[Writing Prompt] Dia, Kaset Rusak

photo-1437196901007-82f158632679

Kaset Rusak

by Adelma

.

“Jadi, sebenarnya siapa yang mempermalukan siapa?”

.

Aya adalah wanita yang cantik. Kulitnya gelap eksotis dengan rambut yang tergerai lurus. Matanya tidak belo, tidak juga sipit. Hidungnya kecil, tapi mancung. Bibirnya? Lucu, kalau sedang manyun bentuknya seperti hati. Tinggi badannya jauh di bawahku, dengan berat yang menurutku pas. Yah, intinya dia oke untuk dipamerkan, dan aku cukup percaya diri untuk menggandengnya ke mana-mana, ASALKAN dia tidak bicara. Bukan, bukan karena napasnya bau atau giginya ada yang ompong. Sumpah demi Tuhan, bukan.

Aya sesungguhnya lebih dari cukup untuk memanjakan mata, tapi tidak jika untuk memanjakan telinga. Dengan sangat menyesal, aku harus berkata jika suaranya jelek sekali. JELEK SEKALI. Aku sampai bingung harus mendeksripsikan suaranya seperti apa.

Kalau sedang kesal, aku suka mengatainya Kaset Rusak. Seakan menyadari bahwa julukan itu pas untuknya, seringnya dia tidak marah. Wajahnya lurus-lurus saja, seperti menganggap jika julukan itu adalah nama tengahnya.

“Ais, pacar lo tuh cantik. Tapi kalau ngomong, bikin ilfeel!”

“Si Aya cantik, sih. Tapi, kok, suaranya begitu?”

“Is, lo macarin orang atau radio butut, sih?”

Teman-temanku jelas berengsek kalau berkomentar. Saat aku membela Aya dengan sedikit emosi, mereka hanya tertawa dan menganggap jika aku terlalu berlebihan menanggapi candaan tersebut. Benar, mereka benar. Itu hanya candaan dan candaan adalah keseriusan yang ditutup-tutupi. Tanpa pembenaran semacam “Gue cuma bercanda” pun aku tahu kalau mereka sedang serius setengah mati.

Biasanya aku jadi sensi sendiri kalau melihat Aya, uring-uringan tak jelas seperti orang edan. Di sisi lain aku merasa bersalah sudah bersikap seperti itu, tapi di sini lain aku juga tak bisa menahan diri untuk tidak bersikap begitu.

Aku bilang padanya, “Aku enggak suka suara kamu. Tapi bukan berarti aku enggak berusaha untuk terbiasa. Dan tolong, jangan terlalu banyak bicara di depan teman-teman atau keluargaku, aku enggak mau kamu—ah, kita—dikomentarin aneh-aneh. Ngerti?”

Aya mengangguk dan terdiam setelahnya, dan bohong lah kalau aku tidak merasa seperti bajingan. Terlepas hal ini remeh atau tidak, aku tetap yakin jika ini adalah sebuah masalah. Aku tidak suka suara Aya yang seperti kaset rusak, begitu pun dengan teman-teman dan—mungkin—keluargaku. Aku kesal pada mereka yang menghina suara Aya, tapi kadang aku juga kesal padanya yang seperti tak mau berusaha untuk ‘memperbaiki’ suaranya yang sangat mengganggu itu.

.

“Besok pacarnya Ega ulang tahun, kamu mau dateng, enggak?”

Sebenarnya aku berharap dia tidak mau datang. Sumpah, pacarnya Ega itu tukang gosip. Omongannya banyak dan cepat, seribu kata per menit! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi pacar Ega kalau sampai ngobrol dengan Aya. Habislah dia, habislah aku.

Walau bagaimanapun aku tak semahir itu dalam mengabaikan omongan orang-orang. Sedikit atau banyak omongan orang pasti mempengaruhiku. Membuatku sebal sendiri, kenapa aku harus mencintai wanita bersuara seperti kaset rusak? Membuatku bertanya-tanya, apa yang sedang Tuhan pikirkan saat menciptakannya? Membuatku heran, apa yang ibunya makan saat mengandungnya? Sialan, aku tahu pertanyaan-pertanyaan itu terdengar menyebalkan dan membuatku tampak memuakkan. Tapi, uh, mengenyahkan gerutuan itu sama sulitnya dengan mengenyahkan para penggerutu itu sendiri dari muka bumi.

“Ayo, tadi Ega juga nge-BBM aku. Nyuruh dateng.”

