[Writing Prompt] Secangkir Kenangan Bersamamu

IMG_4979-1024x682

Teh Mint

by narinputri

.

Teh ini, mengingatkanku tentangnya.

Dia yang pertama kali membuatkannya untukku karena aku penasaran, seberapa enak, sih, teh mint itu?

Malam kala itu, dipetik sehelai daun mint di halaman belakang rumah dinasnya. Kemudian diramunya daun itu dengan sekantong teh celup dan air hangat. Tak lupa dua sendok gula sebagai pemanis.

“Ini enak, Mbak! Ada semriwingnya gitu!” ucapku heboh lantaran baru pertama kali mencicipi.

Hanya tertawa kecil yang dilakukannya. Dia juga menjelaskan jika teh mint baik untuk kesehatan. Maklum, pekerjaannya adalah seorang dokter di suatu desa di Wonosobo, jauh dari kota.

“Mbak, sering-sering bikin ini buat aku, ya,” kataku terkekeh.

“Kalau kamu ke sini lagi, nanti aku buatkan.” Dia tersenyum hangat padaku. Aku membalasnya, dan kami bertukar obrolan yang mempermanis rasa teh ini.

Dan semua itu kini tinggal kenangan untukku.

.

.

.

Hampir seminggu, dia terbaring di atas ranjang rumah sakit karena koma.

Penyakit yang dideritanya telah mencapai otak. Awalnya dia masih sanggup melakukan aktivitasnya sekaligus mengurus sang anak perempuan yang baru tujuh tahun, meskipun harus dibantu suaminya. Namun kini, berbaring seraya mengeluh sakit pada tubuh saja yang  bisa dilakukannya.

“Mbak Ayu, cepat sembuh, ya. Nanti aku main ke Wonosobo lagi, nyoba teh buatan Mbak,” bisikku di telinganya.

Hatiku pedih melihat Ibu berwajah sendu melihat kondisinya. Ibu yang selama ini merawat Mbak Ayu sejak dia kecil hingga seperti kini. Sementara Budhe—ibu Mbak Ayu—boro-boro mau mengurusnya di rumah sakit. Menjenguk atau menemani saja jarang, padahal beliau sudah pensiun dari pekerjaannya.

“Mbak, sayang ya, daun mint itu nggak bisa tumbuh di Semarang. Nanti kalau Mbak sudah sembuh, aku belikan teh mint instan aja, ya. Lebih praktis,” kekehku pelan. Aku tahu dia bisa mendengarku walau tidak jelas.

“Sudah, Nduk. Biar Mbak Ayu istirahat dulu. Sudah ada Mas Ufi yang nunggu.”

Ibu menepuk pundakku pelan, mengajakku pulang agar Mbak Ayu dapat beristirahat.

Paling tidak jika esok dia telah sembuh, aku bisa menikmati lagi teh buatannya.

.

.

.

Memoriku kembali terulang kala menikmati minuman tersebut, pada suasana Wonosobo yang dingin. Saat itu, aku bercerita padanya tentang apa pun yang tengah aku pikirkan.

“Mbak, aku ingin jadi penulis. Serius, ini kalau mbak nggak kasih pinjam buku Kahlil Gibran ke aku, mungkin aku nggak akan kenal dunia menulis, sekarang.”

Mbak Ayu tersenyum sembari menyeterika pakaian milik anak dan suaminya. Dalam kesakitan,  masih mampu dirinya tersenyum seperti itu. Dia memang wanita yang kuat.

“Ya sudah dilanjut aja. Mbak juga sudah sering baca tulisanmu yang kamu kirim ke Mbak dulu. Mbak doakan semoga kamu segera punya novel, ya. Mbak suka sama tulisan kamu.”

Ucapannya memberiku semangat. Walaupun memang aku masih lemah dalam bidang menulis. Setidaknya motivasi yang diberikan menjadi pemicu semangatku.

“Aamiin, Mbak! Aamiin! Nanti kalau novelku sudah terbit, Mbak harus jadi pembaca pertama pokoknya!” ucapku semangat hingga hampir menumpahkan teh.

