[Writing Prompt] Friend? Friend!

tag___word__friend_by_gracies_stock

Pelesir ke kuburan

by slmnabil

.

Teman? Teman!


 

Sabtu malam saat butiran-butiran air turun malu-malu dari angkasa, kenop pintu kamarku bergerak-gerak gusar. Pemilik bangunan ini pasti selalu melewatkan pelajaran menjadi sabar, mengingat dia kepalang sering grasa grusu. Begitu bilah papan itu terbuka penuh, pandangannya saling bertabrakan dengan punyaku.

“Bo, kamu punya teman baru,” katanya.

Sebenarnya aku kesal dipanggil Bo. Kalau ditilik lebih jeli dia akan menemukan titik di antara huruf B dan O. Tapi berhubung matanya minus kumaklumi saja.

Mengikuti derap langkahnya masuk adalah si jantan beraut bengis, hujaman irisnya tak ramah, aku bisa dengar dia mendesis. Pak Tua ini pasti berusaha membuatku tewas.

“Namanya Drew, baik-baiklah dengannya. Aku pergi dulu.”

Dia cuma butuh sepuluh detik untuk raib, luar biasa bagi manusia rambut abu-abu sepertinya.

Aku menggeliat ke kanan-kiri tak tenang. Meski kami tidur di nakas sendiri-sendiri, jarak dua puluh jengkal dari Drew tidak lantas membuatku bisa bernapas lega. Dan kalau kalian penasaran semenyeramkan apa dia, biar kuberitahu.

Rambutnya cokelat terang yang tampak berantakan—mungkin dia tidak mau buang waktu mengurusinya dan salon kelewat takut padanya, tubuhnya kekar menonjolkan otot-otot ke permukaan kulit tan, garis rahangnya tegas dan bisa kulihat taringnya kentara dari kejauhan. Tidak perlu kulanjutkan bukan kengerian yang kudapat darinya?

“Warnamu bagus,” suaranya lebih seperti alunan bass cowok-cowok opera.

“Ha?” Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan, kemudian kuikuti arah pandangnya. “Oh, pa -pakaian oranye ini? Te -terima kasih. Punyamu juga bagus.”

Dia tersenyum kecil, namun tak lantas membuat ketakutanku terhadapnya raib begitu saja. Aku tidak bisa menyalahkannya karena punya penampakan menyeramkan, secara naluriah dia memang begitu.

“Namamu Bo ‘kan? Kuharap kita bisa berteman baik.”

Ya, kalau aku tidak mati ketakutan duluan. Penilaianku tak pernah salah terhadap seorang teman baru, dan aku yakin sewaktu-waktu Drew bisa memporakporandakan seisi rumah kalau ia mau.

“O-oke, Drew.”

Malam ini adalah tidur yang paling menegangkan buatku. Kuharap besok aku masih bisa menyantap sarapan pagi.

.

Ternyata Drew tidak terlalu buruk, dia punya selera humor yang bagus. Drew pernah pura-pura mati suatu pagi dan Pak Tua sukses kami kerjai. Sifat lain yang kusuka darinya adalah dia selalu membuka percakapan duluan, aku memang agak kaku memulai pertemanan. Perangai bengis Drew adalah sesuatu yang bisa dinonaktifkan, ternyata.

Namun terkadang aku bisa langsung bergidik untuk sekedar meliriknya dari sudut mata. Salah satunya adalah malam dia membunuh domba. Bagaimana ia menghunus dengan kuku-kuku tajamnya, taring-taringnya begitu selera mengoyak mangsa, dan cipratan noda darah memenuhi tubuhnya setelahnya.

Tak bisa kupungkiri, nyatanya temanku adalah pembunuh.

“Makan saja santapanmu, Bo. Jangan merasa tidak enak,” katanya seraya membalikkan diri memunggungiku. Dia agak pelit soal makanan.

Butir-butir yang terhidang untukku rasanya tak mengundang selera, melihat cara Drew makan sudah membuatku mual duluan.

Aku pernah ingin bilang pada Pak Tua kalau teman sekamarku diganti saja, tapi dia tidak akan mengerti kata-kataku. Artinya Drew akan tinggal untuk waktu yang sangat lama bersamaku.

“Ah, lezatnya.” Dia menyeka sisa-sisa cairan merah pekat yang memberi sentuhan seni di sudut-sudut mulutnya. “Kamu sudah selesai, Bo?”

Dan selain pembunuh, Drew juga punya keahlian ubah kondisi emosi dalam sekejap.

“Ah, ya aku tidak lapar.”

Wajahnya berubah seakan-akan menyesali sesuatu. “Harusnya aku bisa makan makanan sepertimu juga, tapi santapanmu bukan seleraku.”

Dan membunuh juga bukan seleraku, kalau kamu mau tahu.

.

Menu Drew hari ini adalah rubah, dan dia menyantapnya hidup-hidup kali ini. Pertama kalinya aku merasa kalau salah sekali mau berteman dengannya. Dia bukan cuma pembunuh, dia adalah monster. Kalau Drew mati suatu hari, ogah, deh, aku pelesir ke kuburannya.

