[Writing Prompt] Serendipity

12661755_1177913585552417_4246262146577324642_n

Dokter Muda

By Ms. Pang

.

 “The soul, fortunately, has an interpreter – often an unconscious but still a faithful interpreter – in the eye.” ― Charlotte Brontë

.

Bagian 1: Aku tidak suka anak kecil.

Bagiku, makhluk kecil yang punya stok energi dua kali lipat dari tinggi badannya itu lebih sering membawa masalah dibanding anugerah. Misalnya saja berlarian di sekeliling rumah, dan tidak akan berhenti sampai sebuah guci porselen setinggi satu setengah meter pecah, atau minimal memindahkan setoples makanan ringan di ruang tamu ke penjuru ruangan.

Tapi anak kecil yang satu ini berbeda, namanya Judith—gadis enam tahun yang kutemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di halaman rumahku. Awalnya nyaris kutendang, karena kukira sekantong sampah dapur yang terlewatkan oleh petugas kebersihan, kalau saja nyala flash smartphone tidak lebih dulu menyorot tubuhnya yang terbaring setengah tertelungkup. Saat itu hari sudah lewat tengah malam, dan sama sekali tidak mengherankan kenapa tak seorang pun mengulurkan tangan—mengingat penghuni kompleks tempat tinggalku mayoritas adalah pekerja paruh waktu yang jam pulangnya bertumbukan dengan jadwal matahari naik pentas. Tidak dicabuli preman mabuk yang kebetulan lewat juga sudah untung.

Tiga hari bersamanya, keistimewaan Judith benar-benar tidak ada habisnya, terutama soal segudang keberuntungan yang ia bawa bersamanya—pertama, ia jatuh pingsan di halaman rumah seorang koas[1]; kedua, rumah sakit tempatku bertugas yang sejak seminggu lalu tidak mampu menerima pasien karena semua kamar penuh terisi, malam ini siap menerima Judith, yang mana ternyata karena pasien sebelumnya baru saja meninggal dunia; ketiga, aku ditunjuk sebagai dokter jaga untuknya.

Meski tidak banyak yang bisa kulakukan, namun diberi kepercayaan sedemikian rupa cukup membantuku lebih leluasa mengawasi perkembangan Judith. Kendatipun kuakui tidak ada yang terlalu menarik, mengingat penyebab Judith jatuh pingsan semata karena lambungnya tiga hari belum dapat jatah konsumsi. Meski begitu, melarikannya ke rumah sakit adalah pilihan yang tepat, karena selain dapat beristirahat dengan tenang, ia juga dapat jatah makan tiga kali sehari dengan jaminan gizi yang seimbang. Benar-benar gadis cilik yang beruntung, bukan?

Tapi, tentu di balik keberuntungan yang seolah tiada habisnya, si gadis misterius ini telah melewati suatu masa yang kelam. Kutelisik dari tiga pekan yang sudah berlalu, kedatangan pasangan paruh baya untuk mengklarifikasi kehilangan seorang anak bernama Judith seperti yang kunantikan tidak kunjung terwujud. Bukannya mengkhawatirkan biaya yang akan kutanggung, hanya saja… rasa penasaran di balik penyebab Judith sampai jatuh pingsan karena kelaparan tidak dapat diabaikan begitu saja. Apakah Judith ditelantarkan? Lari dari rumah? Atau kemungkinan yang terburuk semacam ia korban human-trafficking yang sedang dalam pelarian?

Setiap hari muncul satu dugaan yang berbeda, yang mana belum satu pun terkonfirmasi kebenarannya, mengingat Judith tampak mulai menikmati ruangan tempatnya tinggal seorang diri dengan boneka panda pemberian Dr. Albrecth—dokter pembimbingku yang menyayangi anak-anak lebih dari jatah makan siang eksklusif—yang diberikan langsung saat kunjungan keduanya ke kamar Judith. Oh, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada gadis bermata indah sepertinya?

Mungkin, aku?

Bagian 2: Aku tidak suka anak kecil, apalagi yang bermata hijau zamrud.

Cukup lambat bagiku menyadari keistimewaan Judith yang satu ini, yang bertahta anggun di balik eye smile andalannya. Keistimewaan yang memicu kebencian untuk kembali bercokol, tiap kali kedua iris kami bertumbukan di hadapan cermin, ketika aku menyisir surai menteganya seusai ia mandi. Maunya kutahan, tapi semakin hari pesona eye smile-nya tak lagi mempan meredam letupan cercaan yang membombardir milikku yang sewarna hazel secara sepihak. Memang bukan salahnya karena dilahirkan memiliki iris terindah di muka bumi, tapi tetap saja kecemburuan ini tumbuh dengan liar, tak terkontrol.

