[Writing Prompt] Hilang

hilang

1998

by Adelma

.

Kami seperti dijahati di rumah sendiri, ditindas oleh saudara senegeri.

.

“Ini hari apa?”

“Kamis.”

Ibu sudah jarang sekali menangis.

Aku takjub melihat sosoknya yang sekarang, ia tampak begitu tegar dan bersemangat. Kalimat-kalimat yang diucapkannya selalu postif dan optimis. Mulanya aku berpikir jika Ibu hanya pura-pura kuat, tapi lambat laun aku malah merasa bersalah karena sudah berpikir seperti itu. Kenyataannya, Ibu sudah benar-benar ikhlas, yah, ikhlas dalam artian menerima kenyataan tanpa diiringi tangis, bukan dengan melupakan dan membuang segala peristiwa dan kesakitan yang pernah dilaluinya. Ibu telah bangkit, menebarkan keyakinan bahwa ratapan takkan membawa kami ke mana-mana, sebaliknya, hanya akan membuat kami terjebak di petak yang sama.

Adi Narendra[1] adalah kakak laki-lakiku, selalu menjadi kebanggaan Ibu dan Bapak sampai kapan pun. Kendati otakku hanya memuat sejumput memori tentangnya, aku tetap yakin jika ia adalah orang yang hebat. Kami seakan terus merasakan presensinya jauh di dalam hati kami, bersamaan dengan semangatnya yang terus-menerus berkobar tanpa takut dipadamkan waktu. Kami terus berjuang untuk haknya, tak lupa sambil berdoa agar ia selalu berbahagia kapan pun dan di mana pun ia berada.

Keputusasaan tentu pernah membelenggu dan nyaris membuang iman kami; membuat kami tersesat dan tak percaya pada eksistensi keadilan. Tuhan seakan menutup mata dan telinga, sedangkan para manusia seolah habis rasa empatinya. Bantuan hanyalah wacana, apologia yang mengudara adalah palsu karena pada prakteknya mereka tak pernah peduli pada apa yang telah terjadi.

Kami seperti dijahati di rumah sendiri, ditindas oleh saudara senegeri.

Sejatinya tak ada yang kami inginkan selain kepastian. Kepastian di mana Adi Narendra sekarang berada, pun tentang hidup dan matinya. Harapan kami seperti potret langit yang menggantung tinggi; senantiasa terlihat, sulit digapai, tapi mustahil untuk diabaikan begitu saja. Kami telah menanggung pedih yang besar atas penantian dan kehilangan. Kami merindukan Adi Narendra yang dibawa pergi, kami ingin ia segera kembali.

“Siapkan baju dan payung Ibu, kamu boleh ikut jika sedang tidak sibuk.”

“Aku tidak sibuk.”

Mungkin dulu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi. Tapi dengan seiring berjalannya waktu, duka yang menyelimuti seolah menular dan membuatku paham tanpa harus menyaksikannya sendiri. Kini aku mengerti tangis apa yang Ibu selalu tumpahkan di sepertiga malam, kini aku tahu untuk apa pakaian dan payung hitam yang selalu Ibu siapkan di Kamis pagi. Kami telah menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia yang mana rintihannya tak pernah didengar. Surat-surat yang dilayangkan hanyalah sampah karena sampai detik ini kami tak pernah mencicip rasa empati dari mereka yang setiap saat berlagak amnesia.

Tapi, yah, kami tidak peduli. Kami yang haus akan keadilan ini takkan pernah diam. Kami akan terus berdiri. Untuk menolak lupa, untuk merawat ingatan tentang tragedi yang mustahil terhapus, pun untuk melanjutkan perjuangan yang sempat tertunda. Hak kakakku dan ke-12 orang lainnya akan terus diperjuangkan. Wajah-wajah mereka akan terus terpampang di depan Istana, menampar siapa saja yang berniat kabur dari sejarah mengerikan yang pernah hadir di negeri ini.

