Obscure Sorrow: Mauerbauertraurigkeit

child-961270_960_720

by Ms. Pang

I’m okay, and I will be back soon.

Bagaimana sih caranya jadi orang baik?

Aku lupa.

Hanya ingat hari ini ingin bermanja-manja minum kopi creamy latte di seberang kantor pegadaian, sekalian mengkhatamkan novel terjemahan best seller—yang baru kemarin kujemput dari rak toko buku dengan gaji pertama—lalu pergi nonton. Sendirian. Biar kuingat-ingat di mana letak kesalahan yang membuat namaku jadi trending topic, lengkap dengan label egois, di chatroom grup sejak dua jam lalu. Sejak seseorang—yang menyandang status teman-cukup-akrab, kebetulan datang ke kafe yang sama dengan kekasih barunya—menyapa dengan pandangan menyelidik yang agak tajam. Well, entah eyeliner-nya yang ketebalan, atau memang pandangannya yang sinis, aku kurang jeli untuk menafsirkan detailnya.

Tidak, aku tidak pernah peduli mau disebut egois, introvert, atau tidak setia kawan—masa bodoh—tapi kalau sampai ada yang menerobos wilayah pribadiku, itu yang aku pedulikan.

Hei, aku manusia biasa yang juga bisa penat dengan keramahan yang disodorkan ke wajahku terus-menerus. Aku juga belum melupakan teori makhluk sosial yang disampaikan di kelas Sosiologi. Tapi kenyataan bahwa aku dilahirkan dari rahim ibuku seorang diri, membuatku bertanya-tanya di mana letak kesalahan dari memanjakan diri dengan secangkir latte dan novel baru, sebelum masuk liang lahat—lagi-lagi seorang diri?

Hari ini rencananya aku akan berdialog dengan rakyat imajiner penghuni tempurung kepala yang sudah terlampau lama diabaikan. Untuk itu aku mengadakan sedikit perubahan prioritas, dengan menggeser apa yang lazimnya kulakukan menjadi nomor dua. Bukan perubahan yang menggemparkan, mengingat yang satu itu sudah sering dianakemaskan.

Bukan berarti karena memilih menuruti dorongan absurd—soal membahagiakan mereka yang tak nyata dalam diriku—lantas aku tidak menghargai perhatian yang sudah kuterima di lima per tujuh hari kemarin. Tahu benar kepedulian bukan barang, dan tidak pantas dipermainkan. Oh ayolah, aku tidak seacuh itu, sebenarnya.

Saat gamang, aku cenderung memilih untuk menghilang. Menjauh, sembari berdiskusi dengan ego yang merengek minta diperhatikan, lalu perlahan mengembalikan semuanya ke titik netral dengan jalur damai. Semata agar tidak ada yang kena getahnya, dan setelah ego sudah berhasil dilunakkan, maka semuanya akan kembali seperti sedia kala, dan aku siap berinteraksi lagi dengan dunia luar. Mungkin terdengar irasional, tapi inilah caraku untuk menyeimbangkan keadaan.

That’s why, once in a while, I just spend the whole day simply by drowning myself in front of a silly comedy show, and leave my smart-ass-phone alone.

Ada kalanya aku datang ke kampus, dan enggan menyapa siapa pun. Cukup datang, masuk kelas, mendengarkan tausiah dosen, catat materi, lalu pulang. Memperlakukan diri sendiri layaknya orang asing.

Apa yang kulakukan ini bukan pertanda bahwa segalanya akan berakhir dengan aku mengacuhkan orang-orang di sekitarku selamanya. NopeIt’s just for a moment. Lalu segalanya akan kembali seperti sedia kala.

Sudah pasti hal ini akan terulang lagi, lalu aku juga akan kembali seolah tak terjadi apa-apa—karena memang tak ada apa-apa. Karena aku hanya butuh waktu untuk sendiri, sebelum kembali.

It’s okay, it’s normal. That’s what I’m trying to say to you, right now.

.

