

Sekali waktu, aku pernah mendengar Ibu berkata seperti itu kepadamu. Namun, kau bergeming, tetap dalam pendirianmu.

Aku tertegun. Ibu benar, aku sebenarnya sangat lelah. Aku butuh satu hari dalam satu minggu untuk rehat. Otakku tidak bisa dipaksa bekerja terus-menerus. Aku khawatir kelak ia akan menuntut balas kepadaku yang selalu menzaliminya.

Maka, berbekal hasil curi dengarku waktu itu, aku, untuk yang kedua kalinya melakukan negosiasi denganmu. Satu hari saja dalam seminggu, apakah semustahil itu untuk kuperoleh?

Kau menggeleng keras.

“Tidak bisa,” katamu.

Aku memohon sekali lagi.

“Kalau kamu bersikeras, tugasmu ditambah menjadi dua kali lipat. Baru boleh libur di hari Minggu.”

Sepuluh soal dikali enam mata pelajaran sama dengan enam puluh soal. Dikali lagi dengan lima hari. Tiga ratus soal. Bila kubandingkan dengan strategi sebelumnya yang menghasilkan 210 soal, jelas ini jauh lebih berat. Namun, setidaknya, aku mendapatkan jatah libur. Mudah-mudahan cukup untuk memulihkan energi yang terkuras karena kurang istirahat.

***

Usaha keras dan doaku, dan doa Ibu, dan doamu membuahkan hasil. Aku meraih nilai tertinggi di sekolah. Saatnya mempersiapkan diri untuk Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku memang tidak pernah kau arahkan untuk mendapatkan tiket emas untuk kuliah. Menurutmu, seleksi nasional adalah ajang pembuktian kemampuanku yang sebenarnya. Banyak yang nilai ujian akhirnya tinggi, ternyata tidak lulus. Bisa saja mereka mendapatkan hasilnya dengan cara yang tidak halal, katamu, menambahkan. Banyak pula siswa yang lulus melalui jalur non seleksi, tetapi kualitasnya dipertanyakan karena pihak sekolah sibuk mendongkrak nilai-nilai mereka.

Aku memilih jurusan Pendidikan Dokter sebagai targetku. Pilihan pertama berada di Jakarta, sedangkan pilihan kedua berada di Padang, yang dapat ditempuh dengan dua jam perjalanan darat dari daerah ini. Bukan tanpa alasan aku memilih jurusan yang bergengsi itu. Bukan pula karena gengsinya yang membuat hampir setiap orang tua yang konservatif menjadikannya sebagai sebuah kriteria kesuksesan bagi anak atau kandidat menantu mereka.

Bukankah sudah kukatakan di awal kisahku ini, bahwa aku ingin menjadi sepertimu? Ya, alasanku sesederhana itu. Bersesuaian pula dengan cita-citamu untuk menjadikan aku sebagai penerusmu kelak. Aku berharap kau memuji usahaku, setidaknya satu kali. Aku berharap kau berkata bahwa kau bahagia karena tidak perlu memaksaku untuk meneruskan profesi luhur yang kau jalani. Namun, kau tidak melakukannya. Kau hanya tersenyum setiap kali aku memenuhi target-targetmu, yang pada akhirnya, menjadi targetku pula.

Maka ketika akhirnya aku lulus di pilihan kedua, kau lega. Aku, lega luar biasa, meskipun sebenarnya aku ingin sekali hidup di tempat baru yang jauh dari rumah.

“Kamu perempuan, ada bagusnya juga tidak kuliah di tempat yang jauh. Jakarta itu berbahaya,” katamu waktu itu.

“Ayah dan Ibu cemas kalau kamu kuliah jauh-jauh. Di Padang, kamu bisa pulang setidaknya satu kali sebulan, ‘kan?”

Aku diam saja, mengangguk tanpa suara.

