[Writing Prompt] Am Sankt Nimmerleinstag

1407104739303_wps_4_Members_of_the_French_ass

A cold day in hell

by aminocte

Mustahil aku mengharapkannya untuk tetap hidup karena aku telah menikam jantungnya dua kali.

Namaku Karl Schmidt. Orang-orang terdekatku biasa memanggilku Karl.

Seperti pemuda Jerman lainnya, aku harus mengikuti wajib militer dengan masa yang telah ditentukan. Pada Februari 1914, aku menerima surat panggilan untuk mengikuti wajib militer. Sesuai surat itu, aku ditempatkan di Regimen Infanteri di Freiburg. Di sana, aku dan rekan-rekanku menjalani pelatihan militer selama empat bulan. Kami dilatih–atau lebih tepatnya, dipaksa–untuk memaksimalkan potensi fisik kami. Berlari, merayap, menggunakan senjata, baris-berbaris, dan menempatkan diri dalam formasi-formasi tertentu. Kami juga dituntut untuk lebih berani dan lebih bernyali. Tidak ada yang namanya mogok bertempur hanya karena mendadak rindu suasana rumah. Jangan sekali-kali minta pulang hanya karena menginginkan tempat tidur empuk dengan penghangat yang memadai di musim dingin. Jangan pula sok nekat melarikan diri hanya karena bosan dengan seragam militer dan baju kaus yang kelewat sering dicuci. Jangan pula berharap mendapat izin cuti hanya karena ingin bertemu tunangan atau mengencani wanita cantik barang beberapa menit.

Beberapa bulan setelah itu, tepatnya pada Juli 1914, Perang Dunia I meletus, menyusul terbunuhnya Adipati Agung Franz Ferdinand di Bosnia. Tak lama setelah itu, negara-negara di Eropa terbagi menjadi dua kelompok besar: Blok Sentral dan pihak Sekutu. Blok Sentral beranggotakan Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia. Sementara itu, Britania Raya, Perancis, dan Rusia tergabung dalam pihak Sekutu. Negara-negara lainnya bergabung ke dalam salah satu di antara dua kelompok itu, bergantung pada kedekatan hubungan maupun kepentingan mereka.

Begitu kabar tentang perang tersiar ke seantero negeri, banyak pemuda yang antusias ingin bergabung dalam pasukan tentara Kaiser[1] Jerman. Kalaupun tidak ingin bergabung, selalu ada orang-orang yang bersedia mendoktrin mereka tentang pentingnya patriotisme dalam masa perang seperti ini. Dengan iming-iming seragam tentara yang gagah, kemudahan dalam memikat para wanita, hingga kebanggaan sebagai pahlawan negara, para pemuda yang awalnya enggan akhirnya rela bergabung dengan pasukan Kaiser. Di antara ratusan ribu anggota yang terdaftar, sekitar sepuluh ribu di antaranya mengabdi dalam waktu yang relatif singkat, yaitu satu tahun. Umumnya, mereka adalah siswa atau mahasiswa, atau laki-laki yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Mahasiswa kedokteran sepertiku harus mengabdi selama setengah tahun sebagai anggota pasukan Infanteri, ditambah setengah tahun lagi setelah resmi menjadi dokter, sebagai petugas medis.

Begitu pelatihan militer berakhir, kami resmi bertugas sebagai tentara Kaiser. Itu artinya kami siap bertempur membela negara dan melawan musuh. Siapa pun itu, entah mahasiswa asing yang pernah kami kenal, entah kenalan di negara lain yang sering kami sambangi di kala liburan, yang mengenakan seragam berbeda dengan yang kami kenakan, adalah musuh yang harus kami taklukkan. Baik menggunakan bayonet, senapan, granat, atau apa pun. Ini yang kucamkan baik-baik dalam hati agar tidak menaruh belas kasihan kepada tentara musuh. Setidaknya aku harus siap melakukan semua itu hingga tugasku sebagai anggota pasukan Infanteri selesai untuk kemudian bergabung dengan Sanitätswesen[2] sebagai petugas medis.

***

Agustus 1914, kami mulai digerakkan keluar Freiburg. Mengenakan seragam tentara lengkap, kami berjalan dalam barisan pada malam hari dengan penerangan seadanya. Pertempuran demi pertempuran kami lalui setelahnya.

