Obscure Sorrow: Pâro

dark spiral

credit pic: Len dela Cruz

by aminocte

Banyak rencana, tetapi mengerjakan tugas sederhana saja tidak selesai. Omong besar, tetapi mengurus diri sendiri saja tidak bisa.

Ada suatu saat – seperti malam ini – kala diriku tidak mampu melakukan apa-apa, selain berbaring di tempat tidur. Dalam hening, aku menghitung degup jantung yang lebih cepat dan napas yang terdengar lebih jelas. Sambil lalu, aku memikirkan penjelasanku yang ngelantur tak berujung kepada atasanku atau kritikan-kritikan yang terlalu sering kulemparkan secara sembunyi-sembunyi di kantor. Semuanya kulakukan untuk mengubah sistem di tempatku berada dan, seharusnya, berkarya. Namun, oknum-oknum yang ada di dalamnya merasa benar sendiri. Tidak pernah mau membuka mata, tetapi memaksaku untuk membuka mata lebar-lebar hingga cavum orbita[1] ini hampir koyak. Nyatanya, tidak ada yang bisa kulihat selain kebusukan dan kebobrokan. Oh, ada satu lagi, yaitu masa depan yang suram.

Lalu aku teringat rekan-rekanku yang menjalani semuanya dengan senang dan riang tanpa mengeluh sedikitpun. Mereka masih bisa memanfaatkan koneksi internet nirkabel untuk mengolah penat mereka menjadi gelak tawa. Menonton video standup comedy yang mungkin mereka kira lucu, tetapi menurutku tidak selucu itu. Alih-alih lucu, lelucon yang dilemparkan justru kasar dan uh, sudah berapa kali bunyi bip panjang itu terdengar? Sesekali, mereka berbicara mengenai topik-topik yang superfisial. Aku sesekali menimpali dengan tawa dan komentar. Entahlah, mungkin aku tertawa dan berbaur hanya untuk tidak dilihat aneh. Hanya sebagai syarat bahwa aku masih manusia normal. Sekadar syarat sebagai anggota kaum hawa yang bisa mengikuti obrolan tentang tas mahal dan baju modis. Padahal otakku berderak-derak ribut mengalahkan hebohnya hard disk laptop yang telah uzur. Namun, mereka tidak peduli. Atau mungkin sudah lelah untuk peduli?

Ketika aku tenggelam dalam hening, salah seorang dari mereka bertanya-tanya. Katanya, aku tampak terlampau serius. Katanya, aku harus lebih banyak tersenyum. Bagaimana bisa aku tersenyum kalau tugas konyol yang ia bebankan kepadaku tempo hari belum juga selesai? Bagaimana aku bisa santai bila banyak yang harus kuperbaiki menurut kehendak hatinya? Rasa-rasanya bukan aku saja yang bekerja untuk tempat itu, melainkan juga dirinya, tetapi kenapa ia bisa menyuruhku sekehendak hati seakan hanya akulah jongos di sana?

Bukan begitu, harusnya begini. Aduh, kamu ini bagaimana, sih, sudah dijelaskan, masih juga tidak mengerti. Kita kan baru, jadi semuanya harus dikerjakan seefisien mungkin. Kalau seperti ini, jadi kerja dua kali, ‘kan?

Ah, tetapi terserah kamu sajalah. Kan kamu koordinatornya? Aku hanya bisa memberi saran dan masukan.

Oh, ya, jika aku koordinator, lalu ia siapa? Apa haknya untuk berlagak menjadi bos di tempat ini? Saran macam apa yang seakan memojokkan seperti itu? Masukan macam apa yang terdengar seolah meragukan kapabilitasku untuk bekerja di tempat itu? Saran dan masukan apa yang terdengar bagaikan gugatan bahwa junior sepertiku tidak pernah mampu untuk mengatasi masalah dengan efektif dan efisien? Kalau memang aku tidak mampu, mengapa tidak dia saja yang menjadi koordinator untuk semuanya? Atasan kami pasti setuju. Karyawan kesayangan, gitu lho.

Yah, meskipun di tempatku bekerja itu, antara karyawan kesayangan dan kacung itu bedanya sangat tipis.