Mauerbauertraurigkeit

(n) the inexplicable urge to push people away, even close friends who you really like—as if all your social tastebuds suddenly went numb, leaving you unable to distinguish cheap politeness from the taste of genuine affection, unable to recognize its rich and ambiguous flavors, its long and delicate maturation, or the simple fact that each tasting is double-blind.

~끝~

PANG’s Notes:

  • Dalam rangka mengikuti open prompt milik La Princesa
  • Sorry not sorry isinya setengah aib setengah curhat colongan.
  • Semoga setelah ini ngga di-nuguya-in Kaput.
  • Aamiin…
  • Credit Pict: pixabay
Advertisements

19 thoughts on “Obscure Sorrow: Mauerbauertraurigkeit

  1. Wuoohh..Kakpang, kali ini gantian aku yang pengen bilang makasih karena terkadang aku butuh sendiri di tengah-tengah lingkungan yang berprinsip bahwa ‘sendirian itu nelangsa’. “Kok sendirian aja?” “Nggak bosan ya sendirian?” “Sini gabung sama kita.” Pada situasi-situasi tertentu aku ingin berterima kasih sama orang-orang yang baik hati itu, tetapi di situasi lainnya… semuanya menjadi kompleks.
    It’s okay to be alone, but it’s not okay to be lonely, perhaps.
    Muchas gracias, Kakpang~~~ aku mau dong ditraktir latte satu cangkir 🙂

    Liked by 2 people

    1. semenjak mengenal obscure sorrow, aku tidak lagi membully diri sendiri (?) terima kasih dictionaryofobscuresorrows dan kaput <3456789
      Bikos awal-awal begini bawaannya pengen ngelabrak diri sendiri, tapi juga mau bela diri sampai darah penghabisan (oke apa ini) lyke aku masi suka ko sama mereka, aku ngga marah, aku ngga kenapa-napa, cuma mau sendiri aja ._.

      yuk kak mumpung bentar lagi Februari, kaliaja bisa hunting promo beli latte dapat jodoh ❤
      sankyou a lots ka amiiii ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. This!
    Ini sih 100% akurat buat aku. OMG kakpang ;___;
    Aku sering banget disalahpahami karena aku suka tetiba ngilang dan ngejauh. Padahal nggak gitu, aku ngelakuin itu sebenernya buat mereka-mereka juga.
    Katakanlah, dengan sendirian aku tuh kayak recharge energi yang abis setelah kemarin-kemarin bergelut dengan berbagai macam manusia. Dan kalo dirasa energinya udah penuh, aku pasti bakal muncul lagi. Tentu dengan mood yang lebih oke dan isi kepala yang nggak berisik. Hehehe.
    Asli deh kakpang ini relate banget sama aku :”) aku bahagia banget bacanya HAHAHAH thanks sudah menulis ini!!!! LUVVVVVVSSS ❤ ❤ ❤

    Liked by 2 people

    1. “…recharge energi yang abis setelah kemarin-kemarin bergelut dengan berbagai macam manusia.”–ohayesss iniiii~ Aku ngga memungkiri bahwa mau terjun ke kegiatan sosial itu aku pasti nyiapin energi lebih, bikos kalo engga, bisa-bisa aku jadi Hulk di tengah acara kan ga seru 😦

      Glad to know Kanisa bahagia uwoooo :’ ❤ ❤ ❤ luvyutukanissss ❤

      Like

  3. Biasanya aku sering banget kayak gini. Bukan tipe cewek yang pendiem atau ansos apalagi, cuma ya kadang suka menyendiri aja. Apalagi kalo pas di rumah. Gimana ya, kayak aku punya dunia sendiri gitu. Terus biasanya kalo sedang dalam fase kayak gitu aku biasanya gak terlalu suka kalo didekatin. Gatau kenapa 😦

