[Writing Prompt] Last Treat

lasttreat

Kapan?

by fikeey

Dinding penjara telah mendengar permohonan dan kalimat penyesalan paling suci.

Ada rasa cemas yang selalu menggelayut kala decit sol karet itu berhenti di depan pintu, disusul dengan bunyi gerendel kunci yang saling sikut, dan denting pelan ketika anak kuncinya dicabut. Ribuan pertanyaan bertajuk “kapan” mungkin sudah tertera jelas di dahiku karena si pengunjung ruangan lantas berdiri di ambang pintu dengan senampan makanan sekadarnya sambil menggelengkan kepalanya muram―seakan menjawab pertanyaan bisuku. Lolosan kata: “Maaf. Makanlah dulu.” terlontar seperti biasa, lalu ia meninggalkanku lagi menyepi sendiri untuk menunggu esok hari.

Tak perlu waktu lebih dari sepuluh menit untuk menghabiskan beberapa suap nasi, sup-yang-dominan-air, seiris kurus daging, dan sekotak susu hampir basi. Gontai langkahku ketika mengembalikan lempengan besi reyot yang kujadikan piring itu menuju celah sempit di pintu, lalu berbalik menuju wastafel dengan sikat gigi dan pasta yang mengering. Ritual cukur tak lagi kulakukan karena baru saja empat hari yang lalu mereka menemukan pisau dapur selundupan itu di bawah bantalku. Jadwal mandi akan datang sebentar lagi, ketika matahari meninggi lalu sinarnya membias lewat kaca jendela berbingkai debu yang berseberangan dengan pintu.

Pakaian baru diangsurkan satu per satu lalu kami digiring dalam jumlah genap di satu kelompok, namun rupanya hari ini mereka tidak memasukkanku ke dalam antrian mana pun. Si pengantar sarapan hanya membukakan pintu di ujung lorong sebelum ia memberiku kode dengan lambaian tangannya.

“Rambutmu perlu dicukur,” katanya. “Lewat sini.”

Lalu aku mengekor tanpa suara.

Pria tua yang sepertinya telaten dalam pekerjaannya itu telah menyambutku dari balik kursi kayu yang diletakkan di depan sebuah kaca persegi. Ukurannya cukup lebar untuk memerangkap bayangku dalam piguranya hingga sebatas perut saat aku duduk. Sang sipir meninggalkan kami berdua, lalu akhirnya si pria pencukur memulai pembicaraan setelah menyalakan mesin pencukurnya.

“Ingin yang seperti apa?” tanyanya, kalimat klise yang akan dilontarkan ketika kau pergi ke tempat cukur rambut.

Aku mengangkat bahu.

Si pria tampaknya mengerti apa maksudku jadi detik berikutnya ia memulai pekerjaannya dalam diam―hanya sepuluh detik―lalu kembali angkat suara.

“Setelah ini seseorang akan datang ke selmu dan bertanya menu apa yang kau inginkan untuk makan malam.”

O, Tuhan, jadi sekarang ia mencoba untuk mencairkan suasana dengan melempar lelucon tentang kehidupanku. Manis. Manis sekali, aku terharu hingga ingin membenamkan wajahku ke dalam semangkuk tahi kuda.

“Aku tak yakin hari ini adalah hari ulang tahunku. Baik sekali mereka mengingatnya.”

Ada sunyi yang menyelinap sejemang lamanya setelah aku meloloskan kalimat respon. Wajah si pria tersembunyi di balik pantulan wajahku sendiri ketika ia tengah menunduk untuk merapikan area di sekitar anak-anak rambutku tumbuh. Napasnya menyapu ketika ia menghelanya lalu meluruskan tubuhnya lagi setelah beberapa saat.

“Dan aku tak yakin akan bertemu denganmu lagi setelah hari ini, ‘Nak,” katanya dengan senyum sendu yang dipaksakan. “Sudah selesai. Seseorang akan mengantarmu kembali ke sel.”

Kata-kata si pria terbukti ketika decit sepatu kembali berhenti di depan pintuku dan bahkan hari belum berganti. Seseorang masuk dengan seragam yang terlihat sangat kontras dengan warna oranye terang yang menempel di tubuhku. Tubuhnya tegap dan ia berdiri di ambang pintu, menutup sebagian besar celah terkecil apa pun―singkatnya, ia besar sekali.