Dulu, Bapak tak pernah absen menemani Ibu—atau kami, setelah aku memutuskan ikut—untuk berjuang. “Aparicion con vida! Lepaskan mereka hidup-hidup![2]” begitu katanya. Tapi sayang, perjuangan beliau harus terhenti sejak dua tahun lalu. Bapak meninggal karena penyakit jantung, dan di saat-saat terakhir pun nama Adi Narendra tak lekang ia sebut—pertanda jika kami tak boleh lengah dan lelah dalam memperjuangkan haknya.

“Kembalikan mereka! Bawa jenazah mereka! Agar mereka tidak mati sia-sia…[3]” Beberapa langkah di depanku, Ibu berorasi dengan suara bergetar tanpa mempedulikan tubuhnya yang ringkih ataupun rambutnya yang putih. Dan aku, hanya bisa tersenyum dalam diam sambil yakin kalau kakakku pasti bangga memiliki Ibu sepertinya.

.

“Adi Narendra. Hilang. Mei ’98[4]

 .

-fin.

[1] Tokoh fiksi.

[2 & 3] Kutipan dialog di dalam film pendek “Kamis ke-300″ :

[4] Kutipan monolog di dalam lagu “Hilang” milik Efek Rumah Kaca, nama diubah untuk keperluan cerita:

Advertisements

26 thoughts on “[Writing Prompt] Hilang

  1. Yaampun entah kata apa lagi yang mau aku tulis buat mendefinisikan apa yg kurasain tapi kak… aku mau ngomong kalo ini petjaaah banget astaga orz

    Entah kenapa aku suka banget sama fiksi yg ngangkat tema-tema gloomy, politik, atau pokoknya yg berbau kayak gini /ha

    Terus kakak ngemasnya juga epik banget as always, aku jadi hanyut ;; keep writing kak 😊

    Like

  2. Aku merinding disko pas nyentuh kata fin.

    Ngebayangin salah satu keluarga kita yang mendadak hilang itu, ah entahlah, aku pikir itu seberat2nya ujian dunia. Apalagi hilang karena tawanan atau korban kayak cerita ini. Uh, aku pkir di masa depan nntinya peristiwa mirip sperti mei 98 akan kmbali trulang ~.~

    Ah, ini zuperr gloomy-nya. Trimakasi kak buat critanya 😀

    Like

  3. Oke Kak…. just feels a bit horror karena nama tokoh nyerempet sama kayak namaku /digampar/
    Tapi kejadian 98 such a terrible tradegy kak /sok inggris/
    Sampe sekarang pun aktivis yang hilang masih belum ketemu dan bener2 ngeri banget kak kalo diinget ==”
    Tapi emang kak, kalo misalnya kita kita nuntut keadilan serasa percuma saja. Kayaknya ga bakal didenger /malah ngomongin politik/

    Okay kak abaikan komen di atas….
    Pokoknya intinya ini menarik dan aku suka kak ❤

    Like

  4. Aku suka bagaimana Kak Nisa membawakan cerita ini setenang tokoh Ibu, di tengah-tengah aura cerita yang gelap dan pekat (karena isu yang dibawa dalam ceritanya). Namun, tenangnya Ibu bukannya berarti menyerah, justru sangat kuat dengan caranya sendiri. ❤

    Dan setuju sama Kak Putri, dibandingkan cerita-cerita kakak yang sebelumnya, ini nggak sefrotal yang biasa. Tetapi aku bukannya menganggap bahwa cerita ini kurang. Dan jujur aja, aku ikut terbawa suasananya, ikut diam mengenang kejadian yang sampai sekarang masih belum putus perkaranya itu.

    Like

  5. mau komen bingung, ngga komen sayang 😦
    kekaleman kakak dalam nyamapiin cerita ini tuh bikin anyel ketemu kata fin. maunya lagi dan lagi, yang panjang… hehe /ditabok/

    udah terlanjur jatuh cinta sama tulisan kak nisa, jadi yaa… bingung mau komen apalagi. huhu
    keep writing kakak ^^

