[Writing Prompt] Dangerous Ground

maxresdefault

Prompt: Long tomorrow

by O Ranges

 .

(warning for some adult language)

.

Everytime they eat a human, they get smarter.

.

Angin yang membawa debu tebal berembus, menampar deretan gedung yang jatuh terbengkalai, cemooh dari sosok kokoh yang dulunya berdiri menjulang menantang langit. Segala jenis kendaraan berjejer di jalan dengan berbagai macam kondisi. Semuanya telah ditinggalkan, kosong tak berarti dan hanya menjadi sampah menumpuk. London saat ini bisa dikatakan sebagai kota mati dengan kelenggangan menyakitkan yang menyelimutinya.

Di tengah semua itu, seolah telah terbiasa, dua sosok lelaki tampak berjalan mengendap dengan penuh kehati-hatian. Keduanya lantas berhenti di depan bangunan bertanda ular melingkari gelas yang catnya mulai mengelupas.

Of-bloody-course. They’re here too. Fuck them to—

Language.

Terrence Wilmore melempar pandang tak percaya pada lelaki berambut pirang pucat yang saat ini tengah berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu tampak sibuk menginspeksi apotek di hadapan mereka. Manik abu-abunya menyapu penampilan apotek yang jelas telah lama ditinggalkan—tak ubahnya toko-toko yang mereka temui sebelumnya, dan gedung-gedung di sekitar mereka. Namun yang menjadi pusat perhatian bagi keduanya adalah kenyataan bahwa mereka dapat melihat sarang laba-laba—lebih tepatnya sesuatu yang mirip seperti sarang laba-laba—memenuhi hampir seluruh sudut toko melalui jendela besar yang kacanya telah pecah dan menyisakan pecahan tajam di pinggir bingkai.

“Uh, kau yakin kita harus masuk ke sana?” tanya Terrence, benar-benar enggan. Tangan pemuda berumur tujuh belas tahun itu meraba pinggangnya, di mana sebuah pistol dengan peredam tersemat, siap untuk dipakai. Namun kendati dengan senjata berpeluru di tangan, manik birunya masih bergulir cemas mengamati keadaan di sekitar.

“Kita tidak punya pilihan lain,” jawab Elliot pendek. Raut wajahnya kaku, sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran yang sebenarnya mengintip. Lelaki berumur dua puluh dua tahun itu tahu benar kalau ia menampakkan kecemasan barang sedikit saja, itu akan berpengaruh pada Wilmore. Sejauh ini pemuda Amerika itu benar-benar tabah menjalani semua yang telah mereka hadapai selama dua minggu terakhir, menelan rasa takutnya dan terus berjuang untuk selamat. Itu adalah salah satu alasan mengapa Elliot menyerah dan membiarkan dirinya diekori oleh turis merepotkan seperti Wilmore.

Sementara itu Terrence meringis kecut mendengar jawaban Elliot. Pemuda itu menjilat bibirnya, gelisah. Dari bahasa tubuhnya Elliot tahu bahwa pemuda itu benar-benar tak ingin masuk ke dalam.

“Terakhir kali kita menghadapi yang semacam ini, kau hampir kehilangan nyawamu,” ujarnya pelan.

Elliot memilih untuk tidak berkomentar. Ia menatap Wilmore sesaat, sebelum atensinya kembali terpaku pada bangunan di hadapan mereka. “Well, setidaknya kita punya pengalaman menghadapi mereka. Dan lagi,” ia mengerling pergelangan tangan Wilmore yang tengah dibalut oleh kain perban buatan yang acak-acakan. “kalau tidak cepat diobati, lukamu akan terinfeksi.”

Terrence berjengit.

“Kalaupun kau tidak terluka, kita masih harus mengunjungi apotek. Persedian obat-obatan kita menipis,” kata Elliot kemudian, menarik Terrence dari self-pity yang membelenggunya.

“Siapkan pistolmu,” lanjut si lelaki bermata abu-abu, suaranya tenang dan terkontrol. “Ingat, melangkah tanpa suara, dan jangan sampai bersentuhan dengan mereka.”

Terrence menarik napas panjang—lalu mengangguk. Buku-buku jarinya memutih saking eratnya si pemuda memegang pistol. Dua pekan sejak alien-alien itu datang entah dari mana dan menebas populasi kaumnya, Terrence paling membenci jenis alien yang satu ini. Mereka adalah salah satu alasan mengapa kaumnya kesulitan untuk bertahan hidup.

.