Tuh, kan. Sebenarnya percuma saja aku menyembunyikan ajakan ini karena cepat atau lambat Aya pasti tahu. Ega adalah teman baikku (sekaligus orang yang sejauh ini tidak komplain soal suara Aya di depan hidungku), sebulan lalu dia baru mengakhiri masa jomblo dengan memacari wanita yang cukup famous di industri hiburan. Bukan, pacar baru Ega bukan artis. Dia cuma salah satu founder sebuah EO yang belakangan sering mengadakan gigs keren. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, makanya aku tahu tabiat busuknya yang suka menggosip.

“Kamu yakin?” tanyaku sambil berharap dia berubah pikiran. Tapi, nyatanya dia hanya mengangguk kalem sambil tersenyum.

.

Aku heran pada Aya. Kenapa dia tak pernah marah kalau aku menyinggung suaranya yang jelek? Dengan entengnya dia malah berjanji akan menjaga imejku dengan tidak banyak bicara. Dia akan bicara seperlunya saja, dengan sedikit memanipulasi suaranya, tentu saja. Apa aku senang? Yah, meskipun usahanya tidak menunjukan hasil yang signifikan (alias suaranya masih tetap jelek) aku tetap merasa senang. Senang saja, tidak senang sekali. Kadang-kadang kasihan, sih, mengingat Aya yang sebenarnya senang bicara. Terbukti karena ketika sedang berdua dia kerap kali bercerita ini dan itu. Sebenarnya aku sudah cukup terbiasa dengan suaranya, tapi tidak jarang juga muak, dan kalau sudah begitu biasanya aku akan menghentikannya dengan cumbuan.

“Ya, kayak biasa, ya?”

Kala itu jalanan Bandung cukup lengang untuk ukuran weekend, sedanku meluncur mulus membelah Jalan Cihampelas dengan kecepatan sedang. Karena jarak rumah Aya dan lokasi pesta tak terlalu jauh, maka dipastikan sekitar sepuluh menit lagi kami akan sampai.

“Iya, tenang aja, Is.” Aya mengelus-elus pipiku dengan punggung tangannya yang halus. “Aku akan berlagak bisu, biar kamu enggak malu. Hehe.”

“Bukan gitu, Ya. Aku, kan, udah bilang kalau ini demi kebaikan kita juga. Aku enggak mau si Rani—pacar Ega—ngomong macem-macem soal kita, khususnya kamu.”

Aya diam saja, beberapa saat kemudian meraih tas dan mengadu-aduk isinya. Entah mencari apa.

“Nyari apa, sih?”

“Enggak.”

Kami sudah pacaran sekitar sembilan bulan, tapi kalau kenalnya sudah hampir tiga tahun. Dia adalah anak magang di tempatku bekerja dulu. Sejak pertama kali melihatnya aku sudah tertarik, tapi rasa tertarikku terganjal dengan kekurangannya itu. Dia cukup populer di kantor karena dua hal; pertama jelas karena dia cantik, kedua karena suaranya yang jelek. Pujian dan cemoohan datang bersamaan. Tapi jelas statement semacam, “Dia cantik tapi suaranya seperti kaset rusak” lebih santer terdengar ketimbang, “Meski suaranya jelek tapi dia itu cantik.”

Aku lebih memilih untuk mengabaikan perasaan itu sampai akhirnya lupa sendiri. Dan tak disangka, setahun berselang kami pun sekantor lagi. Lingkup pekerjaan kami yang sekarang tak sebesar kantor sebelumnya, dan entah kenapa aku berpikir bahwa ini adalah situasi yang cukup “aman” untuk mengencaninya. Yah, aku sadar jika aku picik. Tapi, mau bagaimana lagi? Nyatanya perasaan cinta dan maluku sama besarnya.

“Ayo, Ya.”

Kami pun sampai di lokasi—tepatnya di sebuah kafe yang cukup happening. Tanpa ba-bi-bu aku langsung mengajaknya masuk. Aku menggandeng tangannya seperti biasa, mengingatkan dia sampai berbusa tentang apa yang harus dilakukan. Dan, yah, karena Rani agak berbahaya, aku pun menambahkan sedikit ancaman, “Kalau sampai banyak omong, liatin aja.” Kurasa itu tidak berlebihan, lagi pula sepertinya Aya juga mengerti kalau itu hanya gertakan tak penting. Aya tak menjawab, tapi dapat kurasakan jika dia berusaha meloloskan tangannya dari genggamanku. Kenapa, sih?

“Nah, ini Ais sama Aya. Kok kalian telat?”