***

Jauh darimu membuatku pelan-pelan mulai melonggarkan jadwalku yang terlampau ketat hingga menyesakkan dada. Aku mulai menonton televisi, sekadar untuk tahu serial yang sedang ngetren saat ini. Aku mulai menikmati budaya pop: film, musik, dan buku. Aku mulai kenal rasanya menghabiskan waktu di luar rumah hingga maghrib menjelang. Aku bahkan mulai memendam rasa kepada salah seorang teman seangkatanku. Setelah sekian lama aku menganggap rasa itu angin lalu yang mengganggu bila dihiraukan, aku membiarkannya mengambil kendali setiap kali aku melihat sosoknya dari kejauhan.

Nilai-nilaiku tidak bisa dibilang buruk, tetapi bukan yang paling cemerlang di antara teman-temanku. Saat kau bertanya, aku menjawab dengan seadanya. Aku bahkan mulai mempertanyakan pentingnya nilai-nilai itu dibandingkan jaringan pertemanan yang baru mulai kubangun dengan serius saat kuliah.

Kau, anehnya, justru tidak banyak berkomentar. Kau bilang aku sudah besar, sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Kukira aku juga seperti itu. Namun, nyatanya, aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena selama ini kaulah yang selalu melakukannya untukku.

Tak jarang aku gamang. Benarkah ini jalan yang tepat untukku? Benarkah aku ditakdirkan untuk meneruskan seluruh kelebihanmu? Benarkah aku kelak akan menjadi dokter sebaik dirimu?

Performa akademisku membuktikan sebaliknya.

Oh, mungkin, karena usahaku yang seadanya.

***

Memasuki tahun kedua, aku kembali mengencangkan ikat pinggangku. Aku memaksa diriku sendiri untuk mencapai batas kemampuan. Aku mengabaikan segala gangguan, termasuk perasaan yang tak jelas kepada lawan jenis. Buku teks, artikel penelitian, referensi-referensi lainnya, kulahap dengan rakus. Tugas-tugas, kukerjakan dengan sempurna. Kegiatan diskusi selalu kuikuti dengan aktif, sehingga perlahan-lahan, dosen-dosen dan teman-temanku mulai memperhatikan diriku.

Salah seorang dosen Farmakologi[7] yang dibenci setengah mati oleh teman-teman seangkatanku karena kedisiplinannya yang berlebihan, justru menyapaku dengan ramah di pelataran parkir kampus. Setelah bertanya basa-basi, beliau memintaku untuk melakukan sesuatu. Untuk pertama kalinya sejak aku kuliah di kampus ini, ada seseorang yang menitipkan salam kepadamu.

“Kamu benar-benar mengingatkan saya kepadanya. Sangat tenang, rajin, juga selalu mengemukakan argumen yang cerdas dalam berdiskusi. Persis seperti ayahmu. Sejak saya mengenalnya waktu SMA, ayahmu memang orang yang seperti itu. Mungkin kamu mewarisi DNA[8]-nya dengan sempurna,” ujar beliau, yang diakhiri dengan tawa ringan.

“Terima kasih, Bu. Salam Ibu nanti akan saya sampaikan.”

Beliau tersenyum dan berlalu dariku sejurus kemudian.

Rasa senang membuncah di dalam dadaku. Akhirnya, untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, seseorang mengatakan sesuatu yang sangat ingin kudengar sejak lama. Aku berhasil meniru jejakmu, mengikuti langkahmu. Dan yang mengatakan hal itu adalah dosenku, sekaligus orang yang mengenalmu dengan baik. Aku tidak bisa lebih senang lagi.

Saat aku menghubungimu pada malam harinya setelah itu, kau terdiam lama.

“Kamu senang?”

Ya, tentu saja. Tentu saja aku senang. Sangat senang, lebih tepatnya.

“Jangan biarkan pujian itu melenakanmu. Kamu harus tetap berusaha keras. Jangan mentang-mentang dosenmu kenal dengan Ayah, kamu bisa lebih santai. Jangan merasa di atas angin hanya karena omongannya itu.

Tunggu, aku tidak pernah berpikiran seperti itu.

“Ayah jangan sok tahu. Siapa juga yang berpikiran seperti itu?”

Astaga, aku bilang apa barusan? Tidakkah kalimat itu terlalu keras untuk kuucapkan kepadamu?