Pemandangan di dalam apotek bukanlah sesuatu yang ingin ia rekam dalam ingatannya. Tidak dengan mayat-mayat terkapar yang mulai membusuk—di antaranya ada yang terbungkus rapat seperti kepompong, dan makhluk menyerupai laba-laba berukuran kepalan tangan orang dewasa yang bergantungan di langit-langit—hijau gelap dengan delapan mata berwarna putih susu yang menandakan kebutaan mereka. Dari pengalaman Elliot dan Terrence sebelumnya, mereka tahu bahwa makhluk-makhluk itu benar-benar tidak dapat melihat dan menggantungkan diri hanya pada gelombang suara. Namun tetap saja, ada perasaan was-was dalam diri Terrence yang merasa tengah diperhatikan. Mereka—dengan susah payah—berhasil keluar dari bangunan itu tanpa luka baru menghiasi tubuh mereka.

Pemuda berambut pirang jerami itu selesai mengobati lukanya dan kembali membalutnya dengan perban. Kendati selama bersamanya Elliot jelas dapat diandalkan dalam situasi apa pun, lelaki itu benar-benar tak becus dalam mengurus hal seperti ini. Jadi jika satu di antara mereka ada yang terluka, ialah yang bertindak. Terima kasih pada berandalan yang acap kali menantangnya berkelahi sepulang sekolah.

Terrence lalu melempar pandang pada Elliot yang duduk tercenung tak jauh darinya. Mereka tengah berada di atap gedung yang berdiri lima kilometer dari apotek yang mereka kunjungi sebelumnya. Dari sini, mereka bisa melihat situasi di jalanan yang tampak lengang—untuk saat ini.

“Elliot?”

Elliot tak menjawab. Dan ini membuat rasa penasaran Terrence bangkit. Biasanya lelaki itu akan menyahut seperti ini saat ia memanggil namanya;

‘It’s Corvin, Wilmore. Corvin.’

Namun sekarang? Terrence bahkan ragu kalau Elliot mendengarnya.

“Tadi kau menyadari ada yang aneh dengan mereka, Wilmore?” tanya Elliot tiba-tiba.

Terrence tersentak, tak mengira akan diajak berbicara. “Eh?”

Ada kegelisahan yang terukir di wajah Elliot. Dan Terrence tidak menyukainya. Elliot yang gelisah berarti laki-laki berambut pirang pucat itu menyadari sesuatu yang ia lewatkan. Sesuatu yang sudah pasti merupakan kabar buruk bagi mereka berdua.

“Makhluk tadi,” kata Elliot lamat-lamat. “kau melihat ada yang aneh dengan mereka?”

Kernyitan halus menghiasi dahi si pemuda bermata biru. Perlahan ia menggeleng. “Tidak.”

Elliot mendesah pelan. “Figures.

Wilmore mendecak tak sabar. “Get to the point, Elliot.” Ia lalu menambahkan, “–please.

Lelaki bermata abu-abu itu memijat pelipisnya. Ia tampak lelah sekali. Dan entah kenapa terbesit rasa bersalah dalam diri Terrence melihatnya.

“Aku baru menyadarinya,” kata Elliot, memejamkan mata. “Setiap kali kita memasuki sebuah toko untuk memenuhi kebutuhan kita, semakin terorganisasi pula mereka dalam menempatkan diri di sana. Dan konsekuensinya, semakin lama pula waktu yang kita habiskan untuk menghindari mereka.”

Firasat buruk mulai merayap menyelubungi Terrence. Pemuda itu menelan ludah, menunggu Elliot meneruskan kalimatnya.

“Kalau disebut hanya kebetulan semata, hal ini terjadi berturut-turut. Dan kau juga melihat sendiri bagaimana jumlah mereka lebih banyak di bangunan yang menyediakan kebutuhan sehari-hari daripada di bangunan biasa.

“Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan.” Lelaki berambut pirang pucat itu membuka mata, di sini air mukanya mengerut. “Tapi ada kemungkinan alien-alien itu dapat berevolusi menjadi lebih pintar.”

“… what the fuck?”

.fin

Advertisements

13 thoughts on “[Writing Prompt] Dangerous Ground

  1. Oke kaaa, ini naggung endingnyaaaa. Terus teorinya Elliot beneran tuh? Dan emang ga ada manusia lain lagi?

    Berasa lagi nonton world war z, war of the world dan teman-temannya deh. Nice 🙂

    Like

    1. hahah, nanggung ya? my bad. ideku berhenti di situ jadi ya… :”)
      dan ya, teori Elliot benar. alien-alien itu memang bertambah pintar ketika mereka memakan manusia 🙂
      sebenarnya ada survivors (manusia) lain, hanya saja Elliot dan Terrence tidak bertemu dengan mereka.

      thank you for the kind comment. you made my day ❤ ❤

      Like

  2. ah, as expected from titan kalo udah nulis genre begini pasti hasilnya keren hihihi. totally in love sama penggambaran situasinya di cerita ini, dan thanks to gambarnya juga jadi imajinasiinnya bisa lebih cepet. dan… omg aku jadi keinget film evolution xD dalam beberapa hari aja makhluk-makhluknya udah cepet berevolusi gitu. kalo di sini mereka bisa lebih pintar kalo abis makan orang wew. alien nyerempet zombie yha mungkin. abis makan otak orang terus langsung jadi pinter (hahaha abaikan aja tan, abaikan). and last, aku sukaaaa sama nama-nama yang dipake hehe. imo, elliot sounds so elegant yet badass hehe. keep writing titaan ❤