Tentu saja, semua kalimat itu tidak bisa kulontarkan langsung kepadanya. Dengan kata-kataku yang mungkin lebih pedas daripada cabai habanero[2], ia pasti tercengang. Mereka, rekan-rekanku yang lain pasti tercengang juga. Ia mungkin akan mendesak atasan kami untuk memberhentikanku karena aku tidak punya sopan santun kepada rekan kerja yang lebih tua.

Jadi, ideku untuk menyengatnya dengan kalimat bervoltase tinggi itu terpaksa harus tersangkut di langit-langit kamarku, yang berpulau-pulau karena rembesan air hujan.

Setidaknya, aku bersyukur bisa pulang ke rumah. Rumah yang benar-benar rumah, bukan hanya tempat melepas penat untuk sementara waktu. Terkadang aku mengeluhkan pekerjaanku dengan bahasa dan istilah yang rumit, dengan kritikan yang tajam seakan aku ini sudah dewasa dan matang dalam artian sebenarnya. Aku akan mendapati orangtuaku memahami persoalanku. Mereka selalu memberikan pertimbangan ini-itu.

Kamu tidak perlu terlalu memikirkan semuanya. Toh, kamu di sana baru dalam masa percobaan.Mereka saja tidak ambil pusing, kenapa malah kamu yang menganggap semuanya terlalu serius? Anggap saja ini permainan pengisi waktu. Bukannya kamu bosan menganggur?

Iya, aku tahu, tetapi bagaimana bisa aku melewati semuanya tanpa berpikir? Aku justru harus memikirkan semuanya. Bila aku tidak mau lagi berpikir, itu justru pertanda buruk bagi diriku. Menjalani semuanya seperti mesin tanpa kecerdasan, seperti yang pernah kualami selama menunggu kesempatan kerja? Aku tidak mau mengulanginya lagi.

Mereka berdua, orangtuaku, semakin jarang menuntut. Mungkin karena aku sudah bisa memiliki penghasilan sendiri. Mungkin karena aku tidak menuntut uang saku setiap bulannya. Mungkin karena mengirimkan rupiah ke rekeningku bukan lagi kewajiban yang harus mereka tunaikan.

Namun, tetap saja, sedikit kemandirianku secara finansial bukan berarti aku serta-merta dianggap dewasa oleh orangtuaku, terutama ibuku. Setiap Minggu, beliau akan mendapati kamarku dalam kondisi sangat-sangat berantakan, mengalahkan kamar bujangan yang merana di penghujung bulan. Oh, maafkan aku, Bu. Otakku terlampau sibuk memikirkan hal-hal besar sehingga lupa untuk mengurusi hal-hal kecil. Lagipula, tipe kepribadianku memang sering diasosiasikan dengan slengekan dan malas. Kuharap kemalasanku ini masih dalam batas wajar. Aku hanya butuh desakan kecil dari dalam hatiku untuk memulai semuanya. Begitu aku memulai, biasanya akan sulit bagiku untuk berhenti sebelum selesai.

Namun, ibuku tidak mau tahu. Beliau selalu hendak turun tangan untuk mengembalikan kamarku seperti semula. Aku menolak karena bukankah ini kamarku? Kamarku berarti tanggung jawabku, bukan? Beliau sudah terlalu tua untuk mengurusi aku yang sepertinya belum juga sedewasa yang seharusnya.

Jangan merasa bisa, toh kalau tidak diingatkan kamu juga tidak tahu.

Aku bukannya merasa bisa. Aku memang bisa melakukannya kalau ibuku berkenan memberikan kesempatan. Aku juga butuh ruang untuk bertumbuh dan memperbaiki diri, bukan?

Kamu mikirnya suka kejauhan, aneh-aneh, kedengarannya pintar. Tetapi membereskan kamar saja tidak bisa.

Aku hanya bisa diam. Meskipun ibuku akhirnya meninggalkanku sendirian, tetapi ucapan beliau seakan menggema di dalam rongga tengkorakku. I just tried to be considerate. Aku hanya ingin sedikit memahami perasaan beliau dengan kapasitas perasaanku yang terbatas. Namun, beliau tidak mengerti. Beliau menganggap aku tidak punya kapabilitas untuk memikirkan hal-hal besar karena melaksanakan kewajiban harianku saja aku tidak mampu.

