[Writing Prompt] Rahasia yang Mengabadi

rahasia

credit pic: here.

Tiga kali sehari

by Jung Sangneul

Setiap hari, untuk tiga kali, aku melihatmu terbirit-birit menyembunyikannya.

***

Kini, izinkan kuceritakan kembali padamu di dalam surat ini. Hanya di sini aku bisa berbicara lepas, karena tak mampu aku membuka suara dan merusak semua yang telah kaututup rapat-rapat. Kau sembunyikan erat-erat.

Maafkan aku, Diane, jika tulisanku terlalu buruk untuk dibaca. Juga jika kamu menilaiku terlalu pemerhati, sampai mengerti sekelumit kejadian yang seharusnya tak menarik untuk pandangan orang lain. Tapi, sebelum aku melanjutkan ini, ketahuilah, kalau aku peduli. Bukan sekadar punya kuriositas semata.

Diane, hari Senin dua puluh bulan yang lalu, aku tahu kalau kamu tertatih menaiki tangga sekolah. Aku ada di dekat kamar mandi yang persis ada di bawah bangunan tangga. Kucuri pandang beberapa kali ke arah wajahmu yang hanya terlihat sedikit hari itu. Kamu meringis, seakan kesakitan. Tanganmu ada di perut, melangkah satu-satu mendaki anak tangga.

Ingin menegurmu, aku tak berani. Takut mengusik konsentrasimu memijak lantai itu, dan kamu justru oleng. Jadi, aku diam saja. Menunggumu sampai atas, dan tak terlihat. Kuperiksa jam, waktu itu pukul sembilan—hampir istirahat.

Diane, hari Senin itu—ya, masih dua puluh bulan yang lalu, aku juga tahu kamu mual-mual di kamar mandi. Aku mendengarnya ketika akan berganti baju olahraga. Tepat saat kamu terburu-buru berlari dengan tisu di tangan, memasuki bilik pojok dan menguncinya. Suaranya bergema sampai luar. Kamu tidak keluar sampai aku selesai berganti baju.

Kukerutkan kening. Mungkin, kamu takut ditanyai, kamu tahu aku masih ada di luar sini. Kulirik jam tangan, itu pukul satu lebih lima. Kuputuskan untuk beranjak. Baru selangkah, kamu keluar. Wajah baik-baik saja, tersenyum.

“Kenapa?” aku bertanya lirih.

“Tersedak makanan.”

Diane, hari Senin itu, untuk ketiga kalinya, aku tahu sesuatu. Hanya berniat mencatat soal pelajaran Matematika yang ada di bukumu. Kamu tinggalkan begitu saja bukumu, aku tahu pasti untuk melanglang buana ke kantin karena bosan dengan gurunya. Tapi, catatanmu sudah lengkap, berikut contoh-contoh soalnya.

Aku tidak berniat mengintip, atau apapun. Aku hanya membuka halaman berikutnya. Yang tampak bukan lagi angka-angka, namun huruf-huruf yang tertata rapi. Catatan hatimu. Dan, aku lancang membacanya. Tolong, maafkan aku.

Maka, Senin hari itu, aku mengetahui apa yang kamu tutup-tutupi dan simpan rapat-rapat: kamu sakit.

Tepat pukul tiga sore, aku mengetahuinya. Penyakit itu tidak main-main, dapat merusak fungsi hatimu, hanya dapat ditolong dengan transplantasi. Tapi, aku tahu, kamu juga takut dengan jarum suntik dan meja operasi.

Setelahnya, Diane, sebanyak tiga kali sehari, aku selalu melihatmu melakukan semua itu. Tertatih menaiki tangga, menerawang untuk sesuatu yang tidak pasti, muntah-muntah di dalam bilik kamar mandi, keluar dengan tisu di tangan ….