Intensitas kunjunganku semakin hari semakin kurenggangkan. Selain karena kondisinya yang kunilai sudah cukup stabil, dorongan mengunjungi bangsal pasien dengan medical record yang beragam lebih besar, tidak seperti milik Judith yang stagnan—membosankan.

Rencananya, seminggu sebelum masa praktek koasku berakhir, aku harus sudah menemukan panti asuhan yang tepat untuk Judith. Tidak mungkin, kalau aku harus membawanya tinggal denganku selamanya, bukan?

Hingga suatu sore, kuputuskan untuk kembali melakukan kunjungan rutin, semata karena keharusan mengisi laporan pasien, dan kebetulan hari ini kemampuan mengarangku di bawah rata-rata. Tapi, belum apa-apa ia sudah mengajukan permintaan aneh yang membakar ubun-ubunku.

“Tolong bacakan ini untukku.”

“…novel ini?”

“Ya, tolong bacakan semua ceritanya, dari awal sampai akhir, Jane.”

Oh, astaga! Kalau ingin mengoyak irisku yang buruk rupa bukan begini caranya, wahai gadis muda bermata indah.

“Kenapa kau tidak membacanya sendiri?” tanyaku sembari menimang-nimang asal novel penyihir yang tebalnya bersaing dengan bantal bayi di tanganku. Kalau kulemparkan ke luar jendela sebelum mengatakan selamat tidur pada Judith, apa yang akan terjadi?

“Kau tau aku belum mahir membaca, Jane. Aku sudah berjanji akan mengembalikannya besok.”

Di sana, di kedua soketnya, kepingan zamrud itu berkilat sendu, giat memancing iba yang sudah punah diburu cemburu.

“Usiamu sudah enam tahun, kenapa belum juga mahir membaca?”

“Tidak pernah berlatih. Ayah dan ibu terlalu sibuk beradu lempar panci dan piring, hingga membalas salamku saja tidak sempat.”

Well, rupanya dongeng yang kunanti-nantikan, yang belum sempat kugali; nyatanya malam ini muncul sendiri.

“Itukah mengapa mereka belum sempat mengunjungimu sampai hari ini?”

“Itu… mungkin karena belum ada yang membangunkan mereka. Terakhir kali aku menengok ke dapur, mereka ada di sana, berbaring saling berdekatan satu sama lain. Mungkin mereka terlalu lelah, dan ingin tidur sebentar, jadi aku tidak ingin mengganggu.

“Tahukah kau, Jane? Malam itu, ketika aku akan membangunkan salah satu dari mereka karena lapar, kurasakan tubuh mereka berdua sama dinginnya seperti es. Itu sebabnya aku cepat-cepat berlari keluar menuju supermarket, karena kupikir teh hangat akan cukup membantu menghangatkan tubuh mereka. Tapi aku terlalu lapar sebelum sampai, lalu jatuh pingsan di halaman rumahmu.”

Untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, iris kami kembali bertumbukan, dan manik zamrud itu tengah menelisik milikku. Kali ini dengan kilat antusias—entah sudah mangkat ke mana kesenduan yang semula dipaparkannya—untuk mencari celah di antara sekat rapat sanubariku yang mau mengiyakan permintaan konyol yang ia ajukan di awal konversasi.

“Jadi, apakah kau akan membacakannya untukku, Jane?”

“Tentu. Tapi dengan satu syarat.”

Aku tidak suka anak kecil, apalagi yang bermata hijau zamrud; pengecualian untuk Judith. Karena ia mau membaginya satu denganku.

~끝~

  • Serendipity (n) the fact of something interesting or pleasant happening by chance.
  • [1] Koas: Co-Assistance a.k.a Dokter Muda, mahasiswa fakultas kedokteran yang sedang menempuh masa praktek.

 

PANG’s Note:

MAAFKAN AKU PARA DOKTER MUDA KEBANGGAAN NUSA DAN BANGSA… BUKAN MAKSUDKU MENJADIKAN IMAGE KALIAN CREEPY BEGINI, BIKOS INI FIKSI SEMATA, DEMI PROMPT DAN KEBAHAGIAAN SADAYANA, SO, PLS SPARE MY LIFE YHA ❤

Untuk para calon pasien dokter muda, rileks wae, tenang saja, ini cuma fiksi, dan percayalah kebanyakan dokter muda itu tampan, rupawan, dan sehat jasmani-rohani. Maka kalian wajib bahagia kalau ketemu mereka, dan yakinlah proses penyembuhan akan berangsung lebih cepat. Jane is a total Fiction Character ❤

ANW, NICE TO MEET YOU IN THE MONTH OF LOVE SADAYANA~ Let us spread the love through da pawer of words ❤ ❤ ❤