Dan sekali lagi, tersenyum diikuti tawa renyah yang dilakukan Mbak Ayu saat melihat tingkah bocahku demi menghiburnya.

Secangkir  teh hangat dengan rasa menyegarkan di dinginnya Wonosobo, menjadi teh pertama sekaligus terakhir yang dibuatnya untukku malam itu.

.

.

.

Sekarang sudah tidak ada lagi yang mendengarkan ceritaku. Baik itu secara langsung maupun via media sosial. Sudah tidak ada alasan lagi untuk pergi ke Wonosobo, walau terkadang Ibu ingin menjenguk keponakan—anak Mbak Ayu—atau saat merindukan sosoknya.

Canda dan tawanya sudah tiada menyapa runguku lagi. Bahkan aku belum sempat menerbitkan sebuah novel sama sekali. Aku masih ingat, waktu itu kukirimkan sebuah chat berisikan sapaan “Mbak” di BBM-nya tujuh hari setelah kepergiannya. Pesan itu terbaca, tapi aku tahu, pasti suami Mbak Ayu yang membacanya.

Tuhan lebih menyayanginya daripada kita yang ada di dunia ini. Setidaknya, dia sudah merasa ringan dan tidak kesakitan lagi. Mungkin saat ini, dia masih menungguku menerbitkan novel dari atas sana. Meski dia bukan menjadi pembaca pertama novelku.

Dan tebakku, Mbak Ayu sedang menikmati secangkir teh mint sembari memperhatikanku dan keluarganya. Dari suatu tempat di sana, tempat yang tidak akan pernah terjangkau oleh tangan rapuh ini.

−selesai

 

a/n : based from true story

Dedicated to my dearest cousin in heaven. Wanita terkuat dan terhebat yang aku temui di hidupku juga pemberi motivasi. Rest in peace, I love you and always remembering you as my memories.

Advertisements

24 thoughts on “[Writing Prompt] Secangkir Kenangan Bersamamu

  1. Pengen juga deh bisa mmberi kenangan atau memori sama org yg ditinggalkan nnti..uhuk..
    Btw, aku juga suka teh mint walau rasanya kayak balsem, tapi enak :^)
    Semoga si ‘aku’nya bisa nerbitin novel dan sukses yaaa.. keep writing lah pokoknya 😀

    Like

    1. hai kak ^^
      thanks sudah baca dan komen ❤
      ihihi iyaa semoga si “aku” bisa sukses yaaa ^^

      Like

  2. entahlah entah…. ini aku yang baper atai bagaimana tapi sedih aja bawaannya baca ini…

    Aku kayak pernah dengar cerita semacem ini dari temenku, dan emang bikin sedih tapi haru…

    idenya bagus… ttg teh mint. blm pernah sih minum teh mint. tapi pernah ngunyah daun mint, dan bener bgt, rasanya semriwing wkwkwk

    Like

    1. Hai Ul ^^
      Thanks for reading and comment ❤
      Karena aku emang pas bikin ini dari sore sampe subuh dan sesegukan ga berhenti2 HAHAHAHAHAHA.
      Karena emang kenangan sama beliau berharga jadi yah seperti itu ehehehe :”)

      Like

  3. Ikut terharu ngebaca ff ini. Suka sama penulisannya yang ringan dan juga temanya tentang kenangan bersama seseorang yang disayang.

    Semoga nanti si ‘aku’ bisa jadi penulis novel yang sukses ya 🙂

    Like

    1. Hai kak ^^
      Thanks for reading and comment ❤
      Soalnya memang teh mintnya mengingatkan sama beliau yang pertama kali buatin teh itu :”)

      Iyaa aamiin, semoga si ‘aku’ bisa sukses dan jadi novelis ^^

      Liked by 1 person

  4. Terharuuuuuuu… jadi inget semua curhatanmu tentang mbak ayu… skrg aku ngerti banget gimana berharganya mbak ayu buat km, Rin :’))))
    Keep writing yaaaa… aku gak mau denger lagi kamu mau berhenti nulis… pokonya kudu bisa terbitin novel 🙂