“Hanya mengingatkan kamu saja. Sudah malam, nanti pulsamu habis. Assalamu’alaikum.”

Panggilanku terputus sepihak. Balasan untuk ucapan salammu tak sempat tersampaikan. Percakapanku denganmu seakan menggantung di udara. Menyesakkan. Apakah kau tidak bangga bila aku menyalin semua kebaikan yang ada pada dirimu? Kenapa tidak sedikit pun kau memberikan pujian atas segala usahaku? Kau hanya menyuruhku untuk berusaha lebih keras dan lebih keras untuk mencapai target setinggi langit. Kau abai dengan perasaanku, seakan aku ini manusia berjenis kelamin lain yang tidak terlalu membawa-bawa perasaan dalam setiap gerak-gerik kehidupannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai tidak menyukaimu.

***

Aku mulai membatasi percakapan-percakapanku denganmu sejak saat itu. Hanya kepada Ibu, aku lebih bebas bercerita. Sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak lama, tetapi entah kenapa aku baru bisa melakukannya sekarang. Mungkin karena dulu, aku tidak paham dengan kehendakku sendiri. Sekarang, aku sudah memasuki akhir masa remaja. Setidaknya aku mengenal diriku sendiri lebih baik dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

“Percayalah, Ra. Semua yang Ayahmu lakukan adalah untuk kebaikanmu juga.”

Aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayai kata-kata Ibu. Ibu selalu mengatakan hal yang sebenarnya dengan cara yang lembut dan menenangkan. Namun, aku tidak bisa bila terus-menerus seperti ini. Aku takut jika lambat laun aku menjadi seseorang yang tak berperasaan. Mungkin tidak terlalu masalah jika aku adalah laki-laki, tetapi kenyataannya, aku adalah perempuan. Bukankah perempuan tidak baik bila terlalu mengedepankan logika dan mengabaikan rasa?

“Tapi, Bu, aku tidak habis pikir dengan Ayah. Kenapa untuk memberikan pujian saja pelitnya minta ampun? Ibu ingat, ‘kan, setiap aku juara kelas, Ayah hanya tersenyum? Tidak pernah sekalipun memuji hasil yang kuperoleh.”

“Iya, Ibu tahu. Ayahmu memang orangnya seperti itu. Kamu harus mengerti.

“Apa Ayah malu denganku, Bu? Apakah pencapaianku sampai saat ini belum ada apa-apanya di mata Ayah?”

Sampai titik ini, air mataku mengalir deras. Aku bersusah payah menahan agar aku tidak sampai terisak. Tenggorokanku rasanya nyeri dan panas.

“Bukan begitu. Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”

Aku tidak mampu menjawabnya. Sebagian karena aku memang tidak tahu jawabannya, sebagian lagi karena suaraku seakan terhalang air mata.

Ra?”

“Iya, Bu. Aku dengar. Aku tidak tahu.”

Kamu menangis?”

Aku diam saja.

Mau bicara dengan ayahmu?”

“Tidak, Bu. Tidak usah.”

Bagaimana bisa aku berbicara denganmu, sementara pertahananku telah hancur berkeping-keping?

Ayahmu ingin bicara.”

Aku tidak ingin, tetapi kau tetap memaksa. Aku tidak mengerti lagi. Tidak bisakah menunggu, setidaknya, hingga suaraku kembali normal dan pertahananku kembali utuh?

“Ra, dengarkan Ayah. Tidak masalah kalau kamu tidak mau berbicara. Ayah hanya ingin kamu mendengarkan dengan baik.”

Ya, ya, aku tahu. Cepatlah mulai agar sambungan ini bisa segera berakhir.

Kalau kamu mau tahu, sebenarnya Ayah sangat, sangat bangga kepadamu. Ayah hanya tidak tahu harus mengungkapkannya seperti apa. Mungkin kamu belum mengerti, tetapi suatu saat nanti kamu pasti paham bahwa tidak semua laki-laki bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik.”

Rasa nyeri menyerang tenggorokanku sekali lagi. Aku tidak menyangka bahwa kau justru bangga kepadaku. Setelah sekian lama, mengapa baru sekarang kau mengatakannya?