Ega menyambut kami, terlihat Rani berjalan di belakangnya. Ada banyak orang di sekitar sana, membuatku semakin khawatir dan tak nyaman.

“Iya, sorry. Tadi bokapnya Aya minta anter ke bandara dulu, Ga.” Bohong, bohong. Kami sengaja datang telat untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan. “Ran, selamat ulang tahun, ya. Kenalin, ini Aya, pacar gue.”

Terlihat kedua wanita itu saling tatap. Tatapannya agak beda, seperti ada sesuatu. Jangan-jangan, mereka sudah saling kenal?

“Bentar, deh. Lo Aya… teman  SMP gue bukan, ya?” Rani menggaruk pelipisnya sejenak, jelas berusaha mengingat-ingat. “Nama lo Raya Wulandari bukan, sih?”

Aya tak langsung menjawab, dia agak menengadah untuk mencari mataku—meminta persetujuan—dan aku hanya mengeratkan genggaman, pertanda “jangan lakukan”. Aya lantas mengangguk sambil tersenyum kikuk.

“Lo makin cantik aja, Ya,” kata Rani, basa-basi.

“Oh, jadi kalian teman SMP? Dunia sempit banget, sih?” Ega berkomentar sambil nyengir.

“Selamat ulang tahun, Ran.” Aya berucap pelan—tentu sambil mengatur suaranya dengan sedemikian rupa—sembari mengulurkan tangan untuk menyalami Rani.

“Apa, Ya? Enggak kedengeran.”

Perasaanku makin tidak enak, terlebih ketika melihat seringai Rani di tengah-tengah pernyataannya tadi. Dia menyambut tangan Aya, tapi tatapannya seolah menuntut agar kalimat tadi diucapkan sekali lagi, tentu dengan suara yang lebih kencang.

“Selamat ulang ta—”

“—eh. Gue sama Aya kayaknya enggak bisa lama-lama, nih.” Aku menyela dengan cepat. “Malam ini sepupu gue ulang tahun juga soalnya, tapi kami nyempetin ke sini dulu.”

Ega melirik ke arahku, seolah mengerti apa yang sedang kulakukan. “Ya udah, gabung sekarang aja, yuk. Thanks banget, lho, kalian udah mau dateng.”

Kami bergabung bersama—sekitar—25 orang lainnya di meja yang telah disediakan. Aku cukup bisa bernapas lega setelah tahu jika pesta itu didominasi temannya Rani. Cuma aku dan Aya yang datang dari pihak Ega.

Semuanya berjalan dengan cukup baik, polah Aya tampak “anggun” karena dia lebih sering menjawab pertanyaan dengan gestur dan senyuman. Kalaupun harus bicara, tiga kata adalah paling banyak. Tentu hanya diucapkan sekali, karena setelahnya aku akan mengulang ucapannya supaya mereka paham. Aya banjir pujian karena dia cantik, beberapa pria yang datang juga meliriknya. Hal itu membuatku bangga. Syukur, jika Aya tampak sempurna di depan mereka. Syukur, jika mereka tidak sadar atas kekurangan fatal yang dimiliki Aya.

“Akting kamu keren.” Aku memuji, tapi wanita itu tak merespon sama sekali. Yah, masa bodoh lah.

Satu jam hampir berlalu. Aya menikmati fruit punch-nya sambil memperhatikan sekitar, sementara aku terus-terusan melirik arloji dan berpikir apakah ini waktu yang pas untuk pergi.

“Kayaknya kita pamit sekarang, deh,” kataku pada akhirnya setelah menghampiri Ega dan Rani.

“Serius? Buru-buru banget, Is.”

“Iya, santai dulu lah.” Rani menimpali sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ega. Kulihat matanya memperhatikan Aya, begitupun sebaliknya. Entah mengapa aku mengedus sesuatu, mereka seolah pernah berseteru atau apalah—namanya juga wanita, suka meributkan hal tak penting.

“Pengennya, sih, pulang entaran. Tapi gue takut sepupu gue ngamuk, nih.”

Mereka berdua mengangguk-angguk, mengerti. Perlahan beban di atas kepalaku menguap, berganti dengan kelegaan luar biasa. Kami mengeksekusi acara ini dengan sempurna. Aku senang, entahlah kalau Aya.