Maka dengan dua memori yang menyeruak itu, malam ini, aku menikmati penderitaan yang kuundang sendiri. Aku memang selalu salah. Aku tidak pernah bisa melakukan hal yang benar. Aku hanya tinggi angan, minus aksi nyata. Banyak rencana, tetapi mengerjakan tugas sederhana saja tidak selesai. Omong besar, tetapi mengurus diri sendiri saja tidak bisa.

Aku tidak peduli lagi dengan hati yang terluka dan perih tanpa mengeluarkan darah. Aku tidak peduli lagi dengan kepalaku yang seakan dihantam buldoser, tetapi tidak hancur. Aku tidak peduli lagi dengan pandangan yang seakan berkabut meski lensa mataku baik-baik saja. Aku tidak peduli lagi dengan denyut jantungku yang berkejaran padahal aku tidak didiagnosis menderita takikardia[3]. Aku tidak peduli lagi dengan napasku yang tersengal padahal sekelilingku bukanlah ruang hampa udara.

Aku mungkin tersesat jauh dari jalan yang biasa ditempuh orang lain karena diriku yang memaksa untuk mencari jalan lain yang lebih sepi.

Aku mungkin tidak mampu memenuhi ekspektasi dari semua orang karena diriku yang memaksa untuk melakukan berbagai hal dengan caraku sendiri.

Namun, mengapa mereka tidak mengerti?

Mengapa mereka, alih-alih memahami, justru menghakimi?

 

fin

pâro

n. the feeling that no matter what you do is always somehow wrong—that any attempt to make your way comfortably through the world will only end up crossing some invisible taboo—as if there’s some obvious way forward that everybody else can see but you, each of them leaning back in their chair and calling out helpfully, colder, colder, colder.

Catatan kaki:

[1] (bahasa Latin) rongga mata

[2] salah satu cabai terpedas di dunia (100.000 – 350.000 SHU/Scoville Hotness Unit), berasal dari Amerika Selatan dan banyak dihasilkan di Meksiko (Wikipedia).

[3] suatu bentuk ketidakteraturan irama jantung yang ditandai dengan frekuensi denyut jantung yang sangat cepat, melebihi 100 kali/menit.

Author’s note:

  • Terima kasih buat Kak La Princesa atas prompt-nya yang menantang. Menantang karena membuat siapa pun yang menulis ini harus jujur pada diri sendiri.
  • Meskipun demikian, aku nggak bisa mengatakan bahwa solilokui ini 100% kisah nyata, pun 100% fiksi. Aku hanya berusaha untuk menghadirkan apa yang sebenarnya kurasakan, dan kurasa itu cukup.
  • Kuharap solilokui ini mampu menggambarkan kata pâro itu sendiri.
Advertisements

8 thoughts on “Obscure Sorrow: Pâro

  1. “Mengapa mereka, alih-alih memahami, justru menghakimi?”–big hands buat ka ami bikos isi kepala saya dibawa kemari. Ini rasanya uda gatahan mau ngeprint trus tempelin ke muka mereka satu-satu bikos saya bukan nabi juseyo 😦 I really am doing mabest for y

    Setandar makes us suffer sometimes, bikosof its difference. Ada masa-masa di mana kita mau sebodo amat lah kalau masi belum puas juga toh ini uda usaha paling maksimal, tapi malam-malam gabisa tidur itu racun banget aslik apalagi buat topik macamini… Dipaksa nelen obat pait lagi 😦

    well, tidak memungkiri fakta bahwa kadang aku juga jadi pihak yang menindas (?), karena kalau misal sesuatu ngga sesuai setandar aku bakal mencak-mencak, dan, haaaa mulai hari ini mungkin harus mengeksekusi perasaan itu dengan lebih alus bikos not everyone setrong enough untuk nerima mencak-mencakku hm

    OHHHH dan well, jadi kalau ketidaknyamanan ini datang aku sudah bisa menafsirkan as Paro~ Thanks a bunch to Ka Amiiii ❤ keep writing kak hahahasek ❤

    Liked by 1 person

  2. Hanya tinggi angan, minus aksi nyata… ((bentar, merenungkan rencana-rencana selama liburan ini))

    Ini lebih ke arah yang… meledak? Definisinya seakan-akan nyalahin diri sendiri, tapi kak ami nambahin pemberontakan dia yang kayak, “Kenapa sih semua orang kerjanya protes!?”

