[Writing Prompt] Kupu-Kupu Bersayap Satu

Buka Puasa

by cherryelf

Inginnya terbang,

tapi tak pernah sampai..

.

“Kak, apa yang mereka makan itu, ya?”

Telunjuk kecil Di mengarah pada sekumpulan orang yang mengisi bangku-bangku di balik jendela kaca. Mereka terlihat senang. Baju mereka bagus-bagus. Tidak terlihat sedikit pun keburukan atau kesedihan meliputi mereka. Tempat itu begitu bercahaya dan sangat membahagiakan hanya dengan menatapnya saja. Di terpana.

Sementara Kakak tidak terlalu peduli dan mengedikkan bahu. “Kakak juga tidak tahu Di.”

Diangsurkannya sebungkus nasi berlauk tempe goreng pemberian seorang ibu baik hati. Jarang-jarang mereka bisa menikmati makanan sebersih ini, tapi Di tidak juga bahagia. Sang Kakak merasa tidak cukup pintar menghibur kembarannya, jadi dia diam saja.

Angin berembus, mengibarkan ujung baju Di yang kebesaran. Bekas baju ayahnya yang juga berfungsi sebagai penghalau dingin di malam hari. Sewaktu ayahnya hidup dulu mereka biasa bertukar baju. Meski tidak bisa dibilang begitu karena semua kain itu adalah milik ayahnya. Di akan kebagian baju yang lebih tebal dengan sedikit berlubang.

Lagi, angin berembus. Kali ini bukan kenangan hangat ayah yang dibawanya. Melainkan sebuah aroma yang masih asing dipenciuman Di. Aroma yang mampu membangkitkan cacing-cacing Di yang lemas membeku.

Dalam kebisingan alun-alun kota, Di makan dengan tenang. Sambil sesekali mencuri pandang pada orang-orang berpakaian bagus yang tengah bersantap di balik jendela kaca, tanpa kakaknya tahu.

Esok malamnya mereka kembali menempati sisi alun-alun. Agak menjauh dari gerobak-gerobak makanan. Sengaja menghindar karena mereka sering diusir jika kedapatan sedang mengintip-intip isi gerobak.

Di sisi alun-alun itu, di bawah lampu jalan dan bising kendaraan, mereka bisa lebih dekat dengan sekotak kaca yang semakin hari makin dipenuhi orang.

Diam-diam Di mengamati tempat itu. Menyadari begitu bagusnya halaman depan tempat itu. Ada beberapa meja dan kursi ditata dan dibiarkan menghadap jalan. Di sana dipasang spanduk besar bergambar makanan dan minuman lengkap dengan nama dan harga.

“Kak, apa tulisan yang ada di sana?”

“Oh, yang di spanduk itu?” Kakak mengeja huruf-hurufnya satu persatu. Terbaca ‘Paket Buka Puasa’.

Di tertegun. Diperhatikannya gambar-gambar makanan itu. Lalu menunduk mendapati makanannya hanya berupa sekotak makanan sisa yang didapat Kakak dari hasil memungut.

“Kak, apa saat berbuka puasa kita harus makan makanan yang enak?”

“Kenapa kamu berpikir begitu, Di?”

“Orang-orang itu masuk ke sana untuk berbuka puasa. Mereka makan makanan yang enak. Apa Allah tidak marah kalau kita cuma makan makanan seperti ini?”

“Entahlah. Kakak tidak pernah tahu apa ketentuan orang berbuka puasa, Di. Ibu dan ayah juga tidak pernah menjelaskannya padaku. Apa menurutmu seperti itu?”

Di mengangguk yakin. Sang Kakak memberengut. Merasa bersalah dan takut kalau-kalau puasa mereka tidak diterima Sang Pencipta Langit.

Malam-malam selanjutnya mereka habiskan dengan perasaan ragu. Berulang-ulang Di berkata, “Ini tidak benar. Ini salah.” Dan berulang-ulang juga Kakak mencoba menenangkan, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Allah pasti memahami keadaan kita.”