“Oke.” Rani tiba-tiba mendekat ke arah kami. “Eh, seriusan, deh. Gue senang banget bisa ketemu lo lagi di sini—di acara ulang tahun gue. By the way, gue sama Aya cukup akrab waktu SMP. Dia dulu populer banget, jago nyanyi!” Rani tertawa. “Ya, lo mau, kan, nyanyi dulu satu lagu buat gue?”

Otakku seakan loncat dari tempurung saat Rani mengutarakan permintaannya. Yang benar saja, dia ingin Aya bernyanyi? Neraka jenis apa yang sedang Rani ciptakan? Refleks mataku memicing pada Aya, menekan supaya dia menolak permintaan tolol Rani. Mau ditaruh di mana muka kami kalau orang-orang sampai mendengar suara Aya yang sejatinya lebih buruk dari kaset rusak?

Aku pura-pura membetulkan tatanan rambut Aya; berdiri di hadapannya dan membisik pelan tepat di telinga kanannya, “Si Rani sinting. Enggak usah diturut lah.” Mata kami terus beradu selama beberapa saat, dan kali ini, aku seperti kehilangan kemampuan untuk membaca mata Aya. Entah apa yang ada dipikirannya.

Rani pergi ke arah panggung live music, tampak meminta ijin pada pengisi acara, dan berdiri di depan standing mic setelah salah satu dari mereka mengangguk setuju. “Selamat malam, semua. Maaf mengganggu sebentar. Saya Rani, sedang berulang tahun hari ini.” Dia bertepuk tangan, tak lama kemudian yang lain pun mengikuti. “Dan saya kedatangan tamu spesial, dia adalah teman saya waktu SMP, namanya Aya. Halo, Aya!”

Wanita itu melambaikan tangan ke arah kami, terlihat para tamu—khususnya teman-temannya—bersorak dan tampak antusias dengan orasi tolol Rani di atas sana. Aku menarik tangan Aya, mengajaknya pergi. Tapi, tak disangka dia menepis tanganku dengan kasar. Raut wajahnya yang setenang permukaan danau seketika membuatku takut.

“Halo,” katanya pelan sambil membalas lambaian tangan Rani.

“Aya katanya mau menyanyikan sebuah lagu buat saya. Ayo sini naik, Ya!”

Wanita itu bersiap melangkah, refleks pergelangan tangannya langsung kucengkram. “Gue bilang jangan. Lo ngerti enggak, sih?” emosiku tersulut, alih-alih menurut wanita itu malah menepis tanganku dengan lebih kasar dari sebelumnya. Gila.

Si Kaset Rusak biasanya tidak seperti ini. Selama ini dia selalu menurut, tidak protes, dan tampak bahagia-bahagia saja menjalani hubungan denganku. Dia tahu jika aku butuh banyak waktu untuk menerima kekurangannya, dia juga dapat memaklumi perasaan maluku yang tak mau lenyap entah sampai kapan. Kenapa sekarang dia melakukan konfrontasi? Apa dia pikir Rani benar-benar suka suaranya? Apa dia sepede itu menganggap suaranya enak? Apa dia tidak sadar jika dia sedang dipermalukan? Aya berengsek!

“Ga, pacar lo kenapa, sih?”

“Kok pacar gue? Pacar lo tuh yang kenapa! Seriusan si Aya mau nyanyi?”

Aku malah jadi berdebat dengan Ega, dan tahu-tahu, Aya sudah ada di atas panggung sambil bisik-bisikan sok akrab dengan Rani. Demi Tuhan, malam ini berjalan dengan begitu ganjil dan tidak masuk akal. Parah.

“Katanya Aya mau nyanyi lagunya Nikka Costa. Pada hafal, dong? Nanti kita nyanyi bareng, ya!”

Setelah mengakhiri orasinya Rani pun turun dari panggung. Dia berjalan menghampiri Ega sambil terkekeh puas. Tak lama kemudian, band yang kala itu tengah mengisi acara memainkan musik dengan seadanya—namanya juga dadakan—dengan posisi vokal yang digantikan Aya. Rasanya aku mau mati saja, tak bisa membayangkan bagaimana reaksi penonton ketika suara busuk Aya menggema di seluruh penjuru kafe. Bisa saja aku kabur untuk menyelamatkan harga diriku, tapi sialnya aku tidak setega itu.

Kusapukan pandangan pada orang-orang; ada yang cuek, ada juga yang antusias. Tampilan Aya jelas membuat mereka menaruh ekspektasi tinggi. Yah, kalaupun tidak bagus, paling tidak suara Aya berada di garis normal lah.