    Like

    1. ya Allah aku mau nangis masa baca komenmu :””))))))
      perhatian banget kamu Dess /peluk/
      makasih udah baca dan komen ❤

      DAN AAMIIN semoga beberapa tahun lagi akan ada nama “narinputri” di rak toko buku hahaha

      Like

    2. bhaaaakkkk… aku kan calon2 istri yang perhatian gitu sama suami XD /dorong narin ke jurang/
      aamiin aamiin… boleh lah aku dapet buku gratisannya, kita kan teman wkwkwk

      Like

  5. Kenangan kadang memang membuat kita sedih ya. Hmm, tapi kehilangan bukan akhir dari segalanya. 🙂
    Aku sedih jadinya. Huhu. Semoga si “aku” di dalam cerita narin ini bisa mewujudkan mimpi2nya yaa.. :))

    Like

    1. hai Mala ^^
      makasih udah baca dan komen ❤

      iyaa kehilangan bukan akhir dari segalanya dan semoga beliau tenang di sana 🙂

      aamiin2 semoga si ‘aku’ bisa sukses ^^

      Like

  6. narin :(( aduh aku paling ga kuat kalo udah bawa bawa kenangan kayak gini. kamu bawainnya cantik banget aku sukaa. dari awal pas teh mint itu sendiri diperkenalkan ke kamu, sampe teh mint terakhir yg beliau buatin utk kamu. huhu sedih. semoga keinginan si “aku” di sini kelak tercapai yaaa x)
    keep writing narin!

    Like

    1. hai Fika ^^
      makasih udah baca dan komen ❤
      huhuhu jangan sedih ya :((
      soalnya kebetulan banget sih promptnya sebenernya ehehehe

      dan aamiin semoga si “aku” mimpinya kelak tercapai x)
      Fika juga keep nulis yaaa ^^

      Like

  7. Hi kak, belum ke blog kakak, tulisannya malah udah muncul di sini X)

    Ini nyambung sama promptnya, pas banget, cara ngenalinnya juga 👍👍👍. Terus bawain ceritanya simple jadi enak dibaca dan sedihnya ngena. Dan semua jadi baper :”

    IMO, bisa ditambahain satu dua hal, semacam backstory buat aku bisa lebih simpati sama “aku” (apa aku aja yang apatis LOL), dan atau dipangkas satu dua kalimat karena kayak kata kakput. Overall sedihnya tetep kerasa kok.

    Keep writing & ditunggu novelnya kak! 😉

    Like

    1. SHEEEER ASTAGA MAMPIR KE SINI >< wkwkwk
      Iyaa Sher makasih koreksinya ^^
      Will be better soon 🙂
      Makasih ya Sher ❤

      Like

  8. Nariiiiiin let’s share a hug for a minute!!!
    Aku mana ada kepikiran teh mint bisa bikin peluk guling erat-erat :” How a cup of tea can create a bunch of precious memories this is waaah (((hug)))
    Anw, good luck for your dreams, Dear!
    Thanks for sharing this story and wrap it up as a beautiful prompt!!! ❤ Keep Writing!

    Like

    1. Haaaaiii Ms. Pang! Lemme hug you ><
      Thanks for your lovely comment dear ❤
      Dan aamiiin semoga bisa tercapai ehehe ^^

      Liked by 1 person

  9. uweheee kak narin aku gak tau kalo kakak udah kelar duluan T.T dan ini keren sangat, sadnya berasa DX kyk… emang kakak menumpahkan perasaan kakak ke sini gitu, mungkin krn ini fic yg berdasarkan kisah nyata kakak sendiri jadinya setengah curhat tapi justru itu yg bikin cess.
    like this, semoga suatu saat novelnya naik cetak ya ^^ tetap semangat dan keep writing!

    Liked by 1 person

  10. Dan dian hayu adalah teman curhat paling mengerti dan menyenangkan buat saya..rasa sedih itu sama spt yg saya rasakan..semoga dian tenang disana diberikan tempat yg terbaik disisiNya aamiin..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s