Sejak saat itu, kehidupan damai yang pernah kami rasakan seolah direnggut paksa.  Bunyi peluit penanda, disusul oleh ledakan keras bertubi-tubi menjadi konsumsi sehari-hari. Berlindung di dalam parit yang sempit dan pengap menjadi suatu keharusan jika tidak ingin mati konyol di atas tanah. Makanan seadanya menjadi sesuatu yang harus kami terima dan syukuri, walau kenyataannya kami sering marah-marah kepada koki yang terlambat menyelesaikan tugasnya. Membunuh tikus-tikus adalah pekerjaan sampingan yang wajib dilakukan. Jika tidak, hewan-hewan itu akan mengerat semuanya, bahkan tak jarang menggigit kulit manusia. Di mana-mana prajurit terluka: tertembak, tertusuk senjata tajam, terkena serpihan granat, terkena ledakan proyektil artileri. Kematian menjadi hal yang biasa, meski menakutkan pada awalnya. Aku belum sedingin itu untuk masa bodoh dengan kematian rekan-rekanku, tetapi cukup tenang untuk tidak menyikapi setiap kematian dengan ratapan yang berlebihan.

Di sela-sela jeda antara pertempuran satu dengan lainnya, kami masih bisa menikmati hidup. Menikmati makanan dan minuman yang dijatah sambil sesekali melempar lelucon, yang entah lucu entah tidak. Namun, rasanya menyakitkan saat mengetahui rekan-rekan yang biasanya bergabung dalam pembicaraan kami meninggalkan dunia ini satu per satu. Kami juga tidak tahu kapan giliran kami akan tiba. Jarak antara hidup dan mati di sini setipis kain sutra. Begitu tipis dan mudah terkoyak. Kematian tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh, yang hanya akan datang kepada orang-orang lanjut usia. Yang muda seperti kami pun bisa mati sewaku-waktu dengan berbagai sebab. Entah itu karena kalah dalam pertarungan satu lawan satu atau terkena muntahan artileri musuh.

Namun, bagi kami yang masih hidup dan harus bertempur hingga entah kapan, satu hari rasanya bagaikan setahun, sedangkan satu bulan rasanya bagaikan seabad. Entah kapan semua ini akan berakhir. Diam-diam aku menyesal telah memercayai omongan seorang sersan yang dulu melatih kami. Dia bilang bahwa perang akan berakhir dalam hitungan hari dan pasukan Jerman tidak akan terkalahkan.

Omong kosong. Semuanya omong kosong.

***

Oktober 1914, kami berada di La Bassée, sebuah daerah yang terletak di bagian utara Perancis. Berhadap-hadapan dengan parit pasukan Perancis, kami meringkuk dalam parit. Di dalam lorong-lorongnya yang sempit, kami semua bersiaga sambil mempersiapkan diri untuk menyerang pasukan musuh.

Kami bergegas maju begitu mendapat perintah untuk merebut posisi mereka. Berbekal bayonet dan senapan, aku merangsek maju. Pertempuran berlangsung sengit. Mereka sangat sulit untuk ditaklukkan. Viktor, rekan satu kampusku, roboh saat seorang kopral Perancis menikamnya dengan bayonet. Lalu, Otto, rekanku yang lain, tumbang saat seorang tentara Perancis yang lain menembaknya. Rekan-rekanku berjatuhan satu demi satu. Aku mulai gentar karena jumlah kami menyusut dengan cepat.

Lalu, tiba-tiba saja, kopral itu, yang telah membunuh Viktor di depan mata kepalaku sendiri, menatapku bak predator. Aku membenci kekejiannya, aku membenci senyum timpangnya, aku membenci tatapannya.

Ia tampaknya benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan.

Kopral itu berlari ke arahku, membuat jarak di antara kami semakin sempit. Aku meneguhkan kakiku yang gemetar. Meski matanya yang ganas seolah siap menebas kepalaku kapan saja, aku cukup berani untuk tidak mundur, juga lumayan pengecut untuk berkeringat dingin.

Aku mencengkeram bayonetku kuat-kuat, sekadar memastikan agar tidak terbang dengan konyol, saat kopral itu hendak menjadikanku sebagai korbannya yang entah keberapa dalam pertempuran ini.  Ia di sisi lain pun siap dengan bayonetnya yang terhunus

Aku tidak ingin bayonetnya menembus sela-sela otot iga dan merobek jantungku tanpa ampun.