Malam berikutnya ketika kumandang adzan kembali saling bersahut-sahutan, Di duduk sambil memperhatikan orang-orang di balik jendela kaca. Sebuah pengamatan kecil yang sekarang telah menjadi kegemarannya. Meskipun perutnya semakin lapar melihat orang-orang itu menyantap paket buka puasanya.

“Kakak yakin setelah ini puasa kita diterima,” ujar Sang Kakak sambil menyibukkan diri entah pada apa di ubin alun-alun.

“Benar? Seperti orang-orang itu?”

“Ya. Lihatlah!”

Di ditarik mendekat. Diperlihatkannya goresan gambar di lantai alun-alun.

“Apa ini?”

“Paket buka puasa kita!”

“Tapi ini….”

“Ssttt.. diam saja,” bisik Sang Kakak. Di mengangguk saja.

Mereka berbagi sebungkus nasi setengah basi sambil berdoa semoga Tuhan tidak sadar telah mereka bohongi. Kalaupun tahu, mereka tetap berharap Tuhan memakluminya. Karena mereka tidak akan mampu mendapatkan paket buka puasa yang super mahal itu.

.

fin

Advertisements

19 thoughts on “[Writing Prompt] Kupu-Kupu Bersayap Satu

  1. omg cherry aku terenyuh baca ceritanyaaa :(( aku pun paling gak tegaan kalo udah buka puasa, makan di satu tempat kayak kaki lima gituu pokoknya yg ada tenda tendanya terus ngeliat pemandangan yg menyerupai kakak sama di ini :(( makanya aku paling ga suka yg namanya buka puasa di luar tuh ituu huhu. ceritamu mengalir banget, dan percakapan antar adek kakak ini sukses bikin aku galau heu :” dan si di kayaknya inosen banget yaaaa huhu. paling sedih yg bagian akhir: membagi sekotak nasi hampir basi. ya allaaaaah :((( ini bagus ceritanyaaa. btw aku mau koreksi sedikit boleh? ada yg kepeleset kurang dikasih spasi hehe. di kalimat ini: Melainkan sebuah aroma yang masih asing dipenciuman. yang bagian dipenciuman harusnya di sama penciuman-nya dipisah. udah itu sajah 😀 keep writing yah cherry~

    Like

    1. holaaa kak fika. iyaa, aku sendiri jarang banget makan di luar. dulu waktu masih kecil pas cuma berdua sama ibuk sih sering. tapi bgusnya kalau makan ndi luar itu kita bisa nontonin orang lain. bisa jadi rujukan kita dapat ilham, kak. ini aku idenya juga dapet waktu makan di kfc X,D meskipun awal idenya emang ngebet bnget pngen nulis cerita dengan judul kupu-kupu bersayap satu.

      ah iya. di penciuman itu sama seperti di kepala, di rambut gthu ya kak? aku emang kadang masih bingung :/ padahal lulusan bahasa #gatahumalu
      Makasih koreksinya kak. dan udah baca+komen juga 🙂

      Like

  2. Bulan puasa sebentar lagi ya? Haha maap salah fokus, abis bava ini langsung buka kalender 😀

    Tapi pas baca ini aku langsung ngerasa bersyukur, seengganya nasib aku masih lebih beruntung dibanding mereka. Aku sering liat kejadian kayak di serita ini pas lagi bukber di luar sama temen-temen. Pernah waktu itu aku beliin satu ke salah satu anak itu. Eh, temen-temen dia malah langsung ngerubungin aku. Minta dibeliin juga. Ga tega sebenernya, tapi mau beliin juga ga ada uang.

    Tenang aja Di, amal kamu di terima Allah ko 😦

    Like

  3. Hallo Ki. eh, manggilnya apa nih enaknya? 🙂

    Kalau ga dihitung2, nanti tiba2 dateng sendiri. ga berasa kog hehe tapi kalau dikangenin, datangnya jadi lama.

    Iya, begitulah. di tempat ziarah wali2 jg gthu. ada yng baik hati pngen bershodaqoh. di kasih satu, temen2nya datang. ya kalau kita mampu, kalau ga bisa apa kita. serba salah meman 😦 tapi yang penting kita niat ingin berbagi 🙂

    Makasih ya udah baca dan komen 🙂

    Like

    1. Panggil apa aja juga boleh 😀

      Haha iya. Tapi bulan puasa ngingetin aku sama sidang kuliah ku juga *curcol.

