Sleepless Star : When Reality Hits Me

photo-1445295029071-5151176738d0

by slmnabil

.

But as I grow taller, I crush down due to the high wall named reality


Kamu tahu kenapa orang dewasa bilang, masa anak-anak adalah yang terindah?

Karena anak-anak—aku, tidak akrab dengan realita. Jangankan dekat, berpapasan saja nyaris tak pernah. Sebaliknya, aku bersahabat baik dengan fantasi. Suatu spasi imajiner yang gemar kujadikan tempat piknik hingga tak sadar saking dominannya, keduanya—realita dan fantasi—bertukar lakon.

Dan kuanalogikan fantasi alih-alih realita sebagai oksigen. Aku tidak punya asma, apalagi penyakit respirasi akut, jadi hidup di fantasi menurutku semudah melakukan difusi di alveolus. Begitu ringan, tanpa beban.

Pikiran tipikal diriku.

.

Kamu tahu kenapa orang dewasa bilang, masa anak-anak adalah yang terindah?

Karena anak-anak—aku, tidak perlu berpikir seribu kali. Percaya atau tidak, lebah saja pernah kumakan, lho. Korban dari tak bisa membedakan kepingan Kopiko dengan serangga yang salah sasaran. Memikirkannya kembali, aku punya pikiran untuk mencobanya sekarang.

Orang dewasa mungkin ogah melakukannya. Ada doktrin dari pendidikan yang terkadang membuat langkah jadi setengah-setengah. Terlalu banyak pertimbangan, malah tidak jadi sekalian. Padahal kalau ingin, lakukan saja. Kenapa perlu buat demonstrasi di isi kepala?

Pikiran tipikal diriku.

.

Kamu tahu kenapa orang dewasa bilang, masa anak-anak adalah yang terindah?

Karena anak-anak—aku, tidak perlu cemas soal rupiah. Menukar selembar dua puluh ribu dengan dua bungkus agar-agar di kantin sekolah saja sudah membuatku jingkrak-jingkrak, kok. Menurutku satu lembar diganti dengan delapan lembar nominal dua ribu artinya aku semakin kaya. Uangku banyak. Jadi diberikan sepuluh lembar Kapitan Pattimura saja rasanya sudah seperti kalangan borjuis.

Pikiran tipikal diriku.

.

Kamu tahu kenapa orang dewasa bilang, masa anak-anak adalah yang terindah?

Ini argumen paling krusial menurutku. Karena anak-anak—aku, tidak perlu mengalami sulit tidur gara-gara cinta. Aku sudah punya, kok. Abang-abang samping rumah yang dinding kamarnya cuma dua belas langkah dari bangunanku.

Iya, kamu. Tinggi, tampan, baik, beralis tebal, dan yang terpenting produksi lagammu nomor satu—buatku, sih.

 Kalau aku minta bantuan untuk menyelesaikan tumpukan tugas sekolah yang sudah menyaingi Menara Pisa, kamu selalu siaga. Kalau aku minta antar beli pembalut malam-malam ke toko swalayan karena warung si Tétéh sudah pasang teralis, kamu juga mau mengeluarkan sepeda motor malam-malam.

Eh, kamu menyela? Apa? Kok dari tadi aku menyebut diriku anak-anak tahu-tahunya sudah balig? Usia cuma angka, itu benar. Nenekku saja sudah tujuh puluh, makanannya harus dibubur lagi. Giginya rontok semua, seperti orok saja.

Sudahlah, kembali ke pokok sebelumnya.

Setahuku, kalau laki-laki perhatian seperti itu namanya suka bukan? Di kisah-kisah Disney Princess saja seperti itu. Aku putri, kamu pangerannya.

Aku enam belas tahun, sekarang kamu sudah delapan belas. Jadi kupikir sudah saatnya, kok, aku pubertas. Tapi ternyata saat kamu pulang menggandeng gadis berkumis tipis, aku akhirnya sadar kalau,

“Oh, kisah ini jalan ceritanya nyeleweng.”

Bukan soal aku dan kamu. Layaknya perpindahan lakon realita dan fantasi, dewasa dan anak-anak, ini jadi soalan kamu dan dia.

Pikiran baru tipikal diriku, yang sudah terkontaminasi realita.

.