Aku tidak rela bayonetnya itu bernoda merah oleh darahku.

Aku belum mau mati. Orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-temanku, profesor-profesorku, aku ingin bertemu dengan mereka begitu semuanya selesai. Masih banyak kewajiban yang harus kutunaikan. Masih banyak impian yang ingin kuwujudkan. Terserah bila sersan pelatih kami dulu memerintahkan kami untuk melupakan seluruh ambisi pribadi, aku tidak peduli.

Namun, aku harus siaga karena sedikit saja aku salah langkah, maka segala ketidakinginan dan ketidakrelaanku itu akan sia-sia.  Terbang ke udara bagaikan uap, lalu tiada.

Maka saat ia merangsek maju, aku dengan gesit mengayunkan senapanku kepadanya. Untung bagiku, senapannya berhasil kutepis, tercampak entah ke mana.

Ini kesempatanku.

Tanpa ragu, aku menikamkan bayonetku tepat pada dadanya.

Ia roboh, tetapi tangan kanannya masih sempat memegangi  luka di dadanya yang menganga.

Lalu,aku menikamnya sekali lagi, menembus sela-sela tulang rusuknya.

Darah mengalir keluar dari mulutnya, kemudian ia diam tak bergerak.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk memastikan bahwa ia sudah benar-benar mati. Aku lega sekali. Rasanya seperti lolos dari kejaran hewan buas. Namun, sensasi aneh bergolak dari dalam lambungku, perlahan naik ke kerongkonganku. Seakan ada cairan asam yang di sana, tetapi tidak ada. Aku rasanya mau muntah.

Perutku bergolak sekali lagi.

Apa yang terjadi dengan diriku?

Aku masih sibuk mengira-ngira etiologi[3] untuk gejala aneh ini saat Albrecht menepuk pundakku dari belakang.

“Kita berhasil memukul mundur mereka, Karl.”

Aku mengangguk dan tersenyum.

“Syukurlah.”

“Kau terlihat sakit.”

“Tidak.”

Bohong karena lututku pun gemetar hebat sekarang. Tubuhku seakan mau tumbang.

“Karl, kau hebat!” Franz tiba-tiba saja menghampiri kami berdua. “Aku melihatmu membunuh kopral Perancis itu tadi. Sungguh luar biasa. Seandainya aku bisa sepertimu.”

Apa yang dia katakan? Aku tidak sehebat itu. Aku bahkan tidak bisa dibilang hebat setelah semua yang telah kulakukan beberapa menit yang lalu.

***

“A-aku… telah membunuhnya.”

Suasana yang tadinya riuh di dalam parit mendadak senyap. Pembicaraan kami tadinya berisi khayalan tentang perang yang segera berakhir dan kehidupan yang berangsur normal. Salah seorang di antara kami ingin kembali bertani kentang. Seorang lainnya ingin mendapatkan penghasilan yang banyak untuk melamar seorang wanita yang telah menunggunya selama beberapa bulan belakangan. Aku banyak diam, sesekali hanya tertawa kecil bila mendengar sesuatu yang menurutku lucu.

Sekarang, giliran mereka yang terdiam. Mereka menatapku heran. Apa yang aneh dengan perkataanku barusan?

“Kau memang membunuhnya, lalu apa? Bukankah itu luar biasa? Dia tidak pantas dikasihani.”

“Menggunakan bayonet, satu lawan satu, kupikir tidak ada yang lebih gagah daripada itu.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar ocehan mereka. Mereka tidak mengerti. Mereka tidak tahu ada setitik penyesalan yang menyeruak di dalam hatiku segera setelah aku menusuknya dua kali, tepat pada dada. Penyesalan yang kunafikan mati-matian hingga mewujud dalam gejala-gejala fisik, yang kusangkal pula habis-habisan.

Mereka tidak akan ingin berada di posisiku bila tahu bahwa aku merasakan penyesalan yang merongrong diriku, mengalahkan segala pembenaran yang kukemukakan sendiri. Seharusnya aku lega karena berhasil mempertahankan diri sekaligus berperan dalam memukul mundur musuh, tetapi tidak demikian rasanya. Bagiku, diriku yang tadi membunuh adalah diriku yang pendosa, yang layak dihukum oleh rasa bersalah seumur hidup serta panasnya api yang menyala-nyala dalam neraka kelak.