      Iya sih serba salah. Dan bener, yang penting kita udah niat baik 🙂

      sama-sama. keep writing yaaa 😀

      Like

    2. Eh, udah sidang apa belum? Kalau aku masih dalam tahap proses-akan-sidang-entah-kapan-secepatnya-kalau-dosen-mau-diajak-lari-maraton x,D

      Like

    3. Beloomm, boro-boro nihhh. Masih magang akuuhhh. Dan dikasih waktu cuma 2 bulan (dibarengin sama kuliah aktif juga) buat ngerjain TA nya. Sidang ku bulan juni nanti pas bulan puasa betewe.

      Tarik aja dosennya pake coklat -saran dari senior- haha. itu ampuh lho. Emang kapan sidangnya?

      Like

    4. Wah, hampir sama kaya kampus ku tuh jadwalnya.

      iya sih, cuma berlaku ke beberapa jenis dosen hehe. Well yeah, mahasiswa tingkat akhir ujiannya emang berat-berat :’)

      Like

    5. kayaknya beratan kamu, krn di semester ini aku udah ga ada kelas sisa. kkn, pkl juga udah selesai di semster kemarin.

      yang sabar yah :’))) akan indah pada waktunya..waks

      Like

  4. Omayaaaa Cherry ini ngena abes! The power of ‘kalau kita makan makanan biasa bakal diterima puasanya apa engga’ ngejlebnya sangad! Overall aku menikmati jalan ceritanya yang mulus dan teratur tau-tau aku kena hajar fakta sedap macam ini :”
    Thankies a lot Cherry! Have a nice day! Sorry komennya pendek 😦

    Like

  5. “Di mengangguk yakin. Sang Kakak memberengut. Merasa bersalah dan takut kalau-kalau puasa mereka tidak diterima Sang Pencipta Langit.” — Aduh, kenapa ya, pas baca barisan ini tuh rasanyaaaa asdfhjlljhk j l e b 😦

    Pinjem istilah Ms Pang, Titan beneran ngga nyangka bakalan ‘dihajar’ di cerita ini. Awawawa, dan ceritanya mulus banget dari awal sampai akhir ❤

    Lalu ini,
    "Mereka berbagi sebungkus nasi setengah basi sambil berdoa semoga Tuhan tidak sadar telah mereka bohongi. Kalaupun tahu, mereka tetap berharap Tuhan memakluminya…" — AAAHHHH IMDEAD!! So innocent, so precious aaaaaaaaaaaaahhh :"((

    Like

    1. Semoga ga babak belur ya ngehajarnya hehe

      Makasih TItan. btw aku udah lama pengen ngomong kayak gini sama kamu. Aku suka nama Titan, ngingetin unsur kimia favoritku hohohohoho /ditendang/

      Like

  6. Terenyuh banget baca ini. Sebagai orang yg agak cengeng, rasanya pgn nangis juga. Apalagi pas si Di nanya apa Allah nggak marah kalo mereka cuma buka puasa pakek makanan yang ngga layak? Itu polos banget, tapi kok bikin skakmat ya buat aku:( huhu. But, love this story so much.
    Salam kenal 🙂

    Like

  7. Kak cherry!!! Duh, aku baper 😦 sedih baca keraguan dia soal yang bisa gak puasanya diterima kalo makan-makanan biasa (padahal mah ya gak masalah), terus yang “Berdoa semoga Tuhan tidak sadar telah mereka bohongi” I JUST CAN’T HANDLE IT. Ini bagus bagus nyesek banget kalimatnya ♡♡♡

    Terus nulis kak 🙂

    Like

    1. Ih ihh, aku ngerasa malu nerima lope2 kamu sher. Aku masih apalah. Tapi semoga tulisan ini bisa bermanfaat.. aaamiiiin X,D

      Makasih atas ♡♡♡ ya Sher, hahhaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s