“Kau mungkin sudah menunggu saat-saat ini.”

Aku tersenyum kecut. “Tentang tanggalnya?”

“Ya.”

“Kapan, kalau begitu?”

“Besok,” jawabnya dengan nada kaku sekaku otot-ototnya yang terlihat mengeras di balik kaus ketatnya. “Pernah mendengar istilah jamuan terakhir?”

Lalu aku teringat kalimat si pria cukur.

“Tak perlu. Mendengar berita ini saja aku sudah senang.” Kudapati lidahku membentuk kalimat tanpa kusadari, diiringi perasaan lega setengah mati yang sensasinya sungguh kurindu agar bisa kembali di hati.

Si raksasa tak juga bergerak dari pintu, namun bisa kurasakan ekspresi wajahnya mengeras dan ada kerutan di dahinya yang kian timbul karena menuai pertanyaan. Mengumpulkan kembali puing-puing kebahagiaan dan kelegaan yang berhasil kudapatkan setelah ratusan malam kuhabiskan berdoa pada Tuhan, kuangkat kembali wajahku dan membalas kontak matanya. Ia terlihat seperti bayi gajah yang tak juga disusui dengan wajah merahnya yang berkeringat.

“Kupikir kau hanya akan mengabarkan berita melegakan ini?”

Ia menggeleng. “Kau terlihat bahagia.”

“Tentu saja, Dungu,” kataku tanpa sadar.

Well, aku bisa saja mati duluan jika raksasa ini langsung naik pitam gara-gara kukatai, namun yang terjadi selanjutnya benar-benar tak sesuai prediksiku. Ia menggeleng, terlihat tak setuju dengan apa yang barusan kulafalkan, jadi kuputuskan untuk bangkit dari kasur dan menghampirinya yang masih membatu di pintu.

O Tuhan yang Agung, ia benar-benar besar ternyata.

“Kau tahu berapa ribu doa kupanjatkan hanya untuk potongan berita yang barusan saja kau sampaikan padaku? Coba hitung jumlah rambut di ekor kuda satu per satu, yah kira-kira sebanyak itu, Bung. Setiap pagi ketika pintuku terbuka, aku sudah siap menerima kenyataan apa pun yang akan menyergapku, namun nyatanya hanya sipir yang lagi-lagi datang untuk mengantarkan sarapan.

“Berdirilah di posisiku. Kau akan memohon mati-matian untuk tiba-tiba mati dalam tidurmu daripada harus bertemu esok hari yang lagi-lagi akan meninggalkan pertanyaan dengan tanda tanya besar terpancung di dahimu. Kapan mereka akan memberitahuku? Kapan aku pergi dari sini? Kapan aku mati?”

Aku bermonolog sembari mendongak.

“Lalu kau bertanya soal jamuan terakhir untukku? Percayalah, berita itu seribu kali lebih kuinginkan daripada seporsi besar sajian tradisional seperti yang diinginkan Ted Bundy.”[1]

“…”

“Dinding penjara telah mendengar permohonan dan kalimat penyesalan paling suci. Kau tahu kalimat itu?”

Si raksasa akhirnya bereaksi setelah beberapa lama. “Ya,” katanya parau seperti menahan tangis. “Aku pernah membacanya di suatu tempat.”

Ada decakan pelan yang kuloloskan sebelum akhirnya aku berbalik dan menuju ke posisiku semula, melepaskan sepasang sepatu kumal yang selama tiga tahun ini kukenakan bahkan dalam tidur untuk berjaga apakah hari ini adalah hari terakhirku melihat matahari. Langit belum gelap karena masih ada sisa-sisa cahaya membias masuk lewat jendela kumal yang sama.

“Hei, berbicara tentang jamuan terakhir, bisakah kau memastikan satu hal?”

Kuperhatikan ekspresi wajah sang sipir yang sudah berhasil dikembalikannya seperti sedia kala saat ia menunggu kalimatku berikutnya. “Apa pun,” katanya.

“Tolong pastikan tidak ada siapa pun yang datang saat eksekusiku besok. Bisakah kau melakukannya? Tidak ada keluarga, teman dekat, siapa pun. Bisakah?”