“Dan sekarang aku merasa bersalah.”

Fritz menepuk pundakku. “Kau tidak sendirian, Karl. Bukan hanya kau yang membunuh musuh di sini. Aku juga pernah membunuh seorang poilu[4]  dengan pantat senapanku.”

“Aku hanya mengandalkan sekop waktu itu. Aku pukul kepala dan tengkuknya berkali-kali. Akhirnya dia mati juga.” Franz ikut berbagi kisahnya saat melawan musuh.

“Karl, kau bicara apa? Aku bahkan pernah mencekik seorang kapten Perancis. Kapten, Kawan! Luar biasa, bukan?” Albrecht membual. Aku tidak tahu apakah ceritanya itu benar terjadi atau tidak. “Dan aku baik-baik saja sampai sekarang. Tidak dihantui rasa bersalah atau apa.”

Bagaimana bisa mereka menceritakan, membualkan semuanya seakan tindakan yang mereka lakukan adalah hal yang lumrah?

Kami, para tentara, memang diperintahkan untuk membuang sedikit rasa kemanusiaan kami. Di medan pertempuran, kami tidak boleh menganggap musuh sebagai sesama manusia. Sedetik saja kami melanggarnya, pada saat itu pulalah kami didiskualifikasi dari kriteria tentara yang baik.

Namun, bagiku, membunuh lawan pada jarak dekat adalah tindakan yang kejam. Aku telah merenggut nyawanya dengan cara yang sadis, sesadis caranya membunuh Viktor di depan mataku sendiri.

Mungkin lain halnya bila aku menyerang musuh dengan granat atau tembakan jarak jauh. Aku tidak tahu siapa yang mati, aku tidak mengenal wajah mereka yang mati, aku tidak dapat melihat saat-saat mereka meregang nyawa.

Sementara dengan menikamnya menggunakan bayonet, aku bisa melihat raut wajahnya yang kesakitan. Aku bisa melihat usahanya untuk bertahan hidup, tetapi aku merenggutnya tanpa ampun.

Aku tidak punya masalah pribadi dengannya, demikian pula sebaliknya. Kami hanya mewakili pemimpin tertinggi negara kami untuk saling mengalahkan negara lawan. Kami dilatih untuk bertempur, semata menjadi alat untuk tujuan mereka. Lalu, mengapa aku menjadi sebegini kejam? Mengapa kami semua menjadi sebegini kejam?

Seandainya saja kopral itu mengulurkan tangannya padaku sesaat sebelum kami saling mengacungkan senjata, aku akan membalasnya dengan jabatan tangan yang erat.

Kami mungkin akan menjadi sahabat dekat yang disatukan oleh kesamaan nasib. Menjadi bagian dalam peperangan besar ini bukan kemauanku, juga mungkin bukan kemauannya. Aku memiliki cita-cita begitu semua kekacauan ini usai dan dia mungkin juga demikian halnya. Aku memiliki keluarga dan orang-orang yang kusayangi, yang setia menantiku kembali, dan mungkin dia juga. Mungkin dia memiliki istri dan anak yang merindukannya. Begitu perang usai, aku mungkin akan pulang dengan kebanggaan yang besar dan dielu-elukan. Kelak, aku mungkin akan memiliki karir dan penghidupan yang bagus, dan mungkin dia juga demikian.

Namun, aku sadar bahwa semua angan-anganku itu mustahil untuk terwujud.

Mustahil aku mengharapkan dirinya untuk berjabat tangan denganku karena aku telah menyerangnya lebih dahulu dengan senjataku.

Mustahil aku mengharapkannya untuk tetap hidup karena aku telah menikam jantungnya dua kali.

Mustahil aku berharap untuk menjadi sahabatnya karena…

bukankah sejak awal kami diperintahkan untuk saling memusuhi?

fin

 Catatan kaki:

[1] Kaisar, pimpinan tertinggi Kekaisaran Jerman. Pada masa itu, Kekaisaran Jerman diperintah oleh Kaiser Wilhelm II.

[2] Cabang angkatan bersenjata Jerman yang bertugas memberikan pelayanan medis.

