[Writing Prompt] Petak Umpat

5744020485_cd5ea7e2b7_b

Find me!

cr pic Here

a story by Keii

Sebab, Mati bisa di mana saja.

Pertama kali Hidup kenal dengan Mati adalah ketika keduanya bersembunyi di balik tong sampah; di ruang sempit minim cahaya beraroma tak sedap; pada spasi kecil tempat para lelaki buang air; di celah remang tempat manusia buang barang.

Sebab sungkan untuk sekadar menyapa, atau malu karena memilih tempat yang salah, Mati pergi. Sengaja membiarkan permainan petak umpatnya berlanjut satu babak lagi.

Dalam waktu yang lain, Hidup masih betah bersembunyi. Mendengarkan irama tuts-tuts piano Mozart atau sesekali menyesap kopi sambil mendelik curiga pada pria-pria kekar bercambang lebat. Kaki-kaki kurusnya disiapkan untuk berjaga-jaga. Sebab Mati bisa di mana saja: di balik otot kekar para pria bercambang, di balik sianida kopi hitam Vietnam, pun di tengah ledakan dekat kedai kopi Amerika kenamaan.

Sementara, Hidup belum siap untuk ditemukan.

Katanya, ia masih ingin tahu yang namanya Dufan—wisata terjauhnya cuma sebatas rumah nenek di dusun—termasuk bagaimana sebuah tempat di ujung utara ibukota tersebut punya ongkos masuk yang nominalnya setara biaya makan enam hari.

Hidup masih ingin lebih banyak tahu ini-itu. Ia belum menamatkan drama seri pembunuhan Engeline, atau tokoh di balik tragedi Sarinah. Ia masih belum tahu siapa yang harus ditangkap atas tuduhan korupsi di perusahaan A, atau bagaimana kelanjutan romantisme film pendek Ahmad Dhani. Sinetron yang ia tonton baru juga tayang sampai episode lima puluh alih-alih dua ratus—belum ketambahan edisi spesial Ramadhan, atau puluhan episode ekstensi saat tokoh sentralnya amnesia.

Sungguh, deh.

Tidak lucu kalau Mati tiba-tiba datang, ‘kan?

Kalau Hidup sedang sendiri dan mencoba merunut lagi kisahnya dengan Mati, sungguhlah ia ingin putar waktunya kembali. Salahnya banyak, tapi yang disesali cuma saat taruhannya dibuat. Hidup sudah terbiasa bergelimang kemenangan. Baginya saat itu, sah-sah saja menggunakan dirinya sebagai “piala” dalam sebuah pertaruhan. Apalagi, permainan mereka sangat sederhana, segampang bagaimana teknisnya disepakati: Hidup harus sembunyi, Mati harus mencari.

Saat permainan dimulai, ia bersua dengan Mati terlalu cepat.

Hidup hapal betul bagaimana ketakutan merambati matanya saat Mati tertawa. Kakinya gemetar, suhu tubuhnya memanas, giginya bergemeletuk menahan nyeri yang datang tiba-tiba. Kalau ia meneteskan air mata, segumpal siksa mencegat oksigen masuk di tenggorokan, membuat proses respirasinya tersendat dahsyat. Tubuh Hidup mengejang, sebanyak keluarganya berkali-kali jatuh pingsan. Lamat-lamat telinganya menangkap tangis haru; suara-suara lirih mengucap doa yang disisipi permohonan agar Mati datang lain kali.

Hidup seratus persen yakin ia sudah diseret keluar rumah oleh Mati saat akhirnya ia terbangun di rumah sakit. Gordennya yang berwarna putih kekuningan berkibar sesekali, menampakkan punggung Mati yang kemudian hilang lagi.

.

.

Permainan sudah berlangsung terlalu lama. Tak tahu di mana Mati berada, tapi Hidup yakin ia masih mencari.

Kalau Hidup masih seperti dua puluh tahun lalu—tanpa rambut putih di kepala atau gigi-gigi artifisial—sudah barang tentu ia waspada. Tak ada yang ingin bertemu dengan Mati, apalagi dibawanya pergi. Mengetahui teori bahwa ia akan datang saja, sudah membuat sebagian orang paranoid. Tak banyak yang bisa duduk-duduk santai di ruang keluarga sambil mengganyang semangkuk bubur seperti Hidup.

Bukan tak takut.

Lantaran Hidup sudah terlalu lama dibayangi kengerian, adakalanya ia ingin berteriak pongah “coba saja temukan aku” pada Mati—sesekali berani dirasanya sepadan selepas paranoid sejuta kali. Hitung-hitung pamer sebab selama ini ia berhasil sembunyi.

.

Di waktu yang lain, Hidup sedang berbaring. Selimut bercorak batik telah ditariknya sebatas ubun-ubun. Relaksasi, katanya. Ia memejamkan mata, membiarkan otaknya sekonyong-konyong dijejali berbagai macam kalkulasi: harga saham, nilai tukar rupiah, pembagian hak waris—sama sekali lupa soal Mati dan permainan cari-mencari.

Ia kerap mengabaikan fakta bahwa Mati bisa di mana saja. Menjunjung opini bahwa Mati bisa dihindari.

Hidup sudah lama berkutat dalam dunianya sendiri; mencemaskan hal-hal berskala besar yang memiliki pengaruh terhadap nominal itu-ini. Dia mana peduli…

… soal selimut batiknya yang baru selesai ditaburi kembang melati.

.

fin


Demi rasa cintaku pada WS ditambah rasa hormat (lebih ke ehem… takut, sih) sama Q, saya persembahkan sebuah fiksi yang mana mungkin cuma kedapetan slight relatable sama prompt-nya. Haha. Bye.