Lalu, masalah yang terjadi tempo hari. Ayah minta maaf karena sudah menyakiti perasaanmu. Namun, bukannya Ayah bermaksud seperti itu.

“Lalu, apa?” Aku memberanikan diri untuk bertanya karena jeda yang lama terisi oleh hening membuatku jengah.

Ayah tidak suka bila orang lain memuji kesuksesanmu dengan membawa-bawa nama Ayah. Kamu adalah kamu, tidak ada urusan dengan gen atau DNA Ayah atau apa pun itu. Memangnya di dalam rantai double helix[9] itu ada tulisan kesuksesan? Kecerdasan? Ketekunan? Tidak, ‘kan?”

Memang tidak ada. DNA hanya berisikan gula deoksiribosa[10], fosfat[11], dan basa-basa nitrogen[12]. Bukan kata-kata abstrak seperti yang kau sebutkan tadi. Mungkin segala kebaikanmu tidak serta-merta kuteruskan, melainkan kutiru dengan sadar atau pun tidak. Namun, apa kabar dengan ungkapan buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Apakah ungkapan itu hanya omong kosong generasi terdahulu manusia Indonesia?

Kebaikan orangtua memang bisa diturunkan oleh anak-anaknya. Tetapi, Ayah yakin, proses pengasuhan dan lingkungan jauh lebih menentukan ketimbang pewarisan sifat secara genetis. Itu sebabnya Ayah dan Ibu selalu mengusahakan yang terbaik dalam mengasuh kamu. Maaf kalau Ayah terlalu keras dalam mendidikmu. Ayah hanya tidak ingin kamu menyesal kelak. ”

Aku mengigit bibir. Rasanya aku begitu picik telah menilaimu dengan serampangan. Mungkin bukan picik kata yang lebih tepat untuk menggambarkan diriku. Tidak tahu diri, lebih tepat. Atau mungkin, durhaka?

Kamu bisa seperti sekarang karena Allah sayang pada hamba-Nya yang gigih seperti kamu. Bukan karena kamu anak Ayah atau anak Ibu. Kamu mengerti?”

“Ya, Yah, aku paham.” Aku menelan ludah dengan susah payah. “Aku minta maaf, Yah.”

Iya, tidak apa-apa. Syukurlah kalau kamu sudah paham. Sudah dulu, ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Air mataku mengalir lebih deras, tetapi dadaku terasa jauh lebih lapang. Aku merebahkan diri di atas kasur busa, menatap langit-langit kamar yang tampak kabur. Namun, semua yang awalnya kuragukan menjadi tampak jelas, seakan menemukan titik terangnya sendiri.

Ayah, terima kasih karena telah mengizinkanku untuk menjadi seperti dirimu.

Terima kasih karena telah memperbolehkan aku untuk mengikuti jejakmu, tanpa harus membuatku dibayang-bayangi oleh namamu.

Terima kasih untuk sesuatu yang kau wariskan kepadaku, yang menjadi alasan mengapa kisah ini ada.

fin

Catatan kaki:

[1] Kelompok Ilmiah Remaja

[2] komponen atom yang bermuatan negatif. Bobotnya hanya 9.1 x 10-34 g

[3] sejenis protein. Dapat ditemukan dalam putih telur dan darah manusia. Bobotnya 1.103206316 x 10-19 g (albumin manusia)

[4] bentuk karbohidrat yang paling sederhana.

[5] sekelompok atom

[6] pereda nyeri. Krim analgesik contohnya Counterpain, Voltaren, dan sejenisnya.

[7] Ilmu yang mempelajari tentang cara kerja dan nasib obat di dalam tubuh

[8] Deoxyribonucleic acid = asam deoksiribonukleat. Molekul biologis yang menyimpan informasi genetik makhluk hidup.