    Like

  6. jaman skarang hak asasi makin dikoar2kan, tp dalam aplikasinya, banyak kasus yng masih digaris. ga tahulah itu salah siapa. apa kelompok orang yng tiap hari peringatan kumpul di depan dewan pengadilan kurang keras meneriakan tuntutan. atau para penyelidik yng kurng bekerja keras meruntut peristiwa yng terlewati. atau pak hakim yng kurang bukti untuk menentukn siapa yng berhak diminta pertanggung jawaban. dan dari smua ketidakpastian dan keabu-abuan kasus ham yng belum terpecahkan itu, smoga para pahlawan muda itu tidak mati sia2. tidak habis tunas2 smangatnya :’)

    Like

  7. I literally am cengo for a moment when I reached ‘Mei 98’
    .
    .
    .
    aaaaaaaaaaaaaku lemah kalau urusannya soal mereka yang ‘hilang’ kerena menyuarakan apa yang mereka-yang-lain-yang-lebih-panjang-dasinya tidak sukai… somehow, meski bukan thrill, bukan kemarahan, tapi keharuan yang kali ini ka nisa nyodorin aku tetep…..ahsialanakumahlemahbanget lututku gemeteran kalo misal baca sambil berdiri lyke seriously, contohnya tiap kasus Munir diangkat-angkat ke permukaan aku paling ga tega mau ngikutin karena apa? Karena ini~~~ Kasusnya sih mungkin dihilangkan, tapi lukanya keluarga tuh kan mposibru :’

    KA NISA NIH MAH MAU GALAK MAU KALEM TETEUP BADAYYYYY ❤ ❤ ❤

    Like

  8. Aku setuju sih sama kak ami, Kak nisa bawainnya santai tapi bernyawa/kuat gitu, kayak ibunya. Dan suka banget gimana karakter ibu (dan keluarganya) ini diceritain dari sisi anaknya yang pas taun 98 mungkin belum terlalu ngerti.

    Terus line terakhirnya bikin merinding, kasian, serem sendiri. Epik sekali deh kak 👍👍👍

    Like

  9. dari awal udah agak nebak kalau kak nisa bawain cerita tentang aktivis yg hilang di tragedi ’98 dan bener! wah keren banget kak!!! coba tulisan kakak dimuat di koran kompas edisi cerpen yang terbit tiap hari minggu. /apa ini/ hehhehe

    dari awal aku suka banget cara kaknis memulai isi cerita. alurnya juga pas banget. bikin pembaca nyaman baca sampe abis. aku gatau kenapa tapi aku rasa kaknisa lebih juara kalau nulis orific. walaupun sebenernya kalau bikin fanfic juga sama bagusnya x) tapi kalau setiap baca orific kaknis aku lebih ngerasa jiwa kakak lebih hidup disini (sotoy banget ya aku) ahhh pokoknya ini fresh! aku seneng kak nisa sekarang lebih produktif di orific! x)

    mau namanya theboleroo atau aDelma. tetep aja aku selalu ngefans sama tulisan ansdwyt.

    makasih udah jadi salah satu inspirasi aku di dunia tulis ya kak!!! setiap baca fic kakak rasanya, niat pengen nulis selalu tumbuh, tapi apa daya semua akhirnya cuman jadi wacana:’)

    xx

    Like

    1. aiiih cerpen kompas >< masih belum layak saaar huhuhu masih harus belajar lagi. makasih banyak lho udah baca, plus komennya yang selalu menjadi moodbooster :")

      Like

  10. iya put huhu abis topiknya sensitif, makanya aku bawainnya ga meluap-luap soalnya takut nggak kontrol ;____; makasih banyak ya udah bacaaaa, maaf baru balas 🙂

    Like

  11. hooked. literally. like, GD GORGEOUS GLOOMY AND DARK AND SAD BUT GORGEOUS ASDFJKLH LOVEITLOVEITLOVEIT

    ((kepslok off))
    ((kabur))

    Like

  12. ikut hanyut. nyampe sampe kalbuuuuu. ga tau ceritanya orang-orang yang ‘hilang’ itu tapi ikut sedih aja :”

    Like

  13. Suka sama setiap kata-katanya, kayak bikin merinding gitu deh. Idenya juga waw, mengulas tahun 98 yg isinya campur aduk/? ((padahal pas itu belom lahir, hehe)).
    .
    .
    ((tau kok telat banget baca karya yang sebagus ini))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s