[3] Penyebab terjadinya suatu penyakit

[4] Sebutan untuk tentara Infanteri Perancis, berarti ‘yang berambut’. Merujuk pada wajah para tentara yang berkumis dan berjenggot lebat.

Author’s note:

  • Am Sankt NimmerleinstagOn the St. Never’s day merupakan ungkapan yang menyiratkan kemustahilan dalam bahasa Jerman (sumber).
  • Cerita ini didasarkan pada kisah yang dituturkan oleh Stefan Westmann, seorang tentara Jerman pada masa Perang Dunia I. Kisahnya dapat dibaca di sini.
  • Sejumlah adegan terinspirasi dari sebuah film klasik tentang Perang Dunia I, All Quiet on The Western Front, yang dirilis tahun 1930.
  • Informasi mengenai senjata, kondisi parit, nama dan tanggal pertempuran diambil dari berbagai sumber di Internet. Sebagian besar informasi dari Wikipedia.
  • Aku tidak tahu persis apakah tentara Jerman pernah berhasil memukul mundur pasukan lawan pada Pertempuran La Bassée, tetapi salah satu sumber yang kubaca menyiratkan bahwa Perancis kehilangan kendali atas kota kecil Vermelles pada 12 Oktober 1914 meskipun kemudian pasukan bantuan dari Inggris membuat posisi Jerman menjadi sulit.
  • Jujur saja, tema sejarah, khususnya Perang Dunia I adalah baru buatku. Meskipun aku berusaha untuk riset semampuku, mungkin saja informasi yang kuberikan tidak akurat. Aku menerima koreksi dengan tangan terbuka.
  • Mohon kritik dan saran soal penulisan juga, ya.
  • Semua visualisasi terkait adegan dan kondisi yang digambarkan dalam cerita ini dapat dilihat di laman Pinterest Writers’ Secrets, tepatnya di board cerita ini.
Advertisements

11 thoughts on “[Writing Prompt] Am Sankt Nimmerleinstag

  1. waahhh, baru ku baca cerita tentang perang dari sudut pandang yang kayak gini. karena biasanya cerita perang hanya berisi kemenangan, kekalahan, kekuasan dan teman-temannya. jarang tentang prajurit yang nyesel gini.

    Dan aku suka cara dirimu menyampaikannya. ngalir dan seolah-olah aku berada di medan perang itu. Keren !!

    Like

  2. hai amii! wah aku selalu angkat tangan goyang ke kamera deh kalo ceritanya udah bawa bawa sejarah kayak gini ehehehe. aku dulu pernah bikin satu kali, tapi lebih ke jalan cerita sih fokusnya, bukan ke sejarah jadi pemaparannya nggak se-spesifik kamu di sini hehe. dan ini… golden banget. aku bacanya bener bener yang pelan pelan, ngeresapin maksud tiap tiap kalimatnya. wah, aku suka kamu munculin rasa bersalahnya dia habis bunuh orang dan itu human banget. mengingat: 1) dia masih muda, dan terpaksa ikut pertempuran. 2) dia anak kedokteran kan, yang notabene pekerjaannya nanti adalah nyelametin orang orang (dari negara apa pun, dari ras apa pun haha). pergolakan batinnya pas banget menurutku, dan gimana temen temennya yang langsung nimpali: eh gue pernah bunuh ini ini ini pake ini ini ini. candaan khas banget kalo lagi perang (seperti yg sering aku tonton di film sih haha).

    dan……emosinya. kamu ngebawain cerita ini sebenernya tenang, kalem, dan mendidik. but, tetep aku ngerasain gimana kehidupan jadi tentara. makan ga nafsu, tidur ga nyenyak. siapa tau besok mati, siapa tau besok temen kita yang mati. belom lagi kalo udah homesick. heu aku kuliah di surabaya aja kalo homesick langsung buyar, gimana mereka yang udah jauh dari keluarga, nasib juga gak tentu :” salut lah. keren, keren bangeeeeetttt.

    anw, aku bantu koreksi boleh? bukan masalah jalan cerita kok hehe, percaya deh aku mah ngangguk-ngangguk aja pas baca info info yang kamu jabarkan di atas. ini lebih ke teknik sama beberapa typo aja kok hehe.
    1. tadi ada yang kelewat kayaknya di paragraf 3. ami rada kepeleset belum ngapus sesuatu kayaknya hehe, di kalimat ini: Pertempuran berlangsung sengit. Berbekal bayonet dan senapan, aku merangsek maju, Mereka sangat sulit untuk ditaklukkan.