[9] rantai ganda yang berulir, seperti gambar yang mengawali tulisan ini. Double helix merupakan istilah untuk menggambarkan struktur DNA

[10],[11], [12]  komponen penyusun DNA

 

Author’s note:

  • Cerita terpanjang yang pernah kutulis setelah sekian lama. Mudah-mudahan tidak membuat para pembaca bosan.
  • Banyak istilah ilmiah yang berserakan dalam cerita ini. Mudah-mudahan maknanya masih dapat dipahami.
  • Senang sekali bisa ikut berpartisipasi dalam event ini.
  • Oh ya, gambar diambil dari Pixabay .
Advertisements

14 thoughts on “[Writing Prompt] Menjadi Seperti Dirimu

  1. I AM CRYING OVER A LITTRE OF TEARS!!!
    huhu, aku lemah kalo baca slice of life. Udah wanti2 gabakal baper, eh gagal total. Awal2nya ikut sebel sama Rara di sini, terkekang gitu. Apalagi pas dosennya nitip salam trus dijutekin gitu ama ayahnya. Dduh, nyesek.
    Eh, pas sesi telepon2an terakhir itu bikin ssyyuuung, duh, ikutan mencairr kayak si Rara, mengalir deras air mataku #sroott. Tema perortu2an seperti ini emang tema yang tersensitif sbnrnya. Tapi kak ami bisa mengemasnya dengan zuperr, plus balutan2 istilah sains yang aduhai. Pas banget dibaca pagi2 jumat begini. Berasa siraman rohani :^)
    Oke, oke, makin gaje komen aku. Yang jelas, love u kak, dan keep writing! ♡♡♡

    Liked by 1 person

  2. NANGIIISSSSSS SEPANJANG SUNGAI HAN!! Kak ini mengharukan banget , jadi mikir gimana hubunganku sama orang tua dan apa mereka bangga punya anak kayak aku huhuhu ㅠㅠㅠ

    Dan dengan kata2 ilmiah duh keren sekaliii, umm dosen farmakologinya juga membuatku bernostalgia jaman sekolah hahaha

    Nice fic, Kak Amiiii ♥

    Liked by 1 person

  3. aku nyariiis nangis pas dibagian mereka telepon2an. oh my… sayang banget, tiba2 ada yg ganggu acara membacaku 😦 jadi kepotong sejenak. huhu
    ini emang panjang kak, tapi aku bacanya tuh ngaliiir gitu aja, menikmati banget, ngga pengin cepet2 ketemu kata ‘fin’. 😀
    istilah ilmiahnya,, uh, bikin tambah nyesss, sempurna! :3
    suka banget banget banget sama fic ini.
    bikin mikir apa aku selama ini udah ‘pernah’ banggain ortu atau malah sering bikin kecewa. huhu

    keep writing authornim ^^

    Liked by 1 person

    1. Makasih Anee, mudah-mudahan kita bisa lebih membanggakan orangtua ya. Fic ini jadi instrospeksi juga buatku, mudah-mudahan aku bisa lebih baik lagi.

      Keep writing buatmu juga, ya 🙂 Terima kasih sudah mampir dan membaca.

      Like

  4. NGGA BOSEN SAMA SEKALI KA AMIIII ❤ ❤ ❤
    Ah pedes nih mataku pedes ;-;
    Orang tua, apalagi ayah, kalau lawannya anak cewe tuh apa ya… Jarak itu pasti ada, dan pertanyaan soal -ayah bangga ga ya? -ayah bahagia ngga ya? -ayah malu ngga ya? -ayah seneng ga sih sebenernya punya anak aku?, wah asli pertanyaan yang bisa bikin begadang tapi ngga bakal kejawab, kecuali tanya sama orangnya langsung, tapi kekiiiiiiiii (((mentalku jongkok abis meski rasanya udah lebih akrab sama ayah akhir-akhir ini)))
    Ka ami luwes banget mah ngemasnya, aku berasa liat idupnya temenku, bukan aku–since aku ngga serajin itu (papa maafkan anakmu)–dan wah pastilah ortunya bangga, dan semoga dianya juga bangga-bahagia, seperti si aku ini.
    Dan poin plusnya yang bikin aku suka banget sama karakter cewenya adalah, dia ngga terlalu mengekspos keterpaksaan yang dialami. Siapalah yang ngga bakal jenuh diforsir, meski buat kebaikan, dan di sini Kak Ami eksplor ke 'negatifnya' menurutku takarannya pas, jadi meski ada bibit bibit sebel dan nakal, dan keinginan keluar jalur dikiiit, si 'aku' tetep feel anak berbaktinya dapet. ❤ ❤ ❤ Luv it sekali, selamat ya Ka Ami bisa nulis sepanjaaaaaang ini dan wuenak sekali, KEEP WRITING KA AMIIIII!!! ❤