Tapi, aku bungkam pada semuanya. Aku takut mereka mengasihanimu saja, bukan malah menyemangati apa yang kamu sembunyikan. Tiga kali sehari, aku melihatmu kesakitan seperti itu. Namun, berkali-kali dalam sehari, aku tahu kamu lebih banyak tersenyum, tertawa, bercanda, dan gembira. Gurat-gurat lelahmu tidak membuat curiga mereka yang ada di sisimu. Mereka kira kamu kelelahan, terlalu banyak berlari atau tertawa-tawa.

Sekian, Diane, pengakuanku. Maafkan aku, hingga hujan terakhirmu, tak mampu menyampaikan apa yang kuketahui. Hingga lelahmu mencapai ujung, aku kesusahan mengutarakan kata tanya “mengapa”. Kamu mungkin bisa menduga, kalau aku takut mengusik wilayah pribadimu, mengingat aku bukanlah siapa-siapa.

Dan, sekarang, sebagai penutup surat ini, izinkan aku menyebutkan satu hal yang akan selalu kulakukan untukmu:

Tiga kali sehari juga, kalau perlu lebih, aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu.

.

.

“Sayang, sudah?”

Clara mengusap air yang merembes jatuhi pipinya. Dilihatnya, awan di atas sana mulai mengelabu. Tidak pernah ia merasa sesedih ini hanya untuk sebuah surat. Surat yang nantinya akan karam dilindas hujan, namun pasti bisa dilihat Diane dari atas sana.

Ditengoknya kekasihnya yang menepuk bahunya, tersenyum.

“Sudah.”

Selanjutnya, biarkan lelaki itu menuntunnya kembali ke mobil. Meninggalkan kertas itu di atas pusara. Berusaha menjelaskan segalanya yang terjadi tiga kali sehari, dua puluh bulan yang lalu.

—fin.

Author’s note:

Hm, izinkan aku menyampaikan, bahwa Diane dan Clara ini adalah tokoh official-ku untuk zona orific. Jadi, jangan bosan ya, kalau kalian akan melihat mereka muncul lagi dan lagi, dengan pembahasan yang berbeda-beda. Dan, mudah-mudahan bahasan kali ini sesuai dengan prompt.

Advertisements

9 thoughts on “[Writing Prompt] Rahasia yang Mengabadi

  1. Wahhh hai Kak!! Aku reader baru disini nih^^ Terharu bacanya duh, pas banget ngingetin aku keseseorang :” wkwk

    “Tiga kali sehari juga, kalau perlu lebih, aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu.” Sumpah ini kalimat yang buat aku nyesek /curhat dikit wakaka yah yg pasti suka banget deh sama ceritanyaaaa

    Liked by 1 person

  2. tuhkan another bukti nyata prompt sederhana bisa dibuat jadi fiksi genre luas gini aaaaaa. serius lah tiga kali sehari di bayanganku mah makan antibiotik abis makan wakaka yaampun pikiran fika sebegini sempit emang xD suka sama kata kata di suratnya. kayak clara tuh sebenernya mau nanya atau gimana tapi ada pergolakan batin juga takut diane gini takut diane gitu haha. wah ditunggu lagi atuh orific tentang diane sama clara ini hehe. keep writing yah! 😀

    Like

  3. Uwooooohhhh tiga kali sehari yang pedih! Tuh kan iya aku sama kaya Ka Fika nih mainnya kurang luas :’ tiga kali sehari kepikirannya minum obat atau mandi :’
    I like it!!! Seru banget dan nyeseknya makasi banaaaaa :” Malming hujan-hujan dibawa baper hahak
    Anw, sukses ya untuk kelanjutan orific dan karakternyaaa!!! ❤

    Like

  4. Ya otakku sungguh mepet liat prompt ini cuman kepikiran makan sama obat, tapi kamu nulisnya jadi beda :””) sedih, ngena, aku suka pembawaannya Clara yang… apa ya, gak terlalu mendayu-dayu, tapi tetep sakit :”””

    Ditunggu cerita dari karakter ini lagi Niswa X)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s