Sekali lagi kutanya. Kamu tahu kenapa orang dewasa bilang, masa anak-anak adalah yang terindah?

Karena anak-anak—aku, tidak pernah memikirkan skenario njlimet. Sebagai contoh, ekhm kisahku. Aku pikir dengan menjadi dewasa abang-abang di samping rumah bisa jadi pangeran buatku.

Tapi kemudian, realita toh membuat anak-anak—aku, cepat atau lambat jadi dewasa juga. Permukaan yang terlalu dekat membentur kepala, bongkahan batu yang kepalang besar membuat tungkai terantuk.

Itu saat yang krusial sekaligus destruktif. Patah hati di kali pertama mencinta. Tapi tak apa, kamu, ‘kan bukan punya dia. Daripada berpayah-payah mengejar kamu, kenapa tidak mengejar pemilik absolut hatimu saja sekalian? Apalagi dengan kompensasi dapat pahala.

-fin.

  1. Ini fiksi, kok. Penulisnya mah udah 16 tahun 6 bulan da.
  2. Penggalan kalimat di summary dapet dari lirik lagunya Mas Taehyun yang I’M YOUNG. Kalau baca sambil dengerin lagunya, Insya Allah lebih melankolis wahaha x)
  3. Dibuat dalam rangka Open Series nya Kak La Princesa (lagi). Semoga kali ini tidak mengecewakan ya, Kak J
  4. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca J
Advertisements

9 thoughts on “Sleepless Star : When Reality Hits Me

  1. Ini bener pisan bil (2) umur itu cuma angka, yang penting berjiwa muda /eakk. Kok abang abang di samping rumahnya kayak mirip siapa gitu ya :v

    Untung di cerita ini nulisin beli pembalut malem malem, jadi inget punya saya abis :’ /loh /plis ini ga penting /bhay

    Liked by 1 person

  2. Aku paling suka kalimat ini 😍 :
    Daripada berpayah-payah mengejar kamu, kenapa tidak mengejar pemilik absolut hatimu saja sekalian? Apalagi dengan kompensasi dapat pahala.
    Yaah, sabar ajhaa.. Nemu langsung yg cocok emg agak mustahil sprtinya.. Gapapa, makin sering patah hati makin mmbuat diri dewasa #halaaah

    Pengek balik ke masa kanak2 juga 😓
    Trimakasih buat critanya, Nabil! 😀

    Liked by 1 person

  3. hmm abang-abang samping rumah ya. kok aku sekali ini.
    sukanya sama abang-abang trus takut kalo abang-abangnya sama cewek lain wkwk
    singkat ngena dah gitu aja

    Liked by 1 person

  4. aseli, aku ketawa kenceng pas baca kalimat ini: Daripada berpayah-payah mengejar kamu, kenapa tidak mengejar pemilik absolut hatimu saja sekalian? Apalagi dengan kompensasi dapat pahala. OMG NABIL IYA INI MAH AKU AMININ SAMPE 1000 TAUN LAGIIII AHAHAHA xD suka banget ih sama ceritanya. seriusan, bisa relate banget lah, apalagi yang bagian anak kecil nggak usah mikirin rupiah. sekarang pun kalo dompet aku tebel walopun isinya cuman dua ribu perak sama lima ribuan aku mah bahagia. dompet gue tebel men, walopun minus lembaran biru sama merah wahahaha (buka aib). keren sekali ah, aku sukaa.
    keep writing yah nabiiil ❤

    Liked by 1 person

  5. NABIIIIIIIIIIIIIIIIIIL!! YASTAGAH SESUAI JUDULNYA YHA REALITY HITS ME HAAAARD!!!

    Duh gusti kucinta kalimat penutupnya: “Daripada berpayah-payah mengejar kamu, kenapa tidak mengejar pemilik absolut hatimu saja sekalian? Apalagi dengan kompensasi dapat pahala.”
    Dan aku ga bisa ga setuju sama poin ‘kenapa masa-masa anak-anak itu indah?’–absolutely karena ngga bakal ditanyain kapan nikah :” (oke stahp! mari kita hentikan sampai di sini karena Nabil masi 16 tahun)

    Sukanya banget-bangetan sama tulisanmu, Bil! Bikin syariah dan baper bersamaan semoga barokah yha ❤ Keep Writingggg!!! ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s