    2. aku sampe buka kamus bahasa indonesia lho mi hehe. setauku bahasa bakunya itu roboh, bukan rubuh. cmiiw pabila aku salah yaa x)

    3. ada yang kepeleset lagi, abisnya koma hurufnya ke-kapital hehe. di kalimat ini: Pertempuran berlangsung sengit. Berbekal bayonet dan senapan, aku merangsek maju, Mereka sangat sulit untuk ditaklukkan.

    4. nah, buat yang ini aku rada ragu juga sih mi. penulisan buat orang tua. setauku dipisah sih. dari sumber tapinya ada yang dipisah, ada yang disambung. but dari kamus sih tulisannya dipisah hehe. pabila ada info kasitau aku juga yah mi x)

    5. kata “merangsek” itu ternyata gak ada, dan di kamus pun aku cari juga ga ada. kalo gak salah dia masuk ke kumpulan kata yang sering dipakai namun tidak ada di kamus (lupa judul artikelnya pokoke gitu dah) hahahaha. padahal ini salah satu kata favoritku xD

    7. tadi ada penggunaan elipsis yang: “A-aku.. telah membunuhnya.” cmiiw yah, tapi bukannya titik-titiknya harus 3 biji? ehe.

    yosh, here you are x) bukan maksud menggurui yaaa miiii, sumpah. cerita kamu bagus banget, golden banget. sayang kalo ada sedikit kesalahan2 sepele. dan bukannya mau sok tahu, huhuhu. pabila koreksianku malah salah, please let me know yaaaa x) duh i love your history-fic deh miii. bikin yang banyak yaaaa ke depannyaaaaa hehehehe. keep writing amiii ❤

    Liked by 1 person

    1. Hai, Kak Fika..komennya kakak juga golden banget lho. Jujur, aku bikin cerita ini semacam lebih khawatir dengan plotnya dan keakuratan sejarahnya. Beberapa bagian memang dirombak total setelah dibaca ulang, jadi mungkin pas itu aku nggak nyadar ada kesalahan. Jadi, maaf kalau typo dan salah-salahnya mengganggu kenyamanan kakak juga. 😥

      Soal elipsis dan tanda koma sudah kuperbaiki, Kak. Untuk orang tua, aku koreksi sesuai yang ada di kamus, dan rubuh menjadi roboh. Terus, untuk kata merangsek, aku terpaksa mempertahankan kata itu karena nggak tahu padanannya yang tepat, Kak.

      Terima kasih atas koreksinya, Kak Fika, dan sejujurnya, aku menjadikan cerita kakak yang tentang perang itu sebagai salah satu rujukan :). ❤ ❤

      Keep writing ya, Kak 🙂

      Like

  3. Sebelumnya, aku berterima kasih karena Kak Put sudah mereview cerita ini dengan sangat detil. Semua kesalahan penulisan sudah kuperbaiki berdasarkan masukan Kakak.

    IMHO, dalam cerita ini, aku berusaha untuk meminimalkan opini pribadiku. Banyak kalimat yang awalnya ‘sangat aku banget’ kemudian kuhapus untuk kesesuaian cerita dengan fakta yang mau kuangkat. Dan… sebenarnya, kalau aku mau mengangkat opini pribadi, bukan cerita seperti ini yang mau kutulis. Mungkin, kalau boleh aku bilang, Menjadi Seperti Dirimu adalah sesuatu yang sangat pribadi. Dijah, Dijah pun sebenarnya, kalau dibaca lagi, bukannya sesuatu yang terlepas dari opini pribadi. Aku menulisnya berdasarkan sudut pandang tokoh yang konservatif, tetapi kontrasnya dengan sosok Dijah lah yang mungkin membuatnya lebih segar dan enak untuk dibaca. Atau dalam kata lain, kakak menyukainya. Aku sangat berterima kasih atas hal itu.