Advertisements

18 thoughts on “[Writing Prompt] Serendipity

  1. Aku juga gasuka anak kecil..ahahahahaha, tp aku suka bayi *nahloh*
    Itu fix ortunya Judith dah mninggal alamak T_T. Kalau aku jadi Jane sih aku gk ambil pusing ttg Judith..HAHAHA..jd, Jane ini udah dalam kategori yg baik hati sbnrnya..u.u

    Aku gagal nangkep makna tersirat dari kalimat trakhirnya kakpang : Karena ia mau membaginya satu denganku.
    Setdah, jadi dia nyongkel iris matanya Judith dong alamak ~0~

    Wokkeh, aku suka sama ceritanya, kakpang. Keep writing lah pokoknya 😀

    Liked by 1 person

    1. Halu Dhilaaaa
      Aslinya aku juga gasuka anak kecil tapi kuberusaha tida congkel mata mereka (slaps)

      Soal kalimat terakhir, kenapa dijadikan tersirat karena… langsung nulis ‘dengan bayaran satu mata’ sounds so jahat (tapi sama aja)
      ehee
      Thankeus Dhilaaa ❤ ❤ ❤ You too!

      Like

  2. Aku baca notesnya malah keinget Antong Tanjung, tau gak kak? Dokter muda yang dibilang ganteng sana-sini (menantu idaman para ibu-ibu kayaknya) HAHAHA. Dan baca quotesnya keinget Jane Eyre :””” (masih baper abis nonton filmnya).

    BTW AKU TIDAK MENYANGKA ITU ENDINGNYA LAH KOK JADI KAYAK BEGITU. INI DOKTER MUDA APA DOKTER SAKIT JIWA!? Mau nangesh plot twistnya oke banget, mau ngomong apa lagi juga ini kuspeechless. Tapi penasaran lebih sama backstorynya si anak, mungkin kakak mau membocorkan lebih? LOL.

    Kakpang serem deh kalo nulis, serius-serius gitu, gak mau nulis komedi? ((masih aja)) hahaha. Pokoknya this is so nice ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. Aku kepo Taaar XD searching gugle langsung, ‘lah ini dokter apa ulzzang’ (slaps)

      SOAL KOMEDIIIIIIIIIIIIII OMO AKU TUH MAUNYA NULIS KOMEDI ETAPI KOJADINE GINIIIII :’

      Glad you laik it, Tariiiiiiiiiiiiiii ❤ Thankeussssss ❤ ❤

      Like

  3. Mataku langsung melebar baca dua kalimat terakhir. Aaah terlalu hanyut nih sama deskripsinya Kak Pang, nggak nyangka endingnya ternyata creepy kayak gini :’D
    Jadi, apakah kehadiran Judith juga merupakan suatu serendipiti bagi Jane? (karena dia dapet rezeki satu bola mata yang indah)

    …aku rada speechless. Masih takjub sama endingnya, hahaha. Menurut aku, kakak cocok banget nulis genre kayak gini. Semi-dark(?) ._. Seinget aku, pas baca cerita kakak yang judulnya ‘Fall’ juga bacanya kayak syalalala~ ngalir aja gitu ngikutin kata demi kata. Nggak taunya endingnya…
    Kakak tau banget naruh twist-nya dimana dan gimana. Keren kak, kereeen aku terharu ;-;)d
    Aku bakal nunggu cerita kakak selanjutnya 😀

    Liked by 1 person

    1. Mungkin perkara warna leptopku dark jadi hasilnya mostly semi-dark (gagitusihtapi)
      Kuterharu juga baca komennya puaaanjang, glad you like it, Bi… Maafkeun aku balasnya tak seberapa yha :’

      Thankeussssssssss*, Biiii ❤ ❤ ❤

      [Thanks ping satus*]

      Like

  4. WALAH DOKTERNYA SAIKO INIIIIHHH TAPI FILZA MENYAMPAIKANNYA SMOOTHLY DANGEROUS YANG KAYAK “dia lucu tapi sebentar lagi matanya jadi milikku.” HUHUHU TSAKEUP FILZ!
    (matiin kepslok)
    (minum dulu minum dulu)
    aku suka kemasan ceritanya yang bagian 1 bagian 2 itu lho jadi rapi aja liatnya. oiya filz aku nemuin ‘kemana’ dan ‘diantara’ yang semestinya dipisah? coba cek lagi ajalah ehe.
    TSAKEUP CERITANYA FILZ!!!

    Liked by 1 person

    1. KAECIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII MAACIW DAN JANGAN LUPA MINUM 8 GELAS SEHARI YHA SESUAI SARAN PAK DOKTER MUDA DI TIPI (AHAY)

      EDITANNYA SIAP LAKSANAKAN 86! ❤ ❤ ❤

      Like

  5. Kak pang…. ini tuh kaya manis di awal, pait di akhir tauga(?)
    Yha maksudnya kukira si dokter baik bgt mau nampung bocah lucu nan cantik meski dia cemburu sama matanya… tapi taunya tingkat kecemburuannya parah bgt. Mana si judith mau2 aja nurutin permintaannya. Kasian udah yatim piyatu, eh masa matanya juga mau direnggut huft Atulah tolongin judith :((

    Asik bgt deskripsinya, sampe ga sadar kalo udah abis….