Ia mengangguk pelan, terlihat hampir kehilangan kontrol akan dirinya lagi. Untunglah kali ini ia berhasil mengendalikan emosi lantas mengundurkan diri dan menghilang di balik pintu setelah denting kunci terdengar bergemerisik. Ruangan sempit ini mulai redup sekarang, dan biasanya di waktu-waktu inilah aku akan tetap terjaga dan merunut doa yang sudah kuhafal di luar kepala. Tapi toh semuanya sudah dijawab dan nyatanya yang kubutuhkan sekarang adalah tidur malam yang lelap.

Ah, dijemput maut ternyata bisa semenyenangkan ini rasanya.

—–—

[1] Ted Bundy adalah salah satu serial killer asal Amerika. Info lebih lanjut bisa dibaca di sini. Nah, biasanya sebelum seorang narapidana dieksekusi, malam sebelumnya mereka bakal dikasih yang namanya jamuan terakhir (last meals). Ya kasarannya sebelum mati, kamu silakan senang-senang dulu deh terakhir kali. Gitu, kira-kira. Jamuan terakhir yang diminta Bundy itu makanan tradisional (steak, roti bakar, telur, dan lain-lain). Bisa di lihat gambarnya di sini.

[2] By the way, thanks a lot to Sher. Kalimat: Dinding penjara telah mendengar permohonan dan kalimat penyesalan paling suci. sebenarnya versi aslinya adalah: The walls of hospital have heard more prayers than the walls of a church. a quote by Victor F (omg thank you Sher, I’ve been dying nyari-nyari asal quote ituu hahaha). Tanpa mengurangi rasa hormat ke beliau pembuat quote, aku bikin kata-kata di atas itu hehe. Tapi tetep kata-kata itu juga datengnya dari quote Victor tadi haha. Bacanya aja aku merinding :”)

*


  • akhirnya bisa nulis sepanjang ini lagi, huhu sumpah aku bahagia.
  • btw pada bisa nangkep maksud “kapan” dari cerita ini kan? intinya si Aku ini galau (heaa) soalnya nasib dia nggak ditentu-tentuin. kapan dia bakal dieksekusi. ya pokoke gitu (digeplak). semoga aku ngga diamuk gara-gara topik cerita nggak nyambung xD
  • kaku yah? hahaha, haruskah aku berkilah ini dikarenakan WB heu. will try harder next time aku janji!
  • makasih banyak buat yang udah bacaaa.
Advertisements

20 thoughts on “[Writing Prompt] Last Treat

  1. hello kak fikaa… duh, setelah sekaian lama aku menunggu /kok kayak lagu?/ akhirnya tulisan kakak nongol juga 😀
    kaku? umm ngga tau deh yaa 😛 tapi diksinya apik kak. saya suka saya suka ❤

    kapa? kukiran kapan keluar penjaranya. oh ternyata, mau dijemput maut bisa selegowo itu. hihi

    walaupun lagi wb, kalau udah punya warna tulisan/?, ya tetep aja enak dibaca kak. kalau kataku. hehe keep writing kakak ^^ iluvu~

    Like

    1. hai aneeee. waaa terima kasih udah nunggu tulisanku ehe, sumpah aku terharu :”

      hehe kamu juga pasti bakal nemuin warna tulisanmu kok. inget yang udah kita diskusiin panjang lebar di waslap lhoo x) kamu juga keep writing yaaa. makasi anee uda baca dan komeeen iluvu tooo ♡♡♡♡

      Liked by 1 person

  2. Mungkin… karena emang aku tau budaya last meal itu, jadi pas baca judulnya last treat + suasana penjara itu, aku jadi langsung kepikiran, “Wah mau bahas eksekusi nih.” Tapi gak menghilangkan kenikmatan baca ini kok, apalagi di genre yang berhubungan sama polisi/kriminal kak fika jago lah ya X)

    Pernah baca yang last meal, dan yang paling bikin inget itu Victor F siapa gitu, minta satu buah olive dikasih cairan apa lupa. Terus kata-katanya dia bikin keinget, “The walls of hospitals have heard more prayers than the walls of a church.”

    Terus si part: Tuhan yang Agung, seingetku kata yang berhubungan sama Tuhan make kapital jadi agungnya kapital, CMIIIW sih kak.