 “Everyone can see…”

Aya mulai bernyanyi, matanya berada tepat di mataku. Lagi-lagi aku menyapukan pandangan, mulai mengendus kekecewaan dari wajah-wajah yang memenuhi ruangan. Bait demi bait lagu dilantunkan Aya dengan suara yang jelek dan nadanya sengaja ditinggi-tinggikan. Membuatku mual.

“They don’t know what’s wrong with me, and I’m to shy to say…”

Wanita itu turun dari panggung, menghampiriku sambil menyanyikan bagian reff lagu. Bulu kudukku meremang dan keluhan-keluhan yang kutakutkan sayup-sayup terdengar. Ekor mataku melihat sosok Rani yang tertawa dengan sangat lebar, dan dunia seakan runtuh ketika Aya berdiri tepat di depanku. Menyanyikan lagu dengan nada super emosional.

“My first love!!!!!” Aya menggenggam kerah kemejaku yang sebelah kiri, menatapku dengan penuh amarah. “Thinks that I’m too young, he doesn’t even know!!!!” Rasa kesal menghujaniku, dan sumpah mati aku ingin sekali mencekiknya. Dia jelas-jelas ingin membuatku malu, dia seolah menunjukkan seluruh kemuakannya padaku lewat suaranya yang busuk itu.

“Tell me Teddy bear, why love is so unfair!!!!!!!!!!!” Tak sadar aku mendorongnya agar menjauh, membuatnya langsung membanting mic ke lantai dan pergi meninggalkan pesta sambil berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Seseorang, tolong katakan padaku kalau ini cuma penggalan mimpi buruk!

-fin.

 

A/N:

  1. Menurutku ini cerita paling enggak jelas yang pernah kubuat, maafkan.
  2. Tadinya sih berniat untuk menonjolkan sisi abusive relationship-nya, tapi aku ngerasa ini sangat nanggung, belum lagi ending-nya yang kecepetan.
  3. Lagian, emangnya ada ya, cowok yang minder gegara pacarnya punya suara yang nggak nice? Mungkin ada, mungkin.
Advertisements

16 thoughts on “[Writing Prompt] Dia, Kaset Rusak

  1. Mba Aya, lebih seringlah merusak kuping pacarmu agar kalian impas dan makin serasi ❤
    'abusive relationship-nya' dari awal bikin gregetan, dan dikasi dosis segini aku udah geregetan apalagi kalo sama kanis dijoss bisa banting lapi kayae wuahahahaha
    Kalau mau bicara jujur-jujuran menurutku pasti ada yang kurang sreg begitu kalau punya pacar bersuara kaset rusak, tapi sudah kurang asem sih emang yang di atas itu, atau itu realita?!

    KANIS AKU GEREGETAN ❤

    Like

    1. asli lho kakpang aku kaget liat notif wp. ‘Lah kok udah publish? Kan lom sempet w betulin? Masih plothole sana sini?!’ /eeeak malah curcol/ tapi yasudah, kadung publish juga wkwkwk
      Iya, si ais ini emang agak bajingan sih :(( aku aja bayanginnya kesel sebenere :((

      makasih banyak ya udah baca, maaf kalo ada kekurangan~ heuheu

      Liked by 1 person

    2. kanis btw tadi ada typo yang kunotis yang tadi kelewatan ga ikut kekirim: “Bibirmya”–just a minor typo m-n kanis~

      selebihnya aku nokomen XD ehehe

      Like

  2. Wah, aku speechless. Emosi Ais dan Aya kerasa banget. Dan tbh, aku asli gregetan sama Ais-nya. Jadi paham juga kalau kenyataan nggak selalu seindah drama romantis. “Aku mencintaimu apa adanya..” lalala, kukira nggak semua laki-laki seperti itu.

    Kepada Ais, aku punya satu saran. Just pinch your cheek and you will know whether you just had a dream or not 😉

    Kusuka ceritanya, Kak. Keep writing yaa…

    Like

    1. Amiii, huhu. asli naskah ini tuh masih setengah mateng dan belom sempet aku edit lagi. eh tapi kadung publish (lupa skejul tanggal berapa wkwk) :(( maaf ya jikaaa banyak kekurangan huhuhu.
      iya mi, bohong banget sih istilah mencintai apa adanya tuh wkwk seperti lagunya Tulus laaaa~
      makasih banyak ya miii udah baca 🙂

      Like

  3. NGAKAK. Ada ya cowok kayak begini gak suka gara-gara ceweknya suaranya jelek :” ya kalo dia gak mau ceweknya nyanyi okelah, gak mau ceweknya ngomong… suara Aya sejelek itu?