Aku tidak pernah berani untuk sejengkal pun mendekati ranjangnya, dan akhirnya kutahu alasannya kenapa. Mencermati dia makan dari jauh saja sudah mengerikan, apalagi jarak dekat. Bisa kulihat si Rubah tampak seperti sapi yang siap dikurbankan, kalau manusia dia pasti sudah berkeringat dingin sampai semaput.

Terkadang aku ingin tepuk lima jari untuk kemampuan Drew makan dengan cepat. Kalau produser mau, aku bisa merekomendasikannya untuk ikut jadi bintang iklan produk makanan. Yah, kalau para penonton mau tidak selera makan karenanya.

“Kalau aku bisa berbagi denganmu, akan kulakukan Bo. Matanya enak sekali.”

Dia pasti kerasukan sampai niat berbagi makanan seperti itu, tapi bolehlah kuhargai niat baiknya. Drew selalu memperlakukanku dengan baik dan dia sering mendengarkan keluh kesahku.

Saat air sudah terasa tak enak untuk diminum, Drew yang memberitahu Pak Tua. Saat makananku kurang, dia juga yang meraung memanggil Pak Tua. Teman pembunuh ini sebenarnya sangat terpuji karena bukan salahnya juga suka makan binatang buas begitu. Aku juga tidak memperlakukannya sebagai ancaman. Karena singa tidak selera makan ikan.

“Tolong bilang Pak Tua, insangku sakit untuk bernapas di air kaya karbondioksida. Dia belum menggantinya selama seminggu.”

Drew tersenyum, kemudian dia menggeram.

-fin.

1. Halo 🙂 makna pelesir ke kuburannya nyampe atau tidak ya? Soalnya nabil tidak begitu bisa implisit implisitan wakaka 🙂

2. Pelesir= seneng

3. Kuburan= takut

4. Pelesir ke kuburan=harusnya seneng tapi malah takut

5. Begitulah 😦

Advertisements

7 thoughts on “[Writing Prompt] Friend? Friend!

  1. nabiiiiiiiil x)) kamu sukses bikin aku melotot di akhir hahahahaha. awalnya tuh aku kira mereka berdua ini tahanan penjara, soale si aku bilang: baju oranye xD terus aku bingung lah kenapa tahanan penjara bisa bunuh domba? akhire ke kemungkinan selanjutnya ini fiksi fantasy di mana drew ini setengah manusia setengah monster yg suka makan mangsanya langsung. ternyata salah jugaaaa xD omg, jadi si aku ini ikan, terus drew itu singaaaaa hahahaha. aku sampe baca dari awal dan baru yg: oalaaaaaah ternyataaaa xD cantik banget bil aku suka bahasanyaa hehe. ngalir aja dari awal sampe akhir, sama pikirannya si aku juga lucu aja bayanginnya hahahaha. untung yha singa nggak suka makan ikan xD btw bil tadi ada kata ogah, seharusnya itu di-italic aja hehe, soalnya bukan kata baku sih. yosh keep writing yah bil! 😀

    Liked by 1 person

    1. woiya kaak? waaa muup atuh nabil dan kakput aku yg salaaah :” soale aku pernah kena tilang masalah ogah harus dimiringin :” okeeh udah clear berarti ahaha. muuchi kakpuut x) btw gapapa kaaak sekalian ku juga belajar ehe.

      Liked by 1 person

  2. satu rasa diending yg aku kecap. .unyuuuukkk. unyuk bnget githu ada singa dan ikan sekandang hihihi. bener kata kak fik, udah agak heran waktu disebut2 pembunuh dan oranye.

    emang ya, kita ga boleh mandang seseorang itu dari penampilannya. singa aja bsa baik hati. tapi aku kasian jg sama si rubah ;_;

    Liked by 1 person

  3. Biiiiiiilllll ini troll banget xD pertama saya kira ini cerita manusia biasa, maksudnya ya slice of life gitu. Terus kesini kesininya saya ngira Drew itu drakula atau vampire. Terus kesini kesininya ternyata mereka ikaaaaaaaaaannnn xD

    Gatau kenapa tapi pas di akhir langsung inget kartun bilu mela xD

    Good job bil, ini twist, ini shock ending. Baru nyafar di akhir kalo si aku itu kayaknya semacam ikan nemo. Keren keren kereeeeeeeeeeeen ❤

    Liked by 1 person

  4. Aduhm shock baca endingnya alamak..
    Sama kyk yg kasih komen sebelum aku, aku kira mereka ini nginap di padepokan reyot gitu *?*, satunya mantan napi. Si akunya polos.
    Trnyata si akunya ikan? Jadi butir2 itu pelet ikan maksudnya? .=. Trus rambut oranye itu, astaga.. kepikiran bikin cerita dua binatang beda habitat gini :^D

    Kece ah.. aku suka ceritanya b^^d

    Liked by 1 person

  5. NABIL HAHAHA, sukses bikin aku gregetan karena tebakun salah semua. Harusnya Singa tuh paling kepikiran ya, aku malah pas drew pura-pura mati mikirnya anjings serigala gitu (dan orangnya hunter), ternyata… ini di kebun binatang ya? Atau di mana? Hahaha. Bahasamu selalu yang sedikit gak baku, tapi tetep cantik dan makin enak dibaca X)

    Koreksinya cuman, kalo tanda dash (-, —), sebelum sama sesudah gak pake spasi, tadi ada yang kelewatan, CMIIW.

    Keep writing ya! 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s