    Soalnya ada saat dimana aku emang bener bener butuh suasanya yang aku sendiri sulit njabarin/halah/ dan ini aku banget lhaa ;; Suka dikira aku tuh marah sama temen-temen kalau tetiba aku pilih menyendiri gitu padahal enggak wkwk. Suka banget lha kak Pang, terus nulis ya 😊

    Liked by 1 person

    1. Alooo Vi~~~
      Semenjak ada obscure sorrow dictionary dan prompt dari kaput, sekarang kaum yang suka melarikan diri tiba-tiba seperti kita bisa tau ini mood kita kenapa bisa gini, yaaaay ❤
      Umm kalau aku pribadi lagi nyoba meminimalisir sebisaku, tapi bukan berarti dihilangkan sepenuhnya just because me-time is for everyone and it really IS normal… win-win solusinya dibawa santay aja, tar kalo kita uda 'siap' keroyokan yha keroyokan lagi karena tidak selamanya sendiri itu indah (apanya) ❤
      Thanks a lot yha Viiii sudah mau sharing ❤ ❤ ❤

      Like

  4. Aku juga sering kepengen sendiri aja seharian, gak mempedulikan sapaan orang, menghemat tenaga buat ngomong, e tapi ttp aja ada temen yg ngeganggu. =_= ugh..
    like this lah kakpang.. semua uneg2 udah trtuangkan lewat crita ini lah pokoknya..love it!!!!! ♡♡♡

    Liked by 2 people

  5. Intro-extro survival modenya boleh beda tapi teteup yha me-time is for everyone, karena jika tidak akan muncul video senggol-bacok-ala-seler beredar di yutup (lahelah) (ok no)
    Koreksiannya noted, dan tidak dinuguyain aku bersankyou sangat, uwooooooooh KAPUT GOMAWO SARANGHAEYO MINYEOOO ❤

    Like

  6. ((sek ngakak di bagian notes yang dinuguyain kakput hahahaha duh kakpaaang)). INI! sumpah aku bisa relate banget lah sama yang ini. aku juga sering gitu kok kalo misal lagi pengeeeeen banget sendiri. mau deket gimana juga sama temen, kalo aku emang pengen sendirian yaudah gitu. haha yaampun aku kira aku doang yg kayaknya pengen sendirian dulu selama beberapa waktu taunya kakpang jugaaa wah aku bahagia :)) kakpaaang maaf komenku pendek heu, tapi aku sukaaaa OS-nya. yaampun inimah aku bangeeet. ternyata OS yg namanya martabak kegigit ini aku bangeeeet heu merasa bersalah aku kata katain di chatroom wakaka. udahlah pokoke aku cinta. keep writing kakpaang ❤

    Liked by 2 people

    1. Thankies a bunch kafikaaaaaaaaaaaaaaaaaa ❤ so hepi and glad you like this martabak kegigit (shed tears sek) ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

      Like

  7. Kak pang, terima kasih sudah menulis ini (: nabil seneng soale ternyata ada juga yang kaya gini hehe. Sering juga sih nabil ngalamin baru nyampe sekolah terus lagi jalan ke kelas, bawaannya pengen sendiri aja walaupun kadang ada juga sih temen yang tiba-tiba nepuk punggung. Nabil kira jadi tertutup gitu agak ga sehat karena bakal dipandang gimana sama orang lain, tapi engga juga ya?
    Pokoke kak pang tulisannya pancen oyeeee x) DA BEST FOR U HIHI

    Liked by 1 person

    1. Alooo Nabiiil!

      (aga seryus dikit nih yha, mari kita saling berbagi dan serius bicara ehe)

      Me-time memang perlu kalau untukku pribadi, karena kembali lagi ke kategori intro-extrovert, yang mana aku termasuk introvert…

      Tbh, kalau untuk frekuensi sering-ngga seringnya aku ngga mau bilang sehat/ngga sehat, karena kembali lagi ke pribadi masing-masing.