    Like

    1. aaaaaahhh thank you so muchie kak fikaa ❤ ❤
      sebenarnya yang muncul pertama kali saat ambil prompt ini itu zombie yang bisa berevolusi, tapi akhir-akhir ini titan kebanyakan baca zombie-fic that i'm literally sick of it heu :")

      let's just pray for their survival XD

      glad that elliot appears as he supposed to be 😀
      he's the exact opposite of terrence, but yea, that's the reason why i dump them together lol

      Like

  3. HALO KAK!

    Eh ini bener banget kata kak fika, kalo udah genre yang kayak gini, kak titan bawainnya enak banget X) Dan Elliot… aw mas, mending sama aku aja HAHAHA, sepertinya kamu pintar. Pokoknya suka banget deh idenya, dari yang makin pinter, sampe turis nyasar LOL. Dan penggambaran kakak soal laba-laba itu cukup pas kusuka, walaupun penasaran ‘mereka’ kalo beneran ketemu sikapnya kayak apa.

    Btw koreksi di: 1) Seingetku adanya kukuh bukan kokoh, CMIIW; 2) ada yang kelewatan typo, hadapai; 3) Kalimat yang akhirnya titik, harusnya pas buka dialog pake kapital lagi. 4) Ada yang “Namun kendati” ini kayaknya pilih salah satu aja he he he.

    Keep writing kak 🙂

    Like

    1. hiyaaa ❤

      thank you for the comment. you made my daay~ ❤ ❤
      the spider-like creatures are not healthy for me and my imagination so i just gave them brief description and interaction imsosorry :")

      and thank you so muchie for the correction ❤ meskipun uda dibaca berulang-ulang tetep aja ada yang lolos dari pengamatan yassalam :"))
      gotta try harder next time '-')9

      Like

    2. ah lupa, sebenarnya terrence itu ngga nyasar sih. hanya saja dia terpisah dari rombongannya… dan kemungkinan terbesar hanya dia yang selamat sejauh ini 🙂 🙂

      Like

  4. Hello Kak Titan, eumh, aku lebih muda atau kita seumurannya yah? Aku sudah ngecek profil di blog, tapi ga ada petunjuk hehe aku 94 line 🙂
    Ini memang agak nanggung. Tapi tetep suka kog. Ngingetin aku sama beberapa film, lupa judulnya. Aku suka bnget setting kayakny gini. Gambaran kesunyian kota dan keputusasaan tokoh2nya. Dan karakter seperti Elliot itu seperti oasis di padang tandus, yng diandalkan dan paling sesuatu. Di moment2 Elliot termenung itu, aku pikir dia kena infeksi atau apa. Kalau ditambah adegan waktu mrk ngadepin si laba2 mungkin adrelinnya bakal lebih terasa. Tapi, ini juga tetep keren kog.
    Tetep smangat nulis ya! 🙂

    Like

    1. hiya, kak fatima ❤
      titan di sini 95line kok hehe

      aaaaa glad that you like this story. maafkanlah titan yang mengakhirinya dengan ending nanggung awawa :")

      loh loh, aku malah ngga kepikiran buat elliot terinfeksi XD
      that's definitely angsty-material but the turn of event will be very interesting ha 😀

      Liked by 1 person

  5. ELLIOOOOOOOOOOOOOOOOOT IS BACK!!!
    Huhuf gatau aku seneng banget mas pirang balik lagi, meski kini settingnya London in Horror dan jadinya makin seru! Iya mas biar ga galo sering-seringin jalan-jalan keluar gini mas meski mainnya laba-laba…
    Elliot jadi pintar, dan aku terkapar hahahahahahw Elliiooott ❤
    Yha yoksi Titan :" imajinasiku kemana-mana, sepiceles, deskripnya endesh dan lively ini kueceeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!! ❤ ❤ ❤

    Like

    1. … me think it will be better if I reply comments asap to avoid late reply but aaaaa so sorry kapang :”

      London in Horror, goddness serasa judul film psiko gasih? Ahay XD
      Ku akan bikin Elliot sering jalan-jalan. Tapi yha gatau siapa/apa yang nantinya main sama dia. Let’s just hope he won’t die (until I said so) :”))

      Awawawa, thank you so muchie, Kapang ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  6. Hola Titan! Aku sukaa sekali dengan ceritanya. Sangat deskriptif dan lively, walaupun suasananya suram dan seperti cerita-cerita apocalypse gitu ya. Endingnya bikin cengo, yang bikin aku bertanya-tanya ‘huh? what?’ tapi pas dengan ceritanya :D. Potensial juga untuk dibikin series.

    Keep writing, Titan!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s