    Liked by 1 person

    1. Kakpang, kukira komennya satu baris (derita cek komen di notifikasi). Aku lega kalau ini nggak eksplor negatifnya doang. Huhu beneran deh soalnya aku nggak sebaik si aku di sini juga mah.

      Makasih, ya, Kakpang ❤ ❤ ❤ keep writing juga buat Kakpang 🙂

      Liked by 1 person

  5. ami berhasil membuatku mellow di jumat pagi 😦 sebenernya tadi mau langsung komen, tapi aku baper jadinya yaudah komennya ditunda dulu heu.
    kalo boleh jujur tulisan ini adalah yang paling kusuka dari kamu mi ❤ entahlah, emosinya tuh dapet. belum lagi cara kamu ngebawain, cantik banget dan bikin hanyut. konflik ceritanya juga dekat dengan kehidupan sehari-hari, jadi kayaknya setiap orang yang baca ini pasti terkesan :")
    sama kayak rara, aku juga ingin buat orangtuaku bangga. sering bertanya-tanya juga, apa mereka bangga punya anak kayak aku? yang kayaknya sih masih jauh dari apa yang mereka harapkan hehe. pergolakan ayah dan rara juga nyaris bikin aku nangis tadi. somehow aku juga sering kayak begitu sih sama orangtuaku :"
    makasih udah nulis ini mi. aku sukaaa banget huhu. ditunggu tulisan-tulisan lainnya ya ❤

    Liked by 1 person

    1. Kak Nisa, aku mau confess kalau aku nulisnya aja baper..huhu. Ini cerita yang bener-bener menguras emosi juga pas menulisnya, karena walau karakter fiksi, Rara ini tempat aku menumpang untuk berkontemplasi sebagai anak juga.
      Aku senang kalau cerita ini bisa relatable dengan kehidupan pembaca. Makasih banyak ya, Kak, sudah baca dan berbagi tanggapannya di sini. ❤

      Like

  6. Udah baca dari kemarin dan baru sempat komen, maafkan 😦

    Rela balik ke sini karena apa ya SUKA BANGET W SAMA CERITANYA HEU :((( aku paling ga bisa kalo menyangkut orangtua kek gini bawaannya pen nangis. Plus kak Ami(?) Keren banget bisa masukin ilmiah-ilmiahan dalam fiksi gloomy kek gini yatuhan aku bisa apa :(( suka banget kak pokoknya ih❤ keep writing

    Liked by 1 person

    1. Eh, nggak apa-apa kok, nggak usah minta maaf ke akuuu.
      Ini emang tema yang sensitif juga buatku pribadi. Dan soal ilmiah-ilmiahan itu mudah-mudahan nggak bikin kepala mumet. Makasih banyak ya sudah mampir dan membaca 🙂

      Like

  7. NANGISSSS KAK NANGISSSS.

    Ini ceritanya heartwarming banget. Emang sih kadang orangtua yang mengekspresikan sayangnya beda dari ekspetasi memang bikin rasanya agak “gimana sih, masa gak sayang. gak bisa aku lakuin gini dipuji dulu.” Baca ini buat aku inget lagi bagaimana sikap orangtuaku selama ini, apa aku yang salah paham atau gimana. Ini buat refleksi sih bagi aku. Hihi

    Tapi istilah kedokteran atau apapun itu, aku gaaaak ngerti sama sekali itu apa tapi kok rasanya enak aja disempilin istilah-istilah itu.

    Initinya aku suka banget sama tulisannya kak ami yang ini ❤ ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s