    Nice one kak ♥♥

    Like

  3. Aku mungkin tidak mampu memenuhi ekspektasi dari semua orang karena diriku yang memaksa untuk melakukan berbagai hal dengan caraku sendiri.

    Kak ami, I had a feeling like that too one day huhu. Kayak dikasih tanggung jawab tapi begitu kuberesin mati-matian malah pengen diubah total di saat-saat mepet, padahal sebelumnya bilang ga ada masalah /eh kenapa curcol/ anak sma puyeng ulangan biasa wakaka/

    Dan as always ya, selalu informatif ceritanya 🙂 nabil suka gimana kak ami menyisipkan kata baru dalam tulisan yang jatuhnya bukannya bikin puyeng tapi malah ninggalin charm beda hihi x)

    Like

    1. Nabil, aku jadi terhura~~ aku sampai sekarang masih begitu sih. Udah mepet-mepet baru pengen mengubah total, ya, mana bisa? 😀
      Aku senang kalau kata-kata baru(?)nya nggak bikin puyeng.

      Semangaat Nabil 🙂

      Like

  4. Aku hanya tinggi angan, minus aksi nyata. Banyak rencana, tetapi mengerjakan tugas sederhana saja tidak selesai. Omong besar, tetapi mengurus diri sendiri saja tidak bisa.

    Wowed banget aku kak. Kalimat-kalimat di atas bikin aku langsung ngebookmark ini. Mungkin aku lagi dipenuhin ego anak sma yang maunya bener mulu malahan ikut baper dan ngerelate cerita ini. fyi aja kak, sebelum aku baca ini aku ngalamin pâro tapi aku gatau gimana jelasinnya. Yang aku tau cuman ngerasain ‘gini’ setelah ngumpulun kejadian ini-itu yang aku hadepin. Tapi setelah baca ini aku jadi lebih tau apa yang aku lagi rasain and it feels good loh kak nemuin sesuatu yang bener-bener relatable sama kita (yang i found that this is what I really need). makasih banget lo kak

    terus esensi yang aku dapetin dari cerita ini adalah how si aku bener bener desperate ttg cara jalan pikirannya beda sama orang lain dan ga diterima sama lingkungannya. dan si aku ini yang punya ego tinggi ngerasa dituntut society buat ngelakuin ini itu dan mau ga mau ngerasa terbebani dan goyah. tapi masalahnya dia terlalu yakin sama pikirannya sendiri dan ga mau diruntuhin. tapi entar balik lagi ke masalah society. itulah yang bikin si aku ini pusing dan malah tenggelem dlm pikirannya sendiri. at least thats how i felt kak.

    duh, maaf ya kak kalo aku terkesan sok pinter dan tiba tiba nongol. lagi galau kak, butuh tempat pencurahan hati. wkwkkw

    Liked by 1 person

    1. Halo, (how should I call you?)
      Aku terharu banget lho baca komenmu. Dan nggak nyangka kalau tulisan ini bisa membantumu sedikit banyak (karena aku merasa terlalu banyak menumpahkan perasaan di sini). Setiap orang mungkin pernah mengalami hal seperti ini ya, dan mungkin yang bisa dilakukan adalah mencoba berdamai dengan lingkungan sekitar (karena kadang idealisme kita nggak selalu diterima). Ada hal-hal yang sebenarnya bisa dinegosiasikan, yang mana kalau terlalu kukuh dipertahankan malah jadi bikin sengsara diri sendiri. Ada fase-fasenya, kok, aku juga pernah mengalami hal yang dirimu rasakan, jadi kamu nggak sendiri, tentunya. Semangat dan semoga badai cepat berlalu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s