    Keep writing kak fika! 💜💜

    Like

    1. SHER!! omg akhirnya kamu ngasih aku credit kata-katanyaaa!! eugh aku tuh pernah nemu kata-kata ini tapi di pinterest dibikin quotes gitu kan, nah tapi ga ada quotes by siapa ngunu. akhirnya terjawab x) makasi yaa sheer ihiw. dan iyaa aku ubah jadi penjara demi kelangsungan cerita. entar mau aku edit sama ngasih credit ke quote sebenarnya. sumpah makasih loh sher heu, i’ve been dying nyari nyari inituh kata katanya siapa xD dan makasi koreksiannyaaaa luvluv laah.

      yang budaya last meal, ada juga yang serem sher. aku lupa namanya sama makanan yang dia pesen, but di akhir tuh ya, dia nyisain entah dessertnya atau apanya sambil bilang: nanti aku lanjutin lagi makannya. aseli aku merinding pas baca yang itu :” dan makasi banyaaak sher uda baca, komen, sekaligus koreksiiii ehe. luvyou!! kamu keep writing juga yaaaa ♡♡♡

      Like

  3. Wah, kalau sudah membahas soal narapidana, tindakan kriminal, polisi, Kak Fika jagonya, deh, aku nggak bisa komen banyak soal itu. Awalnya, judul Last Treat ini malah mengingatkanku dengan Last Supper, yang kurang lebih artinya mirip, jamuan terakhir, yang sering diartikan dengan jamuan terakhir sebelum mati.

    Tapi, tapi, aku bacanya si Aku ini tenang banget, ya, suatu keadaan yang kayaknya baru tercapai saat seorang narapidana telah mengakui kesalahannya dan benar-benar siap dengan konsekuensi perbuatannya. Dan, aduh aku kehabisan kata-kata, Kak. Maaf komennya acak-acakan begini.

    Keep writing, ya, Kak 🙂

    Like

    1. wah amiiii makasi banyaaak :”) yep namanya itu last meals atau mungkin di beberapa tempat last supper yha hehe. aku pernah baca artikelnya di mana gitu and yep, ngeliat foto (atau daftar) makanannya aja aku merinding. literally bakal jadi makanan terakhir kali yang mereka makan kan wah.

      iyah mi. btw ami pernah baca manga yg judulnya blablabla belakangnya jikan (hahahaa maaap aku paling susah ngapalin judul bahasa jepang). itu sedih bgt sumpah. entar pabila aku inget aku kasitau ami deh :”

      gak apa apa kok mi santai ajaa. ami juga keep writing dan makasi banyak yaaa uda baca dan komen ♡♡

      Like

  4. Kak fika berhasil ngembaliin memori aku soal hukuman mati bagi narapidana kasus narkoba. Yang aku juga pernah dengar kalau hukuman ini ga cuma narapidanya yang stres, tp juga petugas khususnya sang eksekutor. Mrinding lah dengernya, sampai waktu itu aku ga kebayang apa yng narapidanya pikirkan. 😦
    Kalau ga salah inget jg, ada psikolog yng bilang, manusiawi kog para narapidana ini tenang2 aja sebelum hari2 eksekusi mungkn seperti hari2 mengoreksi diri dan doa2 yng banyak ya. Dan kalau hari eksekusi tiba, waktu mrk diseret ke tempat eksekusi, manusiawi jg kalau mrk meronta dan memberontak :’
    Ah, githu lah. Kak Fika berhasil ngembaliin perasaan trenyuhku itu. Ditunggu karya lainnya, 🙂

    Like

    1. hai cherry! wah aku ingetnya waktu itu yg eksekusi pelaku bom (kalo gak salah yg bom bali itu lho). walopun cuma update dari berita di tv tetep aja aku merinding dengernya hahaha xD iya, mana kalo di indonesia kan hukum tembak kan, wah kebayang itu petugas eksekutornya gimana ya. betul betul kayak yg udah pasrah gitu. tapi ada juga lho yg tenang tenang aja pas dibawa ke tempat eksekusinya. itu yg bikin aku makin merinding hahaha. wah makasi yaaa cherry hihi. makasi sudah baca dan komen jugaaa 😀

      Like

  5. Salah satu tempat horror dan penuh perenungan dan doa2 lainnya selain rumah sakit adalah lapas ini. Aduh, kak, ini wb seriusan aja? Ceritanya nampol dan gak nimbulin tanda tanya buat aku sih..uhuhuu..sukaa :’D

    Menyambut maut dengan tenang. Aduh, mrinding bacanya.. Iya, apa yg ada di pikiran para2 yg akan dieksekusi, atau para2 pasien yg penyakitnya udah gak bisa diharapkan lagi bakal sembuh. Fix aku galau 😔