    Aku memasukkan unsur penyesalan dan keyakinan terhadap afterlife bukan karena aku semata membawa opini pribadi. Yang aku tekankan adalah bagaimana si tokoh ini menyesal dengan perbuatannya (sesuatu yang tergambar juga dari kisah asli yang kujadikan acuan). Aku bisa menyimpulkan bahwa Jerman pada zaman Perang Dunia I cukup religius dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, entah itu Katolik atau Protestan, berdasarkan film All Quiet on The Western Front. Dalam film itu, ada beberapa adegan ketika prajurit terluka, mereka berteriak menyebut Tuhan, sesuatu yang nggak kutemukan lagi pada Generation War yang mengangkat PD II. Dan ketakutan akan pembalasan di neraka, menurutku, adalah salah satu kekhawatiran dan/atau penyesalan besar yang membedakan mereka yang beragama dengan yang tidak. Aku memang sempat khawatir dengan sebaris kalimat yang sensitif itu, tetapi aku yakin bahwa mereka yang beragama percaya dengan adanya surga dan neraka walaupun dengan pemahaman berbeda.

    Untuk kekakuan dan sakleknya tulisan-tulisanku, aku mau jujur kalau sebenarnya, dalam menulis, aku memegang nilai-nilai pribadi yang nggak bisa kuabaikan begitu saja. Sesekali keluar jalur tidak masalah bagiku, tetapi kalau kebablasan, aku justru merasa bersalah karena tidak bisa menghadirkan nilai-nilai itu dalam tulisan, atau justru tanpa sadar memicu pembaca untuk berbuat negatif karena aku menulis sesuatu yang liar tanpa ada unsur positif yang bisa mengimbanginya.

    Aku justru lebih khawatir karena merasa sudah menjejali cerita ini dengan fakta dan referensi tanpa bisa mengimbanginya dengan apa yang sebenarnya tokoh ini rasakan karena jujur saja, perasaan seorang tentara semasa PD I adalah sesuatu yang sangat jauh dan tidak mudah untuk diinternalisasi, sebelum kemudian diwujudkan dalam cerita.

    Aku bisa menangkap masukan positif dari Kakak, dan aku akan berusaha untuk menempatkan diriku dengan lebih baik saat menulis cerita-cerita berikutnya.

    Keep writing juga, Kak :).

    Liked by 1 person

  4. Haluuu Ka Amiiii!
    Aku was-was awalnya yang mau baca soalnya uda dipatok judul bahasa Jerman, ewaw ternyata setelah dibaca ini WAW sekali dan syukurnya aku paham eheee~
    Meskipun sekrolnya ga beringas alias kudu pelan-pelan dibaca, diresapi, aku menikmati sangat dan tbh aku suka sama poin di akhirnya yang perkara kegamangan after-effect perang utamanya karena pembunuhan. Well, menurut aku pribadi ini hal yang baru, karena ‘penyesalan’ semacam ini jarang kutemui sebagai bahan penulisan (atau aku yang jarang baca, yakaliya), tapi ka ami eksekusinya tetap cantik dan menarik ❤ ❤ ❤ Keep writing kaaaak!

    Liked by 1 person

    1. Kakpang, halooo. Makasih banyak ya, Kakpang. Maaf udah bikin was-was karena judulnya (haha sok gahar sih ya pakai idiom bahasa Jerman segala). Terima kasih ya, Kakpang, semoga ceritaku yang lain bisa tetap cantik dan menarik juga 🙂

      Liked by 1 person

  5. Betul2 berasa di neraka… Tapi neraka yg berkali lipat lebih menyiksa.

    Aku bisa ngerasain betapa menderitanya seorang prajurit, yg kaya2 cuma berharap besok jangan mati, yg sebenarnya punya banyak bgt mimpi buat diwujudin. Dan setting zaman 1914 itu kerasa bgt di otak, full sama warna kusam gitu ibaratnya.

    Terus waktu si Karl ngerasa bersalah karena udah mbunuh si kopral, itu menyentuh bgt… Terus buat paragraf2 mendekati akhir, itu kaya ditampar. Cara kasarnya, “Gimana mau damai kalo lo sendiri ga bersikap bersahabat?” dan itu bikin baper :’)

    Mm… Buat penutup, salam kenal dan maaf tiba2 nimbrung komentar :’)

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih banyak sudah menyempatkan mampir ya. Aku nggak berharap banyak karena cerita ini banyak kurangnya, tetapi aku senang karena apa yang ingin aku sampaikan bisa ditangkap dengan baik. Salam kenal dan jangan bosan mampir ke blog ini, ya 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s