    Btw kak, aku super gak konsen baca namanya Ais, soalnya temenku yang namanya Ais cewek semua LOLOL. Anyway, si Ais ini kesannya berengsek banget sih 😦 dia kan bisa nyeret Aya pergi bersama (walaupun tetep ngeselin), daripada didorong gitu. Mau nambah lagi dong kak ceritanya mereka HAHAHA.

    Nice fic as always lah X)

    Like

    1. Yah, kita bayangkan saja… tampang tara basro, suara asri welas. Kayaknya gimana gitu ya HAHAHAHA cantik-cantik suaranya annoying wkwk.

      Wahaha, kalo di aku sih, yang cewek ada yang cowok ada. Aisyah dan Haris. Mereka sama-sama dipanggil Ais lol laaaah mau nambah, oke deh tar, tapi tunggu akunya ga waras dulu yak wkwk asli posting cerita ini tuh shameful banget sebenernya tapi terlanjur #jreeeeng

      Tengkyuuu tari udah baca ;D

      Like

  4. alo daku reader baru, dan mungkin nantinya bakal lebih sering nyampah komen di sini/? //terus besoknya kena blok// //ok bhay//

    ih ini kasian si aya dipermalukan huwa ;( aku pun mikirnya tampang chelsea islan suara dijahyellow //astagah// yang jelas ini cerita ngebuat orang yang baca gregetan sendiri huhu ;-;

    keep writing kak adelma/? ❤
    zy, 03 L

    Like

  5. Kak nis, serius awalnya kukira si cowoknya gak suka suara si cewe kalo nyanyi doang. Eh ternyata pas ngomong juga digituin(?) Tp temenku juga ada yg suaranya ganggu bgt sih walau cuma ngomong.

    Aku penasaran perasaan si aya pas pacarnya nyuruh diem terus. Oh mungkin pas di ending dia saking keselnya ya jadi sabodo amat gitu. Kukira juga tetiba suaranya si aya bagus gitu kan tumben dia mau nyanyi di depan umum dengan suara super ganggu.

    Terus mereka akhirnya putus apa gimana kak? Bahahaha tulisan kak nis yang ringan gini juga enak dibaca kok kak! Keep writing! ♡

    Like

  6. SUMPAH KAKNISA AKU NGAKAK! HAHAHA ASLI!!!!!!!!!!!

    Suka banget sama si aku dan aya disini betewe. aku juga punya temen kayak aya persis banget wkwkwk ngakak bgt pas si rani suruh aya nyanyi:’) duh cowoknya aya jahat bgt sih tapi kocak juga ya allah. wkwkwk btw temenku yg kaya aya itu juga kalau nyanyi aduh:”’) ahhh sumpah waktu baca fic ini kayak lagi baca satu-dua halaman novel ala ala gramed ahh pokoknya sukaak banget kaknisss! x) makasih buat hiburan yang terselubung di dalem ceritanyaaa hihi

    keep writing!

    Like

  7. HAHAHAHAHAHAHA omg nisaaaa xD ya ampun aku mah ngakaknya pas nama rani keluar. soale dulu pernah ada mbak yang bantu di rumah namanya rani, terus sepanjang cerita aku mikirinnya muka rani ex mbak aku dulu ituuuu wahahaha maaf yha nis tapi mau gimanaaa :”)) btw iyaaaa setuju sama komen komen yang laen ini si ais minta digeplak banget pake teflon heu :” okelah ya kalo nyanyi, tapi hellaw masa pacar sendiri gak boleh ngomong ._. aku kira dia tuh tipe yang menerima apa adanya eh taunyaaaa heu. ini bagus kok niiis, fresh banget ceritanya ehehe. as usual padahal mah kamu ga mau ngelawak aslinya tapi jatohnya malah lucu giniii wkwk. keep writing yah niiis ❤

    Like

  8. Ini ga kayak kamu yg nulis, nis. Tema personality disordernya sih okelah, itu kamu. Tapi kalimat-kalimatnya ga witty kayak kamu yg biasanya. Biasanya kamu bercerita dg tajemtajem nusuk nikmat gemanahh gitu. Tp di sini aku kehilangan jiwamu. Ngebaca balasan2 komenmu di atas, ternyata instingku yang ngerasa kamu belum selesai masak (kalau cerita ini adalah masakan), bisa dibilang benar. Harusnya perlu dicicipin dulu, koreksi rasa, but voila, tetiba sdh meluncur di meja saji.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s