    Segera kembali lagi kak dg tulisan brikutnya 😀

    Like

    1. hai dhilaa! wakaka aku ngerasanya wb, abisan pas udah fix pake plot ini sebelumnya ada kali 5x aku ganti plot kayak nggak sreg gitu. tapi alhamdulillah pabila pada suka x) makasi banyak yaaah.

      mungkin mereka antara udah pasrah sama deg degan pasti ada lah ya. tapi mungkin lebih ke pasrah. aku juga ga bisa bayangin sih. aku nunggu pengumuman keterima universitas pas dulu aja ga bisa tidur, lha mereka nungguin tanggal mereka mati coba heu :” (analogi apa ini). terima kasih yaa dhila uda baca dan komeen hihihi 😀

      Like

  6. “Ah, dijemput maut ternyata bisa semenyenangkan ini rasanya.” — i feel like this whole sentence fit right there in the story and the prompt. it’s like, i dunno, just click?? like the missing piece of puzzle 🙂

    greatly enjoy this story. sending lots of love ❤ ❤

    Like

    1. titaaaan x)) yaampun alhamdulillaaah pabila pas di situuu. aku sampe gegulingan abisnya nyari kalimat penutup yg pas, akhire dapet yg ituu. lega rasane xD

      thanks a lot dear titaan. sending you back lots of loveeee ♡♡♡♡♡

      Liked by 1 person

  7. kakpuuuut x)) hehe iyaaah aku inget kaak. aku pas baca kalimat itu antara mau ketawa tapi meringis gituu heu :” padahal judulnya kan mau ngegombal yaaa.

    huhu alhamdulillah kak. ini pun karna dipaksa nulisnya, kalo engga ntar ngga selesai selesai sedangkan masih banyak bgt yg belum dikerjain :” aku senang kakput sukaa hihi ♡♡

    iya kak. aku aja dulu nunggu pengumuman snmptn sampe kaya orang gelo gitu gabisa tidur. lha ini napi nungguin tanggal/hari mereka dieksekusi ya allah. aku bayanginnya aja merinding. dan petugas eksekutornya juga. kayak harus menebalkan pandangan ya jadi saksi napi mati di depan mereka :”

    sumpah aku masih seneeeng hehe. kakput keep writing juga yaaa, dan makasi banyaaak suda baca dan komeen. semangat buat kitaaa. me love you toooo ♡♡♡♡

    Like

  8. KAFIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! AKHIRNYA RILIS JUGAAA!!!
    Awwww mau dirunut dari mana dulu iniii
    Aku suka diksinya kak wuendesh menikmati sangat yang jadi ngga kerasa sepanjang ini rasanya malah mau baca teru-terus-terusss soalnya nagihin dan santai. Aku suka deskripnya yang meresap omo bagaimana rasanya jadi mas tersangka tergambar jelas kafika kusukaaa. Aku suka settingnya yang gimana reaksi sipirnya yha meskipun si mas ini notabene (mungkin) penjahat tapi pesan: sipir mana yang ngga sedih kehilangan penghuni sel setabah si mas ini tersampaikan uwwwwwww ❤
    Quotesnya nendang!!! Foto makanannya bikin ngidam (lah)
    MAAF KAK PENDEK BEGINDANG ASLI SANGAT KUSUKA, KUMENIKMATI CERITANYA, SUKSES TEROS KAFIKA KEEP WRITING!!!

    Like

    1. omooooh kakpaaaang iyaa akhirnya setelah bersemedi dia gua lawa rilis juga ini prompt pertamaaa hahaha. asli aku harus menebar confetti nih xD iya ya selain pasti penjahatnya yang stress, pasti sipirnya juga ikutan stress gitu. orang setiap hari nganterin sarapan, nganterin baju baru, eeeeh tetiba besoknya udah nggak ada gituu. sama yang jadi petugas eksekutornya heuu mereka gimana ya ngadepin pressure kayak gitu sumpaaah. aku aja ga kuat bayanginnya :”( btw aku ngakak di: setabah mas ini hahahaha yaampun kakpaaang xD LAH KENAPA MAKANANNYA BIKIN NGIDAAM HAHAHAHA. shantaay kakpaaang. makasih yaaa udah baca sama komeeen ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s