      Untuk kasusku pribadi, aku paling lama me-time sehari sadja, karena memang jatahku biasanya segitu dah cukup. Tapi bisa juga lebih bikos of hecticness inside my head :”

      Bisa jadi yang menyebabkan muncul sebutan ‘tertutup itu tida sehat’ adalah kita terlalu nyaman dengan kesendirian alias kebablasan me-time, lalu tetiba kita butuh sesuatu dan pas nyamperin temen, saat itulah biasanya muncul ghibah sengau sejenis: ‘nyamperin kalau ada butuhnya aja lu.’

      Well, beda dengan mereka yang aslinya memang doyan nyamperin kalo butuh doang, kalo di kasus OS ini, bisa jadi hal itu dikarenakan kita butuh jatah me-time yang lebih banyak dari frekuensi normal atas sebab peningkatan frekuensi interaksi sosial dan stress yang dihadapi.
      Tapi kembali ke pelajaran Sosiologi yang mengatasnamakan manusia sebagai makhluk sosial, kita pasti butuh satu sama lain, dan itu mengapa me-time kebablasan jadi ngga begitu bagus jatohnya bikos semua orang butuh respon yang sama. Aku care sama kamu, kamu juga care sama aku, semacam itu. Dan kalo kita lagi pingiiin sendiri kan jangankan nyapa, ngelirik aja gabakal. Dan itu efeknya lumayan bikin badmood lho buat yang baru kena dampak waktu OS kita kambuh (?)
      FYI, aku sudah sering kejadian, tapi syukurlah temenku sudah aware soal ini sekarang.

      Jadiiii, jalan tengahnya kalau menurutku mari kita bicara dengan teman/teman baik/teman dekat/sahabat/orang terdekat (keluarga), utamanya mereka yang mau tahu-peduli-dan mendengarkan perihal ini, untuk menghindari kesalahpahaman seperti slogan diatas.

      Kurang lebihnya begitu yang bisa kusampaikan, Bil…
      Semoga membantu, dan shawry ya balesannya telat banget ❤ ❤ ❤

      Like

  8. Uwooo aku juga suka gini, filz.
    sometimes i feel that universe hates me trus ujungnya ya aku ngebahagiain diri sendiri kayak jalan sendiri, makan, jajan, trus nonton sitcom (ini juga aku!) dan tidur siang hahaha.
    cakep sekali ini filza!

    Liked by 1 person

  9. ini mending ya dikatain egois, aku dikatain ga punya temen. syedih 😦 padahal yang ngatain aku itu tak anggep temen deket huhuuu
    tapi beneran deh pergi sendiri selalu ngebuat aku malah lebih safe and sound dari pergi sama siapapun. resolusi yang belum tercapai sih pergi nonton sendiri. pengen banget dari dulu tapi belom kesampaian 😦
    anyway, ini diksinya ga terlalu berat aku suka. lagi males mikir baru pulang kuliah soalnya wkwk
    btw aku nisa 96l

    Liked by 1 person

    1. Halu Nisaaa, salam kenaaal! Kita seumuran ehe
      Yuk mari dicoba nonton sendirian ehee, seru-seru mendebarkan meskipun awalnya aku keki baday waktu, tapi lumayan ketolong soalnya aku nonton Hotel Transy*vania 2 dan berada ditengah lautan bocah-bocah wahahaa
      Anw, glad you like it! ❤

      Like

  10. aku juga sering kayak gini lho.
    Kirain itu cuma aku yang kurang kayak orang normal lain. Tapi ternyata ada namanya toh. Berarti banyak yang ngalamin juga dong, yah?
    Ceritanya keren ^_^

    Liked by 1 person

    1. Halooo Kak Riyani!

      Sebelum main dengan dictionary of obscure sorrows, kukira juga aku adalah alien yang suka kumat extremely moody-nya XD

      Tapi semua berubah saat negara api menyerang hahaw

      Aku pribadi jadi merasa lebih baik setelah tahu ternyata ini normal, perlu jeda itu normal. Ehe eheeee

      Thanks a lot ya kak untuk feedbacknya ^^ salam kenaaal!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s