Keii.

Advertisements

25 thoughts on “[Writing Prompt] Petak Umpat

  1. Kak nyuuunnn, ini kenapa pesan moralnya luber luber, gaaaaa, menngingatkan aku akan kematian sii soalnya. Jhaaa, izrail udah nungguin ini istilahnya. Haaaa, berkali kali baca karyanya kak nyun aku hanyutt disini huuuu. Makin ngefans sama kakaka

    Liked by 1 person

  2. Ini zuperr kak, aduh, gimana cara ngungkapinnya ya, antara excited sama ngeri .=.
    Bumbu cerita soal kehidupan si Hidup yg masih blum tau fakta sarinah engelina kopi sianida bom sinetron syalala itu top dah, alamaak, sarkasnya *?* dapet. Apalagi ditutup dg fakta tersirat kalo Mati udah mnemukan Hidup pas Hidup berselimut batik. Aduh, trhening bacanya. Aku bgitu menikmati crita ini kak, gak pengen ktemu ending cepet :^)
    Smoga diberi waktu luang buat nulis semakin banyak, kak 😀

    Like

    1. hae Dilllll
      setelah aku sempat berhiatus selama dua bulan lamanya, kini im officially comeback hihi doamu terkabul alhamdulillah ehehhe
      makashey ya komentar positifnya ailapyuh

      Like

  3. Mo tarik kain batik buat diri sendiri, dan tabur bunga tujuh rupa teruntuk kanyun!!! HWAHAHAHAHAHAHAAAAAN KANYUN KAK SEMEDI DI MANA NYAI BERIKU PETUNJUKKKKK
    Kemasannya duh aku kudu bilang apa kalo ngga endesh ini mah nagihin lyke baso urat di tengah hujan deras tak ingin nikmatnya berakhir :”(
    Aigu gemas bana kak sungguh besar cinta kanyun teruntuk Q yhahaha super hasilnya spicles BOLEH GAPAKE ENDING GAK KANYUN BIKOS SERUNYA NAGIHIN HUHUFFF (digampar kanyun-dicekek Q)

    KAN AKU UDA BILANG AKU SPICLES YHA JADI
    ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

    1. semedi di mall sambil seruput setarbak, abis itu liat dompet eh tinggal selembar (inspiresyen yang penomenon)
      aku tida bakal tega nyekek individu seunyu kamuh kapang

      Liked by 1 person

  4. anjir nyun spicles ini keren banget astagaaaa aing kudu kumaha????? ;____; merinding, dengan pesan moral yang tumpah ruaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah! sumpah kampret banget ;____; KEREN KEREN!!!

    Like

    1. wow akhirnya aku bisa membalas komentar individu ini aku sangat sepiceles ada sonbe bilang keren ke acku omooooooooooooo

      Like

  5. Kesan pertama adalah covernya serem (okay abaikan, maafkan aku kak nyun), kesan selanjutnya WAH INI IDENYA BAGUS SEKALI YANG PETAK UMPET HIDUP SAMA MATI.

    Pembawaannya astaga, kumau nangis aja 😦 ini bisa gak petak umpetnya 1000 tahun gitu biar tulisan kak nyun gak abis-abis, nagih banget sih :”)

    Btw endingnya… maaf ya aku bingung urusan ginian HAHAHA, jadi dia mati pas lagi selimutan kain batik? ((hajar aja ini saking gak ngertinya))

    Terus nulis kece-kece kak nyun!

    Like

    1. kovernya kece ya aku pun ingin punya rambut silver gitu pasti keren (lho)
      ini kan kalo orang kita pas meninggal pasti diselimutin batik, jadi ini kayak pesan tersirat kalau si Hidupnya udah ditemukan Mati, aka sudah tewas bin wafat

      Like

  6. Loh loh sepertinya aku telat baca ini!! Aduh gela merinding parah uhuhuhu
    Lah kak nyun apa lah tulisannya selalu gak ngecewain sampe aku gak tau mau komen apa lagi……

    Analogi Hidup dan Mati ini kece parah terus sarkasmenya juga mantep.. kece paraaaaahh… ah gatau pokoknya bikin merinding plus pen nangis :’)

    Like

  7. “… soal selimut batiknya yang baru selesai ditaburi kembang melati.”

    Gorgeous story. I honestly can’t find another words to describe this piece of art ❤ ❤

    Like

  8. omg asli nyun ini paket lengkap banget lah, analoginya juara abiiiis. endesh bacanya endessshhhh. btw menurut aku ini relate kok sama prompt-nya hehehe xD paling suka yang bagian si hidup udah hampir goodbye tuh di rumah sakit, eh taunya si mati berbalik pergi. udahlah ieu keren pisan, reseup x)) keep writing nyun!! ❤

    Like

  9. Kak Nyun, aku gak ngerti lagi dah.
    INI SUMPAH KEREN BANGET!!!! ❤
    Gimana yah, ini analoginya juara banget, renungannya juga dapet banget, dan idenya… ASTAGA gimana sih bisa dapet ide macem gini dari prompt petak umpet, bisa bangetlah ya ampun.

    Like

  10. Ini kereeeen
    Pesan moralnya itu dapat dicerna banget >.<
    Keep writing utk hal2 yg bermanfaat y keii 🙂 ditunggu utk hasil karya tulisanmu OK mu yg lain

    Salam kenal dr si pembaca setia

    Like

    1. Halo, Light!
      Terima kasih sudah mendeklrasikan diri jadi pembaca setiaku. Semoga aku ke depannya gak mengecewakan ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s