    Dan ya, rata2 emg dokter muda tuh kece2 masih fresh mungkin bebannya blm terlalu berat? ((Sotoy)) tp sayang jg bnyakan dokter muda ganteng udh pada punya gandengan(?)
    Yah yaudahlah lupakan dokter muda. Keep writing! :))

    Liked by 1 person

    1. “tp sayang jg bnyakan dokter muda ganteng udh pada punya gandengan(?)”–pait pait paiiiit :’
      Tapi aslik aku langsung nyusruk di kasur iya ya iya uda ada gandengannya biasanya ((lah bapeur))
      Yha daripada gandengan sama stetoskop lalu memburu mata anak tak berdosa… maka… yasudahlah :’
      Eheeee thankies Titayuuu sudah menyadarkanku fakta terpahit of the week (gagitudeng) ❤

      Like

  6. GREEN EYES IS MY WEAKNESS and uuuugh pretty much i’m jealous of all people who has green eyes hvt u.u

    “… Awalnya nyaris kutendang, karena kukira sekantung sampah dapur yang terlewatkan oleh petugas kebersihan…” E buseh, yang ini bikin ngakak gatau kenapa XD

    but then,
    “Aku tidak suka anak kecil, apalagi yang bermata hijau zamrud; pengecualian untuk Judith. Karena ia mau membaginya satu denganku.” — WHAAAAAAATTTT???!!! Ngucek mata dua kali takut salah baca eh ternyata tulisan ga berubah. JUST WHAT KIND OF PLOT TWIST IS THAAAAAT took me off guard awawawawa ;-;

    … but yea, pretty much that’s exactly mah cup of tea 🙂
    luviiit ❤ ❤

    Liked by 1 person

  7. firstly first, kaput thankies reviewnya dan untuk kesekian kalinya nuhun ngerepotin :”
    Secondly, siap laksanakan editan yang sudah dirinci di atas.
    Pertama kali, setelah kucari lagi ternyata dipisah ❤
    Finally, kamsia a bunch kapuuuuuuuuuut!!! ❤ ❤ ❤

    Like

  8. WADAOOOOOH KAKPAAANG NAHA TERAKHIRNA KITU ENDINGNAAAAA. AING TEH NGAGEBLAK DINA KASUR, IEU MAKSUDNA SI JANE HAYANG NYOKOT MATANA JUDITH KITU? SO SO SOOOO CREEPY OMG (okeh, napas.)
    DIS IS the real sweetly dangerous hahahahaha xD as kaeci said, bedanya smooth sama sweet doang hahahaha. suka sama pembagiannya, terus cantik gitu bahasanya aku sukaaaa. dari awal baca kayaknya tuh kalem gitu yha, nothing’s wrong kayaknya. eeeeh pas baca novel. pas orang tuanya terbaring di dapur. pas kulitnya dingin. pas judith pingsan weeeeeeh aku tuh yang: oh damn, something’s comin’ dude, brace yourself xD aseli bahaya banget nih kakpang hahahahaha xD

    anw tadi aku nemuin beberapa kata yang nggak baku hehehe. kantung itu harusnya kantong, terus ada memborbardir yang harusnya membombardir, sama yang tau kurang huruf h xD cmiiw apabila koreksianku salah yha kakpaaang hehe. kusukaaa ceritanyaaa. keep writing kakpaaang luvluvvvvv ❤

    Liked by 1 person

    1. Kafikaaaaaa omo thankeus koreksiannya dan sudah kujalankan ❤ ❤ ❤ Maaf balesannya telat bana dan sependek ini huhuf :" Kafika keep writing tooo~~~

      Like

  9. kereeennn~
    aku juga gasuka anak kecil btw xD mungkin karena aku kan waktu kecil anak bungsu tuh, disayang mulu kan sama nenek x3 nah datenglah keponakan ke dunia, dan rasa sayang itu dibagi deh T.T jadi aku iri sama mereka kan sampe sekarang masih ga suka sama anak kecil :”3 *malah curhat*
    suka sama cara kakak gambarin ceritanya~ si jane ini sebenernya baik, tapi dia bersikap seolah dia itu orang super jahat yang anti banget anak kecil kkk~ unik banget 😀

    keep nulis kak ^^

    Liked by 1 person

    1. Haloh sesama anak bungsu kita tos dulu yuk! Hahahaha aslik lah the power of anak bungsu is posesip (alah)

      Terima kasih ya feedbacknya ❤ Nuhun balesanku telat dan pendek :'

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s